LOGINBagi Liora, bertingkah nekat dan dicap "cegil" di kampus hanyalah topeng untuk menutupi luka dari keluarganya yang hampa kasih sayang. Sampai akhirnya, ia membentur Mahen—dosen muda dingin yang ternyata menyimpan trauma masa lalu serupa. Pertemuan dua jiwa kesepian ini melahirkan romansa rahasia yang intens. Mahen menjadi pelindung bagi kerapuhan Liora, dan Liora menjadi kehangatan yang meruntuhkan tembok es Mahen.Namun, kebahagiaan mereka runtuh saat rencana perjodohan Mahen mencuat, disusul sabotase kampus yang memfitnah hubungan mereka demi menghancurkan karier sang dosen. Sadar kehadirannya membawa kehancuran, Liora mengambil keputusan ekstrem. Gadis yang dulunya berisik dan ugal-ugalan itu mendadak berubah menjadi sosok yang pendiam, dingin, dan menarik diri. Liora memilih mengubur romansanya hidup-hidup dan merelakan Mahen dengan wanita lain, demi memastikan pria yang teramat dicintainya itu tetap aman.
View MoreMelihat Liora tumbang, Mahen kehilangan seluruh nalar dinginnya. Persetan dengan mata tajam Bu Saraswati dan tatapan sombong Pak Dirgantara. Mahen langsung melesat maju, mengabaikan jarak dua meter yang sejak tadi dia jaga. Pria itu berlutut di lantai granit, tangannya yang kokoh langsung menyusup ke balik tengkuk dan lutut Liora, mengangkat tubuh gadis itu yang terasa begitu ringan ke dalam dekapannya. "Mahen! Apa-apaan kamu?! Turunkan dia!" Clarissa menjerit histeris. Wajahnya seketika pias melihat pemandangan di depannya. "Jangan gila, Mahen! Di depan ibuku, di depan donatur... kamu mau menghancurkan masa depan kita di Berlin hanya demi menyentuh perempuan ini?!" Mahen tidak mengindahkan teriakan itu. Cengkeraman tangan Clarissa di lengannya terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan debaran jantung Liora yang melemah di dalam dekapannya. "Lepaskan, Clarissa," desis Mahen, suaranya begitu rendah dan menekan hingga membuat Clarissa tersentak mundur satu langkah.
Pukul 07.30 pagi. Koridor lantai dua Fakultas Teknik Arsitektur sudah ramai oleh mahasiswa tingkat akhir yang mengantre giliran mengumpulkan berkas seleksi Berlin. Ketegangan di dekat papan pengumuman digital terasa sedikit memanas sejak sebuah unggahan anonim muncul di grup angkatan subuh tadi. Isinya hanya foto Liora yang sedang berdiri di depan meja Mahen sore lalu, namun narasi di bawahnya sengaja memicu gunjingan tentang keaslian nilai B+ yang didapat Liora dalam waktu semalam. Nadia dan Naufal berdiri di dekat mading, sengaja mengobrol agak keras untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mulai berbisik-bisik. "Minggir sebentar, Nadia, Naufal. Jangan menghalangi jalan, aku mau lewat," cetus Kania Maharani. Rival abadi Liora sejak semester satu itu membawa map portofolio tebal bersampul kulit imitasi. Sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi di kelas, Kania merasa posisinya di atas angin pagi ini. "Oh, jadi ini alasan kenapa nilai maket Liora bisa melesat jadi B+ dalam
Clarissa mencengkeram lengan kemeja abu-abu Mahen dengan sisa seluruh tenaganya. "Mahen, dengerin aku! Kamu mau ke mana?!" Clarissa setengah berteriak, napasnya memburu di dalam kabin mobil yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. "Lihat keluar! Itu Aidan Dirgantara! Kamu tahu betul siapa ayahnya, kan? Satu laporan dari dia ke dewan penyantun, posisi kamu sebagai kandidat beasiswa Berlin bisa hangus dalam semalam!" Suara klakson dari deretan mobil di belakang mereka semakin bersahutan, menciptakan polifoni yang memekakkan telinga. Namun, Mahen seolah tuli terhadap semua kebisingan itu. Sepasang matanya yang biasa sedingin es kini menyala oleh letupan emosi yang asing, terkunci rapat pada punggung Liora yang mulai menjauh di dekat gerbang, dan figur Aidan yang masih mematung dengan rahang mengatup rapat. "Dia merendahkan profesi ini, Clarissa. Dia mengintimidasi mahasiswaku di area kampus," desis Mahen. "Mahasiswamu atau perempuan yang mulai mengacaukan isi kepal
"Sedang apa kamu berdiri di situ, Liora?" suara Bu Saraswati memecah keheningan ruangan. Ada nada dingin yang begitu kentara. Langkah kakinya yang mantap bergaung di atas lantai granit, mendekati tempat Liora mematung. Liora tersentak kecil. Dia buru-buru menegakkan punggung, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat syok. "S-selamat sore, Bu Saras. Saya baru saja menyerahkan draf revisi maket kepada Pak Mahen." Bu Saraswati tidak langsung merespons. Sepasang matanya yang tajam di balik bingkai kacamata mahal itu melirik sekilas ke arah meja bundar di sudut ruangan—tepat ke arah map cokelat beasiswa Berlin yang sedikit terbuka— sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada Liora. "Jika seluruh urusan akademik mu hari ini sudah selesai, silakan keluar," ujar Bu Saraswati sembari berjalan melewati Liora begitu saja demi menghampiri meja kerja Mahen. "Area meja ini berisi dokumen penting universitas. Mahasiswa tidak seharusnya berdiri diam dan menatap berkas yang buka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.