Chapter: Bab 233Keesokan paginya, Meilissa sudah berdandan cantik. Dia turun dari lantai dua lengkap dengan setelan kerjanya.Rencananya, Pak Sopir akan mengantar Meilissa lebih dulu kemudian baru mengantar Liora ke apartment Elara.Berhubung Liora akan menghabiskan waktu dengan Elara, maka Meilissa berencana menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja di klinik dan bersama Lionel setelah jam kerja usai."Kamu sudah siap?" sapa Meilissa. Dia memperhatikan penampilan Liora yang sudah cantik.Liora memutar tubuhnya, kain dressnya mengembang. "Sudah dong. Yuk!" ajaknya.Mereka berjalan keluar rumah, langsung ke mobil yang sudah stand by di dekat teras. Di belakang mereka, Bibi Emma mengikuti sambil menjinjing kotak berisi kue buatan Liora."Non Mei," panggil Bibi Emma terlihat gelisah, "Nanti Non Mei turun di klinik lebih dulu dari Non Liora ya?""Iya. Kenapa, Bi?" tanya Meilissa heran. Mobil mereka akan melewati klinik Sinclair barulah apartment yang dituju oleh Liora.Alih-alih menjawab, Bibi Emma m
آخر تحديث: 2026-04-29
Chapter: Bab 232 - Suka Sama Om-OmAir jacuzzi beriak pelan, memantulkan cahaya hangat dari lampu di langit-langit ruang gym yang sepi.Sisa-sisa aroma manis kue tart masih samar tercium dari rambut mereka, bercampur dengan wangi aroma terapi yang menenangkan.Di tepi jacuzzi, sebuah nampan kecil diletakkan rapi. Di atasnya, satu teko berisi jus dingin yang mulai berembun dan dua gelas kosong.Liora berdiri perlahan dari dalam air, kulitnya berkilau oleh percikan. Tanpa banyak bicara, dia meraih teko itu, lalu menuangkan jus ke dalam kedua gelas kosong itu.Dia sengaja melakukan semua itu dengan gerakan yang sangat lambat, seolah menunda selama mungkin untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.Dia menyerahkan satu gelas pada Meilissa, lalu kembali ke posisinya semula, menyandarkan punggung pada dinding jacuzzi.Dia menyodorkan satu gelas kepada Meilissa, lalu kembali duduk di sisi semula, membiarkan air hangat memeluk tubuhnya. Liora meneguk minumannya pelan, lalu menatap permukaan air sejenak sebelum akhirnya berkata,“Un
آخر تحديث: 2026-04-29
Chapter: Bab 231 - Nama Yang TepatBeberapa hari kemudian,Rumah itu terasa berbeda sejak pagi. Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur, memantul pada permukaan marmer dan peralatan masak yang berkilau.Biasanya, dapur adalah wilayah kekuasaan Bibi Emma—rapi, tenang, dan nyaris steril dari kekacauan.Tapi pagi ini, suara dentingan, gesekan, dan senandung kecil, mengubah suasana.Meilissa berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan dengan saksama.Liora.Gadis itu sedang membuka-tutup lemari penyimpanan, seolah mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri belum yakin apa.Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tampak cerah. Terlalu cerah untuk seseorang yang beberapa hari lalu masih tenggelam dalam diam, kecuali saat bersama Rick.Di mata Meilissa, perubahan itu mencolok.Liora bukan tipe yang betah di dapur. Bahkan sekadar membuat mie instan saja biasanya diakhiri dengan panggilan panik ke Bibi Emma. Tapi sekarang, dia berdiri di sana, bersenandung pelan, bahkan sesekali bergoyang mengikuti
آخر تحديث: 2026-04-28
Chapter: Bab 230 - Om, Ini Gila!"Tapi, Om... ini gila," desis Meilissa, suaranya tertahan di tenggorokan.Meilissa menatap layar tablet dan membaca tulisan yang ada disana sekali lagi. Tulisan-tulisan yang ada disana belum berubah, yaitu sebuah surat pengunduran diri.Nama dan tanda tangan Lionel Sinclair tertera di bagian bawah kanan, seakan menegaskan kalau yang laki-laki itu lakukan adalah sebuah keputusan yang tidak tergoyahkan."Ini bukan gila," jawab Lionel tenang, matanya tetap tertuju pada layar. "Tapi, sebuah keputusan.""Om serius?""Sangat serius."Nada suara Lionel tidak ragu sedikit pun, membuat dada Meilissa terasa semakin sesak."Oma Beatrice pasti marah." Meilissa menundukkan kepala. Ibu dan anak bertengkar karena dirinya, rasanya sungguh tidak nyaman.Lionel menarik dagu Meilissa supaya menghadap kearahnya."Mamaku marah besar itu sudah pasti," ujarnya, dengan volume suara yang lebih pelan, "terutama setelah aku mengatakan soal pernikahan kita."Pernikahan mereka?Kata-kata bergema di telinga Meiliss
آخر تحديث: 2026-04-28
Chapter: Bab 229 - Persiapan Terburuk"Bibi, tolong siapkan makan malam untuk Om Lionel makan malam. Masukkan dalam kotak makan," pesan Meilissa sebelum bergegas ke kamar.Nada suaranya terdengar ringan, tapi langkahnya tergesa. Kurang lebih sepuluh menit lagi suaminya akan datang, mereka akan pergi entah kemana. Lionel tidak menjelaskan lebih lanjut soal rencananya."Siap, Non." Bibi Emma hanya mengangguk, lalu segera menyiapkan menu makan malam tanpa banyak bertanya.Sepuluh menit kemudian, Meilissa keluar dari dengan penampilan rapi. Gaun sederhana berwarna lembut membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja.Tempat pertama yang dia tuju adalah ruang makan. Di meja, kotak-kotak makanan sudah tersusun rapi di dalam tas jinjing—sup krim hangat, roti, dan beberapa lauk ringan yang mudah disantap.Ponselnya berdering tepat saat dia hendak meraih tas."Kamu sudah siap? Sebentar lagi aku masuk rumah." Suara Lionel terdengar dari seberang, tenang seperti biasa, tapi ada nada lembut yang hanya munc
آخر تحديث: 2026-04-27
Chapter: Bab 228 - Memangnya Tidak Rindu?Suster Francess menengok ke pintu ruangan Lionel yang tertutup. Roller blind sudah kembali tertutup. Kegiatan didalam sana tidak tampak.Setelah Miranda pergi, dokter itu tidak kunjung keluar dari ruangan. Sudah dua jam berlalu. Jam kerja mereka sudah habis. Dia juga ingin segera pulang dan berkumpul dengan keluarga.Padahal tadi Lionel bilang mau pulang saat mengusir Miranda. Biasanya tidak ada setengah jam waktu yang dibutuhkan oleh Lionel untukmu berkemas sebelum meninggalkan klinik.Lelaki itu terkenal efisien. Tidak membuahg waktu untuk hal yang tidak perlu.Tapi, malam ini entah apa yang dikerjakan oleh atasannya itu.Lampu di ruangannya masih menyala terang. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Francess sempat melihat Lionel duduk mengerjakan sesuatu di mejanya.Francess menunggu beberapa saat lagi sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.“Dokter,” panggil Francess ragu-ragu. Jarinya mengetuk pintu dengan sangat pelan, tapi cukup bisa di dengar oleh Lionel.
آخر تحديث: 2026-04-26
Chapter: Bab 109 - Keluarga Kecil BahagiaDua tahun kemudian,"Sebelum jam 4 sore sudah ada di rumah ya?" pinta Harvey.Lillian mengangguk, "Iya, Har. Aku cuma sebentar di rumah makan. Setelah itu baru belanja. Kalau sudah dapat barangnya, pasti aku langsung pulang."Harvey cemberut. Hari ini Lillian ada janji pergi bersama Amara, kalau sudah begitu jam pulangnya tidak akan bisa ditentukan. Sejak putera mereka berusia satu tahun, istrinya itu semakin sibuk sampai - sampai pergi pagi pulang malam. Akhirnya, Harvey lebih memilih bekerja dari rumah sambil menjaga putera mereka.Kini dia jadi bapak rumah tangga, posisi mereka jadi terbalik. Lillian yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah daripada Harvey."Kamu jangan mau kalau diajak keluyuran tidak jelas sama Amara. Nongkrong - nongkrong di cafe, belanja - belanja terus," omel Harvey.Lillian tersenyum. "Aku sudah nolak, Har. Tapi kamu tau sendiri bagaimana Amara kalau sudah punya keinginan. Lagipula, dia masih hamil. Apa kamu tega lihat dia keluyuran sendiri di kantor
آخر تحديث: 2024-04-22
Chapter: Bab 107 - Persalinan DaruratTheopillus meyakinkan pada mereka kalau semua yang bernyawa di dalam rumah - rumah yang mengalami kebakaran sudah dievakuasi dan tidak ada yang tertinggal. Anak - anak, orang dewasa, manula, bahkan termasuk juga hewan peliharaan bagi yang memeliharanya di rumah.Kaki Harvey serasa tak berpijak saat mendengar kalau ada korban meninggal di rumah nomer E7, tapi dia memaksa diri untuk mengikuti langkah Theopillus ke sisi lain lapangan.Tidak berbeda dengan Harvey, Richard pun pucat pasi. Mereka berjalan seperti mayat hidup, sambil mendengarkan kronologis kejadian yang disampaikan oleh Theopillus.Dua laki - laki itu oleng saat melihat dua buah tandu yang berisi seseorang yang ditutup selimut sekujur tubuhnya. Mereka tidak bisa melihat wajah orang itu tapi Harvey tak sengaja melihat sebuah tangan dengan kulit putih pucat dari balik selimut di salah satu tandu. Leher Harvey tercekat, jantungnya berdegup kencang saat mengenali gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Rantainya memang men
آخر تحديث: 2024-04-18
Chapter: Bab 106 - Misi Penyelamatan"Nona," Tiba - tiba saja sopir Lillian masuk ke supermarket dan menyodorkan ponsel kepada Amara. "Ponselnya berdering terus, Nona. Saya menemukannya di jok belakang mobil. Silahkan, Nona. Barangkali ada yang urgent."Amara melihat ada nama Lillian di layar ponsel, dia langsung menggeser tombol hijau. Mengira Lillian tak sabar menunggu, Amara langsung menjelaskan kondisinya saat ini,"Sorry, Say. Tadi di supermarket terdekat tidak ada angka yang sesuai dengan usia Aunty --""Amara, dengarkan aku. Disini berbahaya... --""Ha? Ap--?"PIP.... Telepon mati. Amara membelalakkan matanya dan menoleh ke sopir, "Apa yang terjadi sebenarnya?"Sopir menatap Amara dengan bingung."Pak, ayo, jangan bengong. Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk pada Lillian," perintah Amara sambil berlari ke mobil.Sopir tergopoh - gopoh mengikutinya."Cepat, Pak! Lima menit harus sampai!" perintah Amara begitu mereka berdua sudah berada di dalam. Tanpa banyak tanya, sopir langsung mengemudi dengan kecepatan ting
آخر تحديث: 2024-04-18
Chapter: Bab 105 - Chaos"Har, kenapa HPnya tidak aktif? Aku sudah kirim pesan banyak banget lho dari pagi. Buruan susul aku. Sekarang aku sudah di rumah mama tapi malah bertemu dengan Ernest. Aku sedikit paranoid sama kelakuan Ernest... hehehe... aku ngumpet di kamar mandi. Semoga Amara cepat datang. Dia lagi beli lilin untuk kue ulang tahunnya mama.""Har, cepat pulang.""Har, perutku sakit.""Kebakaran."Suara Lillian melalui voice note terngiang - ngiang di rongga telinganya, berputar seperti kaset rusak, tidak bisa keluar dari kepalanya. Harvey berlari kencang, memaksa seluruh kekuatannya untuk berlari secepat mungkin. Menerobos jalanan yang macet, mendorong orang - orang yang menghalangi jalannya."Permisi! Permisi! Istri dan anakku terjebak kebakaran! Permisi!"Di belakangnya, Richard tidak kalah heboh."Menyingkiiir, kami harus menyelamatkan mereka!"Napas kedua laki - laki itu berderu, paru - parunya seperti akan meledak karena dipaksa lari melebihi batas kemampuan. Mereka tidak akan berhenti sebelum
آخر تحديث: 2024-04-15
Chapter: Bab 104 - FirasatWajah Carina memucat, dia tak menyangka kalau keisengannya bisa berbuntut panjang. Dia ikut masuk ke dalam lift dengan bahu meluruh, wajahnya penuh penyesalan. "Begini saja, aku akan telepon Lillian dan menjelaskan kalau semua ini salahku. Aku hanya main - main. Maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kalian sampai dengan cepat dan selamat di St. Moritz." Dia menawarkan sebuah solusi sebagai upeti perdamaian.Harvey mendengus, sementara Richard berusaha menghubungi Amara, tapi tidak diangkat."Itu akan aku urus nanti. Aku punya perasaan kalau Lillian membutuhkan aku. Jangan - jangan dia mau melahirkan. Seharusnya aku langsung pulang setelah acara pemakaman di hari pertama. Aku bukan suami yang baik," sesal Harvey berkepanjangan. Ternyata sulit menemukan tiket pesawat yang diminta oleh Harvey. Tiket pesawat penerbangan menuju St. Moritz hanya ada dua jam lagi, sesuai jadwal keberangkatan Harvey, mau tak mau mereka menggunakan fasilitas dari Carina. Sebagai permohonan maa
آخر تحديث: 2024-04-15
Chapter: Bab 103 - Call Me, Please... Lillian menarik napas dan menghembuskannya berulang kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha berpikir jernih demi memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan. Diluar pertengkaran masih berlanjut."Pertama, kamu yang salah bergaul dengan sepupumu hingga terjerumus dalam obat - obatan dan minuman keras. Aku tidak pernah membuatmu mengkonsumsi barang - barang terlarang itu. Kamu yang salah pergaulan lalu kecanduan. Ernest, dengarkan dulu... kamu salah paham. Aku tidak pernah menyuruh orang untuk menangkapmu. Mereka dari kepolisian yang akan menahanmu karena bisnis obat terlarang. Aku justru memohon supaya kamu direhabilitasi daripada ditahan. Kamu harus sembuh, Ernest.Kedua, uang yang aku berikan padamu, sebaiknya kamu introspeksi. Kamu selalu mengambil sendiri uangku di lemari penyimpanan atau di ATM. Aku diam karena tidak mau memperpanjang masalah. Aku ibumu, kamu ingin memakai uangku maka aku memberikannya.""BOHONG! KAMU PEMBOHONG!""Ernest, demi Tuhan, aku tidak per
آخر تحديث: 2024-04-15
Chapter: Bab 161 -- Mencintai Tanpa SyaratSuasana di dalam mobil terasa hening, mereka baru tiba di rumah Reinner setelah acara nongkrong bersama Erland dan Lourdes di coffee shop. Reinner menoleh pelan, matanya tak lepas menatap Maureen. Dia mencoba membaca wajahnya. Sepanjang jalan, gadis disampingnya tidak berbicara apa pun. Apakah ada guratan sedih, luka, atau bahkan amarah yang tersembunyi setelah pertemuan barusan dengan Erland dan Lourdes? Tapi, tidak ada. Maureen tampak tenang, bahkan sangat tenang hingga membuat Reinner justru khawatir. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut, memecah keheningan. Maureen mengerjap, sedikit bingung, lalu menoleh dengan raut heran. “Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Reinner menghela napas pendek. Dia menatap jemari Maureen, lalu tanpa berpikir panjang, meraih tangan itu. Sentuhan hangat itu membuat Maureen terdiam. Reinner menunduk, mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku cuma khawatir. Aku takut pertemuan dengan Erland tadi...." Reinner berhenti sej
آخر تحديث: 2025-11-16
Chapter: Bab 160 - Mencintai Tanpa BebanKeduanya sama-sama terperanjat melihat seseorang yang tidak disangka-sangka bertemu di lorong rumah sakit seperti ini. Seorang wanita muda yang cantik dan modis sedang tersenyum kepada mereka. Senyumannya ramah dan bersahabat. "Maureen?" sapa Erland seakan tak percaya. Mereka terakhir bertemu saat perceraian dan tidak pernah berhubungan lagi setelah itu. "Hai, apa kabar kalian?" Maureen merentangkan tangan dan memeluk Lourdes dengan hangat. "B-baik. Bagaimana kabarmu?" balas Lourdes gugup. Dia buru-buru melepaskan genggaman tangan Erland dan membalas pelukan mantan istri Erland dengan canggung. Seramah apa pun Maureen, tetap saja Lourdes merasa dia adalah penyebab perceraian Erland dan Maureen. "Siapa yang sakit?" tanya Maureen kemudian. Dia melerai pelukannya, lalu mundur satu langkah dan mengamati Lourdes penuh perhatian. "Eh, ehm, tidak ada. Aku cuma cek kesehatan saja," jawab Lourdes, tidak ingin mengatakan tentang kehamilannya karena masih sungkan pada Maureen. "Oh
آخر تحديث: 2025-11-12
Chapter: Bab 159 - Melindungi Dan MencintainyaMobil yang dikendarai Erland baru saja meninggalkan bandara. Setelah kasusnya dengan Clarisse terekspose, dan berakhir dengan dia menikahi Lourdes, kagum dan simpati terus mengalir kepadanya.Agensinya sengaja memanfaatkan moment itu untuk mengatur jadwal yang padat supaya momentum popularitasnya tidak turun.Mulai dari shooting iklan, promo album baru, mini konser, tampil sebagai tamu undangan dan rangkaian kegiatan lain yang susul menyusul tanpa jeda.Dan akhirnya setelah dua bulan, bertepatan dengan kabar kehamilan Lourdes, Erland bisa kembali ke rumahnya."Langsung pulang ke rumah," perintah Erland pada Jefta yang melajukan mobilnya. Dia tidak bisa mendefinisikan perasaannya pada kabar kehamilan Lourdes.Bahagia atau tidak? Erland benar-benar tidak tahu. Yang dia tahu, pulang ke rumah dimana Lourdes tinggal adalah hal yang benar dan harus dia lakukan."Baik, Tuan." Jefta menjawab sambil melirik sekilas pada majikannya. Dia tahu rumah yang dimaksud oleh Erland adalah tempat tingga
آخر تحديث: 2025-11-09
Chapter: Bab 158 - Garis DuaLourdes tercengang.Meski sudah menduga sebelumnya, tetap saja dia terkejut."Bagaimana, Nyonya?" tanya Bibi Maretha. Menghempaskan Lourdes kembali kepada kenyataan.Lourdes menoleh pada Bibi Maretha yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Wajah wanita itu tampak harap-harap cemas.Perlahan Lourdes mengangkat batang testpack ditangannya dan berkata pelan, "Warnanya kurang jelas."Bibi Maretha yang sudah berusia diatas empat puluh tahun menyipitkan mata, lalu mendekat."Bagaimana, bagaimana?" tanyanya antusias."Dua garis, Bibi.""O'ya?" pekik Bibi Maretha."Dua garis, tapi warnanya kurang jelas. Artinya, aku hamil atau tidak?" tanya Lourdes yang tiba-tiba saja merasa bodoh sekali. Dia tahu Erland bertanggung jawab atas kejadian malam itu, tapi tidak ada pembicaraan soal anak."Bodoh sekali! Seharusnya aku minum pil pencegah kehamilan," sesal Lourdes dalam hati. Saat itu dia terlalu fokus pada pelaku kejahatan yang sudah menjebaknya.Bibi Maretha mengambil testpack dari tangan Lourde
آخر تحديث: 2025-11-04
Chapter: Bab 157 - Jangan-Jangan... "Tampaknya aku harus pergi malam ini, Lou. Masih ada beberapa jadwal yang harus aku selesaikan," kata Erland dengan raut wajah penuh sesal.Lourdes tersenyum manis. Dari awal dia sudah tahu pekerjaan Erland adalah seorang penyanyi yang sedang naik daun. Saat ini agency sedang gencar-gencarnya promo album terbarunya.Mengharapkan bersama Erland di malam pernikahan adalah hal yang konyol. Terlebih pernikahan mereka karena kecelakaan."Kamu harus maklum, Lou," ucap Lourdes dalam hati."Istirahatlah. Aku akan bersiap-siap." Ucapan Erland berikutnya membuyarkan lamunan Lourdes."Bagaimana kalau aku membantumu bersiap-siap?" tawar Lourdes, bersiap memulai tugas pertama sebagai seorang istri. Toh, mereka sudah terlanjur menikah.Erland tersenyum tipis. "Terima kasih."Selanjutnya, mereka berbenah. Lourdes mempersiapkan keperluan Erland dengan detail. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Maureen selama ini karena Erland terlalu mandiri."Kamu tahu kemana harus menghubungiku kalau butuh sesuat
آخر تحديث: 2025-11-02
Chapter: Bab 156 - Kamu Bersedia?Lourdes mengangkat wajah dan menatap wajah Erland. Lelaki itu tampak berbeda hari ini. Entah caranya memandang kepada Lourdes, atau karena sikap bertanggung jawabnya yang membuat Lourdes semakin jatuh cinta pada Erland.Sebelumnya dia sudah kagum pada Erland berkat penampilannya di layar televisi.Dan, sekarang?Kekaguman itu naik berlipat-lipat, ditambah dengan hati yang meleleh. Lelaki ini bersedia menanggung kesalahan orang lain, dalam hal ini Clarisse."Bagaimana, Lou?" tanya Erland, memecahkan keheningan yang tercipta beberapa saat."Erland, apa kamu serius?" tanya Lourdes untuk memastikan. Dia menatap mata Erland dalam-dalam.Erland membalas tatapan Lourdes."Tentu saja," jawabnya sungguh-sungguh. Seumur-umur, dia tidak pernah meminta seorang gadis menikah dengannya. Dengan Maureen sekali pun. Tapi kali ini, dia harus - yang anehnya, dia tidak merasa keberatan menikahi Lourdes.Lourdes menahan napas saat Erland memalingkan wajah, dan melanjutkan ucapannya."Tapi, Lou... aku tida
آخر تحديث: 2025-11-01