LOGIN“Kau ini bukan istri, Aruna. Kau adalah kompensasi.” Aruna Nirmala dijual keluarganya untuk melunasi hutang dan dipaksa menikah dengan Arden Kaeswara, duda dingin yang dibayangi rumor pembunuhan istri pertamanya, Layla. Terperangkap di Kaeswara Estate yang megah tapi penuh rahasia, Aruna menghadapi Reyna yang mencurigai, intrik keluarga, dan bayangan Layla yang tak pernah benar-benar mati. Pernikahan kontrak ini seharusnya soal utang, tapi semakin ia menentang Arden, semakin ia terjerat perasaan yang tak ia duga. Setiap langkahnya diawasi, setiap gerakannya diuji, dan setiap rahasia bisa menghancurkan hidupnya. Bisakah Aruna menuntut kebebasan, mengungkap kebenaran Arden, dan menemukan cinta sejati? Atau akankah gerbang hitam Kaeswara menelan semuanya?
View More“Aagh…”
Suara itu lolos begitu saja dari tenggorokan Aruna. Lebih mirip napas yang tersendat daripada desahan kenikmatan. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Tangannya mencengkeram seprai putih yang terasa terlalu halus, terlalu mahal, terlalu asing. Ranjang ini bukan miliknya. Kamar ini bukan miliknya. Dan pria yang kini begitu dekat di atasnya… apalagi. Arden Kaeswara. Nama itu menggema di kepalanya seperti lonceng vonis. Tubuh pria itu menekan dirinya. Napas mereka bersinggungan. Ada panas di sana, panas yang tidak lahir dari cinta, hanya dari jarak yang terlalu dekat antara dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang. Aruna memejamkan mata. Bukan karena ingin. Tapi karena tidak sanggup menatap kenyataan. Gerakan Arden tegas. Tidak ragu. Tidak canggung. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan sesuatu tanpa melibatkan perasaan. Tidak ada bisikan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kelembutan yang biasanya mengiringi pertemuan dua tubuh. Yang ada hanya ritme yang dingin. Terukur. Sunyi. Setiap sentuhan terasa seperti tanda tangan di atas kontrak yang tak pernah ia baca, tapi kini harus ia jalani. Air mata hampir jatuh, tapi Aruna menahannya. Ia menolak menangis sekarang. Tidak di hadapan pria yang bahkan tidak menganggapnya manusia sepenuhnya. Wajah Arden datar. Rahangnya mengeras. Pandangannya kosong, tidak pernah benar-benar bertemu dengan matanya. Seolah yang ada di bawahnya bukan Aruna, melainkan bayangan dari seseorang yang lain. Dan itu… jauh lebih menyakitkan daripada perlakuan kasar mana pun. Saat semuanya berakhir, Arden menjauh lebih dulu. Cepat. Tegas. Tanpa sisa. Jarak tercipta di antara mereka. Di ranjang. Di udara. Di dunia. Aruna membuka mata perlahan. Langit-langit kamar tampak buram. Napasnya masih berat. Ada perih yang menjalar pelan dari dadanya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia baru saja menyerahkan sesuatu yang bahkan belum sempat ia jaga sepenuhnya. Dan pria itu? “Sudah.” Suara Arden rendah dan serak. Tidak hangat. Tidak juga dingin, lebih seperti suara orang yang baru saja menutup satu urusan. “Nirmala.” Nama itu terdengar seperti panggilan formal, bukan panggilan untuk seorang istri. Aruna tertawa kecil. Pahit. “Tenang saja, Tuan Kaeswara,” ucapnya pelan. “Saya juga sadar ini bukan adegan romantis.” Arden tidak menanggapi. Ia bergeser menjauh, duduk di tepi ranjang, lalu berdiri tanpa menoleh. Seolah tubuh Aruna yang masih terbaring itu hanyalah furnitur yang baru ia gunakan. Di situlah Aruna benar-benar paham. Ia bukan istri. Ia kompensasi. Properti yang diuangkan oleh kebangkrutan dosa orang lain. Arden melangkah ke sisi ruangan, meraih jubah mandi, lalu melilitkannya di pinggang. Posturnya tinggi, bahunya bidang, tubuhnya tegak di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela besar. Dan saat itulah suara itu terdengar. Melodi piano. Lembut. Pelan. Sendu. Mengalun dari kejauhan seperti ratapan yang tersesat di lorong-lorong rumah besar itu. Arden membeku. Punggungnya menegang. Bahunya naik sedikit. Untuk pertama kalinya sejak Aruna melihatnya, pria itu kehilangan kendali sempurna atas ekspresinya. Ada sesuatu di sana. Rindu. Kehilangan. Dan rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam. “Suara apa itu…?” bisik Aruna. Arden tidak menjawab. Ia berdiri menghadap jendela, menatap ke arah bangunan sayap kiri yang tenggelam dalam gelap. Seolah di sanalah pusat semesta hatinya berada. Layla. Nama itu tidak diucapkan, tapi keberadaannya terasa nyata. Aruna menyadari satu hal dengan getir. Dalam pernikahan ini, ia tidak hanya bersaing dengan masa lalu.. ia bersaing dengan orang mati. “Di rumah ini,” ucap Arden akhirnya, dingin kembali, “kau diam.” Aruna menelan ludah. “Karena saya dibayar untuk itu?” “Kompensasi dibayar untuk patuh,” jawab Arden tanpa menoleh. Astaga. Lengkap sudah. Aruna menggeser kakinya turun dari ranjang. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia hendak melangkah, tetapi matanya menangkap sesuatu di karpet tebal dekat meja rias. Sekertas kertas tebal. Ia memungutnya. ATURAN EMAS KAESWARA Tangannya sedikit gemetar saat membaca. Pertama, Kepatuhan Publik. Di hadapan siapa pun, Anda adalah Nyonya Kaeswara. Kedua, Batasan Pribadi. Hubungan ini adalah transaksi. Ketiga, Rahasia Keheningan. Jangan pernah membicarakan Layla Nirmala. Keempat, Zona Terlarang. JANGAN PERNAH MASUK KE SAYAP KIRI. Kelima, Harga Kebebasan. Patuhi aturan ini selama satu tahun, dan Anda bebas. Satu tahun. Satu tahun menjadi istri pria yang memandangnya sebagai harga. Tiba-tiba, sesuatu terjatuh dari balik lipatan kertas itu. Sapu tangan sutra putih. Dingin. Halus. Di sudutnya, terbordir satu huruf kecil: L. Aruna terdiam. Jejak Layla bukan hanya berupa suara piano. Ia nyata. Ditinggalkan di kamar ini. Di antara mereka. Arden berbalik. Dan untuk pertama kalinya, Aruna melihat kepanikan di wajah pria itu. “Berikan itu.” Nada suaranya tajam. Terlalu tajam untuk sekadar sebuah perintah biasa. Aruna menggenggam sapu tangan itu erat. Jantungnya berdegup kencang, tapi ada api kecil yang menyala di dadanya. “Jadi…” ucapnya pelan, “istrimu tidak benar-benar pergi, ya?” Langkah Arden terhenti tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat. Terlalu dekat. “Kau bermain api,” bisiknya. “Dan kau menyimpannya di rumah sendiri,” balas Aruna lirih. Tatapan mereka bertubrukan. Untuk pertama kalinya, Aruna tidak melihat Pembunuh. Ia melihat Penjaga, seseorang yang mempertahankan sebuah rahasia dengan nyawanya. “Kau akan membunuhku jika aku melanggar aturanmu?” tanya Aruna pelan. Arden menatapnya lama. “Tergantung,” jawabnya rendah. “Seberapa besar kerusakan yang kau buat pada bentengku.” Aruna tidak mundur. Dalam pernikahan ini, ia bukan lagi sekadar kompensasi. Ia kini adalah pemegang rahasia. Dan permainan… baru saja dimulai.Malam turun dengan cara yang berbeda di Kaeswara. Tidak ada hujan, tidak ada petir... hanya langit gelap yang menggantung berat, seolah ikut menunggu sidang esok hari.Aruna berdiri di balkon kamar utama, rambutnya tergerai diterpa angin malam. Di bawah sana, halaman luas tampak sunyi, namun ia tahu badai sedang bergerak perlahan menuju mereka.Besok, bukti kejahatan finansial Paman Bima akan dibuka. Nama keluarga Nirmala akan tercabik. Media akan haus darah. Dan mereka... ia dan Arden...akan berdiri di tengahnya.Langkah kaki berat mendekat dari belakang.“Kau masih memikirkan kemungkinan terburuk?” suara Arden rendah, lebih berat dari biasanya.Aruna tidak langsung menoleh. “Aku memikirkan bagaimana wajah Rendra besok ketika semua itu dibuka.”“Lalu?”“Aku tidak tahu apakah aku siap melihatnya hancur.”Arden berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat untuk membuat napas mereka berirama.“Kau masih punya sisa belas kasihan rupanya..” gumamnya.“Apa itu salah?”“Tidak
Malam itu, ruang kerja Arden terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi yang kosong... melainkan sunyi yang padat, berat, seperti udara sebelum badai besar pecah. Lampu meja menyala redup, menerangi tumpukan berkas, laptop terbuka, serta flash drive kecil berwarna hitam yang kini menjadi pusat dari semuanya.Aruna berdiri di dekat jendela, memeluk dirinya sendiri. Hujan tipis membasahi kaca, menciptakan garis-garis samar yang bergerak turun perlahan. Ia tahu malam ini berbeda. Bukan lagi tentang luka masa lalu. Bukan lagi tentang diary Layla yang penuh air mata dan manipulasi.Ini tentang pembalasan.Arden duduk tegak di kursinya. Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu bukan kelembutan... melainkan kendali. Di tangannya, ia memutar pelan sebuah pulpen perak, kebiasaannya saat sedang menyusun strategi.“Semua yang Layla kumpulkan…” suara Arden rendah namun mantap, “bukan sekadar catatan emosional. Dia mengumpulkan angka. Transaksi. Pergerakan dana.”Aruna menoleh perlahan. “Seja
Malam itu Sayap Kiri lebih sunyi dari biasanya.Layla sudah tertidur setelah percakapan panjang yang menguras sisa tenaganya. Elise mematikan lampu kamar dengan hati-hati, meninggalkan cahaya redup dari lorong sebagai penjaga. Hujan telah berhenti, menyisakan udara lembap yang membuat napas terasa lebih berat.Aruna tidak kembali ke kamar.Ia duduk sendirian di ruang tengah Sayap Kiri, buku harian Layla terbuka di tangannya. Arden berdiri tak jauh darinya, bersandar pada dinding, tidak mengganggu... hanya memastikan ia tidak sendirian dalam kesunyian yang terlalu pekat.Halaman demi halaman terbuka perlahan.Tulisan Layla tidak dramatis. Tidak ada kalimat yang berteriak. Justru itulah yang membuatnya menyakitkan.“Rendra bilang keluarga harus saling menguatkan. Tapi setiap kali ia mengatakannya, aku merasa sedang diikat, bukan dipeluk.”Aruna menutup mata sejenak.Rendra.Nama itu dulu terasa seperti perlindungan. Saudara yang tegas, rasional, selalu tampak paling matang di antara mer
Hujan turun tanpa suara keras, hanya garis-garis tipis yang memburamkan kaca Sayap Kiri. Ruangan itu selalu terasa terpisah dari bagian rumah lainnya.. seperti dunia yang sengaja disembunyikan dari cahaya.Aruna duduk berhadapan dengan Layla, buku harian bersampul cokelat terletak di pangkuannya. Ia tidak lagi terkejut melihat perempuan itu hidup, ia sudah tahu sejak lama. Namun mengetahui dan benar-benar memahami adalah dua hal yang berbeda.Layla terlihat lebih stabil malam ini. Tidak rapuh, tidak gemetar. Hanya lelah dengan cara yang tenang.“Aku tidak pernah berniat menjadikan diari itu senjata,” ucap Layla perlahan, suaranya lembut tapi tidak goyah. “Aku menulisnya karena saat itu aku mulai takut pada pikiranku sendiri. Semua orang terus mengatakan aku tidak rasional. Lama-lama aku hampir percaya.”Aruna membuka halaman pertama. Tulisan tangan Layla rapi, tapi ada tekanan kuat di setiap goresannya.“Apa yang paling mereka ulangi kepadamu?” tanya Aruna tanpa mengangkat wajah.Lay
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews