Home / Romansa / Cinta yang Angkuh / Bab 1: Bayangan Masa Lalu 1

Share

Cinta yang Angkuh
Cinta yang Angkuh
Author: Salju Berterbangan

Bab 1: Bayangan Masa Lalu 1

Author: Salju Berterbangan
“Jangan genit. Aku paling benci cewek murahan kayak kamu, Rosie!”

Memori terakhir Rosie tentang Kevin, pemuda sebelah rumah, diselimuti kebingungan. Apakah salah jika ia melihat Kevin sebagai pangeran, dan menginginkannya hanya untuk dirinya sendiri? Ia hanya mencintai dan mengagumi Kevin, tak pernah melirik pria lain.

“Kamu ini ganggu banget! Bisa nggak berhenti mengikutiku?!”

Saat itu, Rosie menganggap teguran Kevin itu lucu dan Ia tak pernah merasa malu atau tersinggung. Bahkan saat akhirnya Kevin punya pacar, Rosie tetap gelendotan pada Kevin, menolak untuk melepaskannya. Tak peduli siapa yang coba menghentikannya atau memperingatinya, ia tak mau dengar. Ia merasa yakin bahwa ia ada di sana lebih dulu, dan tak ada yang berhak selain dia. Tapi Rosie salah. Ketika ia menginjak usia delapan belas tahun, Kevin menghukumnya dengan cara yang tak akan pernah dilupakan. Sejak saat itu, gadis muda ini nyaris tak sudi lagi mendekatinya.

“Masih memikirkan masa lalu, Rosie?” tanya ibunya dengan senyum lembut, menyadari ekspresi menerawang putrinya.

“Sedikit, Bu. Aku sudah bertahun-tahun tidak pulang. Semuanya sudah banyak berubah,” kata Rosie. Kini berusia dua puluh lima tahun, ia baru datang dari provinsi lain, dia kembali setelah ayahnya meninggal. Gadis muda itu berbalik dan tersenyum pada ibunya, yang telah menua dimakan usia.

“Kamarmu masih sama. Ayo kita lihat,” kata Ambar, menuntun putrinya naik ke lantai dua rumah kayu itu. Lantai bawah telah direnovasi dengan beton dua tahun lalu, sementara lantai atas masih berupa balkon kayu putih yang mengelilingi rumah.

Begitu Rosie melangkah masuk ke kamar, senyum lebar merekah di wajahnya. Tempat tidur kecil dengan tirai putihnya, serta hanya sebuah lemari pakaian dan meja rias adalah satu-satunya perabot di kamar. Jendela kamar bisa dibuka lebar untuk melihat pemandangan rumah tetangga. Dulu, ia senang menggunakan tempat ini untuk diam-diam mengawasi seseorang. Tapi kini, pemandangannya telah berubah total. Rumah kayu tua berlantai dua di sebelah telah berubah menjadi rumah modern, lebih tinggi dari rumahnya, sampai-sampai ia harus jinjit untuk melihat ke lantai 2 rumah mereka.

“Kapan Tante Paula merenovasi rumahnya, Bu?”

“Sekitar lima tahun lalu. Bisnis keluarga mereka berkembang pesat. Mereka jadi cepat sekali kaya.”

“Dengan pagar setinggi ini, Ibu dan Tante Paula jadi nggak bisa bebas ngobrol, ya?”

“Ya begitulah, Rosie. Tante Paula sekarang sibuk bekerja di perusahaan, nggak seperti Ibu, yang hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Tante Paula memang berbakat, dia mengelola perusahaan sampai sukses dan terkenal. Dan setelah Kevin ikut membantu, perusahaannya makin berkembang pesat.” Rosie tersentak mendengar nama itu disebut.

Sepertinya keadaan telah membuat jarak antara dirinya dan Kevin semakin jauh. Dulu, ia hanya perlu menyelinap melalui pagar kayu tua untuk berlari dan bermain di rumahnya. Tapi kini, tembok beton tebal setinggi hampir dua meter berdiri di antara mereka. Bagaimana mungkin ia bisa menyeberanginya? Ia harus menerima kenyataan bahwa mereka kini menjalani kehidupan yang terpisah.

“Kamu lapar, Rosie? Pasti kamu lelah setelah nyetir jarak jauh,” kata Ambar sambil berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahu putrinya, yang masih berdiri di sana, menatap pagar rumah tetangga.

“Aku sudah biasa, Bu. Dulu di tempat Ayah, aku juga sering nyetir jarak jauh,” katanya dengan senyum tipis. Walaupun ayahnya punya keluarga baru, namun tetap mendukungnya sampai lulus sarjana. Ketika ayahnya meninggal karena sakit parah, Rosie memutuskan untuk memberikan setengah warisan—rumah beserta tanah—kepada istri baru ayahnya.

“Ibu nggak marah padaku kan? Karena memberikan setengah warisan Ayah kepada Fiona dan Nico?”

“Ayahmu menyerahkannya padamu, Rosie, yang artinya dia percaya putrinya akan menangani semuanya dengan adil. Jadi, kenapa Ibu harus marah padamu, Sayang?”

“Fiona sangat baik pada Ayah, dan Nico juga sangat manis. Aku nggak ingin mempersulit hidup mereka.” Meskipun sakit hati karena ayahnya telah pindah ke lain hati pada wanita lain, ia tidak bisa lari dari kenyataan. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan menerima kenyataan itu.

“Ya, Ibu tahu itu.”

“Tapi Ibu adalah ibuku, orang yang paling kucintai dalam hidupku,” katanya sambil berjalan memeluk ibunya. Dan ia tahu betul mengapa ibu mengirimnya untuk tinggal bersama ayahnya, karena dengan nafkah kecil sebagai penjual kue, mustahil untuk membiayai kuliahnya. Bahkan tagihan air dan listrik hampir dibayar dari cicilan satu ke cicilan berikutnya.

‘Ayah bilang Ayah nggak akan mendukungku kalau aku nggak mau tinggal dengannya. Ayah bilang Ibu memanfaatkan Ayah dengan membesarkanku sendiri.’

Dulu, Rosie sama sekali tidak senang dengan syarat ayahnya, tetapi suatu kejadian membuatnya tak ingin lagi tinggal di sini. Oleh karena itu, tinggal bersama ayahnya menjadi pilihan terakhirnya.

“Aku akan kembali tinggal bersama Ibu selamanya, Bu. Rumah itu kuberikan pada Fiona, tapi sebagian tabungan Ayah masih tersisa padaku.”

“Ibu senang kamu mau tinggal bersama Ibu. Tetapi kamu sudah terbiasa dengan kehidupan di peternakan—pekerjaan apa yang akan kamu lakukan di sini, Sayang?” tanyanya, ada nada gembira bercampur keraguan.

“Aku nggak terlalu tahu, Bu. Saat ini, aku hanya ingin istirahat. Aku masih punya sedikit uang, dan dengan tambahan tabungan Ayah, aku bisa hidup cukup nyaman.”

“Tak apa-apa. Jika kamu ingin istirahat, istirahatlah sebanyak yang kamu mau. Ibu masih menjual kue seperti biasa. Akhir-akhir ini, orang-orang memesan kue untuk dijual lagi ke berbagai toko. Gimana kalau kamu bantu Ibu membuat kue sambil istirahat? Jadi kamu nggak akan bosan, dan Ibu nggak perlu menolak pelanggan. Kebanyakan orang ingin kue di pagi hari, tetapi Ibu nggak bisa menyelesaikan semuanya sendirian. Jika kamu bantu, kita bisa mengaturnya.” Ambar membayangkan pendapatannya meningkat dengan bantuan putrinya.

“Boleh juga. Jadi aku nggak akan merasa bosan, seperti yang Ibu bilang.” Gadis muda, yang biasa bekerja itu, setuju dengan ibunya.

“Ayo bantu Ibu jualan kue. Kalau kita punya uang lebih, nanti kita buka toko kue. Bagaimana menurutmu?”

“Hmm, benarkah? Kedengarannya menarik, Bu. Ibu punya banyak pelanggan. Kalau kita buka toko dan punya karyawan, kita bisa sukses pelan-pelan!”

“Ya, semoga begitu.”

Ibu dan anak itu saling berpandangan dan tertawa bahagia, menikmati rencana masa depan mereka bersama. Meskipun mereka tidak punya rumah besar, dan putrinya tidak bekerja di perusahaan besar, Ambar sama sekali tidak merasa kecil hati.

“Atur dulu pakaianmu di lemari, Rosie. Ibu akan turun dan masak untukmu. Oh, dan setelah selesai merapikan pakaianmu, kamu bisa mandi dan istirahat. Kalau makanan sudah siap, Ibu akan datang menjemputmu.”

“Oke, Bu.” Rosie memperhatikan ibunya pergi, senyum merekah di wajahnya.

Meskipun ibunya tidak menghadiri pemakaman ayahnya, Rosie tahu betul bahwa ibunya telah memaafkan Ayahnya. Ketika cinta berakhir, orang harus berpisah. Seseorang tidak bisa memaksakan hatinya ke orang lain. Berpikir tentang hal ini membuatnya merasa malu. Bertahun-tahun lalu, ia masih muda dan egois, melakukan banyak hal tanpa berpikir, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan orang lain. Jika ia bisa kembali, ia tidak akan pernah melakukan hal-hal itu lagi.

“Apa yang kamu lakukan, Rosie?!”

“Kamu sakit kan? Jadi aku datang untuk menjagamu.”

“Ini kamarku.”

“Tante Paula sudah memberi izin.”

“Dan kamu pakai baju apa ini, murahan sekali?!”

“Uh…”

“Siapa yang mengajarimu datang dan merayu laki-laki di kamar seperti ini? Pergi! Kembali ke rumahmu sendiri!”

Apa yang merasukinya, pergi dengan baju tipis tanpa bra dan datang ke kamar seorang pria? Paula tidak tahu apa yang ia kenakan karena ia mengenakan jaket. Ia melepas jaket ketika memasuki kamar Kevin, menyisakan hanya gaun tidur tipis yang terlalu banyak memperlihatkan isi di dalamnya.

‘Rosie, apa yang ada di pikiranmu sampai bertindak sangat memalukan?’

Ia tidak tahu dari mana ia mendapat ide untuk menggoda seorang pria. Wajar saja Kevin sangat marah. Kemudian Kevin menarik tangannya dan melemparkannya keluar kamar bersama dengan jaketnya.

“Jangan terlalu genit.”

“Aku paling benci cewek murahan kayak kamu, Rosie!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Angkuh   Bab 200: Episode Spesial 6 (Tamat)

    Dengan wajah sedikit terkejut, Puput buka pintu kamar untuk kakaknya, meskipun sebenarnya dia sudah duga kalau Pasha pasti akan datang tanya tentang Nico.“Cerita ke aku, kenapa kamu begitu percaya ke dia?”“Pasha, gimana bisa kamu tanyakan itu? Malu banget, tahu.”Puput jalan ke arah tempat tidur lalu jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kakaknya ikut mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil usap rambut adiknya perlahan.“Nggak perlu malu. Ceritakan saja semuanya supaya aku bisa lihat itu dari sudut pandang yang berbeda.”Meskipun semuanya sudah jadi jelas, tetap ada sedikit keraguan yang tersisa di hati Pasha.“Pasha, kamu tahu nggak kalau Nico buat tato baru di sisi kiri dadanya?”“Hm? Oh yah?”“Iya.”“Terus?”Pasha masih belum ngerti apa hubungannya dengan semua ini. Puput segera bangkit dari tempat tidur, ambil HP nya, buka foto yang sempat dia ambil, lalu kasih kakaknya lihat.“Ini Nico?”“Iya.”Puput tersenyum aneh, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam foto itu. Pasha perh

  • Cinta yang Angkuh   Bab 199: Episode Spesial 5

    Di tengah kicauan lembut burung-burung pagi, Puput yang masih tertidur pulas bergerak mendekat, cari kehangatan. Dia peluk tubuh di sampingnya erat-erat, seolah itu adalah bantal favoritnya. Namun, kenapa bantal lembutnya bisa gerak? Dengan cepat Puput buka mata.“Nico.”Puput menatap Nico yang sudah bersandar dengan sikunya, pandangi dia dengan senyum hangat. Seketika, hatinya ikut terasa hangat.“Sekarang jam berapa? Aku nggak sadar kapan aku ketiduran.”“Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu pasti capek banget tadi malam.”Mata Nico berkilau nakal ketika dia usap pipi lembut Puput dengan penuh kasih.“Nico, seluruh tubuhku rasanya pegal-pegal.”Gadis kecil itu tampak lelah sekaligus merajuk. Nico tahan tawanya penuh sayang. Gimana mungkin tubuh Puput nggak pegal? Tadi malam dia benar-benar kerahkan seluruh tenaganya nggak tahan diri lagi.Tok … tok … tok.“Sarapan sudah datang.”Nico segera bangkit dari tempat tidur dan tarik selimut hingga tutupi tubuh Puput sepenuhnya. Dia nggak mau sia

  • Cinta yang Angkuh   Bab 198: Episode Spesial 4

    Nico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik

  • Cinta yang Angkuh   Bab 197: Episode Spesial 3

    Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu

  • Cinta yang Angkuh   Bab 196: Episode Spesial 2

    “Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l

  • Cinta yang Angkuh   Bab 195: Episode Spesial 1

    Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W

  • Cinta yang Angkuh   Bab 11: Berbuat Salah, Harus Minta Maaf 2

    “Eh… aku tidak bisa, Tante Paula. Aku masih harus bantu ibu menyiapkan pesanan kue-kue,” kata Rosie, ingin segera pergi. Tatapan kedua saudara itu jelas tidak menginginkannya disana.“Sayang sekali. Tapi janji lain kali, kamu harus datang dan ngobrol denganku ya. Aku rindu dan ingin menghabiskan wa

  • Cinta yang Angkuh   Bab 10: Berbuat Salah, Harus Minta Maaf 1

    Pagi ini, Ambar menyiapkan kue kelapa dan menatanya di keranjang untuk dibawa putrinya sebagai permintaan maaf kepada Paula karena memanjat pagar kemarin. Rosie berpakaian rapi, memilih atasan renda putih tanpa lengan dan rok berwarna krem yang menyentuh tepat di bawah lututnya.Apa Ibu benar-benar

  • Cinta yang Angkuh   Bab 9: Bola Penyebabnya 3

    “Kurasa Ferry mengantuk. Mari kita bawa dia masuk untuk tidur. Dia sudah menguap beberapa kali saat bermain sepak bola.”“Mengantuk? Tapi Ibu belum kembali.”“Bawa saja dia tidur. Kenapa harus menunggu Ibumu?”“Benar juga. Ayo, Ferry, kita tidur.”Rosie menggandeng tangan bocah yang mengantuk it

  • Cinta yang Angkuh   Bab 8: Bola Penyebabnya 2

    “Aduh!” Rosie jatuh terjerembab setelah melompat, berakhir telentang di halaman rumput. Ia terlambat menyadari bahwa dari sisi tembok rumah Kevin tidak memiliki kursi untuk memanjat, tidak seperti di rumahnya. Lompatan tadi menyakitkan, tetapi ia bangkit perlahan dan mengambil bola.“Ferry, apa kam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status