Share

Bab 5

Author: Summer
Dia segera mengalihkan pandangan dan menatap Summer. Nada bicaranya kembali tenang. "Jangan pikirkan soal tadi. Aku menyukaimu, itu sudah cukup. Aku keluar dulu untuk telepon."

Dia buru-buru mengejar Manda.

Summer berdiri di tempatnya, menatap pintu yang kini kosong. Sudut bibirnya tertarik, tetapi pada akhirnya dia bahkan tidak mampu tersenyum mengejek dirinya sendiri.

Dia sudah tidak sanggup bertahan sedetik pun lagi di pesta ulang tahun ini. Dia berbalik dan pergi. Baru saja sampai di tepi jalan di depan hotel, sebuah sosok menghalangi jalannya.

Manda. Matanya masih sedikit merah, tetapi ekspresinya sudah kembali tenang, dengan tatapan merendahkan yang menghakimi.

"Nyonya Dananta mau pergi begitu saja?" Manda menatapnya. Suaranya lembut, tetapi setiap katanya penuh sindiran. "Tokoh utama pesta ulang tahun malah meninggalkan pesta lebih dulu, bukannya itu kurang pantas? Atau jangan-jangan kamu nggak senang melihat Aston mengejarku?"

Summer tidak ingin berurusan dengannya. Dia menghindarinya dan hendak pergi.

"Jangan pergi dulu." Manda mengulurkan tangan untuk menghalanginya. "Kita bicara sebentar. Tentang Aston, tentang pernikahan kalian yang konyol ini. Kurasa ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui ...."

"Minggir." Suara Summer terdengar dingin.

"Kenapa? Sudah tahu? Sudah sadar kalau kamu menempati posisi yang seharusnya bukan milikmu?" Manda terus mendesaknya. Bahkan dia maju dan mencengkeram pergelangan tangan Summer. "Aku beri tahu kamu, Aston sebenarnya sama sekali ...."

"Lepaskan!" Summer berusaha keras melepaskan tangannya.

Keduanya mulai tarik-menarik di tepi jalan.

Manda mengenakan sepatu hak tinggi. Kakinya terpeleset. Dia menjerit sebelum tubuhnya terjatuh ke belakang. Secara refleks, dia mencengkeram lengan Summer erat-erat.

Summer ikut kehilangan keseimbangan karena tertarik olehnya. "Aaah!"

Suara rem yang memekakkan telinga dan suara benturan terdengar hampir bersamaan!

Dalam kekacauan itu, Summer hanya merasakan kekuatan besar menghantam tubuhnya. Dunia seolah berputar. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dahi dan pipinya, sementara cairan hangat seketika mengaburkan pandangannya.

Jeritan Manda terdengar tepat di telinganya.

Rasa sakit dan pusing menelannya. Dalam kesadarannya yang semakin kabur, dia merasa ada orang-orang yang mengerumuninya. Suara-suara ramai, sirene ambulans ....

Dalam keadaan samar, dia seolah melihat sosok Aston yang bergegas datang. Untuk pertama kalinya, wajahnya yang selalu tenang dan dingin menunjukkan kepanikan yang begitu jelas.

Kemudian, dia mendengar percakapan yang terdengar terputus-putus, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.

"Pak Aston, kedua korban mengalami luka parah dan membutuhkan operasi segera, tapi hanya tersisa satu ruang operasi. Istrimu mengalami luka di wajah, lukanya cukup dalam. Kalau nggak segera ditangani, kemungkinan wajahnya akan rusak. Bu Manda mengalami cedera pada tangan. Kalau nggak segera ditangani, itu bisa memengaruhi kemampuannya bermain piano."

Kemudian, dia mendengar suara Aston ....

"Selamatkan Manda dulu. Dia masih harus bermain piano."

"Lalu istrimu ...."

"Nggak usah pedulikan dia. Baginya, penampilan sama sekali nggak penting!"

Tidak penting. Dua kata itu seperti pisau yang menembus jantung Summer.

Benar. Karena dia jelek, jadi tidak penting ....

Pandangannya menghitam. Dia benar-benar kehilangan kesadaran.

Saat siuman, dia sudah berada di ruang rawat rumah sakit. Tidak ada seorang pun di sisinya.

Summer menyentuh wajahnya. Wajahnya terbalut perban tebal.

Pintu terbuka. Manda masuk bersama sekelompok teman. Tangannya juga diperban, tetapi wajahnya dihiasi senyuman.

"Summer." Dia berjalan ke sisi ranjang dan mengamati Summer dari atas ke bawah. "Kudengar kondisimu cukup serius, sampai-sampai wajahmu luka parah. Aku sudah mengira kamu pasti akan cacat. Nggak kusangka, dokter yang dicarikan keluarga Aston ternyata cukup hebat. Mereka bahkan berhasil mengobatimu."

"Sayangnya, meskipun sembuh, itu tetap nggak bisa memengaruhi wajah aslimu yang jelek. Perban tebal ini malah cocok dengan poni dan kacamatamu. Sama-sama mengganggu pemandangan."

Pria dan wanita di belakangnya tertawa kecil.

Summer memejamkan mata. Dia bahkan malas melihat mereka. "Keluar."

Manda belum sempat berkata apa-apa, tetapi seorang gadis di sampingnya yang mengenakan setelan merah muda dan rambutnya dikeriting, langsung meledak.

"Berani sekali kamu bicara seperti itu! Manda sudah berniat baik datang menjengukmu, tapi kamu malah menyuruhnya pergi? Sudah jelek, sikapmu juga buruk! Benar-benar malu-maluin!"

Summer membuka mata. Tatapannya dingin saat menyapu gadis itu, lalu beralih kepada Manda. "Bawa anjingmu dan keluar. Kalian nggak diterima di sini."

"Siapa yang kamu sebut anjing, hah?!" Gadis berbaju merah muda itu sangat marah sampai wajahnya memerah. Dia menerobos maju dan hendak menampar Summer. Tangannya terangkat dan langsung diarahkan ke wajah Summer.

Wajah Summer terluka dan gerakannya terbatas. Tepat ketika tamparan itu hampir mengenai wajahnya ....

"Eh, nggak baik memukul orang sakit." Seorang pria mengenakan kemeja bermotif bunga menahan gadis berbaju merah muda itu.

Usianya sekitar 27 atau 28 tahun. Tatapannya tampak nakal. Dia mengamati Summer yang terbaring di ranjang dari atas ke bawah, dengan senyuman penuh niat buruk di sudut bibirnya.

"Nyonya Dananta ya? Ternyata temperamenmu cukup keras. Tapi aku punya cara untuk menangani orang yang nggak mau menurut." Dia maju dua langkah dan mendekati ranjang. Tatapannya penuh nafsu dan lancang.

"Aku sudah sering lihat wanita sepertimu yang penampilannya biasa saja tapi temperamennya besar. Kalian memang cuma butuh pria untuk menjinakkan kalian. Seberapa keras pun seseorang, setelah ditaklukkan di ranjang, pasti akan menurut."

Sambil berkata demikian, dia langsung mengulurkan tangan untuk menyingkap selimut Summer!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status