Share

153. Diam!

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2024-12-10 23:59:29
"Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya," guman Gabriel pelan penuh percaya diri.

Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat kemarahan tadi, lalu melirik ke jam tangan.

‘Grace pasti sudah menunggu terlalu lama,’ pikirnya. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan taman, pikirannya tetap berputar, merencanakan langkah selanjutnya. Taman itu kembali sunyi, hanya suara angin dan dedaunan yang menjadi saksi. Lampu-lampu taman yang redup, seakan memberikan arah kepadanya, ke mana dia harus melan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
ida Sari
moga aja Gabriel bisa tau dr cctv siapa yg menculik Grace,,,tp siapa ya menculik Grace,,? apa mngkn ini perbuatan Natali
goodnovel comment avatar
Ratih Fitriya
sukur lah klo di tempat kejadian ada cctv-nya semoga cctv-nya masih ada nggk terhapus ya, kyak nya orang yng menculik Grace suruhannya Natalia
goodnovel comment avatar
Viva Oke
semoga Gabriel bisa melihat rekaman cctv dan tidak terlambat menyelamatkan Grace. pasti itu orang suruhan Natalia.. tamatlah riwayatmu Natali klo Gabriel tau dalang penculikan Grace
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   194. Topeng Kesempurnaan

    Gabriel membolak-balik ponsel jadul itu di tangannya."Hmm, coba aku lihat isinya," gumam Gabriel masih dengan wajah penuh tanda tanya. Layar ponsel berdesain usang itu mendadak menyala terang, memutus keheningan walk-in closet. Benda di genggaman Gabriel ternyata adalah ponsel sekali pakai—jenis ponsel burner murahan yang murni hanya berfungsi untuk panggilan suara dan pesan singkat tanpa koneksi internet.Gabriel memicingkan mata. Jarinya menekan tombol navigasi untuk membuka folder pesan, tapi layar sederhana itu mendadak menampilkan permintaan PIN Code."Ah, ada-ada saja. Ponsel jadul kayak gini, masa minta pin code segala," gerutu Gabriel sambil berdecak rendah. Otaknya berputar cepat menerka kombinasi angka yang mungkin digunakan istrinya. Gabriel mencoba memasukkan empat digit tanggal pernikahan mereka.Klik.Ponsel itu terbuka seketika. Mata Gabriel menjelajahi deretan pesan singkat di kotak masuk dan kotak keluar. Namun, satu pesan lama di folder pesan terkirim langsung memb

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   193. Makanan Kesukaan

    "Loh, ke mana ponsel kecilku?" bisik Natalia sambil mencari benda itu, tapi apa yang dicarinya tidak ditemukannya sampai di sudut tas terdalam. "Astaga! Aku kan ganti tas tadi pagi." Natalia langsung menepuk jidatnya. "Apa aku pulang aja ya?" Natalia berjalan mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk ke rumah dulu sebelum Gabriel menjemputnya. *** Sementara di kantor Gabriel, pria itu memandang layar komputer dengan tatapan kosong. Dari pagi dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Lengannya yang terluka masih berdenyut sakit. Gabriel memutuskan untuk menemui sekretarisnya. "Tolong kirim daftar schedule rapat hari ini?" perintah Gabriel. Entah kenapa, dia ingin pulang lebih cepat hari ini, bukan untuk menjemput Natalia, tapi dia ingin melakukan sesuatu untuk Grace. "Baik, Pak. Saya cek dulu» Sekretaris itu segera memeriksa catatannya. «Dari jadwal yang ada, hanya tersisa dua rapat lagi yang harus Bapak hadiri. Satunya setelah makan siang, dan satunya lagi

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   192. Keluar dari Sini!

    Natalia menyentuh dada Jason yang masih naik-turun memburu, lalu mendorong tubuh pria itu pelan tapi tegas."Bangun, Jason. Sudah cukup," ujar Natalia dengan suara yang mendadak berubah dingin dan tanpa emosi.Jason mengerjap lambat, mendongak menatap Natalia dengan raut wajah kebingungan. Kehangatan yang baru saja mereka bagi seolah menguap dalam hitungan detik."Natalia? Ada apa? Kamu …""Rapikan pakaianmu," potong Natalia singkat. Ia menegakkan tubuhnya, duduk di tepi meja marmer lalu menurunkan roknya yang tersingkap. Jemarinya yang lentik bergerak gesit membenahi blousenya, seolah merapikan kembali topeng kesempurnaan yang sempat terlepas.Jason berdiri kaku di samping meja."Rapikan celanamu," sentak Natalia kesal. "Jangan sampai orang masuk ke sini dan salah sangka.""Hah?" celetuk Jason bingung. Namun, dia melakukan apa yang diucapkan Seleba. Dengan cepat dia membetulkan letak celananya dan menarik risleting dengan raut wajah yang tersinggung."Natalia, aku pikir setelah apa ya

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   191. Hampa

    Pergulatan panas di atas meja itu berlangsung tanpa ampun. Suara gesekan kain, napas yang memburu, dan desahan pasrah Natalia saling bersahutan memecah keheningan ruang kerja yang tertutup rapat."J-Jason ... ahh! Ini terlalu ..." jerit Natalia tertahan, jemarinya beralih mencengkeram kencang bahu jas Jason saat gerakan pria itu kian liar."Nikmati, Natalia. Kamu menyukainya, bukan?" bisik Jason serak. Ia mendongak sejenak, menatap wajah Natalia yang memerah sempurna dengan deru napas yang tak beraturan."Lihat dirimu. Tubuhmu tidak bisa berbohong padaku. Kamu ingin dimanja dan disentuh seperti ini. Diperlakukan seperti Ratu. Aku akan melayanimu kapan saja kamu pengin dimanja, Natalia."Natalia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup membalas kata-kata Jason. Rasa nikmat yang membakar menyapu bersih seluruh akal sehatnya, menggantikan ingatannya tentang Gabriel dengan sentuhan nyata pria yang sedang berlutut di hadapannya ini.Jason kembali membenamkan wajahnya, melancar

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   190. Panas

    "A-apa? Maaf, kamu tanya apa tadi, Natalia?" gagap Jason, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang berpacu liar dan rona hangat di wajahnya.Natalia menggelengkan kepala, lalu mendesah pelan seraya menunjuk dua sampel kain di atas meja."Aku tuh nanyain pendapatmu dari tadi, Jason. Menurutmu, bahan silk-velvet warna emerald ini lebih cocok dikombinasikan dengan kain polos ini, atau yang bermotif? Kenapa kamu malah melamun sambil menatap tanganku seperti itu?"Jason tertawa kecil yang terdengar sumbang untuk mencairkan ketegangan di dadanya, lalu berdehem merapikan jasnya. "Maaf, aku Cuma ... memikirkan konsep diproduksi nanti. Kombinasi kain polos jauh lebih elegan, Natalia. Cocok dengan selera kelas atas seperti yang kamu inginkan.""Baiklah kalau begitu."Natalia mengangguk-angguk setuju, kembali menyibukkan diri dengan sampel bahan tanpa menyadari betapa liarnya fantasi yang baru saja melintas di pikiran pria di sampingnya. Sementara Jason, ia menarik napas panjang seraya meny

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   189. Pijat dulu

    "Kamu ... serius, Gabriel?" bisik Natalia. Suaranya bergetar antara kebahagiaan yang meluap dan rasa curiga yang mendalam. "Kamu benar-benar meninggalkannya? Bukan cuma akal-akalanmu untuk menyembunyikannya hubunganmu dengannya?" "Aku tidak punya alasan untuk berbohong padamu, Natalia," balas Gabriel tajam, tatapannya tertuju langsung ke mata Natalia."Apa alasannya?" "Natalia, wanita itu hanyalah rahim sewaan. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Aku ingin fokus pada rumah tangga kita dan menyembuhkan semua kekacauan ini. Jadi, jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini." Gabriel menegakkan tubuhnya, menunduk menatap Natalia dari ketinggian postur tubuhnya. "Lalu kenapa kamu pulang dengan tangan terluka? Kamu berkelahi sama siapa?” cecar Natalia. “Aku jatuh dan terkena ujung meja yang tajam karena ngantuk setelah lembur semalam.” ‘Bohong!’ Hampir saja kata-kata itu melompat dari bibir Natalia. Untunglah dia mengatup mulutnya rapat-rapat. Kalau tidak, Gabriel past

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   154. Rantai Besi

    Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya."Diam!! bentaknya kasar.“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah."Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."Aku t

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   150. Cap-Cay

    Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang. Aku harus menyembunyikan kehamilan ini. Tak boleh ada seorang pun yang tahu, termasuk mama. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini.Tangan mama semakin dekat, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Satu gerakan salah saja, semuanya bisa terbongkar.Kr

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   149. Curiga

    “Aku akan melakukan yang terbaik untuk papa.”“Bagus, Nona. Dalam minggu ini, kami akan memulai terapi saraf, dan memberikan rangsangan otak untuk mengaktifkan kembali jaringan-jaringan otak yang masih berfungsi dari Pak Kristanto.”Aku hanya mengangguk, menahan luapan bahagia yang nyaris pecah. Lalu

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   148. Merespon

    "Tunggu! Apakah Nona Grace baik-baik saja?""Kenapa?" tanyaku sambil berbalik dengan alis bertaut."Nona terlihat pucat dan letih. Apakah Nona sedang sakit?"“A-aku baik-baik saja.” “Nona bisa tunggu di sini sampai Ibu Kristianto selesai terapi.”“Tidak, terima kasih.”Tanpa berkata apa-apa lagi, aku seg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status