Short
Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan

Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan

By:  MoonaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
23Chapters
105views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Seluruh ibu kota tahu bahwa akhir-akhir ini ada aturan baru di Kediaman Adipati Wira. Setiap hari, seluruh penghuni kediaman hanya boleh menghabiskan sepuluh koin tembaga. Aturan itu muncul sejak seorang gadis pemetik bunga teratai yang membenci orang kaya, Nadia Santoso, datang ke kediaman adipati. Alya Wijaya, selaku nyonya adipati, hanya mengeluarkan uang satu koin tembaga lebih banyak. Karena itu, dia diseret dan dijatuhi hukuman dua puluh cambukan. Plak! Cambuk itu menghantam punggung Alya dengan keras. Suara kulit yang robek dan daging yang terkoyak terdengar begitu memekakkan telinga di halaman kediaman yang sunyi. "Nyonya!" Pelayan pribadinya, Rina, menangis sambil menerjang ke depan. "Hentikan! Hentikan! Tubuh nyonya lemah, nyonya tidak akan sanggup menanggung hukuman seperti ini!" Alya berlutut di tanah. Wajahnya sepucat kertas, seulas darah mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya kurus hingga nyaris tinggal tulang. Gaun putih polos yang dikenakannya telah dipenuhi noda darah. Jemarinya mencengkeram tanah erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aturan kediaman adipati tidak boleh dilanggar oleh siapa pun." Nadia berdiri di bawah serambi dengan pakaian polos. Sorot matanya dingin dan tenang. "Lebih satu koin tembaga, hukumannya dua puluh cambukan. Aturan ini telah diizinkan sendiri oleh adipati." Alya menggigit bibir tanpa memohon belas kasihan. Dia tahu, memohon pun tidak ada gunanya. Sejak Nadia memasuki kediaman, Adrian Pratama seolah telah berubah menjadi orang lain.

View More

Chapter 1

Bab 1

Dalam pandangan Alya yang mulai kabur, dia melihat sesosok pria bertubuh tinggi berjalan dari kejauhan.

Berbalut jubah brokat hitam, rambutnya disanggul rapi dengan mahkota giok. Wajah Adrian Pratama tetap setampan lukisan, dengan pembawaan dingin dan elegan seperti biasa.

"Apa yang terjadi?"

Rina seolah menemukan harapan terakhir. Dia segera berlari dan berlutut di kaki pria itu. "Adipati! Nyonya memang sejak dulu menderita batuk kronis. Hari ini, dia membeli obat dan hanya menghabiskan satu koin tembaga lebih banyak, tapi Nona Nadia langsung menghukumnya dua puluh cambukan! Tubuh nyonya lemah, bagaimana mungkin sanggup menahan hukuman seperti ini? Mohon kemurahan hati Adipati!"

Adrian sedikit mengernyit. Tatapannya jatuh pada punggung Alya yang berlumuran darah. Sekilas, tampak secercah rasa tidak tega di matanya.

"Nadia," ucapnya. "Sudahlah."

Mata Nadia Santoso langsung memerah. "Saat Adipati membawaku masuk ke kediaman ini, bukankah Adipati sendiri yang berkata bahwa seluruh penghuni kediaman harus mematuhi perkataanku?"

"Kalau hari ini aturan dilanggar demi nyonya, nanti semua orang akan menirunya. Kalau begitu, lebih baik aku tidak usah mengurus kediaman adipati ini lagi!"

Setelah mengatakan itu, dia berbalik hendak pergi.

Adrian buru-buru menarik tangannya. "Baik, baik, aku tidak akan ikut campur lagi."

Adrian mengangkat tangan, lalu menutupi mata Nadia dengan lembut. Nada suaranya begitu lembut. "Jangan lihat. Terlalu berdarah."

Alya memandangi pemandangan itu dengan tatapan kosong. Rasanya seolah ada seseorang yang merenggut jantungnya hidup-hidup. Sakitnya begitu hebat hingga dia nyaris tidak bisa bernapas.

