MasukKetika ada pembunuh bayaran yang mengincar Kaisar, suamiku yang merupakan Komandan Pengawal Kekaisaran sedang berusaha menenangkan cinta pertamanya yang telah pergi karena merajuk. Aku tidak menyalakan suar isyarat yang kupegang. Sebaliknya, dalam keadaan hamil besar, aku berdiri di depan Kaisar dan menggunakan tubuhku sebagai perisai agar dia terbebas dari bahaya. Ini karena di kehidupan lampau, setelah aku menyalakan suar isyarat, suamiku meninggalkan cinta pertamanya untuk datang menyelamatkan Kaisar. Suamiku dianugerahi gelar Adipati Pelindung Kaisar atas jasanya dalam menyelamatkan Kaisar, tetapi cinta pertamanya jatuh ke dalam perangkap dan langsung meninggal di tempat. Suamiku tidak mengatakan apa pun. Namun, pada hari aku melahirkan, dia melemparku ke sarang binatang buas. Dengan wajah penuh kesedihan, aku bertanya apa alasannya berbuat seperti itu. Dia hanya melirikku dengan dingin dan menjawab, "Kaisar punya banyak pengawal, kenapa harus aku yang datang? Kamu pasti hanya peduli pada kekuasaan dan kekayaan, makanya kamu baru sengaja membuatku pergi menyelamatkannya! Kalau kamu tidak menyalakan suar isyarat, Ratna tidak akan mati! Aku mau kamu rasakan penderitaan yang berkali-kali lipat lebih parah dari yang dialami Ratna!" Pada akhirnya, aku menjadi santapan binatang buas. Bahkan anak dalam kandunganku pun dilahap habis. Ketika membuka mata lagi, aku kembali ke hari Kaisar diincar pembunuh bayaran.
Lihat lebih banyakBajra mengatakan ini, seolah-olah dia telah menemukan alasan yang sempurna. Cengkeramannya makin kuat.Ratna menoleh dengan susah payah untuk melihatku. "Kak, kamu sudah berjanji akan selamatkan aku."Aku mengibaskan kipasku. "Bukankah yang kubilang saling membunuh? Ratna, kamu tidak mendengar dengan jelas."Ratna tidak menyangka bahwa aku yang selalu memiliki belas kasih untuk orang akan menggunakan cara yang begitu keji. Dia ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun, napasnya makin lemah hingga akhirnya berhenti sama sekali. Dia meninggal dengan mata terbuka.Sekujur tubuh Bajra gemetar. Dia menyaksikan bagaimana dirinya membunuh cinta pertama dan selir kesayangannya. Namun, dia sama sekali tidak ragu. Dia merangkak ke arahku dan menatapku dengan penuh ketulusan."Aninda, demi menikahimu, aku sudah berlutut tiga hari di depan gerbang rumahmu. Kamu tahu aku mencintaimu. Aku hanya terpesona oleh para wanita licik itu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengampuni anak-anak mereka. Jika kamu ti
Bajra terlihat tercengang, seolah-olah baru mengenalku. Tampangnya benar-benar menggelikan."Aninda, kita sudah jadi suami istri selama bertahun-tahun. Apa kita benar-benar harus sampai ke titik menghancurkan satu sama lain?"Aku menghela napas, lalu menirukan ekspresi Bajra dari kehidupan lampau."Justru karena kita itu suami istri, aku baru tidak bisa melindungimu. Aku tahu kamu bukan pria yang serakah. Hanya dengan cara ini, Kaisar baru bisa percaya bahwa kamu benar-benar pria yang bermoral tinggi. Bagaimana mungkin pria seperti itu membahayakan Kaisar hanya untuk mengejar selirnya yang merajuk?"Aku menatap pelayan itu. "Mulailah. Tapi, jangan lupa untuk tambahkan beberapa lapis alas di bawah tubuh mereka agar mereka tidak mengotori ubin lantai."Aku bersandar di kursi sambil menunggu Bajra dan Ratna bertengkar.Bajra akhirnya mengerti bahwa saat ini, aku tidak lagi mencintainya dan akan luluh hanya karena beberapa patah kata yang diucapkannya. Ketika membuka matanya lagi, tatapan
Kaisar datang dan pergi dengan tergesa-gesa. Dalam sekejap, hanya Bajra, Ratna, dan beberapa pelayan yang tersisa di ruangan ini.Setelah Kaisar pergi, Bajra segera berdiri. Dia bukannya menunjukkan penyesalan, malah mulai memerintahku."Meski kamu sudah jadi Nyonya Pelindung Kaisar, kamu tetaplah wanitaku. Merawat suamimu dan mengelola rumah tangga dengan hemat adalah tugasmu. Sekarang, segera siapkan jamuan dan panaskan anggur. Aku mau istirahat.""Mengenai anak, karena dia sudah meninggal demi Kaisar, setidaknya dia tidak hidup sia-sia. Aku telah memberinya nama. Tambahkan saja namanya ke silsilah keluarga!"Bajra melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, bahkan menganggap jasaku adalah jasanya.Aku tersenyum sinis dalam hati. Bajra adalah seorang pria yang tidak tahu malu dan tak tahu berterima kasih. Kenapa aku bisa melunakkan hati ketika dia berlutut di hadapanku dulu? Semua itu hanyalah kedoknya untuk memika
"Yang dibilang Bajra benar. Saya dan Bajra tumbuh besar bersama. Saya juga selalu menganggapnya seperti kakak kandung saya. Saat mengetahui Nyonya hamil, saya sering berdoa di kuil dan berharap Nyonya dapat melahirkan dengan selamat. Tapi, Nyonya mengira saya punya niat jahat dan lebih rela menggunakan anak dalam kandungannya untuk memfitnah saya.""Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kak, aku akan buktikan diriku tidak bersalah dengan kematian. Aku harap kamu dan Bajra bisa berbaikan seperti dulu!" ucap Ratna.Sebelum ada yang sempat bereaksi, Ratna tiba-tiba menerjang ke arah pilar di dekatnya dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Dia jelas bertekad untuk mati.Jantungku berdebar kencang. Jika Ratna mati, meskipun keadaanku menyedihkan, nyawa Bajra juga akan diampuni. Bagaimanapun juga, suar isyarat belum ditemukan dan Ratna malah tewas di tempatku. Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan yang sudah mati.Bajra jelas memahami hal ini. Jadi, meskipun bisa d
Aku berusaha mengangkat kepalaku."Istri sah? Anak? Bajra, apa kamu masih punya hati? Anak itu sudah meninggal karena dibunuh dengan tanganmu sendiri!" tuduhku dengan suara serak dan terengah-engah.Bajra mengerutkan kening dengan tidak sabar. "Omong kosong apa yang kamu ucapkan! Membunuh Sumi saja
Obat yang telah lama ditunggu-tunggu oleh tabib kekaisaran akhirnya selesai direbus. Setelah meminumnya, aku pun tertidur. Ketika aku membuka mata lagi, seorang pelayan berwajah asing dengan cepat membantuku bangun."Nyonya, upaya pembunuhan Kaisar adalah masalah yang sangat penting. Kaisar telah ke
Bajra menoleh ke arah Ratna, lalu menghela napas tak berdaya."Kamu masih begitu baik hati. Aninda, yang dikatakan Ratna benar. Kamu tidak mati, kenapa kamu begitu perhitungan? Berikan saja Sumi kepada Ratna. Jangan membuat keributan lagi."Aku menatap Bajra dengan tidak percaya. Aku sedang mengandu
Seusai berbicara, aku tidak dapat bertahan lagi dan merasa akan segera pingsan. Namun, tabib kekaisaran menusukku dengan jarum.Dia menyeka keringat dingin dari dahinya sambil berujar, "Nyonya, kamu tidak boleh tidur. Kalau tidur, kamu tidak akan bisa bangun lagi. Pikirkan suami dan anakmu. Mereka m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan