Share

Bab 4

Author: Puspa
Aku sendiri yang mengajukan diri untuk mengurus upacara pengangkatan Miana sebagai selir bangsawan, sekaligus pencatatan putra sulung Kaisar ke dalam silsilah Keluarga Satrio.

Sebaliknya, Kalendra justru makin sering berkunjung ke Istana Kencana.

Malam itu, dia datang membawa sekotak mutiara laut timur. Begitu memasuki istana, hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa tungku arang.

"Kenapa arangnya sedikit sekali?"

Dia menyuruh pelayan menambahkan arang, lalu meletakkan kotak itu di hadapanku.

"Ini buat kamu."

Aku pun bertanya, "Apa Miana juga dapat hadiah?"

Kalendra tertawa kecil.

"Dia hanya dapat tusuk konde berhias mutiara."

"Kotak ini kupilih khusus dari barang-barang upeti. Mutiara-mutiara ini paling cocok dengan mahkota permaisuri milikmu."

"Shanira, sejak kembali ke istana, bukankah setiap malam aku selalu menemuimu lebih dulu?"

"Miana pernah menyelamatkan nyawaku, sedangkan Rahyan adalah darah dagingku sendiri. Mana mungkin aku mengabaikan mereka berdua?"

"Tapi kamu juga tidak bisa begitu saja menghapus delapan tahun hubungan kita hanya karena mereka."

Ujung kalimatnya bahkan terdengar seperti rengekan kecil.

Aku menutup kotak itu kembali.

"Kapan upacara penobatan akan dilaksanakan?"

"Tiga hari lagi."

"Baik."

Kerutan di antara alis Kalendra perlahan menghilang.

"Aku tahu kamu tidak akan mengabaikan kepentingan yang lebih besar."

Malam sebelum upacara penobatan, aku membawa dokumen resmi dari Kementerian Adat dan Kantor Urusan Keluarga Kerajaan ke ruang kerja Kaisar.

Di atas meja menumpuk berbagai dokumen, mulai dari dekret pengangkatan selir dan pemberian kediaman hingga pengakuan Rahyan sebagai anggota keluarga kerajaan serta salinan silsilah kerajaan.

Dokumen untuk mengembalikan statusku sebagai anggota Keluarga Senjaya kuselipkan di dasar sampul, dengan hanya bagian yang perlu dibubuhi stempel kerajaan yang terlihat.

Kalendra memeriksa beberapa dokumen pertama, lalu meletakkan kuas merahnya.

"Kamu saja yang memutuskan semua detailnya."

"Selama delapan tahun ini, sesulit apa pun urusan istana, semuanya selalu beres di tanganmu."

Dia mengucapkannya seolah hal itu sudah sewajarnya.

Selama delapan tahun, dia memang selalu memercayaiku seperti itu.

Saat para pejabat berselisih, aku yang menenangkan mereka.

Saat kas negara kosong, aku yang menutup kekurangannya dengan harta bawaanku sendiri.

Saat Ibu Suri dan kerabat kerajaan menekannya, aku pula yang berdiri di hadapannya.

Bahkan kini, saat hendak pergi, aku masih harus memanfaatkan kepercayaannya untuk terakhir kali.

Aku menggeser sampul dokumen itu ke dekat tangannya.

"Mohon bubuhkan stempel Kaisar pada dokumen ini juga."

Dia melirik dokumen yang tersembunyi di balik sampul.

"Ini juga untuk pencatatan Rahyan ke dalam silsilah?"

Aku menundukkan pandangan.

"Hanya dengan stempel ini, hamba bisa membereskan seluruh urusan status putra sulung."

Kalendra tidak bertanya lagi.

Ketika stempel kerajaan ditekan ke atas kertas, tinta merah meresap perlahan hingga menembus sisi belakangnya.

Tanpa sadar, dia baru saja mengesahkan dokumen yang akan membebaskanku darinya.

Namun, dia masih menggenggam tanganku dan mengusap ujung jemariku yang dingin dengan lembut.

"Setelah upacara penobatan selesai, aku akan menemanimu tinggal sementara di istana lain."

"Awal musim depan, aku juga akan mengajakmu ke Jaraya. Hanya kita berdua."

Aku pun bertanya, "Bagaimana dengan Miana dan Rahyan?"

Dia terdiam sejenak.

"Rahyan baru saja kembali ke istana. Tahun depan, untuk sementara aku belum bisa meninggalkan ibu kota."

"Kalau begitu, tunggu satu tahun lagi."

"Setelah satu tahun lagi, aku hanya akan menemanimu."

Delapan tahun lalu, dia memintaku menunggu sampai negeri ini stabil.

Delapan tahun kemudian, dia masih mengira aku akan bersedia menunggu setahun lagi.

Aku menjawab pelan, "Baiklah."

Pada hari upacara penobatan, aku sendiri yang memperbaiki posisi mahkota Miana sebelum dia resmi diangkat sebagai selir bangsawan.

Dia menatapku melalui cermin, lalu bertanya lirih, "Apa Yang Mulia benar-benar tidak benci padaku?"

"Kamu pernah menyelamatkannya, dan kamu juga mencintainya. Mengapa aku harus membencimu?"

Dia tertegun.

Aku tidak mengatakan kepadanya bahwa mencintai Kalendra bukanlah suatu kesalahan.

Kesalahannya adalah mengira bahwa orang yang paling mencintainya akan selalu bersedia mengalah.

Di aula utama, Rahyan resmi dimasukkan ke dalam silsilah kerajaan Keluarga Satrio.

Para pejabat berlutut memberi hormat kepada putra sulung Kaisar, sementara Ibu Suri menangis haru.

Dari seberang kerumunan, Kalendra menatapku. Kegelisahan yang tersisa di matanya pun sirna.

Dia mengira semuanya akhirnya telah kembali seperti semula.

Namun, sebelum upacara berakhir, aku berpamitan dari aula dengan alasan kurang sehat.

Kiara sudah menungguku di luar Kantor Urusan Keluarga Kerajaan, membawa dokumen pengembalian statusku sebagai anggota Keluarga Senjaya yang telah dibubuhi stempel kerajaan.

Setelah resmi dicatat, dokumen itu tak bisa dibatalkan begitu saja. Hanya titah resmi kaisar yang baru yang dapat mengubahnya.

Malam harinya, dokumen yang telah disahkan itu diantarkan kembali ke Istana Kencana.

Aku meletakkan stempel permaisuri di atas dokumen tersebut, menanggalkan pakaian dan mahkota permaisuri, lalu pergi hanya dengan membawa harta bawaanku, peninggalan ibuku, serta orang-orang yang dahulu ikut denganku masuk ke istana.

Saat gerbang istana hampir dikunci, Kiara menoleh sekali lagi ke arah istana.

"Yang Mulia, apakah kita akan kembali lagi ke sini?"

Aku naik ke kereta tanpa menjawab.

"Mulai sekarang, jangan panggil aku Yang Mulia lagi."

Kereta melaju menyusuri jalanan panjang di ibu kota. Aku sama sekali tidak menyibak tirainya.

Istana ini telah mengurungku selama delapan tahun.

Anehnya, saat akhirnya meninggalkan tempat itu, suasananya jauh lebih sunyi daripada ketika aku pertama kali masuk.

Keesokan paginya, Kalendra datang ke Istana Kencana membawa kue plum kesukaanku.

Namun, tak seorang pun menyambut kedatangannya.

Tungku arang sudah benar-benar dingin.

Tatapannya mula-mula jatuh pada meja rias yang telah kosong, lalu beralih ke stempel permaisuri di atas meja kerjanya.

Di bawah stempel itu terselip dokumen pencabutan gelar permaisuri dan pengembalian statusku sebagai anggota Keluarga Senjaya, yang sudah tercatat dalam silsilah kerajaan.

Pada halaman terakhir, tertera stempel kerajaan berwarna merah yang dibubuhkannya sendiri.

Kalendra terpaku di tempatnya untuk waktu yang lama.

Satu demi satu, kue plum yang masih hangat terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai bata keemasan yang dingin.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 22

    Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.Kiara sempat menyayangkan hal itu.Namun, menurutku justru begini lebih baik.Aku bisa berhenti kapan saja dan melanjutkan perjalanan kapan saja. Jika melewatkan mekarnya bunga di satu pohon, masih ada musim mekar berikutnya.Saat tiba di dekat bekas istana peristirahatan yang pernah kukunjungi, Kalendra benar-benar hanya mengantarku sampai dermaga.Sepanjang perjalanan, dia tidak ikut berlayar bersamaku. Dia menunggang kuda menyusuri tepian sungai. Setiap kali tiba di suatu tempat, dia menyuruh orang mengirimkan peta daerah setempat dan bekal makanan, tanpa pernah bertanya ke mana aku akan pe

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 21

    Setahun kemudian, sebuah titah kerajaan kembali tiba di Linau.Kalendra berhasil menyelinap kembali ke ibu kota dengan menumpang kapal pengangkut barang melalui jalur air. Dari dalam dan luar istana, dia bekerja sama dengan pasukan pengawal yang masih setia kepadanya, lalu menyelamatkan Arkan pada malam itu juga.Para kerabat kerajaan yang terlibat dalam upaya merebut takhta diadili satu per satu. Ibu Suri juga diasingkan ke istana peristirahatan karena membiarkan kerabat dari pihak ibunya memanfaatkan putra sulung Kaisar demi merebut kekuasaan. Dia dilarang kembali ke istana seumur hidup.Dalam berkas perkara yang dikirim kemudian, tertulis bahwa ketika Kalendra menerobos masuk ke kediaman para pangeran, Arkan sedang dipaksa membubuhkan cap jari pada titah pengangkatan wali pemerintahan. Begitu melihat ayahnya, anak itu tidak meminta sang kaisar membunuh orang-orang yang menyiksanya. Sebaliknya, dia justru bertanya apakah dirinya telah berbuat salah lagi.Kalendra memeluknya dan menje

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 20

    Tiga hari setelah tanggul yang jebol berhasil diperbaiki, kurir kilat membawa kabar darurat dari ibu kota.Setelah Ibu Suri dikurung di kediamannya, Keluarga Senjaya kehilangan kekuasaan, dan gelar Miana dicabut, beberapa kerabat kerajaan memanfaatkan ketidakhadiran Kaisar yang terlalu lama di Jinggara untuk menuduhnya mengabaikan pemerintahan. Mereka bersekutu dengan mantan anggota Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk melancarkan kudeta.Mereka menculik Arkan dari kediaman para pangeran dan menyebarkan klaim bahwa Kaisar telah kehilangan akal sehat demi mantan permaisurinya. Mereka berencana mengangkat putra sulung Kaisar yang baru berusia tujuh tahun sebagai penguasa sementara.Pengawal yang membawa surat itu datang dengan berlumuran darah."Paduka, gerbang istana sudah ditutup. Jika terlambat, semuanya akan terlambat."Luka di bahu Kalendra belum sembuh. Begitu mendengar Arkan disandera, wajahnya langsung menggelap.Dia melirikku, lalu segera mengalihkan pandangan.Dulu, setiap kali me

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 19

    Kalendra akhirnya tak bisa meninggalkan Linau keesokan harinya.Hujan deras mengguyur sepanjang malam. Banjir bandang dari hulu menerjang tanggul tua hingga jebol, merendam lebih dari sepuluh desa di tepi timur Kabupaten Linau sekaligus.Ketika gong perunggu di kantor pemerintahan kabupaten bergema di sepanjang jalan utama, para korban luka mulai berdatangan ke klinik.Aku menugaskan dua tabib untuk menangani para korban, lalu meminta murid sekolah perempuan yang bisa menulis untuk mendata nama para pengungsi. Para pengawal Kalendra akhirnya mengungkapkan jati diri mereka. Barulah kepala daerah menyadari bahwa pria yang menginap di penginapan itu ternyata Kaisar. Dia langsung berlutut ketakutan.Kalendra tidak menerima stempel resmi yang disodorkannya."Siapa yang paling memahami aliran sungai di Linau?"Kepala daerah secara refleks menoleh kepadaku.Dahulu, aku pasti langsung mengambil alih dan mengatur semuanya untuk semua orang.Kali ini, aku lebih dahulu bertanya kepada kepala daer

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 18

    Kalendra meletakkan titah kerajaan di atas meja.Aku tidak mengambilnya."Menurut Paduka, setelah menghukum Ibu Suri, Keluarga Senjaya, dan Miana, semua kesalahan di masa lalu sudah terbayar lunas?""Tidak akan pernah lunas.""Bagaimana jika aku tidak pergi?"Dia mengangkat pandangan.Aku menatapnya dan bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Jika aku tetap menerima upacara penobatan seperti dulu, membantu mempersiapkan jalan Arkan menjadi pewaris takhta, lalu berkata bahwa aku tidak menyalahkanmu, apakah kamu akan tahu bahwa setiap kali cuaca mendung dan hujan, perutku terasa sakit? Apa kamu akan tahu bahwa setiap kali melihat nama itu, yang terbayang olehku adalah seorang anak yang sudah memiliki tangan dan kaki, tetapi tak pernah sempat kulahirkan?"Wajah Kalendra kian pucat."Tidak."Dia tak lagi berusaha mencari alasan untuk membela diri."Aku akan terus menganggapmu sebagai perempuan bijaksana yang tahu mana yang harus didahulukan. Aku akan terus berpikir bahwa kedudukan sebagai

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 17

    Di puncak musim panas, Kalendra tiba di Linau.Empat bulan telah berlalu sejak badai salju di Dermaga Aruni.Selama empat bulan itu, tak satu pun surat yang dikirimnya mendapat balasan. Klinik terus berkembang, sekolah perempuan menerima murid baru, dan Keluarga Senjaya menjalani persidangan. Hidupku terus berjalan seperti biasa. Aku tak pernah berhenti menjalani hidup hanya untuk menunggu penyesalannya sampai dari ibu kota.Dia tidak datang dengan iring-iringan kebesaran kaisar. Hanya dua pengawal yang menemaninya, dan dia memilih menginap di penginapan tepat di seberang klinik.Pada hari pertama, dia meminta Kiara mengantarkan tiga benda kepadaku.Surat berdarah yang dahulu ditahan Ibu Suri, dokumen penyelesaian seluruh perkara lama, serta sepasang liontin batu yang kutinggalkan di Paviliun Sandika.Kali ini, tak ada surat ataupun permintaan agar aku menerimanya kembali yang menyertai liontin itu.Kiara berkata bahwa pesannya hanya satu. Semua benda itu memang milikku, dan aku bebas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status