Share

Bab 3

Author: Puspa
Lima hari kemudian, Kalendra kembali ke istana bersama Miana dan putranya.

Ibu Suri sendiri telah menunggu mereka di dalam Gerbang Cakrawala.

Begitu Rahyan turun dari kereta, Ibu Suri segera memeluknya erat dengan mata berkaca-kaca.

"Anak baik, coba biar Nenek lihat kamu baik-baik."

Halaman istana dipenuhi orang-orang yang berlutut menyambut kedatangan mereka.

Dari ujung tangga istana, aku menyaksikan reuni yang tertunda selama tujuh tahun.

Kalendra segera mengarahkan pandangannya kepadaku.

Dia bergegas menghampiri, menanggalkan jubah luarnya, lalu menyampirkannya ke bahuku.

"Kenapa kamu berdiri di tempat berangin seperti ini?"

Aku bergeser ke samping untuk menghindarinya.

Jubah itu melorot dari bahuku, tetapi Kalendra segera menangkapnya.

Tangannya sempat terhenti.

"Kamu masih marah padaku?"

"Setelah urusan Rahyan selesai, aku akan menemanimu menginap beberapa hari di istana pemandian air panas."

"Tempatnya tenang. Bukankah selama ini kamu ingin melihat hutan plum di balik gunung?"

Aku tetap diam.

Seperti biasa, dia membenahi kerah bajuku, seolah tak pernah terjadi apa-apa di Jaraya.

Siang harinya, para kerabat kerajaan dan pejabat Kementerian Adat berkumpul di Istana Kencana.

Di atas meja telah disiapkan gulungan dokumen untuk mengesahkan status Rahyan sebagai keturunan sah permaisuri.

Ibu Suri sendiri yang menyodorkan dokumen itu ke hadapanku.

"Rahyan itu putra sulung Kaisar."

"Sekalipun Miana diberi kedudukan resmi, asal-usulnya tetap tidak cukup terhormat."

"Kamu tidak memiliki anak. Jika Rahyan dicatat sebagai anakmu, kamu sendiri, Keluarga Senjaya, dan kerajaan ini akan sama-sama diuntungkan."

Kalendra duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku yang dingin.

"Kita hanya perlu menambahkan satu catatan pada silsilah kerajaan."

"Rahyan akan tetap diasuh Miana. Kamu tidak perlu mengubah kehidupanmu sehari-hari."

Suaranya melembut.

"Aku tahu, melihat Rahyan akan membuatmu teringat sama anak kita."

"Namun, justru karena itu, kamu seharusnya paham betapa menderitanya seorang anak yang tidak mempunyai status sah."

Aku menatapnya.

"Jadi, setelah anakku meninggal, aku masih harus membuka jalan bagi anakmu?"

Raut wajah Kalendra berubah.

"Bukan itu maksudku."

Tiba-tiba, tawa anak-anak terdengar dari luar aula.

Rahyan melepaskan diri dari pengasuhnya lalu berlari masuk. Liontin batu mulia putih di ikat pinggangnya berdenting mengikuti langkahnya.

Sekejap, napasku tercekat.

Batu mulia itu aku pilih sendiri saat mengandung.

Pada bagian depan batu itu terukir tulisan, [Semoga negeri ini damai dan rakyatnya sejahtera.]

Di bagian belakangnya tertulis, [Rahyan, semoga panjang umur dan hidup tenteram.]

Setelah anakku tiada, aku menyuruh orang mengunci liontin batu itu di gudang samping Istana Kencana. Sejak saat itu, aku tak pernah mengeluarkannya lagi.

Aku melangkah menghampiri Rahyan.

"Dari mana kamu dapatkan batu mulia ini?"

Rahyan ketakutan melihat ekspresiku, lalu buru-buru bersembunyi di balik Kalendra.

Seorang kasim segera berlutut.

"Paduka berpesan agar putra sulung Kaisar harus mengenakan perhiasan batu yang pantas saat pertama kali memasuki istana."

"Hamba pergi ke gudang lama untuk memilihnya. Karena liontin ini tampak paling bagus, hamba pun mengambilnya."

Mengikuti arah pandangku, Kalendra membalik liontin itu.

Begitu melihat tulisan di bagian belakangnya, raut wajah Kalendra berubah.

"Shanira, sungguh aku tidak sengaja menyuruh orang mengambil liontin ini."

Aku mengangguk.

"Aku tahu."

Justru karena dia mengambilnya tanpa sengaja, aku tak tahu lagi harus berkata apa.

Dia hanya lupa.

Lupa bahwa kami juga pernah memiliki seorang anak.

Lupa bahwa Rahyan dahulu adalah nama anak kami.

Bahkan lupa mengapa liontin batu mulia itu harus disimpan di gudang lama.

Kalendra segera membungkuk untuk melepaskan liontin itu dari ikat pinggang Rahyan.

Rahyan mengira dirinya telah berbuat salah. Air matanya langsung mengalir.

"Papa, aku tak mau pakai ini lagi."

Kalendra spontan memeluknya.

"Ini bukan salahmu."

Dia mengusap air mata Rahyan dengan gerakan yang begitu terampil dan lembut.

Dalam banyak malam yang sunyi, aku pernah membayangkan bagaimana Kalendra akan menggendong anak kami.

Kini, akhirnya aku bisa melihatnya sendiri.

Hanya saja, anak dalam pelukannya bukanlah anakku.

Aku meraih gulungan dokumen pengesahan status keturunan sah itu, lalu merobeknya menjadi dua.

Ibu Suri langsung bangkit berdiri.

"Shanira!"

Aku mengibaskan tangan, membiarkan sobekan kertas berjatuhan di atas meja kerajaan.

"Ibu kandungnya masih hidup."

"Aku tidak punya alasan untuk menjadi ibunya."

Para kerabat kerajaan saling bertukar pandang.

Ayah menegurku dengan suara tertahan.

"Apa kamu harus mempermalukan Keluarga Senjaya sekaligus Paduka?"

Aku berpaling kepadanya.

"Ayah tidak perlu khawatir."

"Aku tidak akan mempermalukan kalian lagi setelah ini."

Kalendra mengejarku sampai ke luar aula, lalu mencengkeram pergelangan tanganku.

"Kalau kamu tidak mau mengakui anak itu sebagai anakmu, aku tidak akan maksa kamu."

"Liontin pembawa keberuntungan itu juga akan aku kembalikan kepadamu."

Sambil berkata demikian, dia kembali membantuku mengikat tali jubah yang terlepas tertiup angin, seperti yang selalu dilakukannya selama ini.

"Namun, Miana tetap harus mendapat kedudukan resmi, dan Rahyan harus diakui sebagai bagian dari keluarga kerajaan."

"Apa lagi yang harus aku lakukan buat menebus kesalahanku?"

Aku perlahan melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Tak perlu lakuin apa-apa."

Untuk pertama kalinya, kegelisahan terlihat di mata Kalendra.

Namun, pandanganku justru tertuju pada Miana yang berdiri di bawah tangga.

"Upacara pengangkatan Miana pada kedudukan resmi akan kuurus dengan baik atas nama Paduka."

"Paduka tidak perlu khawatir."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 22

    Pada musim semi tahun berikutnya, akhirnya aku tiba di Jaraya.Tak ada iring-iringan kebesaran, tak ada jalan yang ditutup, dan tak ada penghuni istana yang sibuk memilih pemandangan mana yang layak dinikmati seorang permaisuri dalam perjalanan.Aku menaiki kapal penumpang biasa. Kapal itu singgah di kota-kota kecil sepanjang perjalanan, dan dua kali aku melewatkan musim bunga mekar karena hujan.Kiara sempat menyayangkan hal itu.Namun, menurutku justru begini lebih baik.Aku bisa berhenti kapan saja dan melanjutkan perjalanan kapan saja. Jika melewatkan mekarnya bunga di satu pohon, masih ada musim mekar berikutnya.Saat tiba di dekat bekas istana peristirahatan yang pernah kukunjungi, Kalendra benar-benar hanya mengantarku sampai dermaga.Sepanjang perjalanan, dia tidak ikut berlayar bersamaku. Dia menunggang kuda menyusuri tepian sungai. Setiap kali tiba di suatu tempat, dia menyuruh orang mengirimkan peta daerah setempat dan bekal makanan, tanpa pernah bertanya ke mana aku akan pe

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 21

    Setahun kemudian, sebuah titah kerajaan kembali tiba di Linau.Kalendra berhasil menyelinap kembali ke ibu kota dengan menumpang kapal pengangkut barang melalui jalur air. Dari dalam dan luar istana, dia bekerja sama dengan pasukan pengawal yang masih setia kepadanya, lalu menyelamatkan Arkan pada malam itu juga.Para kerabat kerajaan yang terlibat dalam upaya merebut takhta diadili satu per satu. Ibu Suri juga diasingkan ke istana peristirahatan karena membiarkan kerabat dari pihak ibunya memanfaatkan putra sulung Kaisar demi merebut kekuasaan. Dia dilarang kembali ke istana seumur hidup.Dalam berkas perkara yang dikirim kemudian, tertulis bahwa ketika Kalendra menerobos masuk ke kediaman para pangeran, Arkan sedang dipaksa membubuhkan cap jari pada titah pengangkatan wali pemerintahan. Begitu melihat ayahnya, anak itu tidak meminta sang kaisar membunuh orang-orang yang menyiksanya. Sebaliknya, dia justru bertanya apakah dirinya telah berbuat salah lagi.Kalendra memeluknya dan menje

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 20

    Tiga hari setelah tanggul yang jebol berhasil diperbaiki, kurir kilat membawa kabar darurat dari ibu kota.Setelah Ibu Suri dikurung di kediamannya, Keluarga Senjaya kehilangan kekuasaan, dan gelar Miana dicabut, beberapa kerabat kerajaan memanfaatkan ketidakhadiran Kaisar yang terlalu lama di Jinggara untuk menuduhnya mengabaikan pemerintahan. Mereka bersekutu dengan mantan anggota Pasukan Pengawal Kekaisaran untuk melancarkan kudeta.Mereka menculik Arkan dari kediaman para pangeran dan menyebarkan klaim bahwa Kaisar telah kehilangan akal sehat demi mantan permaisurinya. Mereka berencana mengangkat putra sulung Kaisar yang baru berusia tujuh tahun sebagai penguasa sementara.Pengawal yang membawa surat itu datang dengan berlumuran darah."Paduka, gerbang istana sudah ditutup. Jika terlambat, semuanya akan terlambat."Luka di bahu Kalendra belum sembuh. Begitu mendengar Arkan disandera, wajahnya langsung menggelap.Dia melirikku, lalu segera mengalihkan pandangan.Dulu, setiap kali me

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 19

    Kalendra akhirnya tak bisa meninggalkan Linau keesokan harinya.Hujan deras mengguyur sepanjang malam. Banjir bandang dari hulu menerjang tanggul tua hingga jebol, merendam lebih dari sepuluh desa di tepi timur Kabupaten Linau sekaligus.Ketika gong perunggu di kantor pemerintahan kabupaten bergema di sepanjang jalan utama, para korban luka mulai berdatangan ke klinik.Aku menugaskan dua tabib untuk menangani para korban, lalu meminta murid sekolah perempuan yang bisa menulis untuk mendata nama para pengungsi. Para pengawal Kalendra akhirnya mengungkapkan jati diri mereka. Barulah kepala daerah menyadari bahwa pria yang menginap di penginapan itu ternyata Kaisar. Dia langsung berlutut ketakutan.Kalendra tidak menerima stempel resmi yang disodorkannya."Siapa yang paling memahami aliran sungai di Linau?"Kepala daerah secara refleks menoleh kepadaku.Dahulu, aku pasti langsung mengambil alih dan mengatur semuanya untuk semua orang.Kali ini, aku lebih dahulu bertanya kepada kepala daer

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 18

    Kalendra meletakkan titah kerajaan di atas meja.Aku tidak mengambilnya."Menurut Paduka, setelah menghukum Ibu Suri, Keluarga Senjaya, dan Miana, semua kesalahan di masa lalu sudah terbayar lunas?""Tidak akan pernah lunas.""Bagaimana jika aku tidak pergi?"Dia mengangkat pandangan.Aku menatapnya dan bertanya dengan jelas, kata demi kata, "Jika aku tetap menerima upacara penobatan seperti dulu, membantu mempersiapkan jalan Arkan menjadi pewaris takhta, lalu berkata bahwa aku tidak menyalahkanmu, apakah kamu akan tahu bahwa setiap kali cuaca mendung dan hujan, perutku terasa sakit? Apa kamu akan tahu bahwa setiap kali melihat nama itu, yang terbayang olehku adalah seorang anak yang sudah memiliki tangan dan kaki, tetapi tak pernah sempat kulahirkan?"Wajah Kalendra kian pucat."Tidak."Dia tak lagi berusaha mencari alasan untuk membela diri."Aku akan terus menganggapmu sebagai perempuan bijaksana yang tahu mana yang harus didahulukan. Aku akan terus berpikir bahwa kedudukan sebagai

  • Cinta untuk Perempuan Lain   Bab 17

    Di puncak musim panas, Kalendra tiba di Linau.Empat bulan telah berlalu sejak badai salju di Dermaga Aruni.Selama empat bulan itu, tak satu pun surat yang dikirimnya mendapat balasan. Klinik terus berkembang, sekolah perempuan menerima murid baru, dan Keluarga Senjaya menjalani persidangan. Hidupku terus berjalan seperti biasa. Aku tak pernah berhenti menjalani hidup hanya untuk menunggu penyesalannya sampai dari ibu kota.Dia tidak datang dengan iring-iringan kebesaran kaisar. Hanya dua pengawal yang menemaninya, dan dia memilih menginap di penginapan tepat di seberang klinik.Pada hari pertama, dia meminta Kiara mengantarkan tiga benda kepadaku.Surat berdarah yang dahulu ditahan Ibu Suri, dokumen penyelesaian seluruh perkara lama, serta sepasang liontin batu yang kutinggalkan di Paviliun Sandika.Kali ini, tak ada surat ataupun permintaan agar aku menerimanya kembali yang menyertai liontin itu.Kiara berkata bahwa pesannya hanya satu. Semua benda itu memang milikku, dan aku bebas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status