LOGIN“Kau ini bukan istri, Aruna. Kau adalah kompensasi.” Aruna Nirmala dijual keluarganya untuk melunasi hutang dan dipaksa menikah dengan Arden Kaeswara, duda dingin yang dibayangi rumor pembunuhan istri pertamanya, Layla. Terperangkap di Kaeswara Estate yang megah tapi penuh rahasia, Aruna menghadapi Reyna yang mencurigai, intrik keluarga, dan bayangan Layla yang tak pernah benar-benar mati. Pernikahan kontrak ini seharusnya soal utang, tapi semakin ia menentang Arden, semakin ia terjerat perasaan yang tak ia duga. Setiap langkahnya diawasi, setiap gerakannya diuji, dan setiap rahasia bisa menghancurkan hidupnya. Bisakah Aruna menuntut kebebasan, mengungkap kebenaran Arden, dan menemukan cinta sejati? Atau akankah gerbang hitam Kaeswara menelan semuanya?
View MoreThe Breaking Point
Chapter 1: The Breaking Point The university hallways were way too quiet. I hurried toward my dorm, my heart hammering against my ribs like a trapped bird. In this prestigious school, a place that was supposed to be my dream, I was living a waking nightmare, living in fear. I was being hunted by a gang in school..This gang was dreadful and had not let me know a moment of peace since I gained admission into the University. Bryan and his "golden trio" were just out of control. To the professors, they were the brilliant, well-behaved stars of the campus. To me, they were monsters. Just the other day, they cornered me, beat me until I was badly bruised, and stole my things. When I tried to report them, the Dean basically laughed in my face. “You’re just jealous of their grades,” they said. "Stop right there," a raspy voice echoed behind me. I froze. Elena. I turned slowly, my breath hitching. Bryan stood there with his signature wicked smirk, flanked by his loyal dogs, Jack and Elena. Before I could move, Bryan lunged forward and snatched my bag, shoving me hard onto the cold floor. "Trying to run, pretty one?" he mocked. "Stop... please," I groaned. My vision blurred, and for a split second, my eyes flashed a different color. I was a werewolf, but a weak one, or so they thought. To them, I was just a stray from a low-level pack with no one to protect me. Elena snarled, her teeth lengthening into jagged points. She grabbed my ponytail and slammed my head back toward the ground. Crack. "What do you want from me?" I stammered, my face stinging from a sudden, piercing slap delivered by Elena. "Shut up," she hissed. They tore through my bag, looking for cash or electronics. Luckily, I had tucked my phone into my waistband the second I heard their footsteps. I’d already lost three phones to these jerks in two months; I wasn't losing a fourth. Finding only a bag of Doritos, they tossed my empty backpack at my face and sauntered off, laughing. I sat on the floor, shaking. I was scared and I needed help that the school wouldn't give me. This university was a melting pot of humans, werewolves, and even vampires, but everyone stayed in their own lane. I remembered a night in the library with my human friend, Helen. We had heard a bone-chilling growl from outside. "Is that...?" I had asked, terrified. "Just a wolf shifting," Helen had said casually, staring out the window. "They belong to packs. The most famous one is the MoonStone Pack. It's led by a billionaire’s son. He’s powerful, dangerous, and—honestly—gorgeous" she giggled. The MoonStone Pack? The name stuck in my head like a lifeline. If the school authorities wouldn't protect me, maybe a real Alpha would. I made it back to my dorm, my resolve hardening with every step. My roommate, Alicia, was already there. She was the campus "it-girl"—a blonde, blue-eyed cheerleader who had every guy on campus tripping over their feet to breathe her air. She was lounging on her bed, looking uncharacteristically dazed. "Alice?" I asked, dropping my bag. "I need to ask you something." She blinked, focusing on me. "Shoot." "I know you don't believe me about Bryan," I said, my voice firming up. "But I’m done being a victim. I need to find the leader of the MoonStone Pack. You know everyone—tell me where he is." Alicia’s jaw dropped. "What for? Do you have any idea how dangerous those guys are?" "I don't care," I snapped. "I'd rather face a King than let those bullies kill me." Alicia stared at me for a long beat, then grabbed a notepad. She scribbled an address and a name, her hand trembling slightly as she handed it over. "Here," she whispered. I looked at the paper and smirked. Tomorrow, after class, the "weak" little wolf is going to find herself a protector. And Bryan? He had no idea what was coming. I"Apakah kau berpikir dengan membawa mawar hitam itu adalah tanda perdamaian? Itu adalah bendera perang yang kau tancapkan di tengah rumahku, Darma!"Suara Arden menggelegar di ruang kerja pribadinya, tepat setelah Darma meninggalkan mansion dengan langkah yang begitu tenang. Aruna berdiri di samping meja, matanya menatap tajam ke arah map perak yang masih tergeletak diam. Belum sempat mereka membahas isi kesepakatan itu, sebuah peringatan dari perangkat Reyna memecah kesunyian."Tuan! Sistem manajemen logistik kita di pusat distribusi utama mendadak freeze!" Reyna masuk dengan tergesa, wajahnya tegang. Ia meletakkan laptopnya di meja. "Bukan hanya satu titik, tapi seluruh jalur pengiriman barang yang keluar dari pelabuhan terkunci. Sistem mencatat adanya akses ilegal yang menggunakan otoritas tertinggi.. otoritas yang seharusnya sudah mati bersama hilangnya Darma beberapa tahun lalu."Arden menyambar laptop itu, melihat layar yang dipenuhi barisan kode berwarna merah."Bajingan itu..
