Short
Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan

Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan

By:  BibiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
93views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Semua orang berkata, Putra Mahkota sangat mencintai Putri Mahkota. Suci adalah selir pendamping Putra Mahkota. Dia sudah melahirkan lima anak. Namun, semuanya dibawa pergi oleh Putra Mahkota untuk diasuh sang Putri Mahkota. Menghadapi kenyataan itu, Suci tidak menangis, tidak membuat keributan, juga tidak berebut. Rasanya malah seolah anak-anak yang lahir dari rahimnya itu bukan anaknya. Hingga pada hari anak kelima dibawa pergi, dia menyeret tubuhnya yang masih lemah setelah melahirkan dan berjalan tertatih-tatih menuju kediaman Permaisuri. "Ibu." Wajahnya sepucat kertas, tetapi suaranya tenang tanpa sedikit pun gejolak. "Saya sudah melahirkan lima anak untuk Putra Mahkota. Saya mohon ... izinkan saya pergi mencari orang yang benar-benar saya cintai!" Permaisuri memandangi wanita bertubuh kurus yang sorot matanya begitu teguh itu. Lalu, dia menghela napas dan berkata, "Suci, selama bertahun-tahun ini, kamu menikah dan tinggal di Istana Timur. Kamu dan Rendra selalu bersama siang dan malam. Tapi, ternyata kamu nggak punya perasaan sedikit pun padanya?" Suci terdiam sejenak, lalu perlahan menggeleng.

View More

Chapter 1

Bab 1

Gerakan Suci sangat ringan, tetapi mengandung ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Lalu ... bagaimana dengan kelima anakmu? Mereka semua darah dagingmu. Apa kamu nggak merasa berat hati berpisah dengan mereka?"

Anak-anak .... Dada Suci tiba-tiba terasa sesak, seolah diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasatmata. Rasa sakitnya begitu hebat hingga hampir membuatnya tak mampu bernapas.

Mereka adalah anak-anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan dilahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa.

Anak pertama, diam-diam dia menyimpan baju kecil miliknya. Anak kedua, dia menyimpan sehelai rambut bayinya. Sedangkan anak ketiga .... Dia tidak berani membayangkan wajah anak-anaknya. Dia takut, jika terus memikirkannya, hatinya akan luluh dan dia tidak akan sanggup melepaskan mereka.

Namun, mereka semua tidak berada di sisinya. Mereka diasuh oleh Puspa dan hanya memanggil Suci "Ibu Selir".

Sebagai seorang ibu kandung, mungkin dia justru sosok yang tidak terlalu penting dalam hidup mereka.

"Anak-anak ... semuanya sudah dibawa pergi oleh Putra Mahkota. Mereka sudah punya ibu yang penuh kasih untuk mengasuh mereka, mereka hidup dengan aman dan terhormat. Saya bisa tenang."

Permaisuri memandang keteguhan hatinya dan tahu dirinya tak mungkin lagi bisa menahan. "Ya sudah. Tugasmu memang sudah selesai. Aku bisa mengizinkanmu pergi. Tapi, tubuhmu sekarang terlalu lemah."

"Selesaikan dulu masa pemulihan beberapa hari ini. Setelah itu, datanglah kemari untuk mengambil tanda pengenal agar bisa keluar dari istana. Mulai sekarang, kamu bukan lagi selir pendamping Putra Mahkota. Kamu sudah bebas."

Kamu sudah bebas .... Tiga kata itu bagaikan cahaya yang menyibak kabut tebal di hati Suci, sekaligus seperti mata air yang mengalir ke tanah yang kering dan retak.

Rasa bahagia dan lega yang begitu besar seketika memenuhi hatinya, membuat semua kepahitan dan kepasrahan yang selama lima tahun dipendamnya runtuh dalam sekejap.

Dia hampir terhuyung saat kembali berlutut memberi hormat. Suaranya pun tercekat oleh tangis. "Terima kasih atas kemurahan hati Ibu!"

Saat keluar dari Istana Foniks, langit sudah mulai gelap. Jalanan di istana begitu panjang. Sambil berpegangan pada dinding, dia melangkah perlahan. Pikirannya kembali ke lima tahun lalu.

Saat itu, seluruh ibu kota tahu bahwa Putra Mahkota dan putri sulung Keluarga Jayengrat, Puspa, adalah sepasang kekasih masa kecil dan pasangan yang sangat serasi.

Bahkan pada hari pernikahan mereka, Rendra mengucapkan janji di hadapan seluruh pejabat dan perwira perang, "Seumur hidup, hanya satu pasangan."

Namun, setelah tiga tahun Puspa memasuki Istana Timur, dia tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Permaisuri sangat cemas. Dia mengkhawatirkan keturunan keluarga kekaisaran, apalagi kedudukan Rendra sebagai putra mahkota. Pada akhirnya, Permaisuri menggunakan nyawa Puspa sebagai ancaman dan memaksa Rendra menerima seorang selir pendamping.

Rendra pernah menentang, pernah bertengkar dengan ibunya, tetapi pada akhirnya dia mengalah.

Di antara tumpukan lukisan putri-putri para pejabat yang sudah dipersiapkan dengan saksama, dia sembarangan menunjuk gadis yang paling tidak mencolok dan memiliki latar keluarga paling biasa. Gadis itu adalah Suci, putri Wakil Menteri Pembangunan.

Ketika Permaisuri memanggil Suci ke istana, Suci berlutut di lantai dan berkata, "Saya nggak ingin menikah."

Dia sudah memiliki seseorang yang disukainya. Pria itu adalah Wira, Jenderal Muda dari kediaman Jenderal Utara. Mereka tumbuh bersama sejak kecil dan bahkan sudah saling bertukar tanda pengikat cinta. Mereka hanya menunggu persetujuan sang ayah untuk melangsungkan pertunangan.

Permaisuri tidak terburu-buru. Sambil perlahan menyesap teh, dia berkata, "Kudengar Jenderal Wira akan pergi ke perbatasan untuk menjalani latihan bulan depan. Di tempat seperti itu, pedang dan senjata nggak punya mata. Kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan ...."

Suci sontak mendongak.

"Asalkan kamu masuk ke Istana Timur, melahirkan lima anak, dan memastikan keluarga kekaisaran memiliki penerus ...," Permaisuri meletakkan cangkir tehnya. "Aku akan membiarkanmu pergi. Setelah itu, siapa pun yang ingin kamu nikahi, aku nggak akan menghalangimu."

Suci menggigit bibir. Kukunya menancap ke telapak tangannya.

"Kalau kamu menolak ...," tambah Permaisuri, "sekarang juga aku bisa mengubah surat perintah militer Wira, lalu membuatnya mati di perbatasan."

"Suci, jangan salahkan aku. Rendra begitu memanjakan Putri Mahkota. Sekarang dia akhirnya memilihmu. Demi keturunan keluarga kekaisaran, kamu harus masuk ke Istana Timur."

Suci berlutut di lantai. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Dia tahu, ini bukanlah sebuah perundingan, melainkan perintah.

Dia harus mengorbankan pernikahan dan beberapa tahun hidupnya demi keselamatan orang yang dicintainya.

Dia memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, yang tersisa di matanya hanyalah kepatuhan dan kehampaan. "Saya ... akan mematuhi perintah."

Suci menikah. Demi menyelesaikan tugas secepat mungkin, dia terpaksa menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Rendra dan tidur bersamanya.

Perlahan, kabar pun tersebar di istana bahwa selir pendamping yang baru datang adalah perempuan penggoda dan sangat tergila-gila kepada Putra Mahkota. Demi merebut perhatian Putra Mahkota, dia sanggup menggunakan segala cara, bahkan tidak memedulikan lagi kehormatan dan harga dirinya.

Suci tidak bisa menjelaskan penderitaannya kepada siapa pun. Dia tidak punya tempat untuk mengadu.

Untungnya, dia cepat mengandung. Entah karena Rendra memang memiliki vitalitas yang kuat atau karena tubuh Suci mudah hamil, tak lama kemudian Suci pun mengandung anak pertama.

Pada hari persalinan, Rendra datang, tetapi hanya berdiri di luar pintu.

Anak itu lahir dengan tangisan nyaring, seorang bayi laki-laki yang sehat. Sebelum dia sempat menggendongnya, Rendra sudah masuk dan berkata kepada dirinya yang sedang lemah, "Puspa kesepian karena nggak punya anak. Dia selalu ingin punya seorang anak. Biarkan anak ini diasuh olehnya."

Suci terbaring di tengah noda darah, memandangnya dan para pelayan istana di belakang yang membawa pergi bedong kecil itu. Bahkan sepatah kata penolakan pun tidak mampu dia ucapkan.

Anak kedua juga laki-laki.

Kali ini, alasan Rendra adalah, "Puspa ingin memberikan teman untuk si anak sulung. Biarkan anak ini juga diasuh olehnya."

Anak ketiga dan keempat juga begitu. Alasannya berbeda-beda, tetapi hasilnya selalu sama.

Setelah lahir, bahkan sebelum tangisan bayinya berhenti, anak itu sudah dibawa pergi dan dikirim ke kediaman sang Putri Mahkota.

Hingga kali ini, anak kelima adalah seorang perempuan. Rendra juga hendak membawanya pergi.

Sebelum pergi, dia melihat Suci yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya, muncul sedikit emosi yang nyaris menyerupai rasa iba di dalam hatinya.

Sambil menggendong bayi itu, dia sempat ragu sejenak, lalu meninggalkan sebuah janji. "Bersabar sedikit lagi. Aku pasti akan membiarkanmu mengasuh anak yang berikutnya."

Suci perlahan mengangkat pandangan dan menatapnya.

Rendra memiliki paras yang sangat tampan. Alisnya tegas, matanya cerah, batang hidungnya tinggi, auranya mulia. Saat ini, dengan bayi dalam pelukannya, garis wajahnya tampak sedikit lebih lembut.

Namun, hati Suci tak bergejolak sedikit pun. Karena tidak akan ada lagi anak berikutnya. Tugasnya sudah selesai.

Segala sesuatu di Istana Timur ini, aula yang dingin ini, suami yang acuh tak acuh ini, anak-anak kandung yang tak mampu diakuinya ... tidak ada satu pun yang menjadi miliknya.

Jenderal muda yang dicintainya masih menunggunya di perbatasan. Dia harus meninggalkan tempat ini, meninggalkan semuanya untuk selamanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status