FAZER LOGINAndrea, anggota jurnalistik yang ambisius, merasa menang saat memergoki Kyrran, Ketua OSIS paling perfeksionis, sedang merokok diam-diam. Niatnya menjadikan itu senjata untuk memaksa Kyrran membawanya bertemu Kepala Sekolah. Namun, Kyrran bukan mangsa yang mudah. Satu ciuman kasar seketika membungkam Andrea, "Aku juga punya sesuatu untuk mengancammu sekarang.” Demi menghapus bukti, Andrea terpaksa menerima satu kesepakatan gila dengan menjadi bawahan Ketua OSIS atau Sanggupkah Andrea menghadapi Kyrran dan menghapus bukti kebebasannya?
Ver mais"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."
Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School. Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan pada gadis yang duduk di dekat jendela kaca besar. Yang dipanggil namanya pura-pura tidak mendengarkan pengumuman. Dia malah terus menyuap pasta dengan krim jamur di piringnya. "Rea, kamu dipanggil tuh," kata Noela, sahabat Andrea. Gadis itu menghela napas ringan, kali ini dia tidak bisa menghindar. "Aku mau habiskan makanan aku dulu." Noela geleng-geleng. "Udah! Sana! Buruan! Nanti dijemput paksa baru tahu rasa kamu." "Iya, iya…" ucap Andrea tersenyum lebar. Lawan bicaranya hanya memicing malas. Andrea akhirnya beranjak dengan anggun dari bangku setelah menyesap minumannya. Seragam yang gadis berwajah bening itu kenakan tampak rapi dan santai—kemeja putih bersih berlapis cardigan crop merah marun dengan lencana sekolah dan dipadukan dengan rok lipit abu-abu yang jatuh tepat di atas lutut dan dasi tipis. Rambut hitam berkilaunya yang panjang sampai pertengahan punggung bergoyang ringan saat dia mulai melangkah. Andrea Ilsa sudah biasa jadi pusat perhatian. Saat masuk ke sekolah elit bergengsi ini, Andrea langsung terkenal dengan kecantikannya. Dia menempati posisi pertama sebagai ratu kecantikan di Alveroz International High School selama satu musim. Sayangnya, sejak dia bergabung dengan klub jurnalistik sekolah, Andrea lebih dikenal sebagai penghancur reputasi. Julukannya Queen of Disaster. Sebagian besar warga Alveroz High tidak suka pada Andrea karena suka mengulik habis sebuah skandal yang berakibat dengan hancurnya reputasi seseorang di sekolah itu. Dari siswa, staf, guru sampai kepala sekolah tidak lepas dari berita skandal yang ditulis Andrea. Beberapa orang sudah dikeluarkan dari sekolah karena beritanya. Ranking Andrea sebagai ratu kecantikan juga merosot jauh karena banyak yang tidak memberikan vote padanya, tapi hal itu bukan masalah sama sekali bagi Andrea. Yang terpenting dia bisa mengenal mendiang kedua orang tuanya dengan menjadi jurnalis hebat seperti mereka. Langkah sepatu loafers hitam Andrea berdetak pelan di lantai ketika berjalan menyusuri lorong di antara meja-meja kafetaria. Banyak siswa menoleh, ada yang berbisik dan hanya menatap penasaran. Andrea menyapu ruangan luas itu dengan tatapan santai, seolah dia menjelma jadi selebriti yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Di tengah kafetaria, dia berhenti. Kepalanya menoleh sedikit ke kanan dan kiri, memastikan cukup banyak siswa yang melihatnya. Senyumnya makin lebar dan iris cokelatnya berkilat nakal. Tanpa menunggu reaksi, Noela segera meraih pundak Andrea, merangkulnya erat dan membawa sang sahabat keluar menuju pintu keluar kafetaria. "Udah ya, Rea, sekarang kamu harus menghadap di dewan kedisiplinan," ucap Noela dengan nada setengah frustasi. "Okay, El…" Andrea mengulas senyum lebar, seolah dia bisa mengatasi panggilan di Dewan kedisiplinan sekolah. Tapi, ketika duduk di kursi dalam ruangan yang mirip pengadilan, lengkungan di bibir gadis cantik itu hilang entah ke mana. Gurunya memberitahu bahwa Andrea akan dibatasi aktivitasnya dari klub jurnalistik selama satu minggu karena memuat banyak berita yang terindikasi skandal. Setelah sidang selesai, Andrea kembali ke kelas dengan wajah cemberut. Sore harinya, dia menjalankan hukuman membersihkan di laboratorium biologi. Namun, sebelum Andrea melangkah keluar dari balik lemari dalam ruangan itu, suara pintu terbuka, tertutup dan terkunci terdengar dalam waktu singkat. Sepatu gadis itu mundur beberapa langkah kembali ke balik lemari dengan halus. Tak berselang lama, Andrea memajukan wajahnya sedikit. Iris kecoklatan dengan bulu mata lentiknya mengintip dari balik lemari. Pupilnya melebar dan napas gadis itu tercekat sepersekian detik begitu melihat dua sosok yang tak seharusnya menjalin hubungan malah saling merapatkan badan dengan tergesa, lalu memagut dalam bibir satu sama lain. "What on earth!" seru Andrea tanpa suara, hanya gerakan bibirnya dan matanya yang berkilat syok. Itu guru biologi dan seorang siswi kelas 12 yang menempati posisi pertama di rangking ratu kecantikan musim ini. Gerakan mereka begitu penuh gairah, apalagi saat guru yang dipanggil Pak Handoko itu mengangkat Lara ke meja. Lidah mereka saling membelit dan satu per satu kancing seragam Lara dilepas oleh pria itu. Dari tempatnya yang tersembunyi, Andrea terpaku dengan jantung yang berdebar tak beraturan. Tapi, segera dia sadar kalau dirinya telah mendapatkan skandal yang akan menggemparkan sekolah. Andrea mendongak, mencari CCTV tapi sayangnya benda itu ditutupi permen karet di bagian kamera. Pantas saja mereka berani melakukan hal tak senonoh itu di lab biologi. Dia kemudian mengangkat hapenya cepat dan mengatur agar suara benda pipih itu bisu. Dalam beberapa detik, dia menekan tombol rekam ke arah dua sosok yang melakukan hal tak senonoh itu. Suara penyatuan dan desahan mereka memenuhi sudut laboratorium biologi yang sunyi. Setelah cukup bukti, Andrea mengendap-endap untuk mencari jalan keluar. Namun, tak sengaja sepatunya menimbulkan suara karena terbentur di kaki meja. Gawat! Kalau dia tidak segera kabur, pasti Andrea akan ketahuan Pak Handoko. Dia berlari melintasi taman belakang sekolah, napasnya tersengal-sengal. Tujuannya adalah gudang peralatan di area belakang lab biologi, tempat aman yang biasa dia gunakan untuk bersembunyi. Dia pikir di sana dia akan aman untuk sementara waktu. Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak pada Andrea hari ini. Saat dia hampir mencapai gudang peralatan, Andrea tersentak. Dia membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam gudang. Sepatu gadis itu mundur beberapa langkah, kembali ke balik lemari penyimpanan luar yang besar dengan halus. Siapa lagi yang ada di area ini sesore ini? Kyrran, sang Ketua OSIS yang dikenal perfeksionis, kini tengah menyesap sebatang rokok—sangat kontras dengan citra teladan yang selama ini ia bangun. Si paling perfeksionis, sok paling bengis. Andrea terpaku setelah mengambil gambar cowok itu. Suara detak jantungnya sendiri mendadak terdengar begitu bising di telinganya. Namun, sial baginya, sebuah gerakan refleks karena terkejut membuatnya menyenggol tumpukan pot plastik kosong di samping lemari. Andrea terjatuh ke semak-semak. Punggungnya membentur tanah. "Aduh!" ringisnya pelan. Tidak sempat bangkit, dia segera memutar tubuhnya di tanah masuk ke dalam semak-semak. Ketika hampir berdiri, tiba-tiba tatapan gadis itu tertahan. Irisnya menangkap keberadaan Kyrran yang kini bersandar pada pagar kawat lapangan. Lampu sorot dari tiang lapangan menyala setengah redup, cukup untuk memperlihatkan siluet tubuh tinggi itu dengan jaket olahraga dan sepasang mata tajam yang menusuk ke arahnya. Andrea membeku di tempat dengan penampilan berantakan serta noda cokelat di wajah putih beningnya. Dia mengerjap pelan dengan napas terengah-engah. Itu… "Kamu lihat apa?"Restoran yang dipilih Jasper memiliki suasana elegan dengan pencahayaan hangat dan alunan musik lembut. Meja-meja ditata berjauhan sehingga percakapan para pengunjung tidak mudah terdengar oleh orang lain.Jasper memilih meja untuk dua orang di dekat jendela. Setelah mempersilakan Andrea duduk, ia mengambil tempat tepat di hadapan gadis itu.Tak lama kemudian, hidangan mereka tiba.Awalnya, makan malam itu berlangsung cukup menyenangkan. Jasper bercerita tentang kuliahnya, beberapa rencana yang sedang ia persiapkan untuk pertandingan basket dan Andrea menanggapinya dengan ramah."Kamu sendiri bagaimana? Kuliah kamu lancar?" tanya Jasper sembari memotong steak di piringnya."Lumayan, tugas lagi banyak-banyaknya sekarang," ucap Andrea."Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kamu harus jaga kesehatan," ucap Jasper penuh perhatian.Andrea mengangguk. "Iya, kamu juga."Jasper tersenyum, lalu mengambil gelasnya. Ia meny
Sore harinya, Andrea berdiri di depan cermin kamar sembari merapikan gaun yang jatuh lembut di bawah lututnya. Gaun berwarna putih gading itu memiliki potongan sederhana dengan detail pita kecil di bagian pinggang. Rambut hitam panjangnya diikat setengah, sementara riasan gadis itu dibuat tipis agar terlihat alami.Bersamaan saat ia berbalik membelakangi cermin, ponsel Andrea bergetar, memunculkan notifikasi pesan dari Kyrran di layar.[Aku sudah di dekat gerbang, Sayang. Ingat, jangan manis-manis depan dia]Andrea tersenyum kecil sembari mengerutkan kening saat menatap stiker karakter lucu dengan gambar api-api di kepala yang dikirim Kyrran."Dasar…" gumamnya seraya mengetik balasan.[Iya, Baby Ran. Tenang saja]Setelah itu, Andrea memasukkan ponsel ke dalam tas kecil yang berwarna senada dengan gaunnya, lalu melangkah keluar dari asrama.Di dekat gerbang asrama, Jasper yang mengenakan kemeja biru navy, menunggu di samping mobilnya. Di tangan cowok itu terdapat sebuket bunga dengan p
Siang harinya, Andrea berjalan menuju ruang baca arsip di lantai paling atas perpustakaan kampus. Tempat itu jarang dikunjungi mahasiswa karena sebagian besar koleksinya berupa dokumen lama dan jurnal akademik yang hanya bisa dibaca di tempat. Suasananya tenang, dengan beberapa meja kayu panjang dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang fakultas. Di salah satu sudut ruangan, Kyrran sudah menunggunya. Cowok itu duduk dengan laptop terbuka di hadapannya. Namun, begitu melihat Andrea datang, Kyrran segera menutup layar laptop tersebut dan mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sebelahnya. "Kenapa, Baby Ran?" tanya Andrea sembari meletakkan tasnya di atas meja. "Kok tiba-tiba ngajak ketemu di sini?" "Kamu harus lihat ini, Sayang." Kyrran mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka beberapa foto yang sejak pagi tadi terus mengusik pikirannya. Ia menyerahkan ponsel tersebut kepada Andrea tanpa banyak bicara.
Keesokan paginya, Kyrra yang sudah siap berangkat ke kampus menghampiri ranjang. Andrea masih terlelap di balik selimut—dengan rambut sedikit berantakan dan wajah yang tampak begitu tenang.Cowok itu membungkuk, lalu mengecup lembut dahi kekasihnya."Hmm… kamu udah mau berangkat?" gumam Andrea dengan mata masih terpejam."Iya, Sayang," ucap Kyrran dengan suara rendah.Andrea bergerak sedikit, berniat membuka mata, tetapi Kyrran lebih dulu mengusap kepalanya dengan lembut."Aku anterin sampai depan pintu," tawar gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur."Enggak usah, Sayang. Kamu lanjut tidur aja." Kyrran merapikan selimut yang menutupi tubuh Andrea. "Aku sudah siapin sarapan buat kamu di meja. Jangan lupa makan sebelum berangkat ke kampus ya."Kali ini, Andrea membuka mata perlahan. Ia mendongak menatap cowok yang berdiri di sisi ranjang itu, kemudian tersenyum kecil."Makasih ya, Baby Ran Sayang," ucap Andrea.Kyrran membalas senyum Andrea dengan kecupan singkat di kening gadi
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais