로그인“Pak Adven sudah berangkat bekerja pagi sekali, beliau berpesan akan kembali lebih awal,” ucap Megan menyambut kedatangan Arumy yang baru muncul ke ruang makan.Kursi roda Arumy bergerak mengisi celah yang sengaja dikosongkan, dengan telaten Megan langsung menghidangkan sarapan dan menyiapkan obat yang harus Arumy konsumsi.Tidak berapa lama kemudian Donovan datang menyusul, menemaninya sarapan sambil bercerita tentang poodle-nya yang tidak bisa berlarian bebas karena kukunya telah memanjang dan perlu dipotong.Dengan sabar Arumy mendengarkan sambil berjuang menguyah setiap makanan masuk ke dalam mulut karena telinganya masih sensitif oleh suara.Suara dentingan bel terdengar beberapa kali di depan pintu, Megan meninggalkan ruangan makan untuk pergi melihat siapa yang datang. Tidak lebih dari dua menit ia pergi, Megan kembali datang dengan membawa bouquet tulip putih. “Ini dari pak Adven,” ucap Megan dengan senyuman. “Anda mau meletakannya dimana?”Arumy terdiam sejenak, sampai ak
“Tuan Bjorn,” inspektur Epstein menyambut kedatangan Bjorn dan Micahelin yang akhirnya datang rumah sakit.Meski seluruh urusan telah Bjorn serahkan pada Adven, sebagai anak tertua Bjorn tetap menjadi orang pertama yang dihubungi jika itu berurusan dengan hal yang darurat.Jika harus jujur, sejak meninggalkan Hansen di ruang interogasi, Bjorn sudah tidak sudi lagi untuk berjumpa dengannya. Namun setelah makan malam di villa Adven, sepanjang perjalanan pulang dari kota North Emit, Bjorn mempertimbangkan perasaan pribadinya yang masih terikat satu hal penting dengan Hansen, yaitu kebencianya pada Hansen yang masih utuh.Kebencian itu sudah seperti denyut dalam nadi, mengiringi setiap hembusan napasnya dan akan hanya akan berhenti dengan kematian Bjorn sendiri.Sepanjang malam`Bjorn bertanya pada dirinya sendiri, apalagi sekarang alasan dirinya masih benci? Bukankah balas dendamnya sudah selesai? Bukankah Hansen sudah teramat menderita seperti apa yang diharapnya?Ratusan kali Bjorn berp
Adven melepas jass dan melempar ke kursi, pria itu mengambil handpone untuk memanggil dokter agar segera datang memeriksa. Lalu dilihatnya kembali Arumy yang mulai mengejang kaku dibalik selimut.Terburu-buru Adven mendekat, mendengar suara racauannya yang tidak begitu jelas. Suhu tubuh Arumy semakin meningkat, sakit yang dirasa semakin menyiksa, bertegangan hebat sampai sulit dikendalikan.Suara Adven yang memanggil berkali-kali menyapu pendengaran, Arumy sadar dengan kehadirannya, namun dia tidak mampu untuk membuka mata ataupun bicara sekadar minta tolong.Bukan hanya bahunya saja yang sakit, kepalanya kembali berdenyut seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi Arumy mengalami gejala sama, namun kali ini sangat berbeda karena tidak ada bantuan langsung dari dokter selayaknya saat berada di rumah sakit.Ketidak berdayaan Arumy menghadapi sakitnya begitu memilukan untuk Adven lihat. Adven pernah berada di posisinya dan dia tahu bagaimana rasanya setiap siksaan sakit yang harus ditanggungn
Di depan pekarangan vila itu, Donovan berdiri dengan tangan melambai, matanya berkaca-kaca melihat kendaraannya Bjorn mulai bergerak menjauh. Bjorn tetap pergi sesuai rencananya, tidak bersedia tinggal sedikit lebih lama apalagi menginap.Begitu cepat mereka berpisah, padahal Dovonan baru saja merasakan apa artinya menemukan orang-orang yang berharga dalam hidupnya, menikmati kehangatan yang begitu luar biasa.Dari pantulan spion, Bjorn lihat Arumy yang duduk di kursi roda menyaksikan kepergiannya dari balik jendela kamar kehabisan energy untuk bicara maupun bergerak.Pandangan Bjorn berpindah pada Donovan, sosok anak yang telah memberinya banyak cahaya kebenaran melalui kepolosan. Tangisnya yang mengantar kepergian Bjorn membuatnya merasa seperti berharga, memiliki tempat dan juga dibutuhkan.Kasih sayang yang Arumy ajarkan pada Donovan telah berhasil memeluk dingin jiwanya, mencairkan beku yang lama berdiam, dan melunakkan hati kerasnya yang selama ini dipenuhi duri kebencian.Lebih
“Apa kau sudah tahu apa yang kini telah terjadi pada ayah?” tanya Adven menghampiri Bjorn yang telah duduk di salah satu kursi makan. “Aku sudah tahu,” jawab Bjorn dengan santai. Adven mengetuk permukaan meja untuk menghiasi keheningan yang kini sedang menjeda percakapan. Jujur saja, Adven tidak dapat menebak apa yang Bjorn pikirkan setelah tahu kondisi Hansen saat ini. Apakah ada simpati di dalam diri Bjorn? Pria itu mampu bersenang-senang hingga merayakan kematian Anna secara terang-terangan dihadapan Adven, bukan hal yang mustahil jika Bjorn juga akan melakukan hal yang sama untuk merayakan penderitaan Hansen. “Polisi mulai membahas tentang kemungkinan euthanasia untuknya karena kondisinya sangat buruk tidak memungkinkan menjalani hukuman penjara. Negara juga tidak bersedia mebiayai seorang penjahat dengan harga mahal untuk seumur hidupnya.” Bjorn terdiam dalam pikiran yang dalam. Suntik mati memiliki dua pandangan yang saling bertolak belakang, yaitu antara hak untuk hidu
Map cokelat yang telah ditinggalkan Bjorn masih tersimpan di tempat yang sama. Arumy meraihnya, butuh waktu lama untuk melawan keraguannya membuka, melihat isi yang ada di dalam map.Sebuah akta perusahaan, daftar pemegang saham, hingga sertifikatnya perusahaan yang dulu pernah dibangun ibu Bjorn, kini dia serahkan kepada Arumy. Tidak hanya perusahaan, terdapat juga Sebuah sertifikat kepemilikan rumah di London tempat dulu mereka pernah tumbuh bersama. Ditambah dengan sebuah buku tabungan atas nama Donovan dengan jumlah yang tidak akan pernah bisa Arumy hasilkan meski bekerja seumur hidupnya.Arumy terpaku dengan mata berkaca-kaca, dia tidak pernah sedikitpun berpikir akan mendapatkan harta dalam bentuk apapun dari Bjorn, apalagi berpikir akan mendapatkan imbalan karena sudah mengurus Donovan. Arumy menembus batas kebenciannya terhadap Donovan dengan merawatnya murni karena kemanusiaan, hati nuraninya tidak mengizinkan dia untuk meninggalkan Donovan sendirian.Tapi.. jika Bjorn meman
Ledakan amarah Arumy membuat Tina beranjak seketika dari kursinya. Ada dua orang pekerja salon disisinya, jika mereka menyaksikan keributan yang kini terjadi, mereka pasti akan menggosipkan Tina kepada teman-teman sosialitanya lain yang mereka layani.Tina segera menarik Charlie yang tengah menang
“Saya, saya alergi biji wijen.”Mendengar pengakuan Donovan, waiter yang menyajikan makanan langsung menarik kembali piringnya dengan panik. “Maaf.. maaf Tuan, kami tidak tahu jika putra Anda alergi biji wijen. Kami akan memperbaiki menu makan malamnya.”Keterkejutan Adven kian menjadi begitu mende
Dibawah derasnya hujan dan cahaya kilat tertutup awan tebal, kilapan jas hujan berwarna kuning milik Donovan terlihat. Sesekali dia berhenti dan bersembunyi agar tidak terlihat orang dewasa yang akan mempertanyakan keberadaan orang tuanya dan akan mengantarnya ke pos polisi. Sudah sangat lama Dono
Jantung Anna memacu kencang. Setiap kali Bjorn membicarakan tentang masalah Adven, dia merasa seperti terhempaskan ke tempat yang sangat gelap tanpa cahaya.Memang benar.. Anna lah orang yang telah mengusir Arumy keluar negeri, beberapa jam setelah Adven menjalani proses operasi dan dalam kondisi







