Nyonya, Boss Mafia Kecanduan Pelukan Hangatmu!
Bagi dunia luar, Dimitri Volkov adalah seorang Boss Mafia yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar utama, dia adalah pria dominan yang mengurung Anastasia dalam kuasa mutlaknya.
Selama lima tahun pernikahan rahasia mereka, Anastasia mengira dia hanyalah bayang-bayang di hidup Dimitri—istri sah yang selalu menjadi nomor dua demi sahabat masa kecil suaminya.
Setelah mencoba dan selalu gagal mendapatkan hati sang suami, Anastasia akhirnya memutuskan untuk menyerah dan berhenti mencintai. Dia memilih pergi.
Siapa sangka, Boss Mafia yang tidak pernah goyah itu seketika kehilangan kendali saat ranjangnya mendingin.
Dimitri menggunakan seluruh kekuasaannya untuk memburu istrinya, lalu berlutut memohon agar Anastasia mau kembali ke pelukannya.
Apakah Anastasia mau kembali setelah banyaknya luka di hati?
Atau kali ini, Dimitri harus merasakan siksaan penyesalan seumur hidupnya?
IG : EYN820
Read
Chapter: Bab 98 - Godaan DimitriAnastasia ingin protes, tapi seperti biasa tubuhnya berkhianat oleh godaan Dimitri. Jari-jarinya mencengkeram kemeja Dimitri dengan napas memburu."Dima..., please...," desahnya di sela-sela napasnya yang pendek-pendek. "...ada orang...."Mata sayunya melirik ke lorong di antara kursi penumpang. Memang, di kabin itu hanya ada mereka berdua, tapi pintu bisa terbuka kapan saja. Pramugari bisa masuk sewaktu-waktu.Namun, Dimitri mengabaikan peringatan itu.Lengan kekarnya melingkari pinggang Anastasia, meraup tubuh wanita itu hingga terduduk di pangkuannya.Rok Anastasia tersingkap di atas paha. Kulit mereka saling bersentuhan, menimbulkan sengatan-sengatan kecil yang membuat Anastasia menggigit bibir.Ciuman mereka semakin dalam, basah, berisik, dan dipenuhi desahan yang sulit ditahan.Dimitri menghisap bibir bawah Anastasia hingga sedikit membengkak, seolah ingin meluapkan seluruh kerinduan yang selama ini dipendamnya.Anastasia memejamkan mata. Satu desahan lolos dari tenggorokannya, m
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: Bab 97 - Memberimu Cinta“Sebenarnya, kita mau kemana?" tanya Anastasia untuk kesekian kalinya.Sejak masuk ke dalam private jet, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari jendela.Daratan yang terbentang di bawah sudah berubah menjadi biru sepenuhnya. Mereka sudah meninggalkan pemandangan kota dan permukiSeolah tidak mendengar, Dimitri sibuk dengan tablet di tangannya, sesekali memeriksa beberapa laporan pekerjaan yang belum selesai.Masalah di dalam perusahaan belum sepenuhnya selesai, tapi dia sudah berjanji akan memberikan kehidupan pasangan normal pada Anastasia.Meski liburan bulan madu mereka sedikit terganggu oleh urusan perusahaan, tetapi Dimitri bertekad untuk memberikan bulan madu yang tidak terlupakan bagi Anastasia.Anastasia menoleh dan memanggil kembali dengan nada lebih tinggi."Dima?"“Hm?”“Kita mau ke mana?” ulangnya."Sebentar lagi kita sampai," jawab Dimitri singkat dan tidak jelas—jawaban yang sama setiap kali Anastasia bertanya.“Kita mau pergi bulan madu atau bermain teka-teki, sih?”
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 96 - Meyakinkan Diri Dia BahagiaSebuah gereja kecil di pinggiran desa menjadi saksi pengucapan janji yang akan mengikat Anastasia dan Dimitri kembali sebagai suami istri.Tiba di sana, Anastasia diarahkan menuju bagian samping gereja. Perlahan, dia menyusuri jalan setapak di antara deretan kursi yang dihiasi kain putih dan pita satin warna champagne.Setelah semua luka, perpisahan, dan kesempatan kedua yang mereka lalui, hari ini Anastasia kembali berjalan menuju pria yang sama dengan langkah yang lebih yakin.Di ujung lorong, Dimitri sudah menunggunya di depan altar.Sepasang mata pria itu lekat pada sosok cantik yang berjalan ke arahnya. Musik mengalun lembut, mengiringi setiap langkah wanita itu menuju kehidupan baru yang mereka pilih bersama.Begitu Anastasia tiba di altar, tangannya segera disambut oleh Dimitri.Tatapan keduanya bertemu. Tidak ada ucapan, hanya senyum di wajah Anastasia. Tatapan penuh cinta dari Dimitri sudah mewakili semuanya.Proses pemberkatan pun dimulai.Di belakang mereka, jendela-jendela
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 95 - Kamu Harus BahagiaAnastasia terkesiap saat orang itu mendongak dengan mimik wajah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.“Alexei, ada apa denganmu?” tanyanya heran.Wajah Alexei tampak seperti bukan sahabat yang selama ini dia kenal. Tidak ada lagi sepasang mata yang bersinar jenaka saat memandang dirinya. “Kamu pulang terlalu malam. Aku jadi mengantuk karena menunggumu.” Alexei berusaha bercanda, meski matanya justru tertuju pada cincin zamrud yang melingkar di jari Anastasia.Tadi dia menunggu Anastasia di teras dan melihat Dimitri dan Anastasia berciuman.Selama mengenal Anastasia, dia sudah tahu bahwa hati Anastasia tidak pernah benar-benar berpindah dari Dimitri.Tetapi mengetahui sesuatu dan melihatnya dengan mata kepala sendiri adalah dua hal berbeda. Saat melihat sendiri, rasanya seperti ditampar oleh kenyataan."Maafkan aku. Kamu tidak memberitahuku kalau mau datang," sesal “Kamu sudah makan malam?” tanya Alexei berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi dua langsung mengatupkan bibirnya ra
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Bab 94 - Mabuk CintaAnastasia terhenyak. Dia benar-benar lupa kalau pertemuan terakhirnya bersama Lusia dan Irene bisa saja meninggalkan kesan yang tidak baik dalam diri Lusia.Lusia Volkova memiliki harga diri yang tinggi. Demi putranya, wanita itu rela datang ke peternakan untuk memintanya kembali kepada Dimitri dan bahkan menyuruh Irene meminta maaf kepadanya.Sayangnya, saat itu Anastasia sedang membangun benteng pertahanan untuk melindungi dirinya dari Lusia, terutama Irene.Menarik napas panjang, Anastasia mencoba mencari jawaban yang bisa memuaskan ego Lusia.“Maafkan saya. Sebenarnya, saat itu saya sedang mempertimbangkan yang terbaik untuk hubungan kami, Nyonya,” jawabnya kemudian.“Aku harap kamu benar-benar sudah memutuskan dengan matang.” Lusia mengangkat cangkir teh dan menyesapnya dengan anggun. “Aku tidak mau lagi ada penyesalan di kemudian hari.”“Saya sudah memikirkannya baik-baik, Nyonya,” jawab Anastasia, lalu menundukkan kepala.Dia tidak menyalahkan Lusia jika wanita itu menganggapnya
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Bab 93 - Melakukan Lebih Dari IniKepala Anastasia masih berkabut karena permintaan Dimitri. Dia belum sempat mengumpulkan sisa kesadarannya ketika suara Bibi Nina terdengar dari intercom.“Ivanovich, Tuan dan Nyonya Besar datang.”Tersentak, Anastasia mendorong tubuh Dimitri, lalu matanya bergerak liar mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.Berbeda dengannya, Dimitri justru tampak tenang. Pria itu mengambil cardigan panjang yang tergantung di kursi, kemudian kembali mendekat."Biarkan mereka menunggu," kata Dimitri dengan santainya sambil membantu Anastasia mengenakan cardigan itu.Anastasia menundukkan kepala dalam-dalam. Kehilangan kendali seperti ini rasanya memalukan sekali.Mengulum senyum, Dimitri memperhatikan wajah merah Anastasia yang menggemaskan.“Kita sudah pernah melakukan lebih dari itu. Apa yang membuatmu masih malu?” tanyanya sambil mengusap kepala Anastasia.Anastasia langsung menatapnya tajam. “Ini gara-gara kamu! Jangan menggodaku.”“Aku menunggumu di luar." Dimitri tertawa sambil meninggalkan ru
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Bab 255 - EpilogSementara itu, di rumah besar Sinclair yang terletak tidak jauh dari sana, suasananya berbeda seratus delapan puluh derajat.Ruang keluarga yang luas itu terasa sunyi.Beatrice duduk tegak di atas sofa, secangkir teh di tangannya sudah setengah dingin karena nyaris tidak disentuh. Tatapannya tidak bergerak dari layar tablet kecil yang sengaja dipasang oleh Daniel di meja rendah di depannya.Di layar itu, video kiriman Bibi Emma sedang diputar.Lionel mengangkat Louis tinggi-tinggi, lalu bergantian mengangkat Louisa yang sudah tidak sabar menunggu gilirannya.Anak lelaki kecil itu tertawa keras, suaranya meledak-ledak dengan riang. Sementara gadis kecilnya memekik senang ketika akhirnya tubuhnya pun terangkat ke udara. Lalu, Meilissa memeluk kedua anaknya dari samping, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang bukan dibuat-buat.Video itu hanya berdurasi sekitar tiga menit. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang menyelusup pelan-pelan mele
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Bab 254 - Keluarga Bahagia"MAMA!"Dua suara kecil menyambut Meilissa dan Lionel pulang kerja.Suaranya nyaring terdengar begitu kaki mereka melewati ambang pintu utama, memekik nyaring hampir bersamaan, disertai bunyi sepatu yang bergesekan di lantai marmer.Rasa lelah setelah kerja menguap begitu melihat dua sosok kecil berlomba-lomba menghampiri mereka.Meilissa langsung bergerak cepat, langkahnya ringan seperti orang yang sudah menunggu momen ini sejak tadi pagi.Dia berjongkok dan merentangkan kedua tangannya tepat saat Louisa, puteri kecilnya itu, menabrak masuk ke dalam pelukannya.Gadis kecil itu memeluk leher mamanya erat-erat, pipinya menempel hangat di bahu Meilissa."I miss you, Mama," ucapnya manis."I miss you, Sweetheart," balas Meilissa tidak kalah manis.Lionel tidak mau tertinggal. "Hey, aku ikut!" serunya."PAPA!" pekik Louis, menambah keramaian sore itu.Lionel tersenyum lebar. Dia berjongkok dengan kedua tangan terentang. Bocah laki-laki yang berusia tidak tahun itu dengan penuh semangat la
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Bab 253 - Fokus Pada KeluargaSore itu taman belakang rumah Lionel terasa lebih tenang dari biasanya.Cahaya matahari yang mulai condong ke barat melemparkan bayangan panjang di atas lantai batu alam yang bersih. Angin bertiup pelan, cukup untuk menggerakkan daun-daun di pojok taman tanpa benar-benar mengusik keheningan.Di tengah suasana itu, dua sahabat duduk berhadapan — botol dan kaleng minuman tersebar di meja kecil di antara mereka, menjadi saksi bisu percakapan yang sudah berlangsung sejak tadi.Liora sudah kembali dari rumah sakit. Kondisinya berangsur pulih, dan Rick memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah Lionel — alasan resminya adalah liburan, tapi sejujurnya dia memang tidak tenang kalau tidak bisa memantau langsung keadaan Liora.Dan sekarang, Rick menyesal sudah bertanya."Kamu benar-benar gila!" komentar Rick begitu Lionel selesai bercerita tentang keputusannya mengundurkan diri dari Rumah Sakit Sinclair.Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa sensor, murni keluar dari lubuk hatinya yan
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: Bab 252 - Mendapatkan SemuanyaSepasang mata Beatrice menatap dengan sorot yang tajam dan dingin. Ekspresinya datar saat pandangannya menyapu sosok sepasang suami istri yang berdiri di hadapannya.Setengah jam sudah berlalu sejak beliau menunggu. Dan kini, akhirnya Lionel datang juga, dengan Meilissa yang dibawanya serta.Beatrice duduk tegak di kursi sofa. Punggungnya lurus, bahunya tidak bergerak, dan seluruh posturnya memancarkan wibawa seorang wanita dominan yang terbiasa ditaati.Matanya menatap dalam-dalam pada lelaki gagah yang selama ini digadang-gadang akan menjadi penerus rumah sakit peninggalan mendiang suaminya. Anak laki-laki satu-satunya. Satu-satunya penerus yang memang cakap, dan memang dia banggakan diam-diam di balik semua ketegasannya.Lionel tidak menunduk. Dia membalas tatapan Mamanya dengan postur yang sempurna, tegak tanpa ketegangan yang berlebihan. Ini bukan sikap menantang, melainkan sikap seseorang yang sudah memutuskan, dan sudah siap menanggung apa pun akibat dari pilihannya.Beatrice m
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Bab 251 - Bukan Kabar BurungSuara dari tablet itu mengisi ruangan dengan lantang."TERUNGKAP! Dokter kandungan terkemuka menikah dengan seorang wanita muda yang merupakan salah satu karyawan di kliniknya.Mengejutkan sekali. Duda kesayangan kita semua sudah mengakhiri masa lajangnya secara diam-diam.Nama wanita muda itu adalah Meilissa Rose. Teman kuliah Liora Sinclair, puteri Lionel Sinclair. Wanita itu dikenal sebagai salah satu mahasiswi berprestasi. Saat ini dikabarkan kalau Meilissa Rose dan Dokter Lionel sedang bekerja sama dalam penelitian terbaru pil untuk kontrasepsi.Ini bukan kabar burung. Bukan hoaks.Sudah terbukti! Pernyataan itu keluar dari mulut Dokter Lionel sendiri saat Meilissa berseteru dengan wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Meilissa."Sesaat ditampilkan tayangan video pendek interaksi Lionel, Meilissa dan Miranda di lobby rumah sakit. Percakapan mereka terdengar jelas.Tayangan video berakhir. Narasi kembali mengalun."Yang menjadi pertanyaan kita semua adalah kapan mereka menikah?
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 250 - Dia Istriku"Anak durhaka! Seharusnya aku tidak pernah melahirkan kamu! Kamu memang anak tidak tahu diri!"Teriakan itu membahana di lobby rumah sakit yang luas. Terlalu keras, untuk fasilitas umum yang sangat butuh ketenangan.Lobby rumah sakit yang biasanya hanya diramaikan oleh suara langkah kaki dan roda brankar mendadak sunyi sesaat, lalu bisikan-bisikan terdengar seperti dengungan lebah.Kepala orang-orang menoleh hampir bersamaan ke arah sumber suara. Tatapan mereka tertuju pada Lionel yang memang punya nama, tidak hanya di rumah sakit tapi juga di kota ini.Rahang Lionel mengeras saat mendapati perlakuan kasar Miranda terhadap istrinya.Miranda berdiri dengan postur satu tangannya mencengkeram rambut Meilissa kuat-kuat. Jari-jarinya terbenam jauh ke dalam helai-helai itu seolah tidak berniat melepas.Meilissa tidak bisa menoleh. Istrinya itu hanya bisa menahan kepalanya mengikuti setiap gerakan Miranda.Tubuhnya meliuk ke sisi yang ditarik, mencoba dengan segala cara untuk mengurangi rasa
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Bab 161 -- Mencintai Tanpa SyaratSuasana di dalam mobil terasa hening, mereka baru tiba di rumah Reinner setelah acara nongkrong bersama Erland dan Lourdes di coffee shop. Reinner menoleh pelan, matanya tak lepas menatap Maureen. Dia mencoba membaca wajahnya. Sepanjang jalan, gadis disampingnya tidak berbicara apa pun. Apakah ada guratan sedih, luka, atau bahkan amarah yang tersembunyi setelah pertemuan barusan dengan Erland dan Lourdes? Tapi, tidak ada. Maureen tampak tenang, bahkan sangat tenang hingga membuat Reinner justru khawatir. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut, memecah keheningan. Maureen mengerjap, sedikit bingung, lalu menoleh dengan raut heran. “Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Reinner menghela napas pendek. Dia menatap jemari Maureen, lalu tanpa berpikir panjang, meraih tangan itu. Sentuhan hangat itu membuat Maureen terdiam. Reinner menunduk, mengecup punggung tangannya dengan lembut. “Aku cuma khawatir. Aku takut pertemuan dengan Erland tadi...." Reinner berhenti sej
Last Updated: 2025-11-16
Chapter: Bab 160 - Mencintai Tanpa BebanKeduanya sama-sama terperanjat melihat seseorang yang tidak disangka-sangka bertemu di lorong rumah sakit seperti ini. Seorang wanita muda yang cantik dan modis sedang tersenyum kepada mereka. Senyumannya ramah dan bersahabat. "Maureen?" sapa Erland seakan tak percaya. Mereka terakhir bertemu saat perceraian dan tidak pernah berhubungan lagi setelah itu. "Hai, apa kabar kalian?" Maureen merentangkan tangan dan memeluk Lourdes dengan hangat. "B-baik. Bagaimana kabarmu?" balas Lourdes gugup. Dia buru-buru melepaskan genggaman tangan Erland dan membalas pelukan mantan istri Erland dengan canggung. Seramah apa pun Maureen, tetap saja Lourdes merasa dia adalah penyebab perceraian Erland dan Maureen. "Siapa yang sakit?" tanya Maureen kemudian. Dia melerai pelukannya, lalu mundur satu langkah dan mengamati Lourdes penuh perhatian. "Eh, ehm, tidak ada. Aku cuma cek kesehatan saja," jawab Lourdes, tidak ingin mengatakan tentang kehamilannya karena masih sungkan pada Maureen. "Oh
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 159 - Melindungi Dan MencintainyaMobil yang dikendarai Erland baru saja meninggalkan bandara. Setelah kasusnya dengan Clarisse terekspose, dan berakhir dengan dia menikahi Lourdes, kagum dan simpati terus mengalir kepadanya.Agensinya sengaja memanfaatkan moment itu untuk mengatur jadwal yang padat supaya momentum popularitasnya tidak turun.Mulai dari shooting iklan, promo album baru, mini konser, tampil sebagai tamu undangan dan rangkaian kegiatan lain yang susul menyusul tanpa jeda.Dan akhirnya setelah dua bulan, bertepatan dengan kabar kehamilan Lourdes, Erland bisa kembali ke rumahnya."Langsung pulang ke rumah," perintah Erland pada Jefta yang melajukan mobilnya. Dia tidak bisa mendefinisikan perasaannya pada kabar kehamilan Lourdes.Bahagia atau tidak? Erland benar-benar tidak tahu. Yang dia tahu, pulang ke rumah dimana Lourdes tinggal adalah hal yang benar dan harus dia lakukan."Baik, Tuan." Jefta menjawab sambil melirik sekilas pada majikannya. Dia tahu rumah yang dimaksud oleh Erland adalah tempat tingga
Last Updated: 2025-11-09
Chapter: Bab 158 - Garis DuaLourdes tercengang.Meski sudah menduga sebelumnya, tetap saja dia terkejut."Bagaimana, Nyonya?" tanya Bibi Maretha. Menghempaskan Lourdes kembali kepada kenyataan.Lourdes menoleh pada Bibi Maretha yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Wajah wanita itu tampak harap-harap cemas.Perlahan Lourdes mengangkat batang testpack ditangannya dan berkata pelan, "Warnanya kurang jelas."Bibi Maretha yang sudah berusia diatas empat puluh tahun menyipitkan mata, lalu mendekat."Bagaimana, bagaimana?" tanyanya antusias."Dua garis, Bibi.""O'ya?" pekik Bibi Maretha."Dua garis, tapi warnanya kurang jelas. Artinya, aku hamil atau tidak?" tanya Lourdes yang tiba-tiba saja merasa bodoh sekali. Dia tahu Erland bertanggung jawab atas kejadian malam itu, tapi tidak ada pembicaraan soal anak."Bodoh sekali! Seharusnya aku minum pil pencegah kehamilan," sesal Lourdes dalam hati. Saat itu dia terlalu fokus pada pelaku kejahatan yang sudah menjebaknya.Bibi Maretha mengambil testpack dari tangan Lourde
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 157 - Jangan-Jangan... "Tampaknya aku harus pergi malam ini, Lou. Masih ada beberapa jadwal yang harus aku selesaikan," kata Erland dengan raut wajah penuh sesal.Lourdes tersenyum manis. Dari awal dia sudah tahu pekerjaan Erland adalah seorang penyanyi yang sedang naik daun. Saat ini agency sedang gencar-gencarnya promo album terbarunya.Mengharapkan bersama Erland di malam pernikahan adalah hal yang konyol. Terlebih pernikahan mereka karena kecelakaan."Kamu harus maklum, Lou," ucap Lourdes dalam hati."Istirahatlah. Aku akan bersiap-siap." Ucapan Erland berikutnya membuyarkan lamunan Lourdes."Bagaimana kalau aku membantumu bersiap-siap?" tawar Lourdes, bersiap memulai tugas pertama sebagai seorang istri. Toh, mereka sudah terlanjur menikah.Erland tersenyum tipis. "Terima kasih."Selanjutnya, mereka berbenah. Lourdes mempersiapkan keperluan Erland dengan detail. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Maureen selama ini karena Erland terlalu mandiri."Kamu tahu kemana harus menghubungiku kalau butuh sesuat
Last Updated: 2025-11-02
Chapter: Bab 156 - Kamu Bersedia?Lourdes mengangkat wajah dan menatap wajah Erland. Lelaki itu tampak berbeda hari ini. Entah caranya memandang kepada Lourdes, atau karena sikap bertanggung jawabnya yang membuat Lourdes semakin jatuh cinta pada Erland.Sebelumnya dia sudah kagum pada Erland berkat penampilannya di layar televisi.Dan, sekarang?Kekaguman itu naik berlipat-lipat, ditambah dengan hati yang meleleh. Lelaki ini bersedia menanggung kesalahan orang lain, dalam hal ini Clarisse."Bagaimana, Lou?" tanya Erland, memecahkan keheningan yang tercipta beberapa saat."Erland, apa kamu serius?" tanya Lourdes untuk memastikan. Dia menatap mata Erland dalam-dalam.Erland membalas tatapan Lourdes."Tentu saja," jawabnya sungguh-sungguh. Seumur-umur, dia tidak pernah meminta seorang gadis menikah dengannya. Dengan Maureen sekali pun. Tapi kali ini, dia harus - yang anehnya, dia tidak merasa keberatan menikahi Lourdes.Lourdes menahan napas saat Erland memalingkan wajah, dan melanjutkan ucapannya."Tapi, Lou... aku tida
Last Updated: 2025-11-01
Chapter: Bab 109 - Keluarga Kecil BahagiaDua tahun kemudian,"Sebelum jam 4 sore sudah ada di rumah ya?" pinta Harvey.Lillian mengangguk, "Iya, Har. Aku cuma sebentar di rumah makan. Setelah itu baru belanja. Kalau sudah dapat barangnya, pasti aku langsung pulang."Harvey cemberut. Hari ini Lillian ada janji pergi bersama Amara, kalau sudah begitu jam pulangnya tidak akan bisa ditentukan. Sejak putera mereka berusia satu tahun, istrinya itu semakin sibuk sampai - sampai pergi pagi pulang malam. Akhirnya, Harvey lebih memilih bekerja dari rumah sambil menjaga putera mereka.Kini dia jadi bapak rumah tangga, posisi mereka jadi terbalik. Lillian yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah daripada Harvey."Kamu jangan mau kalau diajak keluyuran tidak jelas sama Amara. Nongkrong - nongkrong di cafe, belanja - belanja terus," omel Harvey.Lillian tersenyum. "Aku sudah nolak, Har. Tapi kamu tau sendiri bagaimana Amara kalau sudah punya keinginan. Lagipula, dia masih hamil. Apa kamu tega lihat dia keluyuran sendiri di kantor
Last Updated: 2024-04-22
Chapter: Bab 107 - Persalinan DaruratTheopillus meyakinkan pada mereka kalau semua yang bernyawa di dalam rumah - rumah yang mengalami kebakaran sudah dievakuasi dan tidak ada yang tertinggal. Anak - anak, orang dewasa, manula, bahkan termasuk juga hewan peliharaan bagi yang memeliharanya di rumah.Kaki Harvey serasa tak berpijak saat mendengar kalau ada korban meninggal di rumah nomer E7, tapi dia memaksa diri untuk mengikuti langkah Theopillus ke sisi lain lapangan.Tidak berbeda dengan Harvey, Richard pun pucat pasi. Mereka berjalan seperti mayat hidup, sambil mendengarkan kronologis kejadian yang disampaikan oleh Theopillus.Dua laki - laki itu oleng saat melihat dua buah tandu yang berisi seseorang yang ditutup selimut sekujur tubuhnya. Mereka tidak bisa melihat wajah orang itu tapi Harvey tak sengaja melihat sebuah tangan dengan kulit putih pucat dari balik selimut di salah satu tandu. Leher Harvey tercekat, jantungnya berdegup kencang saat mengenali gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Rantainya memang men
Last Updated: 2024-04-18
Chapter: Bab 106 - Misi Penyelamatan"Nona," Tiba - tiba saja sopir Lillian masuk ke supermarket dan menyodorkan ponsel kepada Amara. "Ponselnya berdering terus, Nona. Saya menemukannya di jok belakang mobil. Silahkan, Nona. Barangkali ada yang urgent."Amara melihat ada nama Lillian di layar ponsel, dia langsung menggeser tombol hijau. Mengira Lillian tak sabar menunggu, Amara langsung menjelaskan kondisinya saat ini,"Sorry, Say. Tadi di supermarket terdekat tidak ada angka yang sesuai dengan usia Aunty --""Amara, dengarkan aku. Disini berbahaya... --""Ha? Ap--?"PIP.... Telepon mati. Amara membelalakkan matanya dan menoleh ke sopir, "Apa yang terjadi sebenarnya?"Sopir menatap Amara dengan bingung."Pak, ayo, jangan bengong. Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk pada Lillian," perintah Amara sambil berlari ke mobil.Sopir tergopoh - gopoh mengikutinya."Cepat, Pak! Lima menit harus sampai!" perintah Amara begitu mereka berdua sudah berada di dalam. Tanpa banyak tanya, sopir langsung mengemudi dengan kecepatan ting
Last Updated: 2024-04-18
Chapter: Bab 105 - Chaos"Har, kenapa HPnya tidak aktif? Aku sudah kirim pesan banyak banget lho dari pagi. Buruan susul aku. Sekarang aku sudah di rumah mama tapi malah bertemu dengan Ernest. Aku sedikit paranoid sama kelakuan Ernest... hehehe... aku ngumpet di kamar mandi. Semoga Amara cepat datang. Dia lagi beli lilin untuk kue ulang tahunnya mama.""Har, cepat pulang.""Har, perutku sakit.""Kebakaran."Suara Lillian melalui voice note terngiang - ngiang di rongga telinganya, berputar seperti kaset rusak, tidak bisa keluar dari kepalanya. Harvey berlari kencang, memaksa seluruh kekuatannya untuk berlari secepat mungkin. Menerobos jalanan yang macet, mendorong orang - orang yang menghalangi jalannya."Permisi! Permisi! Istri dan anakku terjebak kebakaran! Permisi!"Di belakangnya, Richard tidak kalah heboh."Menyingkiiir, kami harus menyelamatkan mereka!"Napas kedua laki - laki itu berderu, paru - parunya seperti akan meledak karena dipaksa lari melebihi batas kemampuan. Mereka tidak akan berhenti sebelum
Last Updated: 2024-04-15
Chapter: Bab 104 - FirasatWajah Carina memucat, dia tak menyangka kalau keisengannya bisa berbuntut panjang. Dia ikut masuk ke dalam lift dengan bahu meluruh, wajahnya penuh penyesalan. "Begini saja, aku akan telepon Lillian dan menjelaskan kalau semua ini salahku. Aku hanya main - main. Maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kalian sampai dengan cepat dan selamat di St. Moritz." Dia menawarkan sebuah solusi sebagai upeti perdamaian.Harvey mendengus, sementara Richard berusaha menghubungi Amara, tapi tidak diangkat."Itu akan aku urus nanti. Aku punya perasaan kalau Lillian membutuhkan aku. Jangan - jangan dia mau melahirkan. Seharusnya aku langsung pulang setelah acara pemakaman di hari pertama. Aku bukan suami yang baik," sesal Harvey berkepanjangan. Ternyata sulit menemukan tiket pesawat yang diminta oleh Harvey. Tiket pesawat penerbangan menuju St. Moritz hanya ada dua jam lagi, sesuai jadwal keberangkatan Harvey, mau tak mau mereka menggunakan fasilitas dari Carina. Sebagai permohonan maa
Last Updated: 2024-04-15
Chapter: Bab 103 - Call Me, Please... Lillian menarik napas dan menghembuskannya berulang kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha berpikir jernih demi memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan. Diluar pertengkaran masih berlanjut."Pertama, kamu yang salah bergaul dengan sepupumu hingga terjerumus dalam obat - obatan dan minuman keras. Aku tidak pernah membuatmu mengkonsumsi barang - barang terlarang itu. Kamu yang salah pergaulan lalu kecanduan. Ernest, dengarkan dulu... kamu salah paham. Aku tidak pernah menyuruh orang untuk menangkapmu. Mereka dari kepolisian yang akan menahanmu karena bisnis obat terlarang. Aku justru memohon supaya kamu direhabilitasi daripada ditahan. Kamu harus sembuh, Ernest.Kedua, uang yang aku berikan padamu, sebaiknya kamu introspeksi. Kamu selalu mengambil sendiri uangku di lemari penyimpanan atau di ATM. Aku diam karena tidak mau memperpanjang masalah. Aku ibumu, kamu ingin memakai uangku maka aku memberikannya.""BOHONG! KAMU PEMBOHONG!""Ernest, demi Tuhan, aku tidak per
Last Updated: 2024-04-15