Share

Bab 4

Author: Summer
Ruang pesta di lantai paling atas Hotel Grandia terang-benderang.

Pesta ulang tahun yang disiapkan Aston untuk Summer sangat mewah. Hampir separuh kalangan ternama di kota diundang.

Summer mengenakan gaun hitam yang tidak mencolok itu. Poni tebal dan kacamatanya menutupi wajahnya seperti biasa. Saat berdiri di samping Aston, dia tampak seperti bayangan yang sama sekali tidak menyatu dengan suasana.

Dia bisa merasakan tatapan yang datang dari segala arah. Ada yang penasaran, ada yang mengamati, tetapi lebih banyak adalah yang terang-terangan meremehkan dan mencibir.

"Entah apa yang dipikirkan Pak Aston sampai menikahi wanita seperti ini ...."

"Wajahnya benar-benar ... sulit dijelaskan. Pak Aston begitu luar biasa, sebenarnya apa yang dia lihat dari wanita itu?"

"Siapa yang tahu? Mungkin ... seleranya memang unik?"

Bisik-bisik kecil itu berdengung seperti nyamuk dan masuk ke telinga Summer. Dia berdiri tegak tanpa ekspresi, seolah tidak mendengar apa pun.

Tak lama setelah pesta dimulai, Aston memberikan sebuah hadiah kepadanya di depan semua orang. Itu adalah sebuah kalung berlian yang sangat mahal.

Saat kotak beludru dibuka, terdengar suara tarikan napas kagum dan iri dari orang-orang di sekitarnya.

"Terima kasih." Summer menerima kalung itu dengan suara datar.

Manda datang sedikit lebih terlambat. Saat muncul, dia langsung menarik perhatian seluruh ruangan. Gaun berwarna sampanye, riasan yang sempurna, dan senyuman anggun membuatnya terlihat seperti tokoh utama pesta malam ini.

"Maaf, aku datang terlambat." Manda berjalan ke hadapan Summer, berkata dengan nada tulus, "Aku nggak sempat menyiapkan hadiah, semoga Nyonya Dananta nggak keberatan. Sebagai gantinya, biar aku mainkan sebuah lagu untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu."

Setelah berkata demikian, dia kembali menatap Aston sambil tersenyum. "Aston, kalau nggak salah, kamu juga pandai main piano. Gimana kalau kita mainkan satu lagu bersama? Anggap saja sebagai hiburan untuk pesta ulang tahun istrimu. Gimana?"

Para tamu mulai bersorak.

"Pak Aston, ayo!"

"Bu Manda dan Pak Aston benar-benar pasangan yang serasi!"

"Benar, mereka memang terlihat sangat cocok ...."

Aston menatap tatapan penuh harap Manda, lalu melirik Summer yang terdiam di sampingnya. Setelah berpikir sejenak, dia berjalan bersama Manda.

Alunan piano yang kompak terdengar. Mereka memainkan versi duet empat tangan dari Für Elise. Sang pria tampak dingin dan berkelas, sementara sang wanita tampak cerah dan menawan. Ketika duduk berdampingan, mereka terlihat seperti sebuah lukisan yang sempurna.

Suara bisik-bisik di sekitar mereka semakin keras. Kali ini, orang-orang bahkan semakin tidak berusaha menyembunyikannya.

"Nah, ini baru namanya serasi ...."

"Seandainya dulu Pak Aston menikahi Bu Manda, pasti jauh lebih baik."

"Sayang sekali ...."

"Summer itu benar-benar merebut posisi orang. Wanita sejelek itu malah bisa mendapatkan pewaris terbaik di kalangan atas. Sungguh sia-sia."

Setiap kata terasa seperti jarum beracun yang menusuk hati Summer tanpa henti. Dia berdiri di tempatnya, merasa udara di sekelilingnya semakin menipis. Tatapan dan perkataan mereka seolah hampir menenggelamkannya.

Dia berbalik dan pergi ke balkon. Angin malam terasa sejuk, meniup pergi aroma hangat dan suara bising dari ruang pesta yang membuatnya sesak.

Summer bersandar pada pagar balkon, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

Terdengar suara langkah kaki ringan dari belakang. Sesaat kemudian, tubuh hangat mendekat dan sepasang lengan melingkari pinggangnya dari belakang.

Tubuh Summer menegang.

"Kenapa keluar sendirian?" Suara rendah Aston terdengar di telinganya. "Jangan masukkan perkataan orang-orang itu ke dalam hati. Cuma omongan orang yang nggak penting."

Summer tidak bergerak dan tidak berkata apa-apa.

Aston sepertinya mengira dia masih merajuk. Dia mengusap puncak kepala Summer dengan dagunya, lalu melembutkan suaranya, seolah sedang membujuk.

"Summer, aku sudah bilang, kamu sangat baik. Nggak perlu peduli gimana orang lain melihatmu. Aku menyukaimu, itu sudah cukup."

Menyukainya? Summer hampir tertawa sinis. Dengan cara seperti apa pria ini menyukainya?

Dengan rasa suka yang menjadikannya alat untuk menunjukkan pembangkangan kepada keluarga? Atau sebagai pelengkap untuk menunjukkan cintanya yang tak tergoyahkan kepada Manda?

Aston mungkin merasa kata-kata penghiburan saja tidak cukup. Melihat Summer tetap diam, dia tiba-tiba memiringkan kepalanya dan tiba-tiba mencium sisi lehernya.

Sentuhan hangat dan lembut itu membuat tubuh Summer bergetar. Secara naluriah, dia hendak mendorongnya menjauh.

Tepat pada saat itu ....

Brak! Pintu kaca balkon didorong terbuka dengan keras.

Manda berdiri di ambang pintu. Senyuman yang belum sempat disembunyikan masih terlihat di wajahnya. Namun, saat melihat kedua orang yang sedang berpelukan, terutama saat melihat bibir Aston berada di leher Summer, senyum itu seketika membeku.

Wajahnya sedikit memucat. Matanya segera dipenuhi genangan air mata.

"Ma ... maaf ... aku mengganggu kalian."

Suaranya sedikit tercekat. Setelah mengatakannya, dia langsung berbalik dan berlari pergi. Penampilannya tampak sedikit kacau.

Aston hampir seketika melepaskan Summer. Ekspresinya berubah drastis. Tatapannya mengikuti arah Manda menghilang, jelas menunjukkan kekhawatiran dan sedikit pergulatan batin.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status