Dia tidak mengerti. Bagaimana bisa Adrian yang dulu berkata bahwa dia sangat mencintainya bisa berubah jadi seperti ini?

Mengapa ketulusan hati justru menjadi hal yang paling mudah berubah di dunia ini?

Padahal baru tiga tahun ....

Tiga tahun yang lalu, Adrian bertemu dengannya saat berkunjung ke Kota Nordan.

Kala itu, Alya sedang berteduh di bawah serambi. Begitu mendongak, pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya sambil tersenyum.

"Nona," ujar Adrian dengan suara lembut dan jernih. "Saputanganmu terjatuh."

Barulah kemudian Alya mengetahui bahwa pria yang memungut saputangannya itu ternyata adalah Adipati Wira, bangsawan termuda di istana.

Entah sudah berapa banyak hal bodoh yang pernah dilakukan Adrian demi dirinya.

Mengetahui Alya menyukai bunga peoni, dia semalaman mengangkut sepuluh pot peoni langka dari Kota Aruna hanya agar Alya dapat menyaksikan keindahan bunga yang memang layak disebut sebagai "satu-satunya bunga yang benar-benar memancarkan keindahan negeri".

Mendengar Alya mudah kedinginan, Adrian nekat berburu rubah putih di tengah salju. Saat menjahit sendiri jubah bulu untuk Alya, ujung jarum berkali-kali menusuk jemarinya hingga berlumuran darah.

Peristiwa yang paling menegangkan terjadi ketika Alya diculik para bandit gunung. Adrian menerobos markas mereka seorang diri dengan menunggang kuda. Meskipun dadanya tertembus anak panah, dia tetap melindungi Alya mati-matian hingga darah membasahi separuh jubahnya.

Pada akhirnya, Alya tidak mampu lagi menolak cinta sedalam itu dan mengangguk menerima pinangannya.

Adrian pun memohon dekret kekaisaran untuk pernikahan mereka. Dengan iring-iringan pengantin sepanjang lima kilometer yang megah, Adrian bersumpah akan setia seumur hidup kepada satu wanita, lalu membawa Alya masuk ke kediaman adipati dengan penuh kehormatan.

Setelah menikah, dia memanjakan Alya bak permata berharga. Bahkan para selir kekaisaran di istana pun sering bersenda gurau, "Nyonya Adipati Wira mungkin adalah wanita paling beruntung di seluruh dunia."

Sampai suatu hari, kereta mereka dihentikan oleh seorang wanita asing.

Wanita itu menggenggam segenggam mutiara emas dan melemparkannya ke arah Adrian. "Aku paling membenci orang-orang kaya seperti kalian! Apa kalian pikir uang bisa membeli ketulusan hati?"

Yang membuat Alya terkejut adalah, menghadapi penghinaan seperti itu, Adrian yang biasanya tegas dan tanpa ampun justru tersenyum tipis dengan tatapan penuh kasih.

"Adrian," tanya Alya dengan suara gemetar. "Siapa dia?"

Adrian menjawab terus terang, "Alya, aku bertemu seorang gadis pemetik bunga teratai. Aku ... benar-benar jatuh hati padanya. Aku ingin mengangkatnya menjadi istri sanding."

Ujung jari Alya bergetar. "Lalu bagaimana denganku? Bukannya dulu kamu berkata akan setia padaku seumur hidup?"

Adrian menatapnya. Matanya dipenuhi rasa bersalah, tetapi juga keteguhan. "Alya, aku tidak ingin membohongimu."

"Aku memang pernah berjanji seperti itu. Namun, itu sebelum aku bertemu Nadia."

"Baru sekarang aku sadar, mungkin aku tidak mencintaimu sedalam yang kukira."

"Kalau saja aku bertemu dengannya lebih dulu, aku tidak akan pernah bersamamu."

Alya seakan disambar petir.

Adrian melanjutkan, "Demi menikahimu dulu, aku memohon kepada Kaisar agar menganugerahkan dekret pernikahan. Karena ini adalah dekret kekaisaran, kita tidak bisa bercerai."

"Jadi, mulai sekarang, kamu tetap menjadi nyonya kediaman adipati ini."

