MasukPaskal bergegas pergi ke kediaman Farhan. Pria ini sampai terkejut ketika tuannya datang. Apalagi ucapan Paskal bak perintah yang harus ditepati sekarang juga.
"Tapi hari sudah tengah malam, tuan. Akses menuju desa terputus." Keluh Farhan. Paskal menggeleng. "Aku tidak perduli. Kita harus memastikan keadaan Larissa." "Lalu apa yang anda akan lakukan, tuan?" "Menyelamatkannya." "Bersama dengan suaminya?"Brakk!! Lila membanting satu kardus itu ke taman samping rumah. Dengan percikan korek api, kardus itu terbakar bersama dengan hal yang ada di dalamnya. Wajah wanita itu memerah. Hampir sama dengan kobaran api yang terpantul di manik matanya. Tangan Lila mengepal dengan erat. Berani sekali orang tersebut meneror Lila, hah? Sudah lebih dari satu bulan. Ada empat paket yang datang dan menerornya. Mulai dari bangkai, gaun tidur, foto-foto dan yang terakhir.. transkrip pembicaraan mesra Lila dengan seseorang. Sial! Siapa yang berani melakukan ini padanya? Sambil menekan nomor di ponselnya. Lila memaki lagi. Kali ini lebih keras. "Mau sampai kapan ini terjadi, huh?? Aku tidak mau dengar cerita kalian tak bisa mendapatkan pelakunya! Singkirkan orang-orang yang mengancamku!" Tut. Sambungan dimatikan secara sepihak. Giliran penjaga yang terkena kemarahan Lila. Wanita ini pe
Pelan-pelan Larissa membuka matanya. Tangan kanan itu dibuat mengusap ke pembaringan. Aman. Artinya Larissa tengah tertidur di atas ranjang yang empuk. Tangan satu lagi ia angkat ke atas. Mengusap wajahnya yang lekat karena mengantuk. Namun seperkian detik Larissa membuka bulat matanya. Ternyata ada satu selang infus yang terikat di tangan kirinya. Sontak Larissa memandang itu dengan terkejut. "Nona sudah sadar?" Larissa menoleh ke samping saat mendengar suara wanita menyapa. "Saya dokter Andrea." Ucap dokter wanita berambut coklat ini tersenyum. "Tadi nona pingsan dan terjatuh di tangga. Tuan Paskal memanggil saya untuk mengobati nona." Larissa terdiam. Wanita ini mengingat. Rupanya kejadian jatuh tadi bukanlah mimpi semata. "Anda mengalami demam tinggi. Sebab itulah saya memberikan obat lewat cairan infus. Syukurlah sekarang demam nona sudah turun." Sambungnya. "Terima kasih, d
"Siapa yang mengirimkan ini? Bajingan itu sudah mati, kan?" Lila mengotak ngatik lagi pesan anonim yang dikirimkan padanya. Sebuah tautan link berisi video asusilanya nampak jelas disana. Bak bom waktu, video ini akan menjadi buah simalakama yang akan menghancurkan kehidupan Lila. Tapi pertanyaannya.. siapakah yang melakukan ini? Bram sudah mati bersama dengan abu rumahnya. Apa mungkin ada orang lain? Lila bergegas menghubungi orang suruhannya waktu lalu untuk menyelidiki teror yang menimpa dirinya. Wanita ini ingin memblokir akses tautan ke video agar rahasia ini tak tersibak. "Cari tahu orang yang menerorku. Dan lakukan semuanya sesuai dengan perintahku! Jangan sampai ada yang tahu mengenai hubunganku dengan Bram!" Klik. Nyonya Lila sudah memberikan perintahnya. Sekarang tinggal menunggu anak buah wanita ini membereskan semuanya. **** "Nona.." tegu
Bi Ira bahagia sekali karena pindah ke rumah ini. Walau tak sebesar kediaman Alvaro, tapi ia bersyukur karena harus menjaga nona yang paling disayanginya. Malam ini, dia menjaga Chiara bergantian dengan Larissa. Pagi menjelang, bi Ira memasak. Memandikan anak bayi itu dan membereskan rumah. Melalui Farhan, Paskal sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk Chiara. Perabotan rumah juga sudah dipesan. Begitu juga dengan isi dapur. Intinya, Larissa hanya boleh duduk manis di rumah untuk mengurus putrinya. Lila sendiri terkejut. Pagi buta saat dia membuka mata ada suaminya yang tertidur di sisinya. Sontak saja, Lila langsung naik ke punggung Paskal. "Sayang! Kapan kamu pulang?" Lila bernada manja pada pria itu. Paskal melenguh. Dia ngantuk sekali. Lila pun ia dorong pelan agar terjatuh dari punggung. "Kamu ini!" Lila bersedak. "Aku capek, Lila." Sahut Paskal serak.
Lila tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan kabar dari ini. Seperti titahnya, ia ingin Bram dilenyapkan. Malam tadi, rumah pria itu hangus terbakar. Ada satu orang yang tewas dalam insiden itu. Lila tersenyum. Semuanya berjalan dengan sempurna sesuai keinginannya. "Harusnya aku melakukan ini dari dulu. Supaya pria itu tidak terus memburuku!" Lila tergelak. Hubungan terlarang ini dimulai ketika Paskal menyuruh Bram mengantarkan makanan pada Lila ke apartement. Lila yang seksi dan menggoda tertarik akan Bram yang memiliki senyum cerah. Hubungan gila itu terjalin beberapa kali di belakang Paskal. Bahkan masih intens saat Lila tengah mengandung putranya. Hingga Lila melahirkan prematur karena ulah cinta satu malam, disana juga Lila menyadari bahwa Bram hanya memanfaatkannya. Terlebih Bram selalu mengancamnya untuk membocorkan hubungan mereka ke Paskal. Oh.. Lila tidak siap akan itu!
Larissa mengerjap tangisnya. Permintaan Paskal bak sembilu yang mengoyak hatinya.Pria itu menginginkan dirinya menjadi ayah angkat dari Chiara. Terlebih Paskal mengatakan dengan sorot mata yang tulus dan penuh keseriusan. Membuat hati Larissa bergetar sulit untuk diartikan."Aku tahu ini terlambat." Suara Paskal terdengar berat. "Tapi maafkan aku, Larissa. Aku benar-benar menyesal karena sudah pernah menyakitimu. Sikapku buruk sekali padamu di masa lalu. Aku sudah menyiksamu dan menghancurkan harga dirimu."Paskal lalu menghela nafas panjang."Padahal kamu berkali-kali menolongku. Saat pertama kali kita bertemu dalam kecelakaan lalu saat kamu menolongku dari serangan orang-orang asing di rumah.. sekarang aku menyadari kalau hanya kamu yang sangat tulus padaku. Kamu menolongku tanpa pamrih.. aku menyadari semua kesalahanku, Larissa. "Sambung Paskal tercekat. "Tolong maafkan aku.."Mendengar itu, Larissa semakin menggigit bibirnya menahan







