Share

Bab 6

Author: Elv_
last update Last Updated: 2026-01-12 14:42:21

Gedung Dirgantara Group menjulang tinggi, mencakar langit dengan keangkuhan yang sama seperti pemiliknya. Aku melangkah di belakang Arkan, mengenakan setelan blazer formal yang terasa kaku di tubuhku. Setiap langkahku di atas lantai marmer yang mengilap itu diiringi oleh bisik-bisik karyawan yang sengaja tidak dipelankan.

"Itu dia? Istrinya yang... kau tahu?"

"Cantik sih, tapi sayang, cuma bisa jadi pajangan."

Aku menunduk, meremas tali tas kerjaku. Arkan tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuatku nyaris menabrak punggung tegapnya. Ia berbalik, menatap para karyawan itu dengan sorot mata yang sanggup membekukan aliran darah. Seketika, keheningan mencekam menyelimuti lobi. Tanpa kata, Arkan melanjutkan langkahnya menuju lift eksekutif, membiarkanku mengekor dengan perasaan campur aduk.

Begitu pintu lift tertutup, Arkan menatap pantulan diriku di dinding lift yang menyerupai cermin.

"Tegakkan kepalamu, Gia," ucapnya dingin. "Di kantor ini, kau adalah asisten pribadiku. Jika kau terlihat lemah, mereka akan menguliti hidupmu dalam hitungan jam."

Aku segera menegakkan bahu, lalu mengetik di ponsel: [Aku akan berusaha sebaik mungkin. Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini.]

Arkan hanya melirik layar ponselku tanpa ekspresi. "Aku tidak memberimu kesempatan karena kasihan. Aku melakukannya karena aku butuh benteng untuk menghalau Maya dan rencana gila ibuku. Jadi, jangan buat aku menyesal."

Kantor Arkan luas dan minimalis, didominasi warna abu-abu dan hitam. Tugasku sederhana namun melelahkan: mengatur tumpukan dokumen, menyusun jadwal pertemuan, dan memastikan Arkan tidak diganggu. Namun, ketenangan itu hanya bertahan dua jam.

Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Maya melangkah masuk dengan gaun ketat berwarna hijau zamrud, membawa buket bunga lili putih dan dua gelas kopi mahal.

"Pagi, Arkan!" sapanya dengan nada riang, seolah kejadian memalukan di gala semalam tidak pernah terjadi. Ia menoleh padaku dengan senyum meremehkan. "Oh, Gia. Kau benar-benar bekerja di sini? Tante Sandra bilang kau hanya akan... yah, duduk-duduk cantik."

Arkan tidak mendongak dari tumpukan berkasnya. "Ada keperluan apa, Maya?"

"Tante Sandra memintaku mengantarkan dokumen kerja sama ini," Maya meletakkan sebuah map merah di meja Arkan, lalu sengaja mendekatkan tubuhnya. "Dan karena istrimu tidak bisa memesankan kopi yang pas untukmu, aku membawakan favoritmu."

Aku berdiri mematung di sudut meja. Rasa panas menjalar di dadaku. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku melangkah maju dan mengambil gelas kopi itu sebelum tangan Arkan menyentuhnya. Aku meletakkannya kembali di nampan yang dibawa Maya.

Aku mengetik dengan cepat: [Tuan Arkan sedang dalam program diet khusus atas saran dokter. Dia hanya boleh minum air mineral dan teh hijau pagi ini. Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Maya.]

Maya membelalak, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. "Nyonya? Kau memanggilku Nyonya? Dan sejak kapan Arkan diet?"

"Sejak hari ini," potong Arkan tiba-tiba. Ia menutup mapnya dan menatap Maya. "Gia benar. Dia tahu apa yang terbaik untuk kesehatanku sekarang. Kau bisa pergi, Maya. Aku punya banyak rapat."

Maya menghentakkan kakinya, berbalik pergi sambil membanting pintu. Keheningan kembali meraja. Aku menghela napas lega, namun Arkan tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekatiku.

"Diet khusus? Sejak kapan?" tanyanya dengan satu alis terangkat.

Aku menatapnya ragu, lalu menulis: [Maaf, aku hanya tidak suka dia mengaturmu.]

Arkan terdiam sejenak. Sebuah kilatan aneh muncul di matanya—mungkin sebuah senyum tipis yang tertahan, atau mungkin hanya bayangan lampu. "Lakukan tugasmu dengan benar, Gia. Dan jangan pernah berbohong lagi demi kepentinganku, kecuali kau memang sangat ahli melakukannya."

Siang hari, neraka sesungguhnya datang. Sandra muncul di kantor bersama dua orang pria berjas rapi yang kukenali sebagai pengacara keluarga Dirgantara. Mereka langsung masuk ke ruang kerja Arkan, memaksa asisten luar untuk menyingkir.