"Tapi, selain status itu, seluruh cintaku akan kuberikan kepada Nadia."

Alya benar-benar hancur. Setiap hari dia selalu menangis, terus menghibur dirinya sendiri bahwa perasaan Adrian kepada Nadia mungkin hanya ketertarikan sesaat.

Namun, tidak lama kemudian, Adrian membawa Nadia tinggal di kediaman adipati.

Karena Nadia membenci kemewahan dan memusuhi kaum bangsawan, Adrian membujuknya, "Mulai sekarang, seluruh kediaman adipati akan kamu kelola. Kamu boleh menjalani kehidupan seperti apa pun yang kamu inginkan. Setelah kamu puas, barulah kamu masuk ke kediaman ini dan menikah denganku, bagaimana?"

Sejak saat itu, seluruh penghuni kediaman adipati hidup dalam penderitaan.

Terlebih lagi Alya, hidupnya benar-benar lebih buruk daripada kematian.

Uang bulanannya dipotong hingga dia bahkan tidak pernah makan sampai kenyang.

Saat penyakit batuknya kambuh, permintaannya untuk membeli obat ditolak Nadia dengan alasan pemborosan.

Bahkan hari ini, hanya karena menghabiskan satu koin tembaga lebih banyak, dia dicambuk di depan semua orang.

Ketika cambukan terakhir mendarat, Alya tidak sanggup bertahan lagi. Dia memuntahkan seteguk darah segar, sementara pandangannya perlahan diselimuti kegelapan.

Saat sadar kembali, dia mendapati dirinya sudah dibawa kembali ke halaman kediamannya.

Seorang tabib sedang memeriksa denyut nadinya. "Luka Nyonya cukup parah. Nyonya harus minum obat siang dan malam."

Tabib itu menuliskan resep dan menyerahkannya kepada Rina. Dengan suara gemetar, Rina bertanya, "Berapa biayanya?"

"Tiga tahil."

"Bisa ... utang?" Suara Rina tercekat.

Tabib itu tahu kediaman adipati bukannya tidak punya uang. Lagi pula, selama ini Alya selalu memperlakukannya dengan baik. Dia baru saja hendak mengangguk.

"Tidak boleh!"

Suara Nadia terdengar dari luar pintu.

Dengan wajah dingin, dia melangkah masuk. "Bagaimana bisa kediaman adipati berutang? Kalau tidak mampu bayar, tidak usah mengambil obat."

Rina benar-benar murka. "Kalau Nyonya tidak minum obat lagi, dia bisa kehilangan nyawanya! Kamu membenci orang kaya, tapi bukan begini caranya! Apa kamu baru puas kalau semua orang tidak sanggup makan dan tidak mampu berobat?"

Wajah Nadia berubah muram. Dia baru saja hendak membalas ketika Alya yang lemah menarik lengan Rina. "Aku masih punya mas kawin. Pakailah mas kawinku."

"Tidak boleh!" potong Nadia tanpa memberi ruang untuk membantah. "Karena kamu sudah menikah masuk ke kediaman adipati, mas kawinmu juga menjadi milik kediaman adipati. Mana boleh dipakai sesuka hati?"

Tubuh Rina gemetar menahan amarah. Saat dia hendak membantah, Nadia justru menoleh kepada tabib. "Kalau ada pasien yang tidak sanggup membayar biaya berobat, biasanya apa yang kamu lakukan?"

Tabib itu ragu sejenak sebelum menjawab, "Sa ... saya menyuruh mereka memetik tanaman obat di luar kota sebagai ganti biaya pelunasan."

Nadia mengangguk. "Kalau begitu, biarkan nyonya sendiri yang pergi memetik tanaman obat."

Rina memandangnya dengan tidak percaya. "Nyonya sedang terluka parah. Bagaimana mungkin dia bisa pergi?"

Nadia sama sekali tidak menganggapnya masalah. "Itu adalah tanggung jawabnya. Hanya karena dia adalah nyonya kediaman adipati bukan berarti aturan boleh dilanggar."

"Ada keributan apa?"

Suara dingin itu terdengar dari ambang pintu. Adrian berdiri di sana dengan kedua tangan di belakang punggung, tatapannya menyapu semua orang dengan datar.

Rina seolah kembali menemukan harapan. Dia merangkak sambil berlutut menghampiri Adrian. "Adipati! Luka nyonya sangat parah, tetapi Nona Nadia tetap memaksanya pergi memetik tanaman obat. Bukannya itu sama saja dengan menginginkan nyonya mati?"

Nadia sama sekali tidak mau mengalah. "Adipati, kalau hari ini kamu membelanya, saat ini juga aku akan meninggalkan kediaman ini!"

Adrian terdiam beberapa saat. Pada akhirnya, dia berkata, "Ikuti saja keputusan Nadia."

Alya memejamkan mata. Dadanya terasa seperti disayat-sayat, rasa sakit itu bahkan ribuan kali lebih menyiksa daripada luka cambuk di punggungnya.

"Aku akan pergi." Alya menopang tubuhnya hingga berdiri dengan susah payah.

Jalan pegunungan di luar kota terjal dan berbahaya. Dengan tubuh yang masih terluka, Alya memetik tanaman obat di tepi jurang.

Jemarinya tergores duri hingga berlumuran darah. Luka cambuk di punggungnya juga terus berdenyut nyeri sampai pandangannya berkali-kali menggelap.

Beberapa jam kemudian, akhirnya dia berhasil mengumpulkan seluruh tanaman obat yang dibutuhkan. Alya kembali ke kediaman adipati dengan tubuh penuh luka dan darah.

Saat melewati halaman kediaman Nadia, dia melihat Adrian sedang memegang kuas untuk merias alis Nadia.

Sorot matanya begitu lembut, setiap gerakannya begitu hati-hati, seolah sedang memperlakukan harta paling berharga di dunia.

Alya terpaku menatap pemandangan itu. Ingatannya tiba-tiba melayang ke malam Festival Lentera beberapa tahun silam. Saat itu, Adrian juga merias alisnya dengan penuh kelembutan.

Saat itu, Adrian berkata, "Alis Alya seindah pegunungan di kejauhan. Aku ingin menghabiskan seumur hidupku untuk melukisnya."

Di bawah langit yang dipenuhi kembang api, entah berapa banyak gadis bangsawan yang memandang mereka dengan iri hingga mata mereka memerah.

Kini, tangan itu, kelembutan itu, semuanya telah diberikan kepada wanita lain.

Ternyata, hal yang paling mudah berubah di dunia memang ketulusan hati.

Alya tersenyum. Namun, makin dia tersenyum, makin kabur pandangannya karena dipenuhi air mata.

Saat kembali ke halaman kediamannya, Rina melihat tubuh Alya yang berlumuran darah. Air matanya langsung bercucuran karena begitu sedih dan iba.

"Nona, sampai kapan Anda harus menjalani kehidupan seperti ini?"

Alya tersenyum pucat. "Aku tidak akan menjalaninya lagi. Aku ingin bercerai."

Rina tertegun. "Tapi pernikahan Anda dengan adipati merupakan pernikahan atas dekret kekaisaran. Tanpa izin Kaisar, kalian tidak mungkin bisa bercerai."

Senyum pucat tersungging di bibir Alya. "Dulu, Keluarga Wijaya berjasa menyelamatkan nyawa Kaisar. Sebagai penghargaan, Kaisar menghadiahkan sebuah dekret kekaisaran kosong."

"Selama isinya tidak bertentangan dengan hukum kekaisaran, apa pun yang kutuliskan di dalamnya akan dikabulkan oleh Kaisar."

Alya mendongak. Tatapannya dipenuhi tekad yang tidak tergoyahkan. "Aku akan menggunakan dekret kekaisaran itu agar kami tidak akan pernah bertemu lagi."

"Rina, segera kembali ke Kota Nordan dan ambil dekret kekaisaran itu."

"Begitu dekret kekaisaran itu tiba, kita akan meninggalkan tempat ini."

Untuk selamanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
23 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status