Compartir

Bab 7

Autor: Elv_
last update Última actualización: 2026-01-13 15:34:36

Suasana kantor pagi ini terasa berbeda. Tidak ada lagi bisik-bisik mencemooh di lobi, atau mungkin aku saja yang mulai terbiasa menulikan telinga. Aku duduk di meja kerjaku, tepat di depan ruangan Arkan, menatap jadwal pengobatan intensif yang baru saja dikirimkan oleh tim dokter Singapura melalui surel.

Tanganku gemetar saat mencetak dokumen itu. Tiga bulan. Waktu yang diberikan Sandra terus berdetak di kepalaku seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Gia, masuklah." Suara bariton Arkan memecah lamunanku melalui interkom.

Aku segera bangkit, membawa map berisi jadwal tersebut. Saat aku masuk, Arkan sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar ruangannya. Ia tidak menoleh, tapi aku tahu dia sadar akan keberadaanku.

Aku meletakkan map itu di atas mejanya dengan pelan. Arkan berbalik, matanya tertuju pada dokumen itu, lalu beralih menatapku. Ada keletihan yang nyata di wajahnya.

"Dokter menyarankan kita mulai lusa," ucap Arkan pelan. "Ini bukan hanya soal fisik, Gia. Mereka bilang tekanan mental juga berpengaruh pada keberhasilan pengobatan ini."

Aku menelan ludah, lalu mengambil tablet tulisku: [Aku akan berusaha rileks. Apapun demi Dirgantara.]

Arkan membaca tulisanku, lalu mendengus pelan—bukan dengusan menghina, tapi lebih seperti tawa pahit. "Demi Dirgantara? Hanya itu?"

Aku tertegun. Bukankah memang itu tujuannya? Aku mengetik lagi: [Aku tidak ingin kau kehilangan jabatanmu karena aku.]

Arkan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang menenangkan. Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Sentuhannya terasa seperti sengatan listrik yang lembut.

"Gia, jika aku hanya peduli pada jabatan, aku sudah menikahi Maya sejak lama," bisiknya, suaranya kini terdengar begitu dalam. "Ada sesuatu tentang diammu yang... membuatku merasa harus melindungimu. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti."

Aku mematung. Dadaku bergemuruh hebat. Lidahku yang kelu seolah ingin memberontak, ingin meneriakkan sesuatu yang tak bisa terucap. Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.

"Arkan! Kau harus lihat ini!" Suara melengking Maya merusak momen yang baru saja tercipta.

Arkan segera menarik tangannya kembali, wajahnya kembali mengeras seketika. "Maya, berapa kali harus kukatakan untuk mengetuk pintu?"

Maya tidak peduli. Ia melemparkan sebuah tablet ke atas meja dengan wajah penuh kemenangan. "Investor dari perusahaan Jerman itu membatalkan pertemuan sore ini. Mereka bilang, mereka ragu dengan stabilitas kepemimpinanmu jika masalah rumah tanggamu terus-menerus menjadi gosip panas!"

Aku merasakan lututku lemas. Inilah yang ditakutkan Arkan.

"Mereka ingin bertemu denganmu dan istrimu di acara makan malam pribadi," lanjut Maya sambil melirikku sinis. "Mereka ingin memastikan bahwa 'Nyonya Dirgantara' cukup kompeten untuk mendampingimu, meski tanpa suara."

Arkan mengerutkan kening. "Makan malam pribadi? Itu bukan gaya mereka."

"Itu permintaan mereka, Arkan. Dan kurasa, jika Gia tidak bisa memberikan kesan yang luar biasa, tamatlah kerja sama ini," Maya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh ancaman.

Arkan menatapku dengan cemas. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Bagaimana caranya seorang wanita bisu memberikan kesan "luar biasa" dalam negosiasi bisnis tingkat tinggi?

Aku mengambil tablet tulisku dengan tangan yang mantap, lalu menuliskan kalimat yang membuat Arkan dan Maya terkejut: [Aku akan ikut. Biarkan aku yang mengatur makan malamnya. Aku punya rencana.]

"Rencana apa? Menulis di kertas sepanjang malam?" ejek Maya.

Aku tidak menanggapi Maya. Aku menatap lurus ke mata Arkan, memberikan isyarat dengan anggukan kepala yang penuh keyakinan. Aku tahu, ini adalah kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bukan sekadar pajangan yang menunggu dibuang.

"Baiklah," Arkan akhirnya bersuara, suaranya mantap. "Aku percaya padamu, Gia."

Malam itu, restoran yang kupilih adalah sebuah tempat privat yang menyajikan fine dining dengan konsep "Dinner in the Dark" yang telah kumodifikasi. Lampu-lampu redup, suasana sangat tenang, hanya ada suara gemericik air buatan dan musik instrumen yang sangat lembut.

