LOGINDimas, pria 42 tahun yang hidupnya hancur total setelah dikhianati hingga berakhir sebagai gelandangan. Saat berada di titik paling rendah, ia bereinkarnasi / kembali ke masa lalu ke tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa. Di kehidupan kedua ini, Dimas mendapatkan sebuah Sistem misterius yang memberinya kemampuan dan peluang finansial luar biasa. Dengan ingatan masa depan dan bantuan sistem, ia bertekad untuk: mengubah nasibnya, membalas para pengkhianat, membangun kembali kekayaan dan kekuasaan dari nol.
View MoreYogyakarta, Tahun 2010
“Dimas! Bangun, jangan tidur terus!” Suara berat Ayah menggema dari lantai bawah rumah dua lantai yang sudah menua di kawasan Tirta Putih, Yogyakarta. Dimas, cowok delapan belas tahun yang masih terlelap, langsung terlonjak. Matanya masih sipit, rambut acak-acakan. Ia garuk kepala dan duduk setengah sadar di atas kasur tipis yang sudah kusam. Cat dinding kamarnya mengelupas di sana-sini, meninggalkan warna masa lalu yang memudar. “Mau sampai kapan kamu bangun siang terus?!” teriak Ayah lagi dari bawah. “Ah, Yah… ini aku lagi kencing,” sahut Dimas setengah kesal. Setiap pagi di rumah itu selalu ramai teriakan, langkah tergesa, dan rutinitas yang tak pernah berubah. Usai cuci muka dan gosok gigi, Dimas turun ke ruang makan. Kursinya berkarat, tapi sudah seperti bagian dari keluarga. Tak lama, Pak Roy—ayahnya—datang membawa dua piring nasi putih dengan telur pindang dan sambal kecap. “Yah…” Dimas membuka suara dengan hati-hati. “Aku pikir… kita nggak usah maksa. Uang kuliah berat, apalagi biaya sekolah Andi. Aku nggak mau nambah beban.” Pak Roy hanya melirik tanpa bicara, lalu menyodorkan piring ke Andi, adik bungsu Dimas yang baru berusia tiga belas tahun. “Mas, jangan ngomong gitu dong. Kamu kan harapan keluarga,” celetuk Andi sambil mengunyah kerupuk. “Diam, bocah,” sahut Dimas. “Yah, biarin aku bantu di pabrik aja.” Pak Roy menatapnya dalam-dalam. “Kita udah bahas ini semalam, kan? Kamu mau mundur lagi dari keputusanmu?” Suara lembut menyela dari ruang tamu. Kursi roda pelan-pelan maju, menampakkan sosok wanita paruh baya dengan wajah lelah namun teduh. “Bu! Kenapa ke sini? Ibu harus istirahat!” Dimas panik. Bu Maya hanya tersenyum tipis. Dulu ia bekerja di pabrik tekstil dekat rumah. Tapi sejak kecelakaan setahun lalu ditabrak mobil saat pulang lembur kakinya lumpuh dari pinggang ke bawah. Biaya pengobatan memang dibantu oleh keluarga penabrak, tapi jauh dari cukup untuk memulihkan keadaan. “Ibu sudah cukup istirahat, Nak,” katanya lembut. “Kenapa kamu terus ngerendahin diri? Nilai SNBP kamu bagus, kamu dapat beasiswa penuh! Kamu tahu nggak, betapa bangganya Ibu punya anak kayak kamu? Tetangga aja tiap hari ngomongin kamu dengan kagum.” Dimas menunduk. “Tapi, Bu… biaya tambahan buat ke kampus masih lima belas juta. Kita—” Pak Roy langsung memotong. “Selama Ayah masih bisa kerja, kamu nggak usah khawatir. Urus aja hidupmu, kuliah yang benar. Atau kamu sebenarnya takut ninggalin rumah, hah?” ujarnya sambil menyendok nasi dengan nada menggoda. Dimas menghela napas. “Aku nggak takut, Yah.” Dia habiskan sarapannya, lalu masuk ke kamar. Kamar itu kini penuh dengan kardus dan koper. Hari ini, Dimas berangkat ke Universitas Indonesia untuk memulai kuliah. Ia mengenakan celana jeans, kaus abu-abu, lalu memanggul ransel. Di tangannya, ia menggenggam kotak kecil berisi foto keluarga. Di depan cermin yang buram, Dimas menatap bayangannya lama-lama. Di sana berdiri seorang pemuda yang siap melangkah… tapi juga masih terikat pada rumah tua, keluarga, dan kenangan yang berat. “Bangsat, kau bisa, Dimas!” gumamnya pelan. Ia tersenyum getir, lalu turun ke bawah. Andi sudah memindahkan sebagian besar barang ke mobil Kijang tahun 1990 yang sudah penyok di beberapa sisi. “Surat penerimaan sama surat beasiswa udah dibawa?” tanya Bu Maya ketika Dimas menunggu di depan. “Iya, Bu. Semua udah siap,” jawab Dimas. Ia mendekat, berlutut di depan ibunya, lalu menyerahkan segepok uang hasil tabungannya selama setahun. “Harusnya Ibu yang ngasih kamu uang, bukan sebaliknya,” kata Bu Maya pelan, matanya mulai basah. Dimas menggenggam tangannya erat. “Ibu, liat aku. Aku anak besar sekarang. Aku janji bakal kuliah sungguh-sungguh dan cari kerja biar bisa mandiri. Tapi tolong, jangan potong uang obat cuma buat beliin aku baju baru lagi, ya.” Ia tahu, baju yang ia kenakan hari itu dibeli dari uang obat ibunya. Diam-diam, Dimas menyelipkan secarik catatan ke tangan ibunya catatan kecil yang ia tulis dua bulan lalu. “Sudah, ayo berangkat,” kata Pak Roy dari kursi sopir sambil memutar kunci kontak. Andi berlari membawa kotak terakhir. Dimas menatapnya lama, lalu memeluknya erat-erat. “Jaga mereka ya. Jangan nangis, bocah,” katanya sambil menyeka air mata adiknya. Mobil Kijang tua itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Dimas menatap lewat kaca spion ibu dan adiknya melambai, tapi ia tak sanggup membalas. Air matanya menetes diam-diam. “Laki-laki juga boleh nangis, Dim,” ujar Pak Roy lembut. “Kamu anak kuat. Jangan khawatir soal rumah, Ayah urus semua sampai kamu sukses.” Lalu dengan nada bercanda ia menambahkan, “Tapi nanti beliin Ayah mobil baru, ya. Biar Ayah sama Ibu bisa touring ke lima puluh pulau.” Dimas tertawa di sela tangisnya. Kata-kata itu bukan sekadar candaan, tapi juga harapan dan motivasi. “Aku janji, Yah.” Perjalanan ke Depok memakan waktu sepuluh jam. Begitu turun dari mobil, Dimas menatap kampus barunya megah, luas, dan penuh semangat muda. Ia menarik napas dalam-dalam. Dulu, nilai SNBPnya hanya cukup untuk bermimpi. Kini, ia berdiri di sini."Tolong tunjukkan padaku," kata Dimas sambil menunjukkan ketertarikannya pada mobil itu. "Baiklah kalau begitu,Mas, ikuti saya." Pak Budi tersenyum membawa Dimas dan pelatihnya ke dalam dealer. "Mobil-mobil ini umumnya sedikit mahal ketika Anda membelinya baru, tapi saya punya mobil yang hampir baru dan setengah harganya," kata Pak Budi dengan gembira, lalu membawa Dimas dan Pelatih ke sisi dealer tempat setiap mobil tertutup. Yang ini di sini adalah BMW E46 M3. Ini memiliki trim kayu penuh dan memiliki sistem suara kualitas tertinggi. Biasanya dengan kondisi seperti itu, saya akan menjualnya seharga 360-370 juta, tetapi untuk Pelatih Henry, saya hanya akan memberikannya kepada Anda seharga 310 juta." Pak Budi mengatakan ini sambil membuka penutup mobil berwarna abu-abu. Dimas langsung terpesona dengan mobilnya, tampak baru dan fantastis. Dia yakin jika dia mendapatkannya pada tiga ratus sepuluh juta sekarang, dia bisa menj
Dimas berjalan santai menuju ruang kuliah. Begitu ia duduk di bangkunya, tiba-tiba sebuah pop-up transparan berwarna biru muda muncul di depan matanya. [Ding!! Misi: Ajukan satu pertanyaan kepada dosen. Hadiah minimum: Rp10.000.000] Dimas tersenyum kecil melihat tampilan sistem itu dan mulai menantikan perkuliahan hari ini. Beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan ia melangkah keluar dari gedung kampus, dua pop-up baru muncul di depannya. Yang pertama membuatnya tersenyum lebar, tapi yang kedua hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. [Misi Selesai. Peringkat: SS. Total pertanyaan diajukan: 31. Hadiah: Rp120.000.000] [Ding!! Misi baru: Hadiri pertandingan Tinju. Hadiah minimum: Rp500.000] “Pertandingan tinju?” gumamnya. Ia tertawa kecil. “Nggak mungkin aku datang ke tempat itu. Tapi dengan Rp120 juta ini, total uangku sekarang sekitar Rp336 juta… Lumayan buat beli mobil baru sama ganti ponsel.” Sambil berjalan menuju asrama mahasiswa, Dimas masih memikirkan uangny
“Pak, perusahaan yang Anda coba investasikan ini masih tergolong baru. Pagi ini saja, harga saham mereka turun sekitar Rp160.000 per lot. Sebagai analis senior, saya sarankan Anda jangan dulu menaruh uang di perusahaan e-commerce seperti ini,” ucap wanita muda di balik meja pelayanan sekuritas itu dengan nada ramah namun hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin pemuda di depannya kehilangan uang dalam jumlah besar karena keputusan terburu-buru. Dimas hanya tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Tolong tetap proses saja investasinya. Saya yakin perusahaan ini punya masa depan.” Perusahaan yang dimaksud adalah Tokopedia, salah satu raksasa teknologi dalam negeri yang tengah berkembang pesat di pasar digital. Dimas yakin, dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini akan jadi tulang punggung perdagangan daring di Indonesia. Setelah urusan selesai, petugas itu menyerahkan salinan cetak transaksinya. Dimas menerimanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kantor sekurit
Sebagai pengelola akun, Dimas tahu sedikit banyak cara kerja dunia periklanan. Mungkin pengetahuannya belum seberapa, tapi setidaknya ia paham dasar-dasarnya dan tidak akan berinvestasi buta.Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi.[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000.]Dimas menatap layar itu, lalu tertawa kecil.“Belajar aja dikasih duit. Mantap banget sistem ini,” ujarnya. Ia melempar handuknya ke kursi dan langsung membuka buku kuliahnya.Hari itu ia memang banyak belajar di kelas komunikasi visual, jadi semangatnya sedang tinggi.[Misi Selesai. Grade: A. Durasi belajar: 3 jam 35 menit. Hadiah: Rp30.000.000.]“Gila! Kalau tahu gini, tadi aku belajar empat jam sekalian,” seru Dimas sambil tertawa puas.Setelah beberapa kali menjalankan misi dari sistem itu, Dimas mulai memahami polanya semakin besar usaha dan waktu yang ia keluarkan, semakin besar pula hadiah yang ia terima.Ia menatap pergelangan tangannya yang kosong.“Kayaknya aku harus beli jam tang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.