Chapter: Bab 73"Maafkan kami, Nenek. Kami sudah menikah." Dia menarik tangan Maureen, lalu mengangkat tangan mereka bersamaan untuk menunjukkan sepasang cincin yang melingkar di jari manis masing-masing.Benda mungil yang selama ini mungkin kurang diperhatikan oleh Nenek. "A-apa?" gagap Nenek.Dia melihat Maureen lalu Erland, secara bergantian. "Kalian..."Mulutnya terbuka, tapi tidak jadi melanjutkan kalimatnya seakan takut mengungkapkan isi pikirannya."Ya. Kami sudah menikah," ujar Erland melanjutkan kata-kata Nenek Argantha."Ya Tuhan..." gumam Nenek sambil memegang dadanya yang berdetak kencang. Ketakutannya terbukti. Erland mengakuinya.Melihat itu, Maureen melepaskan tangannya dari Erland, dan kembali memeluk Neneknya."Maafkan aku, Nek," rengeknya, khawatir sekaligus sedih melihat Neneknya yang tampak shock.Air mata menetes di pipi Nenek. "Maureen, Maureen, sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku, Nak?" sesal Nenek, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar.Erland berlutut di depan Nen
Last Updated: 2025-08-29
Chapter: Bab 72"Nenek!" sapa Maureen dan Erland hampir bersamaan. Mereka nyaris memekik karena terkejut.Mata Nenek memindai Erland dan Maureen dengan sangat cermat. Beliau melihat sendiri Maureen sedang duduk di pangkuan Erland dan mereka tampak sedang bermesraan. Dia tidak mungkin salah lihat.Seketika Maureen melompat turun dari pangkuan Erland, lalu merapikan rambut dan pakaiannya dengan gugup. Matanya menatap Nenek takut-takut.Berbeda dengan Maureen, Erland terlihat lebih tenang. Lelaki itu meraih tangan Maureen dan menggandengnya berjalan mendekat ke Nenek. Langkah Maureen terasa berat saat mengikuti Erland."Apa yang kalian lakukan malam-malam begini, hah?" sergah Nenek. Sorot matanya tajam dan menghakimi."Uhm, Nenek..." Maureen mengkeret. Otaknya blank, tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Erland disini."Apa kalian pacaran diam-diam di belakangku?" tanya Nenek lagi. Matanya tertuju pada tangan sepasang suami istri yang saling bertautan.Maureen memutar perge
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: Bab 71 - Suara Serak Erland"Erland...." Sesaat Maureen tidak tahu harus menjawab apa. Ajakan Erland terdengar spontan dan lugas. "Oke. Diam berarti setuju," putus Erland, kembali menyuap makanannya. Dia sangat lapar. "Kita pacaran?" tanya Maureen seperti orang berbisik, seakan-akan takut ada yang mendengar percakapan mereka. Erland mengangguk. "Ya." Maureen menarik tangannya dari genggaman Erland, lalu melipatnya di depan dada. "Kamu sedang menjadi pacarmu, atau sudah memutuskannya? Sepertinya aku tidak mendengar kalimat permohonan darimu," ucap Maureen, berpura-pura marah. "Aku tidak perlu memohon pada istriku untuk menjadi pacarku. Pokoknya, kita pacaran," tegas Erland, memasukkan potongan terakhir makanan ke dalam mulut. Perut kenyang, hati pun senang. Maureen mengernyitkan wajah, tiba-tiba kesulitan menata kalimatnya. "Jadi, kita pacaran seperti... " Erland mengusap mulutnya dengan serbet, lalu menunggu Maureen melanjutkan ucapannya. "Seperti?" pancing Erland kemudian. "Yeah..., jadi hubungan kita
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: Bab 70 - Chef Cantik Untuk Tuan Muda BerandalReaksi Lillian yang tampak diluar kebiasaan itu membuat Maureen tersadar akan sesuatu. Di menunduk, melihat ke dirinya sendiri. Tersentak, Maureen langsung mengibaskan rambutnya kembali ke depan supaya kembali menutup bagian dadanya yang sedikit terbuka. Dia berusaha tersenyum meski bibir dan pipinya terasa panas. Ini memalukan sekali! Sejak tadi, Erland sesekali mencuri lihat interaksi Mommy dan istrinya. Ekspresi janggal Lillian ditambah reaksi aneh Maureen menimbulkan penasaran di hati Erland. "Ada apa dengan kalian?" tanya Erland curiga. "Kulitmu merah-merah, apakah gatal? Atau, sebaiknya kita pergi ke dokter kulit saja?" tanya Lillian, mengabaikan pertanyaan Erland. Maureen refleks melirik ke arah Erland. Tatapan yang singkat, tapi cukup menyadarkan lelaki itu akan sesuatu. Bibir bengkak? Lalu, merah-merah di kulit. Astaga! Erland nyaris mengelus dada. Jelas sekali kedua hal itu adalah hasil karyanya. "Tidak perlu, Lillian. Cuma diolesi salep pasti akan sembuh," jawab Mau
Last Updated: 2025-08-26
Chapter: Bab 69 - Bibir Yang Bengkak"Oh, Erlan... mmmph." Suara Maureen tenggelam dalam ciuman panas Erland yang menggebu. Jari-jarinya meremas rambut Erland. Matanya terpejam menikmati setiap perlakuan Erland. Di dalam kamar yang kedap suara itu, Erland bebas memberi hukuman pada Maureen. Diatas tempat tidur, Maureen tergolek pasrah. Wajahnya merah padam saat merasakan tangan Erland dengan lincah menyusup ke punggung lalu melepaskan tali bikini yang menutupi tubuh bagian atasnya. "Please, stop..." rengek Maureen mengiba, berharap Erland menghentikan hukumannya. Erland tidak mau berhenti. Namun saat lidahnya mulai menikmati gundukan kembar nan cantik, suara intercom memecah suasana panas yang memenuhi ruangan itu. Mencoba mengabaikannya, tangan Erland menekan pinggang Maureen. Bibirnya kembali menangkup bibir Maureen. Tapi, lagi-lagi intercom berbunyi. Kali ini terdengar lebih lama dan mengganggu. Mau tidak mau Erland berhenti. Rahangnya mengeras ketika bunyi itu terhenti hanya sesaat, lalu kembali bersuara. Men
Last Updated: 2025-08-25
Chapter: Bab 68 - Sentuhan Adalah Bahasa CintaTangan Erland menyambar handuk yang dipegang oleh Maureen dengan gerakan yang cepat. Dalam sekali hentakan, handuk itu lepas dan terjatuh ke lantai.Maureen berdiri di hadapannya hanya dengan memakai bikini. Refleks gadis itu menutup tubuhnya dengan kedua tangan, lalu mundur selangkah dan menjaga jarak aman."Erland, please..." lirih Maureen. Dalam hati dia mulai menghitung mundur. Bersiap untuk kabur.Tiga... Dua...Erland melangkah maju, tangannya terulur seperti hendak menyentuh Maureen. Refleks Maureen menepis pergelangan tangan Erland, sementara kakinya melayang hendak menendang sisi tubuh Erland.Gerakan bela diri dasar yang dulu diajarkan Reinner, kini secara otomatis dipraktekkan oleh Maureen demi melindungi diri.Sayangnya, Erland lebih sigap. Dengan sekali gerakan, dia menangkap pergelangan tangan Maureen, memutar tubuh gadis itu.BUGH!Semuanya terjadi begitu cepat bagi Maureen. Saat tersadar, dia sudah terbaring di tempat tidur. Tubuhnya tidak bisa leluasa bergerak karena
Last Updated: 2025-08-24
Chapter: Bab 109 - Keluarga Kecil BahagiaDua tahun kemudian,"Sebelum jam 4 sore sudah ada di rumah ya?" pinta Harvey.Lillian mengangguk, "Iya, Har. Aku cuma sebentar di rumah makan. Setelah itu baru belanja. Kalau sudah dapat barangnya, pasti aku langsung pulang."Harvey cemberut. Hari ini Lillian ada janji pergi bersama Amara, kalau sudah begitu jam pulangnya tidak akan bisa ditentukan. Sejak putera mereka berusia satu tahun, istrinya itu semakin sibuk sampai - sampai pergi pagi pulang malam. Akhirnya, Harvey lebih memilih bekerja dari rumah sambil menjaga putera mereka.Kini dia jadi bapak rumah tangga, posisi mereka jadi terbalik. Lillian yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah daripada Harvey."Kamu jangan mau kalau diajak keluyuran tidak jelas sama Amara. Nongkrong - nongkrong di cafe, belanja - belanja terus," omel Harvey.Lillian tersenyum. "Aku sudah nolak, Har. Tapi kamu tau sendiri bagaimana Amara kalau sudah punya keinginan. Lagipula, dia masih hamil. Apa kamu tega lihat dia keluyuran sendiri di kantor
Last Updated: 2024-04-22
Chapter: Bab 107 - Persalinan DaruratTheopillus meyakinkan pada mereka kalau semua yang bernyawa di dalam rumah - rumah yang mengalami kebakaran sudah dievakuasi dan tidak ada yang tertinggal. Anak - anak, orang dewasa, manula, bahkan termasuk juga hewan peliharaan bagi yang memeliharanya di rumah.Kaki Harvey serasa tak berpijak saat mendengar kalau ada korban meninggal di rumah nomer E7, tapi dia memaksa diri untuk mengikuti langkah Theopillus ke sisi lain lapangan.Tidak berbeda dengan Harvey, Richard pun pucat pasi. Mereka berjalan seperti mayat hidup, sambil mendengarkan kronologis kejadian yang disampaikan oleh Theopillus.Dua laki - laki itu oleng saat melihat dua buah tandu yang berisi seseorang yang ditutup selimut sekujur tubuhnya. Mereka tidak bisa melihat wajah orang itu tapi Harvey tak sengaja melihat sebuah tangan dengan kulit putih pucat dari balik selimut di salah satu tandu. Leher Harvey tercekat, jantungnya berdegup kencang saat mengenali gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Rantainya memang men
Last Updated: 2024-04-18
Chapter: Bab 106 - Misi Penyelamatan"Nona," Tiba - tiba saja sopir Lillian masuk ke supermarket dan menyodorkan ponsel kepada Amara. "Ponselnya berdering terus, Nona. Saya menemukannya di jok belakang mobil. Silahkan, Nona. Barangkali ada yang urgent."Amara melihat ada nama Lillian di layar ponsel, dia langsung menggeser tombol hijau. Mengira Lillian tak sabar menunggu, Amara langsung menjelaskan kondisinya saat ini,"Sorry, Say. Tadi di supermarket terdekat tidak ada angka yang sesuai dengan usia Aunty --""Amara, dengarkan aku. Disini berbahaya... --""Ha? Ap--?"PIP.... Telepon mati. Amara membelalakkan matanya dan menoleh ke sopir, "Apa yang terjadi sebenarnya?"Sopir menatap Amara dengan bingung."Pak, ayo, jangan bengong. Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk pada Lillian," perintah Amara sambil berlari ke mobil.Sopir tergopoh - gopoh mengikutinya."Cepat, Pak! Lima menit harus sampai!" perintah Amara begitu mereka berdua sudah berada di dalam. Tanpa banyak tanya, sopir langsung mengemudi dengan kecepatan ting
Last Updated: 2024-04-18
Chapter: Bab 105 - Chaos"Har, kenapa HPnya tidak aktif? Aku sudah kirim pesan banyak banget lho dari pagi. Buruan susul aku. Sekarang aku sudah di rumah mama tapi malah bertemu dengan Ernest. Aku sedikit paranoid sama kelakuan Ernest... hehehe... aku ngumpet di kamar mandi. Semoga Amara cepat datang. Dia lagi beli lilin untuk kue ulang tahunnya mama.""Har, cepat pulang.""Har, perutku sakit.""Kebakaran."Suara Lillian melalui voice note terngiang - ngiang di rongga telinganya, berputar seperti kaset rusak, tidak bisa keluar dari kepalanya. Harvey berlari kencang, memaksa seluruh kekuatannya untuk berlari secepat mungkin. Menerobos jalanan yang macet, mendorong orang - orang yang menghalangi jalannya."Permisi! Permisi! Istri dan anakku terjebak kebakaran! Permisi!"Di belakangnya, Richard tidak kalah heboh."Menyingkiiir, kami harus menyelamatkan mereka!"Napas kedua laki - laki itu berderu, paru - parunya seperti akan meledak karena dipaksa lari melebihi batas kemampuan. Mereka tidak akan berhenti sebelum
Last Updated: 2024-04-15
Chapter: Bab 104 - FirasatWajah Carina memucat, dia tak menyangka kalau keisengannya bisa berbuntut panjang. Dia ikut masuk ke dalam lift dengan bahu meluruh, wajahnya penuh penyesalan. "Begini saja, aku akan telepon Lillian dan menjelaskan kalau semua ini salahku. Aku hanya main - main. Maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kalian sampai dengan cepat dan selamat di St. Moritz." Dia menawarkan sebuah solusi sebagai upeti perdamaian.Harvey mendengus, sementara Richard berusaha menghubungi Amara, tapi tidak diangkat."Itu akan aku urus nanti. Aku punya perasaan kalau Lillian membutuhkan aku. Jangan - jangan dia mau melahirkan. Seharusnya aku langsung pulang setelah acara pemakaman di hari pertama. Aku bukan suami yang baik," sesal Harvey berkepanjangan. Ternyata sulit menemukan tiket pesawat yang diminta oleh Harvey. Tiket pesawat penerbangan menuju St. Moritz hanya ada dua jam lagi, sesuai jadwal keberangkatan Harvey, mau tak mau mereka menggunakan fasilitas dari Carina. Sebagai permohonan maa
Last Updated: 2024-04-15
Chapter: Bab 103 - Call Me, Please... Lillian menarik napas dan menghembuskannya berulang kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha berpikir jernih demi memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan. Diluar pertengkaran masih berlanjut."Pertama, kamu yang salah bergaul dengan sepupumu hingga terjerumus dalam obat - obatan dan minuman keras. Aku tidak pernah membuatmu mengkonsumsi barang - barang terlarang itu. Kamu yang salah pergaulan lalu kecanduan. Ernest, dengarkan dulu... kamu salah paham. Aku tidak pernah menyuruh orang untuk menangkapmu. Mereka dari kepolisian yang akan menahanmu karena bisnis obat terlarang. Aku justru memohon supaya kamu direhabilitasi daripada ditahan. Kamu harus sembuh, Ernest.Kedua, uang yang aku berikan padamu, sebaiknya kamu introspeksi. Kamu selalu mengambil sendiri uangku di lemari penyimpanan atau di ATM. Aku diam karena tidak mau memperpanjang masalah. Aku ibumu, kamu ingin memakai uangku maka aku memberikannya.""BOHONG! KAMU PEMBOHONG!""Ernest, demi Tuhan, aku tidak per
Last Updated: 2024-04-15