MasukLarissa membuang bungkusan ke kotak sampah. Wanita ini menyeka sudut bibirnya dengan telunjuk. Saat dia ingin berbalik, Larissa jatuh terduduk. Wanita ini memegang perutnya.
Dari matanya jatuh beberapa titik air mata. Larissa menggigit bibir dengan kuat hingga memerah. Mual ini sungguh tak tertahankan."Larissa, ya ampun!" Panggil Fitri terkejut. Wanita ini bergegas menolong Larissa. "Ayo duduk disana!"Fitri mengajak Larissa duduk di dekat gubuk yang berada di tepi"Siapa yang mengirimkan ini? Bajingan itu sudah mati, kan?" Lila mengotak ngatik lagi pesan anonim yang dikirimkan padanya. Sebuah tautan link berisi video asusilanya nampak jelas disana. Bak bom waktu, video ini akan menjadi buah simalakama yang akan menghancurkan kehidupan Lila. Tapi pertanyaannya.. siapakah yang melakukan ini? Bram sudah mati bersama dengan abu rumahnya. Apa mungkin ada orang lain? Lila bergegas menghubungi orang suruhannya waktu lalu untuk menyelidiki teror yang menimpa dirinya. Wanita ini ingin memblokir akses tautan ke video agar rahasia ini tak tersibak. "Cari tahu orang yang menerorku. Dan lakukan semuanya sesuai dengan perintahku! Jangan sampai ada yang tahu mengenai hubunganku dengan Bram!" Klik. Nyonya Lila sudah memberikan perintahnya. Sekarang tinggal menunggu anak buah wanita ini membereskan semuanya. **** "Nona.." tegu
Bi Ira bahagia sekali karena pindah ke rumah ini. Walau tak sebesar kediaman Alvaro, tapi ia bersyukur karena harus menjaga nona yang paling disayanginya. Malam ini, dia menjaga Chiara bergantian dengan Larissa. Pagi menjelang, bi Ira memasak. Memandikan anak bayi itu dan membereskan rumah. Melalui Farhan, Paskal sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk Chiara. Perabotan rumah juga sudah dipesan. Begitu juga dengan isi dapur. Intinya, Larissa hanya boleh duduk manis di rumah untuk mengurus putrinya. Lila sendiri terkejut. Pagi buta saat dia membuka mata ada suaminya yang tertidur di sisinya. Sontak saja, Lila langsung naik ke punggung Paskal. "Sayang! Kapan kamu pulang?" Lila bernada manja pada pria itu. Paskal melenguh. Dia ngantuk sekali. Lila pun ia dorong pelan agar terjatuh dari punggung. "Kamu ini!" Lila bersedak. "Aku capek, Lila." Sahut Paskal serak.
Lila tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan kabar dari ini. Seperti titahnya, ia ingin Bram dilenyapkan. Malam tadi, rumah pria itu hangus terbakar. Ada satu orang yang tewas dalam insiden itu. Lila tersenyum. Semuanya berjalan dengan sempurna sesuai keinginannya. "Harusnya aku melakukan ini dari dulu. Supaya pria itu tidak terus memburuku!" Lila tergelak. Hubungan terlarang ini dimulai ketika Paskal menyuruh Bram mengantarkan makanan pada Lila ke apartement. Lila yang seksi dan menggoda tertarik akan Bram yang memiliki senyum cerah. Hubungan gila itu terjalin beberapa kali di belakang Paskal. Bahkan masih intens saat Lila tengah mengandung putranya. Hingga Lila melahirkan prematur karena ulah cinta satu malam, disana juga Lila menyadari bahwa Bram hanya memanfaatkannya. Terlebih Bram selalu mengancamnya untuk membocorkan hubungan mereka ke Paskal. Oh.. Lila tidak siap akan itu!
Larissa mengerjap tangisnya. Permintaan Paskal bak sembilu yang mengoyak hatinya.Pria itu menginginkan dirinya menjadi ayah angkat dari Chiara. Terlebih Paskal mengatakan dengan sorot mata yang tulus dan penuh keseriusan. Membuat hati Larissa bergetar sulit untuk diartikan."Aku tahu ini terlambat." Suara Paskal terdengar berat. "Tapi maafkan aku, Larissa. Aku benar-benar menyesal karena sudah pernah menyakitimu. Sikapku buruk sekali padamu di masa lalu. Aku sudah menyiksamu dan menghancurkan harga dirimu."Paskal lalu menghela nafas panjang."Padahal kamu berkali-kali menolongku. Saat pertama kali kita bertemu dalam kecelakaan lalu saat kamu menolongku dari serangan orang-orang asing di rumah.. sekarang aku menyadari kalau hanya kamu yang sangat tulus padaku. Kamu menolongku tanpa pamrih.. aku menyadari semua kesalahanku, Larissa. "Sambung Paskal tercekat. "Tolong maafkan aku.."Mendengar itu, Larissa semakin menggigit bibirnya menahan
Lila berdecak menatap lilin-lilin yang sudah terhias di atas kue. Ah sial sekali! Kenapa momen romantis seperti ini selalu dirusak oleh Paskal.Wanita ini sudah cantik menggunakan gaun. Ruangan ini sudah didekorasi sedemikian rupa. Belum lagi meja makan dengan kue serta lilin diatasnya ini menambah kesan romantis.Sayang sekali suaminya itu mengabarkan tidak akan pulang karena urusan pekerjaan. Dan anehnya lagi, Paskal tak langsung menghubunginya. Melainkan bi Ira, pelayan yang tak ada harganya."Jahat sekali kamu padaku, Paskal!" Lila rasanya ingin menangis.Cinta mereka yang meletup-letup itu sekarang menjadi dingin. Membeku hingga melampirkan jarak antara keduanya."Jangan.. aku nggak boleh marah." Seru Lila mengingat hadiah yang diberikan suaminya pagi tadi. "Dia sudah memberikanku saham sebanyak 25%. Di genggaman tanganku sudah ada separuh harta Alvaro."Lila lalu menyeringai. Namun perkataan Bram menyentak hatinya. Jika Bra
Paskal menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan Larissa melahirkan putrinya. Keringat dan tangisan yang bercampur menjadi satu. Kucuran darah yang banyak terbuang. Serta rasa sakit yang tak tertahankan.Paskal masih setia berada di sisi Larissa sampai wanita itu selesai dijahit.Larissa terkulai lemas dengan kepala yang bersandar ke tempat tidur. Tangan wanita itu di genggam erat oleh Paskal.Pria ini merelakan tangannya dipegang dengan kuat. Paskal bahkan merasa tulang di jemarinya sampai remuk. Ya.. dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya Larissa dalam berjuang melahirkan. Ada alasan kenapa surga ada di telapak kaki ibu.Sebab melihat perjuangan Larissa yang hampir mati. Paskal harus mengucapkan terima kasih pada Imelda yang juga dulu berjuang melahirkannya."Lihat.. cantik sekali.." bu Cik menimang bayi yang baru saja dibersihkannya.Larissa yang sudah separuh lemas lantas tersadar. Dia punya alasan untuk bertahan







