LOGIN“Daffi, Abahmu mengajarkan kamu agama, tapi kamu tidak bisa mendidik istrimu dengan baik. Kamu biarkan dia berzina dengan orang-orang di luar sana, hah?”
Kedatangan Nurhasan tentu mengagetkan Daffi. Bahkan kedatangannya langsung menunjukkan sikap emosional dan marah-marah kepadanya.“Apa yang sebenarnya Paman bicarakan?”“Paman datang ke kedai tadi untuk melihat keadaan di sana tetapi Paman malah melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Istrimu itTery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”
Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin kecil berhiaskan batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter
Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy. Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya. Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak
Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
Daafi terdiam, kata cucu bukanlah kata singkat tanpa makna. Tapi bisa jadi hal berat yang akan sulit dia kabulkan. “Biar saja, mereka tidak tahu juga kalau_”“Apa Gus nggak mau sedikit berusaha menerimaku? Bagaimanapun, aku berhak meminta hal itu sebagai nafkah, bukan?”
Hari hari sebagai Dokter yang ditugaskan di UGD membuat Daffi mulai kembali nyaman dengan pekerjaannya. Meskipun masalah dengan keluarga besar di Surabaya masih berlanjut, namun pernikahan dia dengan Ainah mampu membungkam beberapa mulut orang orang yang menginginkan dia menikah dengan wanita mus
Daffi duduk di teras penginapan, menatap langit yang mulai tenang. Sunset mulai turun perlahan, seindah apapun senja, tetap tak mampu menenangkan pikirannya. Kenangan tentang Andini dan Sisi dan janji-janji lamanya seperti diputar kembali di kepalanya. Andini hadir sebagai pengingat yang kejam.B
Daffi tak menjawab. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Ainah perlahan melemah, lalu terlepas. Pandangannya kosong, seperti melihat masa lalu yang kembali menghantamnya tanpa ampun.Ainah mematung, antara bingung dan gelisah. Siapa Andini sebenarnya? Dan kenapa wajah Daffi tampak seolah ingin ka







