Masuk“Kenapa dengan tanganmu itu?”
Tanpa menoleh pun aku sudah tahu jelas siapa pemilik suara bariton tersebut. Bahkan hanya dari aroma maskulinnya yang menguar di udara, aku bisa langsung mengenalnya. Aku tetap bergeming, menatap kosong ke luar jendela kamar dan enggan untuk sekadar melirik ke arah Javier. Dadaku masih teramat sakit. Rasa sesak akibat tuduhan tak berdasar yang baru saja terjadi tadi masih menyiksa batinku.
“Camila, aku bertanya. Kenapa kamu diam sa
Setelah kepergian Arlo, Javier langsung bergegas masuk ke kamar pribadinya untuk melihat kondisi Camila. Ia menghembuskan napas lega begitu melihat Camila sedang meringkuk tertidur di atas tempat tidur. Namun, dadanya terasa nyeri saat melihat memar merah di pipi wanita itu—bahkan bulu matanya masih basah oleh sisa air mata meski ia sudah tertidur lelap.Dengan sangat hati-hati, Javier membenarkan letak selimut, tidak ingin mengganggu wanita yang amat dicintainya itu terbangun.“Pasti Camila sangat ketakutan tadi,” batin Javier seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.Setelah memastikan Camila sudah merasa nyaman dalam tidurnya, Javier melangkah keluar kamar. Masih ada hal penting yang harus segera ia urus.Terlebih dahulu, ia menghubungi Alex untuk meminta bantuan menjemput Nicolas di sekolah nanti. Javier bahkan meminta agar Nicolas dititipkan sementara di rumah kedua orang tuanya. Ia tidak ingin putranya melihat pipi ibunya yang terluka jika mereka bertemu hari ini.Javier lalu memb
POV AuthorJavier masih dengan setia menjelaskan proyek barunya dan memaparkan perkembangan pembangunan pabrik yang tengah berjalan di Kota S.Namun, presentasinya mendadak terhenti saat Lio melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya.Tubuh Javier langsung menegang kaku. Rahangnya mengeras hebat saat mendengar kabar buruk yang disampaikan Lio mengenai situasi Camila di ruang kerjanya.Tanpa berpamitan pada para peserta rapat, Javier berbalik dan meninggalkan ruangan begitu saja.Matanya memerah menahan amarah, kepalanya terasa panas usai mengetahui Arlo nekat mendatangi ruang kerjanya—tempat di mana Camila berada seorang diri.Bukan karena ia tidak percaya pada Camila. Javier hanya sangat tidak percaya pada Arlo—pria bajingan yang tidak pernah puas hanya dengan satu wanita.Bahkan, Javier sudah bisa membaca niat licik Arlo hanya dari cara pria itu menatap Camila waktu itu. Itulah alasan mengapa Javier selalu melarang Camila bertemu atau berada di dekat pria sialan terseb
POV AuthorSeolah hari ini adalah hari keberuntungannya, Arlo tidak henti-hentinya tersenyum puas saat mengetahui hanya ada Camila seorang diri di dalam ruang kerja Javier.Terlebih lagi, di depan ruangan megah itu sama sekali tidak ada penjagaan. Bahkan sekretaris Javier yang biasanya bertugas di meja depan pun sedang tidak ada di tempat. Seakan-akan takdir memang sedang berpihak padanya.“Aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam saja, masa tidak boleh?” ujar Arlo santai seraya melangkah mendekat dan mendudukkan dirinya di atas sofa.Camila berjalan mundur menjauh. Ia sama sekali tidak ingin berdekatan dengan pria lain, terlebih saat suaminya sedang tidak berada di sisinya.Kedua tangannya mengepal erat saat Arlo kembali menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki—sebuah tatapan melecehkan yang sangat menelanjangi. Padahal saat ini Camila mengenakan gaun yang sangat sopan dan tertutup, namun tatapan pria di depannya itu tetap saja terasa amat menjijikkan.“Suamimu tidak akan marah k
POV Camila“Kamu tunggu di sini saja, ya. Aku ada rapat sebentar,” bisik Javier saat kami sudah berada di dalam ruang kerjanya.“Apakah lama?” tanyaku memastikan.Javier mendekat, menarik pinggulku hingga posisi kami makin rapat. Tangannya terulur merapikan anak rambutku yang berantakan terkena angin.“Aku usahakan tidak lama. Tapi kalau kamu bosan, kamu bisa minta sopir untuk mengantarmu pulang, atau kamu bisa istirahat di sini saja sambil menungguku,” jawabnya seraya mengedipkan sebelah mata.Aku terkekeh pelan. Tanganku terulur merapikan dasinya yang sebenarnya sudah sangat rapi, lalu mengelus jas hitam yang dikenakannya untuk memastikan tidak ada debu yang menempel.“Aku bosan di rumah. Aku ingin menunggumu di sini saja, bagaimana?”“Baiklah, aku akan segera kembali. Tapi sebelum itu, berikan aku vitamin dulu,” pintanya.Aku kembali terkekeh mendengarnya, apalagi saat Javier memajukan bibirnya seraya menunjukkan apa yang ia maksud dengan 'vitamin'.Aku berjinjit pelan, lalu mengal
POV AuthorSetelah Javier dan Camila meninggalkan area sekolah Nicolas, seseorang terlihat turun dari sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Dia adalah Adriana. Wanita itu menggunakan jaket hitam yang menutupi kepalanya serta kacamata hitam pekat agar tidak ada seorang pun yang mengenali wajahnya.“Jadi di sini anak itu sekolah? Lihat saja nanti, apakah kalian masih bisa tersenyum bahagia kalau aku membuat anak kalian mati!” gumamnya penuh dendam, lalu kembali melangkah masuk ke dalam mobil.Mobil itu bukan miliknya, melainkan mobil sewaan dengan pelat nomor palsu. Adriana sengaja merencanakan aksi nekat untuk menghabisi Nicolas untuk aksi balas dendam pada kedua orangtuanya, jadi ia sudah mempersiapkan segala hal secara terencana.Untuk saat ini, ia hanya akan mengamati situasi terlebih dahulu. Begitu situasi lengah, Adriana akan langsung melancarkan aksinya, agar Camila dan Javier mendirita. Lalu ia akan pergi meninggalkan negara ini, mulai hidup baru di negara yang kecil t
Hari itu, aku ikut mengantarkan Nicolas ke sekolah barunya. Javier pun sama, jadi kami menuruti keinginan Nicolas untuk pergi ke sekolah bertiga.Kedua tangan Nicolas menggenggam erat tanganku dan tangan Javier. Kami berjalan bersama untuk mengantarnya bertemu sang guru.“Selamat pagi, Nicolas,” sapa salah satu guru Nicolas, lalu menatapku seraya tersenyum ramah. Namun saat beralih menatap Javier, pandangannya mendadak berubah.Ah, pantas saja Nicolas tidak menyukainya, karena memang cara wanita ini menatap Javier sangat berbeda. Ada binar kerinduan yang tersirat di sana—seperti seseorang yang sudah lama mendambakan Javier.“Selamat pagi, Tuan Javier,” sapanya lagi. Padahal di situ ada aku berdiri di sampingnya, tetapi kenapa aku sama sekali tidak disapa?Javier hanya diam menanggapi. Ia melepaskan genggaman tangan Nicolas, lalu mengelus lembut kepala putranya.“Sekarang Nico sekolah dulu, ya. Yang pintar di kelas, Sayang. Oke?”Nicolas mengangguk penurut, lalu beralih menatapku. “Nic







