Home / Romansa / Cintai Aku, Pak Dosen! / Ch 27: Kesempatan Menyanyi

Share

Ch 27: Kesempatan Menyanyi

Author: Ivy Morfeus
last update Last Updated: 2025-10-22 18:39:38
Sudah dua mingggu Aerin bekerja part-time di The Old Pages. Uang tunai £20 per hari terasa melegakan, tetapi jauh dari target £4,000. Setiap sore, Aerin masih meminta izin pada Ronn saat akan berangkat dengan alasan yang sama. Ia masih tak ingin Ronn tahu tentang kerja part time nya. Dan yang membuatnya lega adalah kesibukan Ronn. Lega karena ia tak perlu memberikan alasan panjang lebar, juga lega karena bayangan kotornya tentang Ronn lama-lama terkikis dengan kesibukannya akhir-akhir ini juga jarangnya mereka berinteraksi.

Sore itu, Aerin baru saja bersiap berangkat pukul 17:00, saat Ronn keluar dari ruang kerjanya, memegang kunci mobil.

“Kau mau ke mana, Aerin?” tanya Ronn, tanpa emosi.

“Perpustakaan, seperti biasa,” jawab Aerin, berusaha terlihat santai.

Ronn mengangguk, tetapi ia tidak beranjak. Ia hanya menatap Aerin. “Kau sering sekali berada di perpustakaan akhir-akhir ini. Aku khawatir kau terlalu memforsir diri. Kau butuh istirahat.”

“Aku baik-baik saja, Ronn. Aku ha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 97 : Jarak

    Di sela-sela kesadarannya, aroma Cedarwood itu muncul lagi. Hangat. Menenangkan. Lengan besar yang mengangkatnya. Detak jantungnya cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang selalu terlihat tenang.Aerin mencengkeram jas Ronn lebih erat.‘Please, God… hentikan waktu. Biarkan aku bisa seperti ini lebih lama.’ doanya.“Dokter!” suara bass Ronn memecah udara di ruang IGD itu.Beberapa perawat menghampirinya, memindahkan tubuh Aerin di ranjang rumah sakit.“Dia tiba-tiba berkeringat, matanya tidak fokus dan pingsan…”Samar-samar Aerin mendengar suara Ronn saat menjelaskan kondisinya pada dokter yang menjaga.Dan setelah itu, gambaran lain berganti.Kini ia sudah berada di sebuah kamar, dengan dinding dan atap berwarna putih bersih. Saat tangannya sedang meraba, ia tak sengaja menyentuh sesuatu.Rambut. Ada seseorang yang sedang tertidur di bawah ranjangnya. Aerin sedikit menunduk.“R-ronn…”“Kau sudah bangun?”Ronn tiba-tiba saja mendongak. Ia segera berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk me

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 96 : Tersudut

    ‘Papa akan ke London.’Suara Danadyaksa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Aerin. Ia masih duduk di tempat yang sama, punggungnya bersandar ke kursi kamar kecil itu, napasnya tenang—walau gemuruh dadanya terdengar keras.Ia mulai menggesek-gesek ujung kuku ibu jarinya dengan jari tengahnya.“Aku harus memberitahu Ronn ‘kan?” gumamnya bimbang. Aerin menatap layar ponselnya agak lama.“Tapi, bagaimana kalau itu justru menambah bebannya? Dia sudah banyak tertekan saat ini,”Tanpa sadar, kakinya melangkah bolak-balik di kamar itu. “Dia akan lebih shock jika tiba-tiba melihat Papa muncul di London,”Langkahnya terhenti. “Lagipula… aku tak tahu apakah harus berbohong pada Papa atau mengatakan segalanya,”Ia menekan satu nama. Nada sambung terdengar.Sekali. Dua kali.Tak diangkat.Aerin memutuskan mengirim pesan.[“Papa akan ke London. Kita perlu bicara.”]Aerin mengernyitkan alis. Kurang dari sepuluh detik, notifikasi muncul di layar ponselnya. Balasan datang cepat. Terlalu cepat.[“

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 95 : Rumor Menyebar di Indonesia

    Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah percakapan yang berpotensi menghancurkan hidup seseorang.‘Aku sudah muak dengan ruangan ini.’ rutuk Ronn dalam hati.Ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil ke ruangan Dekan Whitmore dalam seminggu. Angka yang ‘fantastis’ jika untuk keperluan umum kampus. Tapi dia sadar, dia sedang diinterogasi atas kasus foto itu.‘Apa aku perlu memberitahu Danadyaksa tentang ini?’ pikirannya tiba-tiba teringat pada Aerin. Senyuman di wajahnya, suaranya, kembali terngiang di kepalanya. ‘Tidak. Saat ini sudah sangat buruk. Aku tak ingin membuat wajahnya itu redup.’Lagi-lagi ia membayangkan wajah Aerin saat terakhir kali mereka bicara berdua di kelas. Yang membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri melihat ekspresi kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk dosennya yang jelas-jelas menyeretnya ke permasalahan ini.‘Dasar bodoh.’ Satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Pikiran itu menciptakan sebersit rasa bahagia di antara kekhawatiran yang bertum

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 94 : Seseorang Harus Jatuh

    ‘Seseorang harus jatuh. Yang lain… harus diam.’Kalimat Liz itu tidak pergi dari kepala Aerin.Ia mengulanginya berkali-kali, seperti mantra yang menolak pudar. Bahkan saat Aerin menatap layar ponselnya yang gelap, kalimat itu tetap ada—menggantung, mengancam, menuntut makna.“Apa maksudmu, Liz?” gumamnya pelan, sendirian di halte bus.Bukan soal siapa yang salah. Bukan soal siapa yang memulai. Tapi siapa yang akan dikorbankan agar sistem tetap terlihat bersih.Tiba-tiba ponsel Aerin bergetar. Nama itu muncul di layar.Ronn.Aerin menatapnya lama sebelum mengangkat.‘Kau di mana?’ suara Ronn terdengar rendah. Terlalu terkendali. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang membakar kampus.“Di luar,” jawab Aerin singkat.‘Kita tidak boleh terlihat bersama sekarang.’Aerin menelan ludah, ia sudah tahu. Tapi setelah mendengarnya sendiri, ternyata kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. “Untuk menjaga reputasimu?” tanya Aerin, suaranya bergetar tipis. “Kau tak tanya apakah aku

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 93 : Reputasi Goyah

    “Selamat, Aerin.”Di hari berikutnya, lorong perpustakaan kampus itu sepi, kecuali suara langkah sepatu yang terukur.Aerin menoleh.Clara berdiri di belakangnya, dengan senyum yang terlihat seperti formalitas. Blazer abu-abu gelapnya rapi, rambutnya tersisir tanpa satu helai pun memberontak. Ia tampak seperti seseorang yang sejak lahir tahu bahwa dunia memang disiapkan untuknya.“Beasiswa Sterling,” lanjut Clara. “Cukup mengesankan. Pantas kau berbesar kepala mengabaikan pesanku.”“Terima kasih,” jawab Aerin sekenanya. Ia tak tertarik untuk terlibat dengan gadis itu. Ia akan melangkah pergi, tapi sepertinya, Clara masih ingin berbicara.“Padahal kau hanya seseorang yang datang dari…” Clara berhenti sejenak, matanya menyapu Aerin dari ujung rambut hingga sepatu. “Negara kecil.”Aerin tidak langsung menjawab.Ia pernah mendengar rasisme seperti ini sebelumnya—lebih halus, lebih berlapis, dan selalu datang dari orang-orang yang merasa dunia berutang pada mereka.Tapi dadanya tetap berge

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 92 : Skandal Harrowgate University

    ‘Ronn? Apa yang dia lakukan di sana?’Lorong lantai tiga fakultas masih lengang ketika Aerin berhenti melangkah. Pintu ruang dekan terbuka.Ia melihat Ronn keluar dari sana.Bukan tergesa. Bukan panik. Jasnya rapi, langkahnya terukur. Tapi ada sesuatu di bahunya—seperti beban yang baru saja diletakkan, bahu itu sedikit turun.Mata mereka bertemu. Beberapa detik saja. Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan. Tidak ada isyarat apa pun yang bisa ditafsirkan sebagai hubungan. Hanya tatapan pendek—dan keputusan diam-diam.‘Bukankah tadi dia bilang ada pergi untuk mempersiapkan sidang perceraian? Apa ini gara-gara foto itu?’ tanya Aerin dalam hati. ‘Tidak. Tidak mungkin secepat itu.’Ronn lebih dulu memalingkan wajah. Ia melangkah pergi tanpa menoleh kembali.Aerin berdiri kaku.“Kenapa Ronn keluar dari ruang dekan?” suara Liz berbisik di belakangnya.Aerin menoleh cepat. “Mungkin soal penelitiannya.”Liz mengangkat bahu. “Sepagi ini? Woahh, dia benar-benar dosen yang berdedikasi tinggi.”Aeri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status