"Berhenti mengacak-acak kertas itu, Arden! Kau tidak akan menemukan jawaban jika tanganmu gemetar karena amarah."Suara Aruna tenang namun memiliki otoritas yang membuat langkah Arden terhenti. Di dalam galeri bawah tanah yang sunyi ini, suara Aruna memantul di dinding-dinding beton halus. Arden berdiri di depan sebuah meja kayu besar, napasnya memburu, dikelilingi oleh tumpukan map tua yang ia keluarkan dari brankas tersembunyi. Ruangan yang tadinya disiapkan sebagai tempat pelarian artistik bagi Aruna, kini mendadak berubah menjadi ruang interogasi masa lalu."Kau tidak mengerti, Aruna," Arden menoleh, matanya terlihat sangat lelah namun waspada."Suara di telepon itu... itu adalah suara yang menghantuiku selama ini. Suara yang dulu mendikte setiap langkahku sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi. Jika dia masih hidup, maka seluruh kebebasan yang kita rasakan saat ini hanyalah panggung sandiwara yang ia susun."Aruna melangkah mendekat, perlahan merapikan dokumen yang berseraka
"Lepaskan senjatamu, Arden. Kau tidak sedang berada di medan perang, kau sedang berada di rumah kita!" Suara Aruna terdengar tenang namun tajam, memecah kesunyian di dalam lift pribadi yang sedang meluncur naik menuju penthouse. Arden tersentak, tangannya yang sejak tadi mencengkeram gagang senjata di balik jasnya perlahan melonggar. Napasnya masih memburu, matanya merah karena kurang tidur selama penerbangan darurat dari Maladewa. Sejak pesan Menantuku itu muncul, Arden berubah menjadi sosok yang jauh lebih obsesif dan protektif, seolah-olah setiap bayangan di sudut ruangan adalah ancaman yang siap merenggut istrinya. "Dia tahu kita di sini, Aruna. Dia tahu setiap jengkal langkahmu," geram Arden, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Pesan itu... itu bukan sekadar gertakan. Itu adalah klaim kepemilikan. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merasa memiliki hak atas milikku!" Aruna melangkah mendekat, mengabaikan aura gelap yang memancar dari suaminya. Ia meraih k
"Kau bilang ada ruang bawah yang baru saja direnovasi? Apa maksudmu, Arden? Jangan bilang kau membangun penjara baru di rumah ini," canda Aruna, meski ada nada cemas di suaranya.Arden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menuntun Aruna keluar dari lift pribadi yang berhenti di lantai dasar tersembunyi. Lorong itu terlihat seperti galeri modern dengan dinding beton halus dan pencahayaan artistik. Reyna sudah menunggu di sana, berdiri tegak dengan kunci perak di tangannya."Ini bukan penjara, Aruna. Ini adalah penebusan dosaku," bisik Arden rendah.Reyna membuka pintu baja berat yang tersamar sempurna di balik panel kayu dinding. Begitu pintu terbuka, Aruna tertegun hingga menutup mulutnya dengan tangan. Itu bukan ruang pelarian, melainkan sebuah Galeri Seni dan Taman Kaca Bawah Tanah yang sangat luas.Atap ruangan itu terbuat dari kaca tebal yang terhubung langsung ke dasar kolam renang di lantai atas. Cahaya matahari menembus air, menciptakan refleksi gelombang biru yang menari-nari
Suara dentum pintu griya tawang yang tertutup seolah menjadi penanda resmi bahwa perang besar telah usai. Di luar sana, sirine polisi masih meraung, membawa Paman Bima dan Rendra menuju kehancuran mereka. Namun, di dalam ruangan ini, udara mendadak menjadi sangat sunyi dan berat oleh emosi yang te
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menang hanya dengan membawa sekretaris pengecut ini ke hadapanku, Arden?"Suara tawa Paman Bima menggelegar di sela deru angin Bukit Sagara, memecah kesunyian setelah pengkhianatan Hadi terungkap. Ia menatap Arden dengan pandangan meremehkan, sementara tangannya me
Kabut pagi di Bukit Sagara seolah menolak untuk pergi, menyelimuti vila tua itu dalam kebisuan yang menyesakkan. Di dalam kamar utama, Layla masih berdiri mematung di depan jendela, sementara Aruna baru saja meletakkan nampan sarapan dengan gerakan yang sangat hati-hati.“Tehnya akan dingin, Layla,
“Apa itu mobil yang sama sejak tadi, Reyna?”Suara Aruna terdengar pelan, namun ada getaran waspada yang tak mampu ia sembunyikan. Mobil mereka terus membelah jalanan hutan yang sempit, lampu depan memotong kabut tipis yang mulai turun menyelimuti bukit. Di spion belakang, dua titik cahaya itu mas
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews