Pengantin di Gerbang Hitam

Pengantin di Gerbang Hitam

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-15
Oleh:  Aira Jiva Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
49Bab
302Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“Kau ini bukan istri, Aruna. Kau adalah kompensasi.” Aruna Nirmala dijual keluarganya untuk melunasi hutang dan dipaksa menikah dengan Arden Kaeswara, duda dingin yang dibayangi rumor pembunuhan istri pertamanya, Layla. Terperangkap di Kaeswara Estate yang megah tapi penuh rahasia, Aruna menghadapi Reyna yang mencurigai, intrik keluarga, dan bayangan Layla yang tak pernah benar-benar mati. Pernikahan kontrak ini seharusnya soal utang, tapi semakin ia menentang Arden, semakin ia terjerat perasaan yang tak ia duga. Setiap langkahnya diawasi, setiap gerakannya diuji, dan setiap rahasia bisa menghancurkan hidupnya. Bisakah Aruna menuntut kebebasan, mengungkap kebenaran Arden, dan menemukan cinta sejati? Atau akankah gerbang hitam Kaeswara menelan semuanya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 Malam Panas di Ranjang Kompensasi

“Aagh…”

Suara itu lolos begitu saja dari tenggorokan Aruna. Lebih mirip napas yang tersendat daripada desahan kenikmatan. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Tangannya mencengkeram seprai putih yang terasa terlalu halus, terlalu mahal, terlalu asing.

Ranjang ini bukan miliknya.

Kamar ini bukan miliknya.

Dan pria yang kini begitu dekat di atasnya… apalagi.

Arden Kaeswara.

Nama itu menggema di kepalanya seperti lonceng vonis.

Tubuh pria itu menekan dirinya. Napas mereka bersinggungan. Ada panas di sana, panas yang tidak lahir dari cinta, hanya dari jarak yang terlalu dekat antara dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang.

Aruna memejamkan mata.

Bukan karena ingin.

Tapi karena tidak sanggup menatap kenyataan.

Gerakan Arden tegas. Tidak ragu. Tidak canggung. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan sesuatu tanpa melibatkan perasaan. Tidak ada bisikan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kelembutan yang biasanya mengiringi pertemuan dua tubuh.

Yang ada hanya ritme yang dingin. Terukur. Sunyi.

Setiap sentuhan terasa seperti tanda tangan di atas kontrak yang tak pernah ia baca, tapi kini harus ia jalani.

Air mata hampir jatuh, tapi Aruna menahannya. Ia menolak menangis sekarang. Tidak di hadapan pria yang bahkan tidak menganggapnya manusia sepenuhnya.

Wajah Arden datar. Rahangnya mengeras. Pandangannya kosong, tidak pernah benar-benar bertemu dengan matanya. Seolah yang ada di bawahnya bukan Aruna, melainkan bayangan dari seseorang yang lain.

Dan itu… jauh lebih menyakitkan daripada perlakuan kasar mana pun.

Saat semuanya berakhir, Arden menjauh lebih dulu.

Cepat. Tegas. Tanpa sisa.

Jarak tercipta di antara mereka. Di ranjang. Di udara. Di dunia.

Aruna membuka mata perlahan. Langit-langit kamar tampak buram. Napasnya masih berat. Ada perih yang menjalar pelan dari dadanya, menyebar ke seluruh tubuhnya.

Ia baru saja menyerahkan sesuatu yang bahkan belum sempat ia jaga sepenuhnya.

Dan pria itu?

“Sudah.”

Suara Arden rendah dan serak. Tidak hangat. Tidak juga dingin, lebih seperti suara orang yang baru saja menutup satu urusan.

“Nirmala.”

Nama itu terdengar seperti panggilan formal, bukan panggilan untuk seorang istri.

Aruna tertawa kecil. Pahit.

“Tenang saja, Tuan Kaeswara,” ucapnya pelan. “Saya juga sadar ini bukan adegan romantis.”

Arden tidak menanggapi.

Ia bergeser menjauh, duduk di tepi ranjang, lalu berdiri tanpa menoleh. Seolah tubuh Aruna yang masih terbaring itu hanyalah furnitur yang baru ia gunakan.

Di situlah Aruna benar-benar paham.

Ia bukan istri.

Ia kompensasi.

Properti yang diuangkan oleh kebangkrutan dosa orang lain.

Arden melangkah ke sisi ruangan, meraih jubah mandi, lalu melilitkannya di pinggang. Posturnya tinggi, bahunya bidang, tubuhnya tegak di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela besar.

Dan saat itulah suara itu terdengar.

Melodi piano.

Lembut. Pelan. Sendu. Mengalun dari kejauhan seperti ratapan yang tersesat di lorong-lorong rumah besar itu.

Arden membeku.

Punggungnya menegang. Bahunya naik sedikit. Untuk pertama kalinya sejak Aruna melihatnya, pria itu kehilangan kendali sempurna atas ekspresinya.

Ada sesuatu di sana.

Rindu.

Kehilangan.

Dan rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam.

“Suara apa itu…?” bisik Aruna.

Arden tidak menjawab.

Ia berdiri menghadap jendela, menatap ke arah bangunan sayap kiri yang tenggelam dalam gelap. Seolah di sanalah pusat semesta hatinya berada.

Layla.

Nama itu tidak diucapkan, tapi keberadaannya terasa nyata.

Aruna menyadari satu hal dengan getir.

Dalam pernikahan ini, ia tidak hanya bersaing dengan masa lalu..

ia bersaing dengan orang mati.

“Di rumah ini,” ucap Arden akhirnya, dingin kembali, “kau diam.”

Aruna menelan ludah. “Karena saya dibayar untuk itu?”

“Kompensasi dibayar untuk patuh,” jawab Arden tanpa menoleh.

Astaga. Lengkap sudah.

Aruna menggeser kakinya turun dari ranjang. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia hendak melangkah, tetapi matanya menangkap sesuatu di karpet tebal dekat meja rias.

Sekertas kertas tebal.

Ia memungutnya.

ATURAN EMAS KAESWARA

Tangannya sedikit gemetar saat membaca.

Pertama, Kepatuhan Publik.

Di hadapan siapa pun, Anda adalah Nyonya Kaeswara.

Kedua, Batasan Pribadi.

Hubungan ini adalah transaksi.

Ketiga, Rahasia Keheningan.

Jangan pernah membicarakan Layla Nirmala.

Keempat, Zona Terlarang.

JANGAN PERNAH MASUK KE SAYAP KIRI.

Kelima, Harga Kebebasan.

Patuhi aturan ini selama satu tahun, dan Anda bebas.

Satu tahun.

Satu tahun menjadi istri pria yang memandangnya sebagai harga.

Tiba-tiba, sesuatu terjatuh dari balik lipatan kertas itu.

Sapu tangan sutra putih.

Dingin. Halus.

Di sudutnya, terbordir satu huruf kecil:

L.

Aruna terdiam.

Jejak Layla bukan hanya berupa suara piano. Ia nyata. Ditinggalkan di kamar ini. Di antara mereka.

Arden berbalik.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna melihat kepanikan di wajah pria itu.

“Berikan itu.”

Nada suaranya tajam. Terlalu tajam untuk sekadar sebuah perintah biasa.

Aruna menggenggam sapu tangan itu erat. Jantungnya berdegup kencang, tapi ada api kecil yang menyala di dadanya.

“Jadi…” ucapnya pelan, “istrimu tidak benar-benar pergi, ya?”

Langkah Arden terhenti tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat. Terlalu dekat.

“Kau bermain api,” bisiknya.

“Dan kau menyimpannya di rumah sendiri,” balas Aruna lirih.

Tatapan mereka bertubrukan.

Untuk pertama kalinya, Aruna tidak melihat Pembunuh.

Ia melihat Penjaga, seseorang yang mempertahankan sebuah rahasia dengan nyawanya.

“Kau akan membunuhku jika aku melanggar aturanmu?” tanya Aruna pelan.

Arden menatapnya lama.

“Tergantung,” jawabnya rendah.

“Seberapa besar kerusakan yang kau buat pada bentengku.”

Aruna tidak mundur.

Dalam pernikahan ini, ia bukan lagi sekadar kompensasi.

Ia kini adalah pemegang rahasia.

Dan permainan…

baru saja dimulai.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Nad03
Nad03
Aruna bikin merinding, tenang tapi menghantam. Makin ke sini ceritanya makin kuat. Wajib lanjut..
2026-01-10 23:46:13
1
0
Aira Jiva
Aira Jiva
Semoga Cerita nya menghibur ya.. kritik saran dukungan sangat penulis harapkan. Terimakasih
2025-12-15 13:22:30
2
0
49 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status