ログイン“Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.
Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suamTiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy. Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya. Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak
Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
Berita tentang Edi dan kejadiaan naasnya masih menjadi senter di media sosial. Bahkan, Aisy pun melihat perkembangan itu dari jauh. Sebelum berita itu hilang dari peredaran, jelas dia sama sekali tak berkeinginan pulang atau kembali.Tery dengan sigap menemani. Apapun yang dia butuhkan, Tery selalu ada buatnya. Bahkan, saat sedang mandi dengan telaten Tery menemaninya. Takut luka di tubuhnya kembali koyak dan basah oleh air jika tidak hati hati.“Te, apa lo balik aja? Gue udah mendingan kok,” ucap Aisy tak enak.“Buat apa? Balik juga gak akan bikin gue dikasih tugas kayak dulu.”“Dipecat?”Tery menoyor kepala Aisy, “lupa gue di sini buat siapa? Dah ah, bosen denger lo usir gue terus. Lo pikir gue sedih ngurus lo?”Terdengar ketus dan menyebalkan, tapi Aisy suka kebaikan teman dekatnya itu.“Gak enak gue liat lo LDR’an sama ayang bebep. Emang lo gak kangen pengen ketemuan?”“Gak enak ya tinggal dilepehin, Sy. Gitu aja kok repot! Lagian, Dean udah tahu dan udah biasa juga LDR an sama gu
Berita kematian Aisy sampai di telinga Daffi. Dia datang di hari kedua, saat tamu sudah hanya beberapa yang ditemui. Daffi sangat terpukul, ini kedua kalinya berita kematian Aisy terdengar dan dia pun hampir menangis saat Edi mau menemuinya.“Ini yang saya takutkan jika kamu tetap jadi suaminya. Kematian dia, ada di depan mata setiap hari.”“Apa pembunuhnya tidak bisa diurus? Ditemukan atau diadili?”Edi tersenyum samar, “andai bisa semudah itu, kematian kedua orang tua kandungnya akan mudah ditemukan.”“Maksud Anda?”“Kamu hanyalah orang biasa yang tak akan paham dunia politik dan kejamnya kursi parlemen. Tak apa, doakan saja dia tenang dan damai. Saya yakin, kamu masih peduli dengan dia tapi berhenti untuk memikirkan anak saya itu adalah jaana agar dia tenang dan bisa selalu tersenyum.”Daffi mengangguk, dia mungkin terluka dengan kematian Aisy tapi Edi lebih sangat terluka kelihatannya. TErbukti Edi hanya menemuinya beberapa menit saja, lalu pamit ke kamar karena tidak enak badan.
Daffi tersenyum, menampakkan lesung pipi dan itu membuat SIsi benar benar salah tingkah. Makan pun selesai. Sate yang dibungkus juga sudah disiapkan Hanum. “Berapa, Mas?” tanya Daffi.“Gak usah, gratis aja buat langganan.”“Jangan dong. Ni
“Ya, bungkus sisanya. Kita mampir ke masjid setempat. Buat amal jariyah.”Sisi mengangguk pelan, berusaha mengabaikan perasaan tak nyaman yang menyelimutinya sejak tadi. Dia mulai membungkus sisa bubur ke dalam beberapa kotak, sementara Hanum bersiap-siap membereskan barang dagangan
Keseharian Sisi sekarang berjualan di pinggir jalan. Hanum memasak, Sisi yang menjualkan. Penyamaran ini entah sampai kapan, bahkan dia sampai harus menjadi laki laki karena tak ingin dikenali dan Hanum berubah jadi nenek nenek. Pagi hari ini cuaca cukup mendung. Sisi yang menjual
Sisi menggigit bibir, merasa gelisah. Tangannya sudah hampir ingin menarik gas motornya dan mendekat, tetapi nalurinya berkata lain. Dia tidak bisa gegabah. Jika benar ada sesuatu yang disembunyikan, dia harus lebih pintar dalam mencari tahu.Sisi menarik napas dalam, berusaha mered







