MasukBagi Liora, bertingkah nekat dan dicap "cegil" di kampus hanyalah topeng untuk menutupi luka dari keluarganya yang hampa kasih sayang. Sampai akhirnya, ia membentur Mahen—dosen muda dingin yang ternyata menyimpan trauma masa lalu serupa. Pertemuan dua jiwa kesepian ini melahirkan romansa rahasia yang intens. Mahen menjadi pelindung bagi kerapuhan Liora, dan Liora menjadi kehangatan yang meruntuhkan tembok es Mahen.Namun, kebahagiaan mereka runtuh saat rencana perjodohan Mahen mencuat, disusul sabotase kampus yang memfitnah hubungan mereka demi menghancurkan karier sang dosen. Sadar kehadirannya membawa kehancuran, Liora mengambil keputusan ekstrem. Gadis yang dulunya berisik dan ugal-ugalan itu mendadak berubah menjadi sosok yang pendiam, dingin, dan menarik diri. Liora memilih mengubur romansanya hidup-hidup dan merelakan Mahen dengan wanita lain, demi memastikan pria yang teramat dicintainya itu tetap aman.
Lihat lebih banyak"Jatuh cinta itu hak segala bangsa, Nad. Termasuk hak aku untuk mengejar Pak Mahen."
Liora Aghata merapikan bando kelinci berwarna merah muda di kepalanya. Di depan cermin toilet kampus, dia memberikan kecupan jauh pada bayangannya sendiri dengan rasa percaya diri. Nadia, yang berdiri di sampingnya, hanya bisa menepuk jidat dengan pasrah. Sahabatnya ini memang sudah kehilangan akal sehat sejak Mahen Alandra menjadi dosen pengampu Teori Arsitektur. "Liora, dia itu dosen paling kejam di fakultas kita," ujar Nadia mengingatkan. "Tahun lalu, ada mahasiswi yang menangis seminggu penuh karena tugasnya dilempar ke tempat sampah." "Desainnya jelek," sahut Liora santai seraya memakai lipstik. "Kalau desain masa depan aku dan Pak Mahen, pasti dia terima dengan senyuman." Nadia mendengus pelan. "Terserah kamu saja. Jangan menangis kalau nanti kamu diusir dari kelas." Liora tidak peduli. Hari ini adalah hari penyerahan draf tugas maket. Baginya, ini bukan sekadar tugas akademik biasa, melainkan sebuah kesempatan emas. Dia sudah menyiapkan sebuah kejutan khusus di dalam kotak maketnya. Strategi ini dia beri nama 'Operasi Jantung Berdebar'. Lima menit kemudian, Liora sudah duduk di barisan paling depan ruang kuliah. Jantungnya berdegup kencang ketika langkah kaki yang tegas terdengar dari luar. Pintu terbuka. Mahen Alandra melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapan matanya tajam, menyapu seluruh ruangan kelas yang mendadak senyap. "Selamat pagi," suara Mahen terdengar berat dan dingin. "Kumpulkan draf maket kalian di meja depan sekarang juga. Kita mulai sesi asistensi." Satu per satu mahasiswa maju dengan gemetar. Mahen memeriksa maket mereka dengan saksama. Tidak ada senyum sedikit pun di wajah tampannya. Hanya ada kritikan tajam yang membuat beberapa mahasiswa langsung lesu. Kini giliran Liora. Dia bangkit dengan senyum paling manis. Dengan langkah anggun yang dibuat-buat, dia berjalan ke meja dosen. Dia meletakkan kotak maketnya yang berukuran cukup besar. "Selamat pagi, Pak Mahen yang tampan," sapa Liora setengah berbisik. Mahen tidak menanggapi pujian itu. Dia hanya menatap Liora datar. "Buka kotaknya, Liora." Liora membuka tutup kotak dengan perlahan. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah maket rumah minimalis yang cukup rapi. Namun, yang menarik perhatian bukanlah bangunan maketnya. Di halaman miniatur rumah tersebut, terdapat boneka kertas kecil berbentuk seorang pria berbaju hitam dan seorang wanita berbando kelinci. Mereka berdiri bergandengan tangan di bawah pohon plastik kecil. Di dekatnya, ada tulisan tangan yang rapi: Masa depan kita dimulai dari rumah ini, Pak. Nadia yang melihat dari bangku ketiga langsung menyembunyikan wajahnya di balik buku. Mahen menatap maket itu selama beberapa detik tanpa ekspresi. Suasana kelas menjadi sangat sunyi. Semua orang menahan napas, menunggu ledakan amarah sang dosen killer. Mahen kemudian mengangkat pandangannya, menatap langsung ke dalam mata Liora. "Apa ini?" tanya Mahen, suaranya tetap datar tanpa emosi. "Itu draf rumah masa depan kita, Pak," jawab Liora tanpa ragu, matanya berkedip-kedip manja. "Saya sengaja membuat konsep ruang terbuka agar aliran cinta kita bisa berjalan tanpa hambatan." Beberapa mahasiswa di belakang menahan tawa. Mahen menghela napas pendek. Dia mengambil pulpen hitam dari sakunya, lalu mengetukkan ujung pulpen itu tepat ke atas boneka kertas wanita berbando kelinci. "Skala bangunan salah," ucap Mahen tegas. "Perbandingan tinggi pintu dan penghuni tidak logis. Pohon plastik ini merusak estetika lingkungan sekitar. Dan yang paling penting, ini adalah kelas arsitektur, bukan tempat mencari jodoh." Liora tidak menyerah. "Tapi, Pak, bukankah arsitektur itu tentang membangun sesuatu yang kokoh? Saya sedang mencoba membangun hubungan yang kokoh dengan Bapak." Mahen meletakkan pulpennya. Dia menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Liora dengan intensitas tinggi yang membuat jantung Liora benar-benar berdebar, kali ini bukan karena akting. "Liora Aghata," panggil Mahen lembut namun penuh penekanan. "Kamu tahu apa yang terjadi pada bangunan yang pondasinya tidak sesuai aturan?" "Roboh, Pak?" tebak Liora polos. "Benar. Dan nilai tugas kamu hari ini juga roboh. D." Mahen menuliskan huruf besar di lembar penilaian. "Perbaiki maket ini dalam waktu dua puluh empat jam. Jika besok sore tidak ada di meja saya dengan konsep yang benar, nilai kamu menjadi E." Liora mengerucutkan bibirnya kecewa. "Pak Mahen tega sekali pada calon istri sendiri." "Keluar dari barisan, Liora. Mahasiswa berikutnya, silakan maju," perintah Mahen, mengabaikan ucapan terakhir Liora. Liora mengambil maketnya kembali dengan sisa rasa percaya diri yang mulai goyah. Namun, saat dia berbalik, dia sempat melihat sudut bibir Mahen bergerak sedikit. Sangat tipis, hampir tidak terlihat. Apakah itu sebuah senyuman? Ataukah hanya delusi matanya saja. "Kamu benar-benar gila," bisik Nadia saat Liora kembali ke bangkunya. "Dia memperhatikan aku, Nad," balas Liora dengan mata berbinar. "Dia bahkan menyebut nama lengkapku. Ini adalah awal dari sebuah kemenangan besar." Nadia hanya menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang sudah berada di tingkat akut dalam urusan asmara. Ketika kelas akhirnya selesai dan seluruh mahasiswa berhamburan keluar, Liora sengaja memperlambat langkahnya. Dia pura-pura merapikan isi tas di dekat pintu masuk, sengaja menunggu momen agar bisa pulang paling terakhir dan menyapa Mahen sekali lagi tanpa gangguan sedikitpun dari orang lain. Ruangan kini menyisakan keheningan. Mahen tampak sibuk memasukkan berkas-berkas nilai ke dalam tas kerja kulitnya. Liora menarik napas panjang, bersiap melempar gombalan penutup sebelum meninggalkan ruangan. Namun, tepat sebelum Liora melangkah mendekat, pintu ruang kuliah diketuk dari luar dengan ketukan berirama pelan. Sesosok wanita anggun berambut panjang dengan pakaian formal melangkah masuk. Dia membawa segelas kopi premium yang masih mengepulkan uap hangat. Liora menghentikan gerakannya, bersembunyi sedikit di balik pilar pintu. "Mahen," panggil wanita itu dengan suara yang sangat lembut, jauh dari kesan kaku perkuliahan. Mahen yang tadinya selalu memasang wajah sedingin es, mendadak menghentikan aktivitasnya. Sepasang matanya yang tajam langsung melembut. Sebuah lengkungan senyum tipis—senyuman tulus yang tidak pernah Liora lihat sebelumnya—terukir di wajah tampan sang dosen. "Kamu sudah selesai kelas?" tanya Mahen hangat, nada suaranya berubah drastis menjadi penuh perhatian. Wanita itu tersenyum manis seraya meletakkan kopi di atas meja Mahen. "Sudah. Jangan lupa diminum ya kopinya. Aku tunggu kamu di parkiran biasa, ya?" Mahen mengangguk kecil tanpa melepaskan pandangannya dari wanita itu. Liora yang menyaksikan interaksi singkat tersebut dari balik pilar mendadak merasakan dadanya sesak. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena jatuh cinta melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa. Tepat di depan matanya, sosok wanita itu merangkul lengan Mahen dengan akrab, sementara sang dosen killer hanya diam membiarkan dengan senyuman yang belum pernah Liora lihat sebelumnya. Kini hanya satu pertanyaan yang keluar dari mulut Liora. "Siapa dia?, punya hubungan apa dia sama Pak Mahen?""Duduk kamu," perintah Papanya dingin, bahkan tanpa memandang wajah Liora yang pucat. Di atas meja kaca, sebuah tablet menyala menampilkan video Liora dan Pak Mahen tentang skandal yang sempat viral beberapa waktu lalu. "Mama tidak mau tahu ya, Liora. Hapus video itu sekarang juga atau suruh kampusmu bungkam!" cerocos Mamanya tanpa menanyakan kabar Liora sedikit pun. "Kamu tahu kan Papa baru saja dicalonkan jadi Direktur? Kalau nama baik keluarga kita hancur karena skandal murahan ini, karier Papa bisa habis!" Liora mengepalkan tangan kuat-kuat di sisi badannya. Rasa lelah setelah seharian menghadapi gunjingan di kampus langsung menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tidak ada pertanyaan "Kamu tidak apa-apa?" atau "Apakah berita itu benar?". Bagi kedua orang tuanya, Liora hanyalah sebuah aset yang tidak boleh mencoreng nama baik mereka. "Berita itu fitnah, Pa, Ma" suara Liora bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Papa tidak peduli itu fi
Liora mendongak, menatap Mahen dengan binar mata berkaca-kaca yang sudah ia latih di depan cermin kosannya selama berhari-hari. "Tapi saya takut, Pak... Bagaimana kalau Clarissa nekat ngelakuin hal lain ke Bapak?" Liora memberanikan diri mengulurkan tangannya, meremas pelan lengan jas Mahen. "Saya... saya gak bisa lihat Bapak kenapa-napa karena belain saya." Mahen menatap tangan Liora di lengannya. Alih-alih menghindar, Mahen justru membalikkan telapak tangan besarnya, menggenggam jemari Liora dengan hangat untuk menenangkannya. Tindakan spontan Mahen itu membuat Liora harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak histeris karena kesenangan. "Dia genggam tangan gue! Lu denger gak Clarissa? Cowok yang lu kejar-kejar sekarang lagi genggam tangan gue!" teriak Liora dalam hatinya yang dipenuhi obsesi. Mahen menghela napas panjang, menatap Liora dengan tatapan yang begitu dalam dan intens. Kehangatan dari genggaman tangannya perlahan menjalar, membuat detak jantung
Pintu ruang Dekan digedor keras dua kali sebelum akhirnya terbuka lebar. Tiga pria berpakaian batik dengan tanda pengenal KPK di leher mereka masuk, didampingi oleh dua personel kepolisian. "Selamat siang. Ibu Saraswati? Kami dari Komisi Pemberantasan Korupsi membawa surat perintah penggeledahan dan penahanan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang dana hibah riset kementerian," ujar petugas di depan dengan tegas. Bu Saraswati ambruk di kursinya. Surat investasi yang sedari tadi dipegangnya terlepas, meluncur jatuh ke lantai. Di sudut ruangan, Clarissa menjerit histeris, mencoba menghalangi petugas yang mulai memasang borgol di pergelangan tangan ibunya. "Ini salah paham! Pak Mahen yang menjebak ibu saya! Tangkap dia juga! Dia ada skandal dengan salah satu mahasiswi!" teriak Clarissa frustrasi, menunjuk-nunjuk Mahen dengan telunjuk yang gemetar. Salah satu petugas menatap Clarissa dingin. "Urusan kode etik kampus bukan wewenang kami, Saudari. Tetapi dokumen aliran da
Dua hari setelah insiden laboratorium, Liora terpaksa mengambil izin sakit. Mahen memanfaatkan waktu tersebut untuk bergerak cepat di balik layar. Di dalam ruang kerjanya yang terkunci, ia menatap surat rekomendasi pembatalan beasiswa Liora yang kini sudah diremasnya hingga lecek. Mahen tahu, Bu Saraswati tidak akan tinggal diam. Namun, Mahen tidak menyadari bahwa ancaman terbesar justru datang dari arah yang tidak terduga. Senin pagi yang cerah berubah menjadi neraka bagi Liora saat ia baru saja menginjakkan kaki di koridor fakultas. Bisik-bisik miring dan tatapan sinis menyambutnya dari setiap sudut. Nadia dan Naufal tiba-tiba berlari menghampirinya dengan wajah panik. Nadia langsung menyodorkan ponselnya. "Liora, gawat! Lihat ini! ada fotomu lagi yang sudah menyebar di grup angkatan" bisik Nadia dengan suara bergetar. Di layar ponsel, terpampang unggahan anonim di forum gosip utama kampus yang telah disukai ribuan mahasiswa. Foto itu sangat jernih: Mahen yang sedang m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.