"Arkan, tanda tangani ini," Sandra melempar sebuah dokumen ke atas meja.

Arkan mengerutkan kening. "Apa ini, Ma?"

"Dokumen pra-syarat tambahan untuk wasiat Kakek," jawab Sandra dengan nada otoriter. "Karena kondisi kesehatan Gia yang meragukan, Mama dan dewan direksi sepakat: jika dalam tiga bulan tidak ada tanda-tanda kehamilan, hak asuh penuh atas harta warisan akan dialihkan sementara ke yayasan keluarga yang Mama kelola. Ini satu-satunya cara agar saham Dirgantara tetap stabil."

Aku terpaku. Tiga bulan? Tadi pagi Sandra bilang enam bulan, sekarang dia memangkasnya menjadi setengah. Ini bukan lagi tekanan, ini adalah eksekusi mati.

"Ini tidak masuk akal, Ma," geram Arkan. "Kita sudah sepakat enam bulan!"

"Situasi berubah, Arkan! Berita tentang 'ketidakmampuan' istrimu sudah mulai bocor ke telinga investor!" Sandra menoleh padaku dengan tatapan tajam. "Atau, kau bisa menceraikannya sekarang juga dan menikahi Maya. Segalanya akan selesai dalam semalam."

Aku merasakan kakiku lemas. Aku memegang tepian meja agar tidak jatuh. Air mata mulai menggenang, namun aku ingat kata-kata Arkan: Jangan terlihat lemah.

Tiba-tiba, Arkan berdiri. Ia mengambil dokumen itu dan merobeknya menjadi dua di depan wajah ibunya sendiri.

"Arkan!" teriak Sandra histeris.

"Aku tidak akan menandatangani apa pun yang merendahkan istriku sebagai mesin penghasil anak," suara Arkan terdengar tenang namun mengandung ancaman yang mematikan. "Tiga bulan, enam bulan, atau selamanya, Gia adalah istriku. Jika dewan direksi ingin menarik saham mereka, silakan. Aku akan membangun Dirgantara-ku sendiri dari nol."

Sandra ternganga, tidak percaya bahwa anak laki-lakinya akan bertindak sejauh itu demi "pajangan" seperti diriku.

"Kau akan menyesal, Arkan! Kau akan kehilangan segalanya demi wanita bisu ini!" Sandra berbalik pergi dengan penuh amarah, diikuti para pengacaranya.

Setelah mereka pergi, ruangan itu terasa sangat hampa. Arkan kembali duduk, menyandarkan punggungnya dan menutup mata dengan lelah. Aku mendekatinya, jemariku gemetar saat menulis di papan tulis kecil di mejanya: [Kenapa kau melakukan itu? Kau bisa kehilangan jabatanmu.]

Arkan membuka matanya, menatapku dalam. "Karena aku benci diatur, Gia. Dan karena untuk pertama kalinya, aku melihat seseorang yang tetap berdiri di sampingku saat ibuku sendiri mencoba menghancurkanku."

Ia meraih tanganku, jemarinya yang hangat menggenggam jemariku yang dingin. "Tiga bulan. Kita harus benar-benar melakukan 'mukjizat' itu, atau kita berdua akan hancur bersama."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 22

    Ruangan kedap suara itu terasa semakin sempit, seolah-olah dinding baja di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen keluar dari paru-paru Gia. Di hadapannya, Surya Mahendra—pria yang selama ini dikenal sebagai pilar kebijaksanaan di keluarga besar mereka—menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tidak ada lagi kehangatan paman yang sering memberinya cokelat saat ia masih kecil. Yang tersisa hanyalah seorang predator yang telah menunggu selama dua puluh tahun untuk momen ini.Gia menatap layar monitor dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Di sana, di lantai atas yang penuh asap, Bibi Ida sudah menekan ujung jarum suntik ke leher Arkan. Arkan masih sibuk menangkis serangan pria bertopeng di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang telah merawatnya sejak kecil adalah malaikat maut yang dikirim oleh pamannya sendiri."Lakukan saja," desis Gia sekali lagi. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan keberanian yang nekat. "Bunuh dia. Jika Ark

