INICIAR SESIÓNSuasana kantor pagi ini terasa berbeda. Tidak ada lagi bisik-bisik mencemooh di lobi, atau mungkin aku saja yang mulai terbiasa menulikan telinga. Aku duduk di meja kerjaku, tepat di depan ruangan Arkan, menatap jadwal pengobatan intensif yang baru saja dikirimkan oleh tim dokter Singapura melalui surel.
Tanganku gemetar saat mencetak dokumen itu. Tiga bulan. Waktu yang diberikan Sandra terus berdetak di kepalaku seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. "Gia, masuklah." Suara bariton Arkan memecah lamunanku melalui interkom. Aku segera bangkit, membawa map berisi jadwal tersebut. Saat aku masuk, Arkan sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar ruangannya. Ia tidak menoleh, tapi aku tahu dia sadar akan keberadaanku. Aku meletakkan map itu di atas mejanya dengan pelan. Arkan berbalik, matanya tertuju pada dokumen itu, lalu beralih menatapku. Ada keletihan yang nyata di wajahnya. "Dokter menyarankan kita mulai lusa," ucap Arkan pelan. "Ini bukan hanya soal fisik, Gia. Mereka bilang tekanan mental juga berpengaruh pada keberhasilan pengobatan ini." Aku menelan ludah, lalu mengambil tablet tulisku: [Aku akan berusaha rileks. Apapun demi Dirgantara.] Arkan membaca tulisanku, lalu mendengus pelan—bukan dengusan menghina, tapi lebih seperti tawa pahit. "Demi Dirgantara? Hanya itu?" Aku tertegun. Bukankah memang itu tujuannya? Aku mengetik lagi: [Aku tidak ingin kau kehilangan jabatanmu karena aku.] Arkan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang menenangkan. Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Sentuhannya terasa seperti sengatan listrik yang lembut. "Gia, jika aku hanya peduli pada jabatan, aku sudah menikahi Maya sejak lama," bisiknya, suaranya kini terdengar begitu dalam. "Ada sesuatu tentang diammu yang... membuatku merasa harus melindungimu. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti." Aku mematung. Dadaku bergemuruh hebat. Lidahku yang kelu seolah ingin memberontak, ingin meneriakkan sesuatu yang tak bisa terucap. Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. "Arkan! Kau harus lihat ini!" Suara melengking Maya merusak momen yang baru saja tercipta. Arkan segera menarik tangannya kembali, wajahnya kembali mengeras seketika. "Maya, berapa kali harus kukatakan untuk mengetuk pintu?" Maya tidak peduli. Ia melemparkan sebuah tablet ke atas meja dengan wajah penuh kemenangan. "Investor dari perusahaan Jerman itu membatalkan pertemuan sore ini. Mereka bilang, mereka ragu dengan stabilitas kepemimpinanmu jika masalah rumah tanggamu terus-menerus menjadi gosip panas!" Aku merasakan lututku lemas. Inilah yang ditakutkan Arkan. "Mereka ingin bertemu denganmu dan istrimu di acara makan malam pribadi," lanjut Maya sambil melirikku sinis. "Mereka ingin memastikan bahwa 'Nyonya Dirgantara' cukup kompeten untuk mendampingimu, meski tanpa suara." Arkan mengerutkan kening. "Makan malam pribadi? Itu bukan gaya mereka." "Itu permintaan mereka, Arkan. Dan kurasa, jika Gia tidak bisa memberikan kesan yang luar biasa, tamatlah kerja sama ini," Maya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh ancaman. Arkan menatapku dengan cemas. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Bagaimana caranya seorang wanita bisu memberikan kesan "luar biasa" dalam negosiasi bisnis tingkat tinggi? Aku mengambil tablet tulisku dengan tangan yang mantap, lalu menuliskan kalimat yang membuat Arkan dan Maya terkejut: [Aku akan ikut. Biarkan aku yang mengatur makan malamnya. Aku punya rencana.] "Rencana apa? Menulis di kertas sepanjang malam?" ejek Maya. Aku tidak menanggapi Maya. Aku menatap lurus ke mata Arkan, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang penuh keyakinan. Aku tahu, ini adalah kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bukan sekadar pajangan yang menunggu dibuang. "Baiklah," Arkan akhirnya bersuara, suaranya mantap. "Aku percaya padamu, Gia." Malam itu, restoran yang kupilih adalah sebuah tempat privat yang menyajikan fine dining dengan konsep "Dinner in the Dark" yang telah kumodifikasi. Lampu-lampu redup, suasana sangat tenang, hanya ada suara gemericik air buatan dan musik instrumen yang sangat lembut. Investor dari Jerman itu, Mr. Steiner, tampak bingung saat