Share

Bab 22

Author: Puspa
Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.

Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.

Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.

Kiara sempat menyayangkan hal itu.

Namun, menurutku justru begini lebih baik.

Aku bisa berhenti kapa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 22

    Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.Kiara sempat menyayangkan hal itu.Namun, menurutku justru begini lebih baik.Aku bisa berhenti kapan saja dan melanjutkan perjalanan kapan saja. Jika melewatkan mekarnya bunga di satu pohon, masih ada musim mekar berikutnya.Saat tiba di dekat bekas istana peristirahatan yang pernah kukunjungi, Kalendra benar-benar hanya mengantarku sampai dermaga.Sepanjang perjalanan, dia tidak ikut berlayar bersamaku. Dia menunggang kuda menyusuri tepian sungai. Setiap kali tiba di suatu tempat, dia menyuruh orang mengirimkan peta daerah setempat dan bekal makanan, tanpa pernah bertanya ke mana aku akan pe

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 21

    Setahun kemudian, sebuah titah kerajaan kembali tiba di Linau.Kalendra berhasil menyelinap kembali ke ibu kota dengan menumpang kapal pengangkut barang melalui jalur air. Dari dalam dan luar istana, dia bekerja sama dengan pasukan pengawal yang masih setia kepadanya, lalu menyelamatkan Arkan pada malam itu juga.Para kerabat kerajaan yang terlibat dalam upaya merebut takhta diadili satu per satu. Ibu Suri juga diasingkan ke istana peristirahatan karena membiarkan kerabat dari pihak ibunya memanfaatkan putra sulung Kaisar demi merebut kekuasaan. Dia dilarang kembali ke istana seumur hidup.Dalam berkas perkara yang dikirim kemudian, tertulis bahwa ketika Kalendra menerobos masuk ke kediaman para pangeran, Arkan sedang dipaksa membubuhkan cap jari pada titah pengangkatan wali pemerintahan. Begitu melihat ayahnya, anak itu tidak meminta sang kaisar membunuh orang-orang yang menyiksanya. Sebaliknya, dia justru bertanya apakah dirinya telah berbuat salah lagi.Kalendra memeluknya dan menje

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 20

    Tiga hari setelah tanggul yang jebol berhasil diperbaiki, kurir kilat membawa kabar darurat dari ibu kota.Setelah Ibu Suri dikurung di kediamannya, Keluarga Senjaya kehilangan kekuasaan, dan gelar Miana dicabut, beberapa kerabat kerajaan memanfaatkan ketidakhadiran Kaisar yang terlalu lama di Jinggara untuk menuduhnya mengabaikan pemerintahan. Mereka bersekutu dengan mantan anggota Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk melancarkan kudeta.Mereka menculik Arkan dari kediaman para pangeran dan menyebarkan klaim bahwa Kaisar telah kehilangan akal sehat demi mantan permaisurinya. Mereka berencana mengangkat putra sulung Kaisar yang baru berusia tujuh tahun sebagai penguasa sementara.Pengawal yang membawa surat itu datang dengan berlumuran darah."Paduka, gerbang istana sudah ditutup. Jika terlambat, semuanya akan terlambat."Luka di bahu Kalendra belum sembuh. Begitu mendengar Arkan disandera, wajahnya langsung menggelap.Dia melirikku, lalu segera mengalihkan pandangan.Dulu, setiap kali me

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 19

    Kalendra akhirnya tak bisa meninggalkan Linau keesokan harinya.Hujan deras mengguyur sepanjang malam. Banjir bandang dari hulu menerjang tanggul tua hingga jebol, merendam lebih dari sepuluh desa di tepi timur Kabupaten Linau sekaligus.Ketika gong perunggu di kantor pemerintahan kabupaten bergema di sepanjang jalan utama, para korban luka mulai berdatangan ke klinik.Aku menugaskan dua tabib untuk menangani para korban, lalu meminta murid sekolah perempuan yang bisa menulis untuk mendata nama para pengungsi. Para pengawal Kalendra akhirnya mengungkapkan jati diri mereka. Barulah kepala daerah menyadari bahwa pria yang menginap di penginapan itu ternyata Kaisar. Dia langsung berlutut ketakutan.Kalendra tidak menerima stempel resmi yang disodorkannya."Siapa yang paling memahami aliran sungai di Linau?"Kepala daerah secara refleks menoleh kepadaku.Dahulu, aku pasti langsung mengambil alih dan mengatur semuanya untuk semua orang.Kali ini, aku lebih dahulu bertanya kepada kepala daer

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 18

    Kalendra meletakkan titah kerajaan di atas meja.Aku tidak mengambilnya."Menurut Paduka, setelah menghukum Ibu Suri, Keluarga Senjaya, dan Miana, semua kesalahan di masa lalu sudah terbayar lunas?""Tidak akan pernah lunas.""Bagaimana jika aku tidak pergi?"Dia mengangkat pandangan.Aku menatapnya dan bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Jika aku tetap menerima upacara penobatan seperti dulu, membantu mempersiapkan jalan Arkan menjadi pewaris takhta, lalu berkata bahwa aku tidak menyalahkanmu, apakah kamu akan tahu bahwa setiap kali cuaca mendung dan hujan, perutku terasa sakit? Apa kamu akan tahu bahwa setiap kali melihat nama itu, yang terbayang olehku adalah seorang anak yang sudah memiliki tangan dan kaki, tetapi tak pernah sempat kulahirkan?"Wajah Kalendra kian pucat."Tidak."Dia tak lagi berusaha mencari alasan untuk membela diri."Aku akan terus menganggapmu sebagai perempuan bijaksana yang tahu mana yang harus didahulukan. Aku akan terus berpikir bahwa kedudukan sebagai

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 17

    Di puncak musim panas, Kalendra tiba di Linau.Empat bulan telah berlalu sejak badai salju di Dermaga Aruni.Selama empat bulan itu, tak satu pun surat yang dikirimnya mendapat balasan. Klinik terus berkembang, sekolah perempuan menerima murid baru, dan Keluarga Senjaya menjalani persidangan. Hidupku terus berjalan seperti biasa. Aku tak pernah berhenti menjalani hidup hanya untuk menunggu penyesalannya sampai dari ibu kota.Dia tidak datang dengan iring-iringan kebesaran kaisar. Hanya dua pengawal yang menemaninya, dan dia memilih menginap di penginapan tepat di seberang klinik.Pada hari pertama, dia meminta Kiara mengantarkan tiga benda kepadaku.Surat berdarah yang dahulu ditahan Ibu Suri, dokumen penyelesaian seluruh perkara lama, serta sepasang liontin batu yang kutinggalkan di Paviliun Sandika.Kali ini, tak ada surat ataupun permintaan agar aku menerimanya kembali yang menyertai liontin itu.Kiara berkata bahwa pesannya hanya satu. Semua benda itu memang milikku, dan aku bebas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status