LOGINTelepon itu dari Mavin.Scarlett menekan tombol terima.Tadi dia terus merasa tegang dan khawatir, hingga tenggorokannya juga terasa kaku. Karena itu, suaranya sedikit bergetar saat berbicara.Menyadari ada yang tidak beres dengan suaranya, Mavin langsung waspada. "Ada apa? Terjadi sesuatu?"Scarlett buru-buru menjawab, "Nggak ... nggak ada apa-apa."Tidak mungkin dia memberi tahu Mavin bahwa ciuman dengan Edric barusan membuat jantungnya berdebar hebat.Untungnya, Mavin tidak bertanya lebih lanjut. Setelah mendengar jawabannya, dia langsung masuk ke pokok pembicaraan.Kloter pertama produk yang dibutuhkan L.L sudah selesai diproduksi dan diserahkan kepada pihak L.L. Mereka sangat puas dengan kualitas produknya, tetapi merasa jadwal pengerjaannya agak terlalu lama dan berharap mereka bisa mempercepat proses produksi.Setelah memahami situasinya, Mavin baru menyadari bahwa akar masalahnya adalah kawasan pabrik tersebut baru dibangun belum lama ini. Jumlah tenaga kerja masih kurang dan p
Namun, cinta seperti itu terlalu rapuh dan sulit digenggam.Scarlett tidak ingin lagi menghabiskan waktunya untuk mengejar cinta yang bisa lenyap kapan saja. Dia ingin melakukan hal-hal yang lebih berarti.Misalnya UME, misalnya masa depannya. Atau bahkan ....Scarlett mengangkat mata dan menatap Edric. Dahulu Edric mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya. Setelah itu, demi dirinya, Edric bahkan berselisih dengan Harris dan hampir mengalami kecelakaan.Terlepas dari urusan cinta, Edric tetaplah penyelamatnya.Edric membalas tatapannya tanpa menghindar. Sudut bibirnya kembali terangkat.Sebaliknya, Scarlett justru merasa pipinya sedikit panas saat melihat senyuman itu. Dengan canggung, dia mengalihkan pandangan, lalu asal mencari topik."Bukannya dokter bilang kamu sudah bisa keluar rumah sakit sebentar lagi? Kenapa masih diinfus? Apa kondisimu drop lagi?"Tatapannya tertuju pada selang infus di punggung tangan Edric. Dia selalu merasa rona wajah Edric agak aneh."Cuma buat memastik
Suara tangisan pelan terdengar dari belakang, tetapi kali ini Devan tidak menoleh lagi.Dia berjalan keluar dari gerbang, memandang langit yang suram. Jantungnya seolah diremas erat oleh tangan besar. Rasanya sesak hingga hampir membuatnya tidak bisa bernapas.Selama bertahun-tahun ini, dia merasa bersalah pada Vivian sehingga berusaha menebus dengan segala cara, memberikan semua yang bisa dia berikan.Bahkan dia sampai membalas dendam pada Scarlett.Pada malam pernikahan mereka, dia mengabaikan Scarlett hingga wanita itu menjadi bahan tertawaan seluruh kota. Setelah menikah, dia juga tidak pernah memedulikan Scarlett, bahkan selalu menentangnya dalam segala hal.Devan mengira itu adalah bentuk kompensasinya kepada Vivian. Tak disangka, itu ternyata adalah perundungan yang berlangsung selama lima tahun.Konyol, benar-benar konyol.Duar .... Saat itu, suara guntur menggelegar dan hujan deras pun turun.Devan mendongak. Air hujan mengaburkan pandangannya, membasahi seluruh tubuhnya. Dia
Dulu, ibu Scarlett menggunakan budi penyelamatan nyawa sebagai ancaman agar mereka putus. Semua orang mengira Vivian dipaksa dan tidak punya pilihan selain pergi ke luar negeri.Namun sekarang, Vivian malah mengatakan kepadanya bahwa perpisahan itu adalah keputusan yang dia setujui sendiri, dan keberangkatannya ke luar negeri juga karena dia menerima uang kompensasi dari ibu Scarlett.Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan "paksaan" selama ini?Lalu apa arti semua balas dendam yang selama bertahun-tahun dia tujukan kepada Scarlett?Tangan Devan bergetar. Matanya merah padam. Berbanding terbalik dengannya, Vivian malah tampak luar biasa tenang. "Karena aku mencintaimu. Aku nggak ingin berpisah denganmu."Devan bertanya, "Kalau nggak ingin putus, kenapa kamu setuju?"Vivian menjawab, "Karena aku butuh kesempatan itu. Aku juga ingin berdiri sejajar denganmu. Aku nggak suka cara orang-orang memandangku seperti memandang Cinderella.""Devan, sejak lahir kamu sudah hidup dalam kemewahan. Sta
Sorot mata Pamela tampak terkejut. Jelas, kenyataan ini tidak memberi pukulan yang lebih ringan dibanding kejadian barusan. Melihat reaksinya, Scarlett tahu Pamela sudah memahami semuanya.Sebenarnya, sejak awal dia tidak berniat memberi tahu Pamela tentang hal ini. Bagaimana Pamela memandang Vivian dan seberapa besar dia menyukai Vivian adalah urusannya sendiri. Scarlett tidak berniat ikut campur. Dia sudah memutuskan akan bertarung melawan Vivian sampai akhir.Namun ketika melihat Pamela tadi sampai mendatangi Trisha demi Vivian, Scarlett menyadari bahwa masalah baru kemungkinan akan terus muncul jika Pamela tidak benar-benar menyerah."Meski dia nggak sengaja, waktu tahu kamu akan berada dalam bahaya, dia tetap memilih menyembunyikan fakta dan membiarkanmu terjebak dalam situasi berbahaya. Kalau sama kamu saja dia bisa setega itu, apalagi sama aku.""Jadi kamu seharusnya mengerti sikapku. Apa pun yang kamu atau anggota Keluarga Laksmana lainnya katakan, aku nggak akan berubah pikira
Semalam Pamela berpikir lama dan akhirnya menyadari bahwa Scarlett sebenarnya cukup baik.Setidaknya kalau orang yang diperlakukan seperti itu adalah dirinya, dia pasti tidak akan sanggup menahan semua penghinaan itu.Namun sepertinya, orang yang paling keras menindas Scarlett di Keluarga Laksmana justru dirinya sendiri ....Pamela masih merasa canggung, tetapi dia melihat Scarlett malah berjalan menghampirinya.Pamela langsung menegakkan dada. Baru saja hendak bicara, Scarlett malah lebih dulu berkata, "Kamu masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, waktu kamu diberi obat, lalu meneleponku tengah malam?"Mendengar itu, Pamela terdiam sesaat, lalu langsung marah karena malu. "Apa maksudmu ngomong begini? Mau mengancamku? Jangan kira aku nggak punya bukti dan nggak tahu kalau itu ulahmu ...."Sebelum Pamela selesai berbicara, Scarlett mengangkat tangan dan menyerahkan sebuah dokumen kepadanya. "Lihat sendiri. Kita bicara lagi setelah kamu selesai baca."Pamela menerima dokumen itu denga