Investor dari Jerman itu, Mr. Steiner, tampak bingung saat memasuki ruangan.

"Tuan Arkan, apa maksud dari suasana ini?" tanya Mr. Steiner dalam bahasa Inggris yang fasih.

Aku maju selangkah, memberikan gestur hormat yang anggun. Aku memberikan sebuah kartu kecil yang sudah kucetak dengan elegan kepada Mr. Steiner.

[Dalam bisnis, kata-kata sering kali menjadi penyamu kebenaran. Malam ini, istri saya ingin mengajak Anda merasakan kejujuran melalui rasa, aroma, dan suasana. Mari kita bicara melalui kesepahaman, bukan sekadar negosiasi.] Arkan membacakan tulisan di kartu itu untuk Mr. Steiner.

Sepanjang makan malam, aku melayani mereka dengan gerakan yang sangat halus. Aku menggunakan bahasa isyarat internasional yang sesekali diterjemahkan Arkan dengan sangat sinkron, seolah kami sudah berlatih selama bertahun-tahun. Aku menunjukkan detail-detail kecil pada hidangan yang melambangkan filosofi kerja sama mereka.

Mr. Steiner tampak terpesona. Keheninganku tidak lagi dianggap sebagai kekurangan, melainkan sebagai bentuk eksklusivitas dan ketenangan yang mahal.

"Luar biasa," ucap Mr. Steiner di akhir jamuan. "Istri Anda memiliki cara berkomunikasi yang paling jujur yang pernah saya temui, Tuan Arkan. Dia tidak butuh suara untuk meyakinkan saya bahwa Dirgantara adalah mitra yang teliti dan penuh empati."

Arkan menatapku dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—kebanggaan murni.

Namun, saat Mr. Steiner berpamitan, aku melihat bayangan Sandra dan Maya di sudut restoran. Mereka rupanya mengintai dari jauh. Wajah Sandra tampak gelap karena rencana mereka untuk mempermalukanku gagal total.

"Jangan senang dulu, Gia," desis Sandra saat aku berjalan menuju toilet sendirian setelah tamu pergi. Ia mencegatku di koridor yang sepi. "Berhasil memenangkan investor bukan berarti kau berhasil memenangkan rahimmu. Waktumu tetap tiga bulan."

Aku berhenti melangkah. Aku menatap Sandra dengan tenang, lalu dengan bahasa isyarat yang tegas, aku menunjuk ke arah jam tanganku, lalu menunjuk ke pintu keluar.

"Kau berani mengusirku?!" teriak Sandra.

Aku tidak menjawab. Aku hanya melewatinya begitu saja dengan kepala tegak. Saat aku kembali ke meja, Arkan sudah menungguku. Ia menarik kursiku, lalu berbisik di telingaku.

"Terima kasih, Gia. Kau baru saja menyelamatkan posisiku," ucapnya lembut.

Aku menulis di ponsel: [Aku melakukannya untuk kita.]

Arkan terdiam melihat kata "kita". Ia menggenggam tanganku di bawah meja, dan kali ini, ia tidak melepaskannya meski kami sudah harus pulang. Namun, saat mobil kami keluar dari area restoran, sebuah pesan masuk ke ponsel Arkan yang diletakkan di dasbor.

Aku tidak sengaja membacanya: "Arkan, hasil lab Singapura sudah keluar secara tidak resmi. Ada yang aneh dengan catatan medis Gia yang asli. Temui aku sekarang. - Maya."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 22

    Ruangan kedap suara itu terasa semakin sempit, seolah-olah dinding baja di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen keluar dari paru-paru Gia. Di hadapannya, Surya Mahendra—pria yang selama ini dikenal sebagai pilar kebijaksanaan di keluarga besar mereka—menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tidak ada lagi kehangatan paman yang sering memberinya cokelat saat ia masih kecil. Yang tersisa hanyalah seorang predator yang telah menunggu selama dua puluh tahun untuk momen ini.Gia menatap layar monitor dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Di sana, di lantai atas yang penuh asap, Bibi Ida sudah menekan ujung jarum suntik ke leher Arkan. Arkan masih sibuk menangkis serangan pria bertopeng di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang telah merawatnya sejak kecil adalah malaikat maut yang dikirim oleh pamannya sendiri."Lakukan saja," desis Gia sekali lagi. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan keberanian yang nekat. "Bunuh dia. Jika Ark

