LOGINSelama tiga tahun pernikahan, Alina hidup dalam kesepian. Darman, pria yang menjadi suaminya, tidak pernah mencintainya, bahkan tak pernah menyentuhnya sekalipun. Hati Darman hanya milik Alisa—saudara kembar Alina yang seharusnya menjadi istrinya. Namun takdir berkata lain. Setelah Alisa meninggal dunia, Alina dipaksa menggantikan posisi saudara kembarnya karena wajah mereka yang sangat mirip. Sayangnya, kehadiran Alina tidak pernah mampu menggantikan Alisa di hati Darman. Tak hanya kehilangan cinta, Alina juga tidak pernah mendapatkan nafkah yang layak dari suaminya. Hingga pada tahun ketiga pernikahan mereka, Alina memutuskan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhannya sendiri. Takdir membawanya ke Andara Group, perusahaan tempat Darman bekerja. Di sana, Alina bertemu dengan James, pemilik Andara Group yang dikenal dingin, berkuasa, dan sulit didekati. Pertemuan yang awalnya biasa saja perlahan mengubah hidup Alina. Di saat Darman terus mengabaikannya, James justru menjadi orang yang melihat dan menghargai keberadaannya. Ketika cinta, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu mulai terungkap, mampukah Alina mempertahankan pernikahannya? Atau justru menemukan kebahagiaan bersama pria lain yang benar-benar mencintainya?
View MoreAroma capcay hangat memenuhi dapur sejak pagi. Alina berdiri di depan kompor sambil mengaduk masakan terakhir. Rambut panjangnya yang hitam digulung asal ke atas karena terburu-buru.
"Mas, sarapannya sudah siap. Bajumu juga sudah aku siapkan di atas kasur." Suara Alina terdengar pelan dari dapur. Namun seperti biasa, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara gemericik air dari kamar mandi. Alina tersenyum tipis meski dadanya terasa sesak. Tiga tahun. Sudah tiga tahun ia menjadi istri Darman, tetapi pria itu bahkan tidak pernah membalas sapaannya dengan hangat. Tidak pernah mengucapkan terima kasih. Tidak pernah menanyakan kabarnya. Bahkan tidak pernah menyentuhnya sebagai seorang suami. Alina menepis pikirannya dan kembali fokus menata sarapan. Di atas meja telah tersaji capcay, ayam goreng, dan sambal goreng ati—semua makanan favorit Darman. Setidaknya hari ini aku bisa membuatnya senang, batinnya. Ceklek! Pintu kamar terbuka. Darman keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang belum dikancingkan. Tetesan air masih membasahi rambutnya yang hitam. Jantung Alina berdebar tanpa alasan. Bodoh. Setelah tiga tahun, kenapa aku masih berharap? "Mas, apa perlu aku siapkan bekal untuk—" Darman berjalan melewatinya tanpa melirik sedikit pun. Seolah Alina hanyalah udara. Ini sudah terbiasa Alina,jangan sedih. batinnya. Senyum di wajah wanita itu perlahan memudar. Namun ia tetap memaksa dirinya tersenyum. Karena menjadi istri yang baik adalah satu-satunya cara agar Darman tidak semakin membencinya. Alina berjongkok di dekat rak sepatu. Ia mengambil sepatu kerja Darman lalu membersihkannya menggunakan tisu basah. Baru beberapa usapan, sebuah suara dingin terdengar dari atas kepalanya. Darman pria itu kini sudah rapi dengan pakaiannya. "Apa kamu tidak mengerti cara membersihkan sepatu yang benar?" Gerakan tangan Alina terhenti. Darman menatapnya dengan sorot mata tajam. "Kenapa harus memakai tisu basah?" "M-maaf, Mas. Aku hanya—" "Kamu memang tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar." Wajah Alina memucat. Namun ucapan berikutnya jauh lebih menyakitkan. "Kamu tidak seperti Alisa." Nama itu lagi. Nama yang selalu menjadi bayangan dalam rumah tangga mereka. Darman mengepalkan rahangnya. "Kalau Alisa masih hidup, dia pasti tahu semua yang aku suka. Dia tidak akan membuat kesalahan sekecil ini." Deg. Jari-jari Alina gemetar. Tiga tahun menikah. Tiga tahun berusaha menjadi istri yang sempurna. Tetapi di mata Darman, ia tetap hanya pengganti. Pengganti dari saudara kembarnya yang telah meninggal. Darman meraih jasnya lalu berbalik pergi. Namun sebelum keluar dari rumah, pria itu meninggalkan satu kalimat yang membuat dunia Alina runtuh. "Aku menyesal orang yang menikah denganku bukan Alisa." Brak! Pintu tertutup keras. Alina membeku. Alina masih berdiri mematung di ruang makan. Semua makanan yang ia masak sejak subuh masih tersusun rapi di atas meja. Tak satu pun disentuh oleh Darman. Ayam goreng mulai mendingin. Capcay yang tadi mengepul kini kehilangan uapnya. Sama seperti harapan Alina yang perlahan memudar. Brrt... Brrt... Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Alina menoleh. Nama "Ibu" muncul di layar. Cepat-cepat ia mengusap air mata di pipinya sebelum mengangkat panggilan itu. "H-halo, Bu?" Suara ibunya langsung terdengar dari seberang sana. "Bagaimana kabarmu di sana? Apa Darman memberimu uang?" Alina menggigit bibir bawahnya. Belum sempat menjawab, sang ibu kembali berbicara. "Ayahmu sedang sakit. Ibu butuh uang untuk biaya berobat. Ibu harap kamu bisa meminjam uang pada Darman." Jantung Alina berdegup pelan. Tangannya yang memegang ponsel mulai berkeringat. Apa yang harus aku katakan? Bahwa selama tiga tahun menikah aku tidak pernah menerima uang darinya? Bahwa suamiku bahkan tidak menganggapku sebagai istri? Bahwa aku harus diam-diam bekerja karena tidak pernah diberi nafkah? "Baik, Bu. Tapi aku—" "Tapi apa?" Nada suara ibunya langsung meninggi. "Ibu tidak punya waktu untuk mendengar alasanmu." Alina menunduk. Matanya mulai memanas. "Toh Darman bekerja di perusahaan besar. Pasti hidupmu sangat layak sekarang." Setiap kata yang keluar dari mulut ibunya terasa seperti duri yang menusuk. "Bu, sebenarnya tidak seperti yang Ibu pikirkan—" "Kalau begitu bagaimana?" Suara ibunya terdengar semakin tajam. "Seharusnya kamu bersyukur sudah menikah dengan pria seperti Darman." Alina mengepalkan jemarinya. Lalu kalimat yang paling ia benci kembali terdengar. "Andaikan saja Alisa masih hidup." Deg. Napas Alina tercekat. "Ibu..." "Kalau Alisa yang menikah dengan Darman, pasti hidupnya jauh lebih bahagia daripada kamu sekarang." Air mata Alina jatuh tanpa suara. Namun ibunya belum selesai. "Dan kalau saja waktu itu kamu datang menjemput Alisa dari kantor, mungkin dia tidak akan mengalami kecelakaan." Dunia Alina seakan berhenti berputar. Tuduhan itu. Lagi. Selalu tuduhan yang sama. Seolah kematian Alisa adalah kesalahannya. Padahal selama bertahun-tahun ia juga hidup dalam penyesalan. "Aku sudah bilang maaf berkali-kali, Bu..." bisiknya lirih. Namun ibunya tidak peduli. "Maaf tidak akan menghidupkan Alisa kembali." Tangisan Alina pecah. Dadanya terasa sesak. "Ayahmu membutuhkan uang. Kirimkan hari ini juga." Tut. Sambungan telepon terputus. Alina menatap layar ponselnya yang telah gelap. Sunyi. Sangat sunyi. Perlahan ia membuka aplikasi rekening bank miliknya. Saldo: Rp1.257.000 Itu adalah seluruh uang yang berhasil ia kumpulkan dari bekerja selama berbulan-bulan. Bahkan tidak cukup untuk biaya rumah sakit. Air matanya kembali jatuh. Dalam keadaan putus asa, ia memberanikan diri membuka kontak bernama "Darman". Jarinya gemetar saat menekan tombol panggil. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak diangkat. Namun beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk muncul di layar. Dari Darman. Bukan kata-kata perhatian. Bukan pula pertanyaan tentang keadaannya. Hanya sebuah foto. Foto seorang wanita yang sedang tersenyum manis. Alisa. Dan di bawah foto itu hanya ada satu kalimat. "Jangan hubungi aku untuk hal yang tidak penting." Tubuh Alina membeku. Namun tepat saat itu, sebuah panggilan lain masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Alina ragu-ragu sebelum mengangkatnya. "Halo?" "Apakah ini Nona Alina?" Suara pria asing terdengar tenang dan berwibawa. "Saya James Andara." Nama itu membuat Alina terdiam. Pemilik Andara Group. Perusahaan tempat Darman bekerja. "Saya ingin bertemu dengan Anda." ***Alina menghela napas lega sambil merapikan dokumen yang berserakan di atas meja,setelah insiden tadi. "Pak, semua dokumen sudah saya susun." James mengangguk singkat. "Bagus." Carlos masuk membawa sebuah map berwarna hitam. "Pak James, kontrak dengan perusahaan Jepang sudah dikirim." James menerima map itu lalu membukanya sekilas. Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut. "Kenapa?" Carlos ikut melihat. "Apakah ada yang salah, Pak?" James menutup map itu. "Dokumen ini harus diterjemahkan ke bahasa Inggris sebelum pukul lima sore." Carlos tampak panik. "Tapi penerjemah perusahaan sedang cuti, Pak." Ruangan mendadak hening. James menoleh kepada Alina. "Kamu bisa bahasa Inggris?" Alina tampak ragu. "Saya... sedikit bisa, Pak." "Saya ingin melihat kemampuanmu." Alina menelan ludah. "Baik, Pak." James menyerahkan map tersebut. "Dua jam." Alina membelalakkan mata. "Dua jam?" "Keberatan?" Alina menarik napas panjang. "Tidak, Pak." "Kalau begitu mulai sekarang."
James membuka pintu ruang VIP lebih dulu. "Silakan masuk." "Baik, Pak." Alina melangkah masuk sambil membawa tablet dan map berisi dokumen kerja. Di dalam ruangan telah duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan. Begitu melihat James, wanita itu langsung berdiri. "Pak James." James tersenyum tipis. "Maaf membuat Anda menunggu, Bu Vella." "Tidak masalah." Tatapan Bu Vella kemudian beralih kepada Alina. "Ini pasti asisten pribadi baru Anda?" James mengangguk. "Benar." "Perkenalkan." "Alina Zevanya." Alina segera membungkukkan badan dengan sopan. "Selamat siang, Bu Vella. Senang bertemu dengan Ibu." Bu Vella tersenyum ramah. "Anak yang sopan." James melirik Alina. "Kuenya." "Oh, baik, Pak." Alina segera membuka paper bag dari toko roti. "Ini butter cookies yang Ibu sukai." "Tadi saya juga memilih beberapa varian lain. Semoga cocok dengan selera Ibu." Bu Vella tampak terkejut. "Kamu yang memilih?" "Iya, Bu." "Wah..." Bu
Suasana lobi masih dipenuhi bisikan.Namun semuanya terhenti ketika Carlos bergegas menghampiri James."Pak."James menoleh."Ada apa?"Carlos menundukkan kepala."Seluruh klien sudah berada di ruang rapat."James mengangguk pelan.Lalu ia memandang seluruh karyawan yang masih berkumpul.Wajahnya berubah dingin."Carlos.""Ya, Pak.""Lima belas menit lagi.""Saya ingin seluruh kepala divisi, manajer, supervisor, dan seluruh karyawan yang sedang berada di gedung ini berkumpul di ruang rapat utama."Carlos sedikit terkejut."Rapat mendadak, Pak?""Benar.""Baik, Pak."Carlos segera pergi menyampaikan perintah tersebut.Tak sampai lima belas menit...Ruang rapat utama dipenuhi puluhan karyawan.Semua saling bertanya-tanya."Ada apa ya?""Tidak biasanya Pak James mengadakan rapat mendadak.""Jangan-jangan karena proyek baru."Di barisan belakang, Melinda melirik Darman dengan wajah cemas.Sementara Alina berdiri di samping meja presentasi sebagai asisten pribadi James.Tak lama kemudian..
Mobil hitam milik James berhenti tepat di depan gedung tempat pertemuan dengan klien.Begitu mesin dimatikan, Alina segera turun lebih dulu.Ia berjalan memutar menuju pintu belakang.Klik.Dengan penuh hormat, Alina membukakan pintu mobil."Silakan, Pak."James keluar dengan langkah tenang.Setelan jas hitam yang dikenakannya semakin memancarkan wibawa sebagai Presiden Direktur Andara Group.Namun...Bukan hanya James yang berhasil menarik perhatian.Semua mata justru perlahan beralih kepada wanita yang berdiri di sampingnya.Alina.Dengan blazer berwarna ivory yang pas membingkai tubuhnya, rambut soft curly yang tergerai anggun, serta riasan tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya, penampilannya begitu memukau.Sesaat...Suasana di lobi menjadi hening."Astaga...""Itu siapa?""Dia cantik sekali.""Dia bukan model, kan?""Tunggu... bukankah itu asisten pribadi Pak James yang baru?""Benarkah? Kemarin aku hampir tidak mengenalinya.""Kalau sekarang auranya benar-benar berbeda."Be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews