Share

Bab 63 - Tegang

Penulis: EYN
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 19:10:04
Hari ini Lionel super sibuk. Sejak dini hari, Lionel sudah ada memasuki ruang bersalin dengan seragam operasi khas dokter kandungan yang biasa membantu proses melahirkan.

Seorang suster dengan sigap menyodorkan sarung tangan steril, dan masker. Semua berlangsung cepat,dan efisien—seolah tubuhnya sudah bergerak tanpa perlu instruksi.

Lampu-lampu putih menerangi setiap gerakan yang dilakukan oleh Lionel. Tidak ada prosedur rumit—hanya fokus penuh pada proses kelahiran yang sedang berlangsung.

Tangisan pertama bayi pecah tidak lama kemudian. Proses persalinan berjalan lancar, meski sempat ada komplikasi kecil pada sang ibu.

"Selamat, bayi anda laki-laki. Sehat dan tidak kurang satu apa pun," katanya, sambil menunjukkan bayi laki-laki dengan bobot sekitar tiga kilogram. Matanya tampak tersenyum dari balik masker yang menutup setengah wajahnya.

Senyum ibu saat melihat bayinya untuk pertama kali selalu memberi kebahagiaan tersendiri yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata. Perasaan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 83 - Lionelku

    Meilissa tertegun. Ucapan Liora seperti mengingatkannya pada hubungan rahasia antara dirinya dan Lionel.Sejak kapan caranya bersikap pada Liora perlahan berubah—lebih menyerupai seorang ibu daripada seorang sahabat?Mendapati Meilissa diam saja, kening Liora berkerut.“Mei? Kamu kenapa?” tanyanya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Meilissa.Liora tidak menyadari bahwa ucapannya barusan tanpa sengaja menyentil perasaan sahabatnya. Seperti biasa, dia ceplas-ceplos tanpa banyak pikir.“Eh, tidak. Aku tidak apa-apa," Meilissa tertawa pelan, "Tiba-tiba aku kepikiran tentang masa depan kita setelah ini."Liora mengerucutkan bibir tanpa berkomentar apa-apa. Maka, Meilissa melanjutkan ucapannya, "Apa rencanamu? Apa kamu akan bekerja di klinik Om Lionel? Atau buka apotek sendiri?”Liora langsung melingkarkan lengannya ke lengan Meilissa, menautkan tubuh mereka seperti biasa."Kalau kamu sendiri gimana, Mei?” tanyanya balik. Sebenarnya, Liora belum punya rencana pasti setelah

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 82

    “Ada deh.” Liora mengedipkan mata sambil tertawa cekikikan—jelas-jelas menikmati rasa penasaran Meilissa.Gemasl, Meilissa memutar bola matanya. “Dasar Liora. Kamu...—”Belum sempat kalimat itu selesai, Liora sudah bergerak lebih dulu. Dengan lincah, dia menepuk bahu seorang laki-laki muda yang berdiri tak jauh dari mereka, lalu memberikan ponselnya.“Hey, Kak. Tolong fotokan kami, dong,” pintanya sambil memasang ekspresi memelas yang dibuat-buat. Tanpa menunggu persetujuan, Liora meraih tangan pemuda itu dan langsung meletakkan ponselnya diatas telapak tangan pemuda tampan itu. Laki-laki itu tertawa pelan. Satu tangannya menerima ponsel, sedang tangan satunya mengusap kepala Liora pelan.Diam-diam Meilissa memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Cara pemuda itu mengusap kepala terlihat terlalu akrab untuk disebut teman biasa. Meilissa jadi ingat saat Lionel mengusap kepalanya. "Ayo, Mei!" Liora merangkul lengan Meilissa, menariknya sedikit lebih dekat untuk berpose. “Senyum, M

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 81 - Aw! Aw! Hey!

    Otak Meilissa masih berusaha mencerna arti kalimat Lionel, ketika lelaki itu melangkah pergi dan kembali ke sofa yang tadi dia duduki.Menghembuskan napas panjang, Lionel itu mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa tombol. Wajahnya seketika berubah serius. Lionel masuk dalam mode kerja.Meilissa berdiri kaku memandang Lionel. Kakinya terasa seperti kehilangan tenaga. Dia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak saat pramuniaga kembali menghampiri dan bertanya, "Apakah Nona ingin mencoba model lain?” "Tidak. Yang ini saja." Meilissa menggelengkan kepala. Ketegangan dalam dirinya belum sepenuhnya reda.Beberapa menit selanjutnya, Lionel menyelesaikan pembayaran. Pramuniaga mengucapkan terima kasih, sementara Meilissa hanya mengangguk sopan.Tidak lama, mereka meninggalkan butik dan pergi ke klinik untuk bekerja.Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Lionel fokus menyetir, sementara Meilissa duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar, menatap lurus ke

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 80 - Leher Jenjang Nan Mulus

    Di saat Lionel terperangkap dalam bayangan Meilissa dan gaun pengantinnya, gadis yang ada di dalam imajinasinya justru sedang memikirkan hal lain.Meilissa masih kepikiran soal Liora yang pergi begitu saja tanpa benar-benar memilih gaunnya.Firasat aneh itu kembali menyelusup di dalam hati Meilissa. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tapi tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.Sayangnya, sebelum pikiran tentang Liora menemukan penjelasan nyata, suara pramuniaga itu sudah lebih dulu menyela.“Permisi, Nona Meilissa. Anda ingin mencoba yang mana?"Meilissa tersentak dari lamunannya. Sesaat tadi, dia benar-benar lupa kalau ada seorang wanita cantik sedang menunggu keputusan darinya dengan senyum profesional yang tak pernah luntur."Yang ini saja," putus Meilissa kemudian.Dia menunjuk salah satu gaun selutut dengan potongan A-line yang tergantung di ujung rak. Model pilihan Meilissa tidak jauh berbeda dari gaun Liora. Memang rencananya mereka akan seragaman saat wisuda nanti. Mungk

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 79 - Gaun Pernikahan

    Entah faktor mana yang lebih dominan—kabar kelulusan Liora atau iming-iming liburan dari Lionel. Yang jelas, sejak malam itu Meilissa bekerja dua kali lipat lebih keras dari biasanya. Tenaganya seolah tidak pernah habis.Ada semacam dorongan dalam dirinya untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan sempurna. Tugas akhir selesai dan ujian berhasil dilalui Meilissa dengan hasil yang baik.Hari kelulusan kian dekat. Nama Liora diumumkan sebagai perwakilan lulusan termuda dengan prestasi terbaik. Sebuah pencapaian yang pantas dia dapatkan setelah perjuangannya selama ini.Hal itu sama sekali tidak menimbulkan rasa iri di hati Meilissa, sebaliknya, Meilissa justru ikut dalam kesibukan membantu Liora mempersiapkan pidato kelulusan.Seharian mereka mengurung diri di kamar. Meilissa duduk bersila di atas karpet dengan laptop di pangkuannya, sementara Liora berdiri di depan cermin membaca kalimat-kalimat yang baru saja mereka susun.Mereka memilih kata-kata yang sederhana, tapi mengena. Kali

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 78 - Tidur Bersamamu

    Bulu-bulu halus di lengan Meilissa meremang. Bukan karena udara dingin tengah malam, melainkan karena nada suara Lionel yang terdengar menggoda.Ucapan Lionel membuat pikiran Meilissa berkelana ke arah yang tidak seharusnya. Gugup, Meilissa menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mata Lionel yang terasa menelanjangi dirinya.“Lihat aku,” perintah Lionel lembut, tapi selalu berhasil membuat jantung Meilissa berdebar lebih cepat.Pelan-pelan sekali, Meilissa mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Lionel. Tatapan itu hangat dan teduh.“Apa yang kamu takutkan?” Lionel tersenyum menenangkan. “Apa kamu keberatan? Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan saja. Jangan kamu simpan sendiri."“Hm…."Meilissa terdiam cukup lama. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. Ada satu nama yang terus berputar di kepalanya sejak tadi. Satu sosok yang entah kenapa sama sekali tidak disebut Lionel dalam rencana mereka, padahal orang itu penting bagi mereka.Setelah mengumpulkan keber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status