INICIAR SESIÓNPOV Camila
“Hm ... aku sudah sangat basah. Sentuh aku, Javier ...” pintaku dengan nada merengek manja.
Javier menganggukkan kepalanya. Setelah itu, aku merasakan hembusan napas hangatnya berhembus tepat di depan vaginaku. Tangan Javier membukanya perlahan, lalu lidahnya mulai menyapu vaginaku dengan lembut dan pelan.
Tubuhku menggeliat hebat merasakan sapuan lidahnya yang bergerak naik turun, mencari titik peka yang tentu membuatku semakin memekik karena sensa
POV CamilaAku tentu tidak bisa tinggal diam begitu saja. Meskipun Stefi sudah mengatakan kalau kondisi suamiku baik-baik saja, aku belum bisa tenang sebelum melihat kondisinya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri.Dan, dengan segala paksaan serta ancaman bahwa aku akan pergi sendiri ke rumah sakit, akhirnya Stefi pun mengalah.Dengan pengawalan yang cukup ketat, aku melangkah menuju rumah sakit. Aku harus memastikan sendiri kalau Javier tidak kenapa-napa.Hingga akhirnya kakiku berhenti di depan sebuah ruangan perawatan, di mana ada Lio yang sedang berdiri menunggu di luar.“Lio! Mana suamiku?!” panggilku langsung.Kepala Lio terangkat. Wajahnya makin gusar saat melihat kehadiranku. Bukannya langsung menjawab, ia justru menatap Stefi dengan raut protes karena membiarkanku datang ke rumah sakit.“Jangan marah padanya, aku yang memaksa datang, Lio! Mana Javier?!” kataku
POV AuthorSebelum Berangkat ke Kota SLio adalah asisten yang sangat peka. Ia tahu kalau beberapa hari ini ada yang sedang mengincar sang bos. Beruntung sang bos lebih sering menghabiskan waktu bekerja dari rumah demi menemani istrinya yang sedang hamil.“Tuan, saya merasa ada yang sedang mengincar Anda,” kata Lio saat mereka hanya berdua di dalam ruang kerja.Javier tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke depan. Ia tidak bodoh; orang yang mengincarnya tentu banyak, terlebih setelah apa yang telah dilakukannya pada Arlo. Pria itu—yang dulu sempat menginginkan istrinya—tentu tidak akan tinggal diam setelah Javier membongkar skandal besarnya. Reputasi Arlo hancur lebur, bahkan sampai kedua orang tuanya terpaksa mundur dari anggota dewan. Orang tua Arlo tantu tidak tahu kalau itu ulah Javier, tapi Alro, jelas dia tahu dan pasti bencana untuk membalasnya.Javier tahu betul risiko itu. Itulah alasan utamanya tidak mengizin
Aku merasa duniaku seketika runtuh. Kakiku terasa amat lemas, bahkan kalau saja tidak ada Stefi yang menahan tubuhku, mungkin aku sudah jatuh pingsan karena tidak sanggup menopang berat badanku sendiri.Javier ... dia mengalami kecelakaan?!Aku tidak bisa menahan air mata yang mendadak menetes deras, dadaku terasa sangat sesak. Bagaimana keadaannya sekarang setelah melihat mobilnya hancur ringsek seperti itu? Sangat mustahil bisa selamat.“Nyonya, Nyonya tidak apa-apa, kan?!” tanya Stefi panik sambil membantuku untuk duduk di sofa dengan perlahan.“Pelayan, bawakan minum sekarang!” teriak Stefi langsung pada pelayan rumah.Aku masih belum bisa mencerna ucapannya dengan baik. Kepalaku terasa kosong, pikiranku dipenuhi oleh bayangan kondisi suamiku.“Stefi, tolong antarkan aku ... aku mau ke sana, aku mau melihat suamiku!” tangisku pecah.Pelayan datang tergesa-gesa, langsung menyodorkan segelas air pada Stef
Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing. Kenapa sekarang justru Javier yang cemburu buta begini?Padahal aku sama sekali sudah tidak pernah berhubungan dengan Dokter Dani.Bahkan, coba saja cari nomor ponselnya di ponselku, aku sudah tidak punya.Yah, meskipun yang menghapus nomor itu sebenarnya adalah Javier sendiri. Karena katanya, aku tidak perlu menyimpan nomor laki-laki lain selain dirinya.“Kenapa kamu yang sekarang cemburu, sih? Aku bahkan tidak pernah berkontak dengan dia, loh,” ucapku membela diri.Javier menghembuskan napas panjang. Ia lalu memeluk tubuhku erat, seakan menyadari kalau emosi dan tuduhannya tadi sudah sangat berlebihan.“Di rumah saja, ya? Aku tidak akan lama di Kota S, mungkin besok aku sudah kembali. Aku jauh lebih tenang kalau kamu berada di rumah, Sayang,” bisiknya lembut.Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu, setelah pulang kamu mau mengajakku jalan-jalan?”“Jal
“Ada yang sakit? Apa perlu kita ke dokter?” tanya Javier lagi dengan panik.Aku menggeleng pelan dengan bibir membentuk senyum tipis. “Aku tidak apa-apa, aku cuma bercanda.”Helaan napas lega keluar dari bibir Javier. Ia mengelus pipiku dengan lembut. “Kamu ini ... aku takut banget, tahu! Jangan bercanda begini lagi ya, Sayang. Kamu membuatku takut.”“Iya, maaf ... aku janji.”Javier mengangguk, lalu membawa tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.Aku sangat menyukai momen seperti ini—momen yang dulunya selalu hanya bisa kubayangkan. Aku memeluk tubuhnya erat, menghirup aroma tubuhnya yang sangat menenangkan.Dan sekarang, aku bisa melakukannya dengan bebas.Tuhan, tolong jagalah cinta kami …Beberapa hari sudah berlalu. Waktu berjalan begitu singkat, dan selama itu pula aku hanya berdiam diri di dalam rumah megah ini. Aku sudah seperti burung peliharaan saja. Aku sudah b
POV Camila“Hm ... aku sudah sangat basah. Sentuh aku, Javier ...” pintaku dengan nada merengek manja.Javier menganggukkan kepalanya. Setelah itu, aku merasakan hembusan napas hangatnya berhembus tepat di depan vaginaku. Tangan Javier membukanya perlahan, lalu lidahnya mulai menyapu vaginaku dengan lembut dan pelan.Tubuhku menggeliat hebat merasakan sapuan lidahnya yang bergerak naik turun, mencari titik peka yang tentu membuatku semakin memekik karena sensasi geli dan nikmat yang luar biasa.Lidah Javier semakin menukik masuk ke dalam lubang vaginaku, membuat napasku semakin memburu. Ia lalu mulai bermain dengan klitorisku, membuatku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah dan mengeluh pasrah.“Aah, Javier ... aahh ... ini terlalu nikmat!”Suara kecapan dan desahan semakin nyaring memenuhi kamar kami. Tanpa sadar pinggulku terangkat, tanganku menekan kepala Javier ke bawah, seakan-akan aku memintan







