LOGINSemua orang berkata, Putra Mahkota sangat mencintai Putri Mahkota. Suci adalah selir pendamping Putra Mahkota. Dia sudah melahirkan lima anak. Namun, semuanya dibawa pergi oleh Putra Mahkota untuk diasuh sang Putri Mahkota. Menghadapi kenyataan itu, Suci tidak menangis, tidak membuat keributan, juga tidak berebut. Rasanya malah seolah anak-anak yang lahir dari rahimnya itu bukan anaknya. Hingga pada hari anak kelima dibawa pergi, dia menyeret tubuhnya yang masih lemah setelah melahirkan dan berjalan tertatih-tatih menuju kediaman Permaisuri. "Ibu." Wajahnya sepucat kertas, tetapi suaranya tenang tanpa sedikit pun gejolak. "Saya sudah melahirkan lima anak untuk Putra Mahkota. Saya mohon ... izinkan saya pergi mencari orang yang benar-benar saya cintai!" Permaisuri memandangi wanita bertubuh kurus yang sorot matanya begitu teguh itu. Lalu, dia menghela napas dan berkata, "Suci, selama bertahun-tahun ini, kamu menikah dan tinggal di Istana Timur. Kamu dan Rendra selalu bersama siang dan malam. Tapi, ternyata kamu nggak punya perasaan sedikit pun padanya?" Suci terdiam sejenak, lalu perlahan menggeleng.
View MoreTabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan
Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista
Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil
Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.