Share

Bab 6

Author: Summer
"Pergi!" bentak Summer dengan suara keras. Dia menahan rasa sakit dan berusaha menghindar, tetapi gerakannya terlambat.

Pria itu memiliki tenaga yang sangat besar. Dia menekan bahu Summer dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menarik kerah baju pasiennya hingga terbuka, memperlihatkan kulit putih dan perban di baliknya.

Pria itu menatapnya dengan sorot mata bersemangat sekaligus jijik. "Ck, tubuhmu lumayan juga. Sayang sekali wajahmu. Tapi kalau lampunya dimatikan, semuanya akan terlihat sama."

"Lepaskan! Tolong ...!" Summer berjuang sekuat tenaga. Rasa terhina dan ketakutan membuat seluruh tubuhnya gemetar.

Namun, orang-orang Manda di samping hanya mencibir, melipat tangan sambil menonton pertunjukan. Bahkan gadis berbaju merah muda itu mengeluarkan ponselnya, seolah hendak merekam video.

Keputusasaan dan amarah seketika menguasai akal sehat Summer.

Dengan sudut matanya, Summer melihat vas bunga kaca di nakas. Dia langsung meraih vas yang berat itu, mengarahkannya ke kepala pria yang menindih tubuhnya, lalu menghantamkannya sekuat tenaga.

Prang! Suara benturan keras bercampur dengan jeritan pria itu dan suara pecahan kaca. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Seorang perawat yang membawa nampan berisi perlengkapan untuk mengganti perban masuk.

Melihat ruangan yang berantakan, pria dengan kepala berlumuran darah, serta Summer yang pakaiannya berantakan dan wajahnya pucat di atas ranjang, nampan di tangan perawat itu hampir terjatuh.

"Ya ampun! Ada apa ini?! Satpam! Cepat panggil satpam! Lapor polisi! Cepat lapor polisi!"

....

Di kantor polisi, Summer dan rombongan Manda diperiksa secara terpisah. Pihak Manda memberikan kesaksian yang sama, mengatakan bahwa Summer sengaja melukai orang.

Summer mengatakan bahwa dia melakukan perlawanan untuk membela diri karena dirinya hendak diperkosa. Namun, tidak ada yang memercayainya.

Bagaimanapun, siapa yang akan percaya bahwa seorang wanita jelek bisa menjadi korban pelecehan seksual?

Tak lama kemudian, Aston datang bersama pengacara.

Kepala polisi sendiri yang menyambutnya. "Pak Aston, mengenai masalah ini ... kedua pihak memberikan keterangan yang berbeda. Sesuai prosedur, kami harus mengambil keputusan. Tapi keduanya sama-sama orang yang Anda kenal. Menurut Anda ...."

Tatapan Aston pertama-tama tertuju pada Summer. Tatapannya berhenti sejenak pada kerah bajunya yang berantakan dan perban di wajahnya. Alisnya sedikit berkerut, lalu dia segera mengalihkan pandangan dan menatap Manda yang duduk dengan tenang di samping.

Manda menyambut tatapannya, lalu menggeleng dengan lembut. Tatapannya menunjukkan ketidakberdayaan dan sedikit rasa teraniaya karena ikut terseret dalam masalah ini.

Aston terdiam selama beberapa detik.

Ruang pemeriksaan begitu sunyi hingga terasa mencekam. Setiap detik terasa menyiksa bagi Summer.

Akhirnya, Aston berbicara. Suaranya rendah dan tenang, tanpa sedikit pun emosi yang dapat ditebak.

"Tristan memang sedikit ceroboh, tapi soal pemerkosaan ... Summer, apa mungkin kamu salah paham? Tristan nggak kekurangan wanita."

Kemudian, dia kembali menatap kepala polisi. Nadanya datar, tetapi mengandung tekanan. "Tristan mengalami luka yang cukup parah. Bawa dia ke rumah sakit untuk dirawat terlebih dahulu. Kondisi Summer sedang nggak stabil dan dia perlu menenangkan diri."

"Karena sudah ada laporan polisi, tangani saja sebagai kasus mengganggu ketertiban umum. Tahan dia beberapa hari agar dia merenungkan perbuatannya."

Summer langsung membelalakkan mata dan menatapnya dengan tak percaya. Sebenarnya karena Tristan tidak kekurangan wanita atau karena dia jelek sehingga mustahil ada orang yang ingin melakukan pelecehan terhadapnya?

Hatinya sakit seperti tercabik dan diinjak-injak hingga hancur. Ini jauh lebih menyakitkan ribuan kali lipat daripada luka di wajahnya dan ketakutan yang baru saja dialaminya.

Polisi itu langsung memahami maksudnya. "Baik, Pak Aston. Kami akan mengantar Pak Tristan dan Bu Manda ke luar."

Kemudian, dia berkata kepada Summer dengan nada resmi, "Nyonya Dananta, karena diduga melakukan penganiayaan secara sengaja dan mengganggu ketertiban umum, kami akan menahan Anda sesuai hukum."

Tak lama kemudian, Manda dan Tristan diantar ke luar kantor polisi dengan sangat sopan.

Saat melewati Summer, Tristan memegangi kepalanya dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

Langkah Manda sedikit terhenti. Dia menoleh ke arah Summer. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kemenangan. Dia berbisik, "Lihat, bukannya sudah jelas siapa yang Aston percayai?"

Setelah berkata demikian, dia pergi tanpa menoleh lagi.

Summer dibawa ke ruang tahanan. Dia tahu Manda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tujuh hari berikutnya menjadi neraka baginya. Sel yang dingin, makanan basi dan berbau busuk, teman satu sel yang sengaja mencari masalah dengannya, disiram air dingin di tengah malam, luka di tubuhnya yang belum sembuh diperlakukan dengan kasar .... Berbagai siksaan datang silih berganti.

Dia memaksakan diri untuk bertahan. Dia tidak menangis, tidak membuat keributan. Tatapannya semakin kosong dari hari ke hari, sementara hatinya semakin dingin dan keras.

Pada hari ketujuh, dia dibebaskan. Aston menunggunya di depan kantor polisi. Dia bersandar di samping mobil dengan sebatang rokok terselip di antara jemarinya. Asap rokok mengepul, mengaburkan wajah tampannya.

Setelah melihat Summer keluar, dia mematikan rokoknya dan berjalan menghampirinya. "Ayo, naik."

Summer tidak bergerak. Dia mengangkat kepala dan menatapnya lurus. Suaranya serak. "Kenapa?"

Aston sepertinya tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Dia terdiam sejenak. "Apanya?"

"Kenapa membiarkan mereka pergi? Kenapa menahanku?" Suara Summer sangat pelan, tetapi bergetar menahan emosi. "Menurutmu aku jelek, jadi teman Manda nggak mungkin melakukan apa pun padaku. Karena itu, kamu langsung menganggapku berbohong dan sengaja melukai orang, begitu?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status