memasuki ruangan. "Tuan Arkan, apa maksud dari suasana ini?" tanya Mr. Steiner dalam bahasa Inggris yang fasih. Aku maju selangkah, memberikan gestur hormat yang anggun. Aku memberikan sebuah kartu kecil yang sudah kucetak dengan elegan kepada Mr. Steiner. [Dalam bisnis, kata-kata sering kali menjadi penyamu kebenaran. Malam ini, istri saya ingin mengajak Anda merasakan kejujuran melalui rasa, aroma, dan suasana. Mari kita bicara melalui kesepahaman, bukan sekadar negosiasi.] Arkan membacakan tulisan di kartu itu untuk Mr. Steiner. Sepanjang makan malam, aku melayani mereka dengan gerakan yang sangat halus. Aku menggunakan bahasa isyarat internasional yang sesekali diterjemahkan Arkan dengan sangat sinkron, seolah kami sudah berlatih selama bertahun-tahun. Aku menunjukkan detail-detail kecil pada hidangan yang melambangkan filosofi kerja sama mereka. Mr. Steiner tampak terpesona. Keheninganku tidak lagi dianggap sebagai kekurangan, melainkan sebagai bentuk eksklusivitas dan ketenangan yang mahal. "Luar biasa," ucap Mr. Steiner di akhir jamuan. "Istri Anda memiliki cara berkomunikasi yang paling jujur yang pernah saya temui, Tuan Arkan. Dia tidak butuh suara untuk meyakinkan saya bahwa Dirgantara adalah mitra yang teliti dan penuh empati." Arkan menatapku dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—kebanggaan murni. Namun, saat Mr. Steiner berpamitan, aku melihat bayangan Sandra dan Maya di sudut restoran. Mereka rupanya mengintai dari jauh. Wajah Sandra tampak gelap karena rencana mereka untuk mempermalukanku gagal total. "Jangan senang dulu, Gia," desis Sandra saat aku berjalan menuju toilet sendirian setelah tamu pergi. Ia mencegatku di koridor yang sepi. "Berhasil memenangkan investor bukan berarti kau berhasil memenangkan rahimmu. Waktumu tetap tiga bulan." Aku berhenti melangkah. Aku menatap Sandra dengan tenang, lalu dengan bahasa isyarat yang tegas, aku menunjuk ke arah jam tanganku, lalu menunjuk ke pintu keluar. "Kau berani mengusirku?!" teriak Sandra. Aku tidak menjawab. Aku hanya melewatinya begitu saja dengan kepala tegak. Saat aku kembali ke meja, Arkan sudah menungguku. Ia menarik kursiku, lalu berbisik di telingaku. "Terima kasih, Gia. Kau baru saja menyelamatkan posisiku," ucapnya lembut. Aku menulis di ponsel: [Aku melakukannya untuk kita.] Arkan terdiam melihat kata "kita". Ia menggenggam tanganku di bawah meja, dan kali ini, ia tidak melepaskannya meski kami sudah harus pulang. Namun, saat mobil kami keluar dari area restoran, sebuah pesan masuk ke ponsel Arkan yang diletakkan di dasbor. Aku tidak sengaja membacanya: "Arkan, hasil lab Singapura sudah keluar secara tidak resmi. Ada yang aneh dengan catatan medis Gia yang asli. Temui aku sekarang. - Maya."Pagi itu, kediaman Arkan yang biasanya sunyi dan kaku kini dipenuhi oleh aroma kopi yang kuat dan tawa renyah yang samar. Gia berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, jemarinya lincah memadukan syal sutra untuk menutupi lehernya yang masih terasa sedikit kaku.Arkan muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari Gia."Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Arkan, suaranya rendah namun penuh kekaguman.Gia menoleh, senyumnya kini tidak lagi hanya lewat mata, tapi juga tersirat di sudut bibirnya. "Berbeda... bagaimana?" tanyanya. Suaranya sudah tidak seberat beberapa hari lalu, meski masih ada getaran serak yang tipis—seperti suara gesekan biola yang belum sempurna disetel.Arkan mendekat, membantu merapikan ujung syal Gia. "Ada cahaya di matamu yang dulu sempat padam. Dan aku suka mendengar suaramu, meski kau hanya menanyakan di mana letak dasiku."Gia
Babak baru dalam hidupku telah dimulai, bukan hanya sebagai istri Arkan, melainkan juga sebagai Gia yang mampu berbicara. Kata-kata yang keluar dari bibirku tadi bagai sihir, membungkam riuhnya wartawan dan dentuman kamera. Arkan menatapku dengan mata tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja menyaksikan keajaiban. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kerumunan wartawan itu perlahan membubarkan diri, meninggalkan keheningan yang lebih berarti. Arkan masih memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, selaras dengan detak jantungku sendiri. "Gia..." Suara Arkan serak, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau benar-benar mengatakannya." Aku tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. Rasa sakit di tenggorokanku kembali menyerang, mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Namun, kebahagiaan yang melingkupiku jauh lebih besar dari rasa sakit fisik. Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepalak
Duniaku seolah berhenti berputar. Aku menatap Arkan. Dia tampak sama terkejutnya denganku."Ayah...?" bisik Arkan pelan.Di tengah kekacauan itu, Sandra meronta-ronta saat diseret keluar. Maya, yang ternyata bersembunyi di balik pilar, mencoba melarikan diri namun segera ditangkap.Keheningan kembali menguasai ruangan. Aku dan Arkan berdiri mematung di tengah reruntuhan rahasia keluarga Dirgantara.Aku mendekati Arkan, menyentuh lengannya. Arkan tiba-tiba jatuh berlutut, menyembunyikan wajahnya di perutku dan menangis hebat. Pria es itu hancur berkeping-keping.Aku mengelus rambutnya, air mataku pun mengalir. Namun, saat aku mencoba menenangkannya, sebuah suara... sebuah bisikan kecil yang asing keluar dari tenggorokanku."Ar... kan..."Itu suaraku. Sangat kecil, serak, dan menyakitkan. Tapi itu suaraku.Arkan mendongak dengan mata terbelalak. "Gia? Kau... kau bicara?"Aku mencoba lagi, namun rasa sakit di tenggorokanku begitu hebat hingga aku jatuh pingsan di pelukannya.**Bau anti
Jantungku berdegup kencang. Aku tidak meraih tablet. Aku mengambil tangan Arkan, meletakkannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila, lalu aku mengangguk mantap.Namun, di tengah momen haru itu, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor yang tidak dikenal.Pesan di layar ponsel itu seolah berubah menjadi belati yang menghujam jantungku.“Kau pikir ini sudah selesai? Tanya suamimu, siapa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang merenggut suaramu sepuluh tahun lalu.”Tanganku gemetar hebat. Ponsel itu hampir saja meluncur dari genggamanku jika Arkan tidak segera menangkap pergelangan tanganku. Ia menatapku dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada raut wajahku."Gia? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arkan, suaranya yang berat kini terdengar penuh kecemasan.Aku menarik tanganku dengan kasar. Aku mundur selangkah, menatapnya dengan tatapan yang mungkin belum pernah ia lihat dariku—tatapan penuh kecurigaan.Arkan tertegun. Ia mencoba mendeka
Ciuman Arkan masih menyisakan sensasi terbakar di bibirku. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat suara langkah kaki yang kasar menghantam lantai beton taman atap."Bagus sekali. Drama picisan di atas penderitaan keluarga!"Aku tersentak dan melepaskan pelukan Arkan. Sandra berdiri di sana, wajahnya merah padam, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, Maya tampak sibuk menghapus air mata buaya.Arkan menarikku ke belakang punggungnya. "Cukup, Ma. Dokter sudah bilang Gia sehat.""Sehat rahimnya, tapi otaknya mungkin tidak!" Sandra melemparkan ponselnya ke atas meja taman. "Lihat ini! Saham Dirgantara Group merosot lima persen dalam satu jam karena berita pernikahanmu dengan wanita bisu ini bocor ke media dengan narasi 'skandal wasiat paksa'."Aku terpaku. Tanganku meraba mencari tablet, tapi benda itu tergeletak jauh di kursi taman. Aku hanya bisa menarik ujung kemeja Arkan, mencoba menyalurkan rasa takutku.Arkan tidak menoleh. Suaranya mendingin, kembali menjadi es y
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama kediaman Dirgantara. Bagi Gia, ini adalah pagi pertama ia terbangun bukan sebagai "beban" yang terpaksa diterima, melainkan sebagai wanita yang baru saja dijanjikan sebuah perlindungan. Arkan sudah tidak ada di sampingnya, namun cekungan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bergamot—menjadi bukti bahwa pelukan semalam bukanlah mimpi.Gia turun dari tempat tidur, langkah kakinya terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang mengingat agenda hari ini: pemeriksaan medis. Ia berjalan menuju cermin besar, menyentuh lehernya sendiri. Takdir telah merenggut suaranya, namun Arkan—pria yang awalnya sedingin es kutub—telah berjanji untuk menjadi pelantang bagi jiwanya.Pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil roti panggang."Ma