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 21

    Debu dari ledakan di gerbang depan masih menggantung di udara, menciptakan siluet abu-abu yang mencekam di bawah lampu kristal yang bergetar. Suara tembakan menyalak di kejauhan, bersahutan dengan teriakan instruksi dari tim keamanan Johan yang mencoba menahan gelombang serangan. Di tengah kekacauan itu, Gia merasa dunianya melambat, setiap detak jantungnya terdengar seperti palu yang menghantam besi panas.Arkan tidak melepaskan dekapannya. Lengan pria itu terasa seperti jeruji baja yang melindunginya, namun setelah apa yang Gia dengar tadi, pelukan itu justru terasa seperti belenggu."Berdiri, Gia! Ikuti Johan!" perintah Arkan. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang komandan perang yang tidak menerima bantahan.Gia ditarik paksa untuk bangkit. Ia melihat pecahan kaca vas bunga yang baru saja hancur berserakan di atas meja makan, tercampur dengan omelet yang belum sempat disentuh. Simbol kedamaian pagi mereka telah hancur dalam hitungan detik.Johan muncul dari balik pi

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 20

    Lampu sorot helikopter masih menyapu balkon, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer. Haris Winata dibawa pergi dalam diam, namun tatapan terakhirnya pada Gia bukanlah tatapan seorang pria yang kalah. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menanam benih kehancuran dan sedang menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh.Arkan menarik Gia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya dari kilatan lampu kamera para tamu yang kini mulai berhamburan keluar. "Sudah selesai, Gia. Kau aman sekarang," bisiknya.Gia mengangguk pelan, namun jemarinya masih mencengkeram jas tuxedo Arkan dengan kuat. Keheningan yang mengikuti hiruk-pikuk penangkapan itu terasa aneh. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya beban di dadanya terangkat sepenuhnya. Namun, rasa dingin di tengkuknya tidak kunjung hilang."Arkan," panggil Gia dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Dia tidak terlihat terkejut. Kenapa dia tidak terlihat takut?"Arkan melepaskan pelukannya, menatap Gia dengan

  • Cinta Tanpa Suara   bab 19

    Pintu aula besar itu terbuka dengan sapuan yang megah, mengungkapkan sebuah dunia yang dibangun dari emas, kristal, dan kemunafikan. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye yang berbuih, namun bagi Gia, udara di dalam sana terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar untuk memberi ruang bagi ego para tamu undangan.Arkan melangkah masuk dengan tangan Gia yang bertumpu kokoh di lengannya. Kehadiran mereka seketika menciptakan riak. Bisik-bisik halus merambat seperti api di atas jerami kering. Pasangan Mahendra yang selama ini tertutup—dengan sang istri yang kabarnya mengalami trauma bicara—kini muncul dengan aura yang begitu dominan. Gaun merah darah Gia bukan sekadar pilihan busana; itu adalah deklarasi perang."Tetap di sampingku," bisik Arkan hampir tak terdengar. Ia menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.Dari kejauhan, di dekat panggung utama, sosok Haris Winata tampak sedang berbincang dengan seorang pejaba

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 18

    Malam itu, Mansion Mahendra tidak lagi terasa seperti rumah. Ruangan-ruangan luas dengan pilar marmer yang biasanya memancarkan kemewahan, kini tampak seperti labirin yang penuh dengan sudut-sudut gelap. Setelah Arkan membimbing Gia kembali ke dalam, suasana di meja makan terasa begitu berat. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.Gia menatap piringnya, namun pikirannya tertahan pada kata-kata Arkan tentang Haris Winata. Bekas luka bakar itu... sebuah tanda permanen dari malam yang selama ini menjadi mimpi buruknya."Mas Arkan," panggil Gia pelan, memecah kesunyian.Arkan, yang sedang menyesap anggur merahnya, menatap Gia dengan lembut. "Ya, Gia?""Boleh aku melihat data tentang Haris Winata? Semuanya. Rekam jejaknya, hubungannya dengan Ayah, dan apa yang dia lakukan di perusahaan selama ini."Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat terukur. "Gia, aku sudah

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 17

    Gia merasakan seluruh sendinya membeku. Suara di telepon itu tidak terdengar seperti gertakan biasa; ada nada otoritas yang tenang, seolah pria itu sedang berbicara tentang cuaca dan bukannya ancaman kematian. Gia mencoba menarik napas, mengatur getaran di pita suaranya yang baru saja pulih."Siapa kau?" Gia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Jika kau pikir ancaman ini akan membuatku bungkam lagi, kau salah besar."Tawa pelan yang kering terdengar di seberang sana. "Keberanian yang menarik. Arkan Mahendra pasti sudah mencuci otakmu dengan rasa aman yang palsu. Kau pikir dinding mansion itu cukup tebal untuk melindungimu dari sejarah yang ditulis dengan darah?""Apa hubungannya dengan Garda Elang?" potong Gia, mencoba memancing informasi.Hening sejenak. Suara napas di seberang sana terdengar sedikit lebih berat. "Kau sudah melihat fotonya, rupanya. Gadis kecil dengan mawar-mawar yang akan layu. Gia, ada alasan kenapa ayahmu memilih untuk tidak menyelam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status