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 21

    Debu dari ledakan di gerbang depan masih menggantung di udara, menciptakan siluet abu-abu yang mencekam di bawah lampu kristal yang bergetar. Suara tembakan menyalak di kejauhan, bersahutan dengan teriakan instruksi dari tim keamanan Johan yang mencoba menahan gelombang serangan. Di tengah kekacauan itu, Gia merasa dunianya melambat, setiap detak jantungnya terdengar seperti palu yang menghantam besi panas.Arkan tidak melepaskan dekapannya. Lengan pria itu terasa seperti jeruji baja yang melindunginya, namun setelah apa yang Gia dengar tadi, pelukan itu justru terasa seperti belenggu."Berdiri, Gia! Ikuti Johan!" perintah Arkan. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang komandan perang yang tidak menerima bantahan.Gia ditarik paksa untuk bangkit. Ia melihat pecahan kaca vas bunga yang baru saja hancur berserakan di atas meja makan, tercampur dengan omelet yang belum sempat disentuh. Simbol kedamaian pagi mereka telah hancur dalam hitungan detik.Johan muncul dari balik pi

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 20

    Lampu sorot helikopter masih menyapu balkon, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer. Haris Winata dibawa pergi dalam diam, namun tatapan terakhirnya pada Gia bukanlah tatapan seorang pria yang kalah. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menanam benih kehancuran dan sedang menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh.Arkan menarik Gia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya dari kilatan lampu kamera para tamu yang kini mulai berhamburan keluar. "Sudah selesai, Gia. Kau aman sekarang," bisiknya.Gia mengangguk pelan, namun jemarinya masih mencengkeram jas tuxedo Arkan dengan kuat. Keheningan yang mengikuti hiruk-pikuk penangkapan itu terasa aneh. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya beban di dadanya terangkat sepenuhnya. Namun, rasa dingin di tengkuknya tidak kunjung hilang."Arkan," panggil Gia dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Dia tidak terlihat terkejut. Kenapa dia tidak terlihat takut?"Arkan melepaskan pelukannya, menatap Gia dengan

  • Cinta Tanpa Suara   bab 19

    Pintu aula besar itu terbuka dengan sapuan yang megah, mengungkapkan sebuah dunia yang dibangun dari emas, kristal, dan kemunafikan. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye yang berbuih, namun bagi Gia, udara di dalam sana terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar untuk memberi ruang bagi ego para tamu undangan.Arkan melangkah masuk dengan tangan Gia yang bertumpu kokoh di lengannya. Kehadiran mereka seketika menciptakan riak. Bisik-bisik halus merambat seperti api di atas jerami kering. Pasangan Mahendra yang selama ini tertutup—dengan sang istri yang kabarnya mengalami trauma bicara—kini muncul dengan aura yang begitu dominan. Gaun merah darah Gia bukan sekadar pilihan busana; itu adalah deklarasi perang."Tetap di sampingku," bisik Arkan hampir tak terdengar. Ia menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.Dari kejauhan, di dekat panggung utama, sosok Haris Winata tampak sedang berbincang dengan seorang pejaba

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 18

    Malam itu, Mansion Mahendra tidak lagi terasa seperti rumah. Ruangan-ruangan luas dengan pilar marmer yang biasanya memancarkan kemewahan, kini tampak seperti labirin yang penuh dengan sudut-sudut gelap. Setelah Arkan membimbing Gia kembali ke dalam, suasana di meja makan terasa begitu berat. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.Gia menatap piringnya, namun pikirannya tertahan pada kata-kata Arkan tentang Haris Winata. Bekas luka bakar itu... sebuah tanda permanen dari malam yang selama ini menjadi mimpi buruknya."Mas Arkan," panggil Gia pelan, memecah kesunyian.Arkan, yang sedang menyesap anggur merahnya, menatap Gia dengan lembut. "Ya, Gia?""Boleh aku melihat data tentang Haris Winata? Semuanya. Rekam jejaknya, hubungannya dengan Ayah, dan apa yang dia lakukan di perusahaan selama ini."Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat terukur. "Gia, aku sudah

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 17

    Gia merasakan seluruh sendinya membeku. Suara di telepon itu tidak terdengar seperti gertakan biasa; ada nada otoritas yang tenang, seolah pria itu sedang berbicara tentang cuaca dan bukannya ancaman kematian. Gia mencoba menarik napas, mengatur getaran di pita suaranya yang baru saja pulih."Siapa kau?" Gia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Jika kau pikir ancaman ini akan membuatku bungkam lagi, kau salah besar."Tawa pelan yang kering terdengar di seberang sana. "Keberanian yang menarik. Arkan Mahendra pasti sudah mencuci otakmu dengan rasa aman yang palsu. Kau pikir dinding mansion itu cukup tebal untuk melindungimu dari sejarah yang ditulis dengan darah?""Apa hubungannya dengan Garda Elang?" potong Gia, mencoba memancing informasi.Hening sejenak. Suara napas di seberang sana terdengar sedikit lebih berat. "Kau sudah melihat fotonya, rupanya. Gadis kecil dengan mawar-mawar yang akan layu. Gia, ada alasan kenapa ayahmu memilih untuk tidak menyelam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status