MasukBeberapa hari telah berlalu. Di bandara, Danadyaksa menyiapkan koper terakhirnya. Aerin berdiri di samping Reza, menatap ayahnya yang bersiap untuk lepas landas.“Kau yakin akan baik-baik saja di sini, Aerin?” tanya Danadyaksa, suaranya berat tapi hangat.“Aku bisa, Pa,” jawab Aerin singkat.Danadyaksa menghela napas panjang. “Sayang, kau memang sangat beruntung. Teman-temanmu yang baik itu—Liz dan Tristan mau berkerjasama dengan agensi untuk membersihkan namamu. Tolong sampaikan salamku untuk mereka.”Aerin mengangguk. Pikirannya kembali ke hari sebelumnya. Evander, managernya di Indonesia meneleponnya.‘Aerin, dengar.’ Evander tak berbasa-basi, ‘Agensi ingin segera memberikan klarifikasi sebelum skandal itu menyebar,’“Maksudnya?” tanya Aerin tak mengerti.‘Kau akan muncul ke publik, Aerin. Di London. Kau harus menunjukkan bahwa kau sedang menempuh pendidikan dan mendapat beasiswa bergengsi.’Dan setelahnya Evander menjelaskan panjang lebar tentang rencana agensi untuknya—soal kerja
“Aerin.”Tidak ada jawaban. Ketukan dari balik pintu itu terdengar lagi, lebih pelan.“Aku masuk ya.”Pintu terbuka sedikit. Reza, asisten Danadyaksa yang dia bawa dari Indonesia, berdiri dengan paper bag di tangan.“Kau belum makan sejak tadi siang,” katanya.Aerin duduk di ujung ranjang, punggungnya menempel ke sandaran. Ia menarik lututnya ke dada, seolah ingin mengecil di tempat itu.“Aku tidak lapar.”Reza melangkah masuk, meletakkan makanan di meja kecil.“Kau harus tetap makan,” katanya.Reza duduk di sofa seberang ranjang. Ia berusaha membuat Aerin nyaman—bukan sebagai pria, melainkan seseorang yang sudah lama mengaguminya dari jauh.Kini, melihatnya rapuh di hadapannya, ada rasa khawatir yang tidak ia sangka akan sebesar ini.Aerin tertawa kecil, hambar. “Aku lebih baik kelaparan jika itu bisa membuat Papa mengubah pikirannya dan tidak membawaku kembali ke Indonesia.”Reza diam sejenak. “Dia khawatir.”“Tapi tak mau mendengar penjelasanku.”“Karena kau tak berterus terang.”A
Danadyaksa berdiri di depan rumah bergaya Georgian yang tenang dan menjulang tinggi. Beberapa waktu lalu, dia sempat menghubungi Nenek Ronn, Elara Nathaniel, hanya untuk bertukar kabar dia akan berkunjung ke London. Karena tahun lalu saat mengantar Aerin, ia belum sempat berkunjung.‘Oh, kau ingin menemui Aerin? Aku sangat senang Aerin tinggal di sini. Semenjak dia ada di rumah ini, suasana rumah jadi lebih ceria.’Itu yang dia dengar dari Nenek Elara. Kabar yang anehnya dia baru tahu.“Sejak kapan Aerin tinggal di rumah Nenek Elara? Kenapa aku tidak dianggap perlu tahu tentang ini?” gumamnya.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya menekan bel rumah.***~***Danadyaksa mempercepat langkahnya. Ia sudah bertemu dengan Helena di depan pintu, dan mengatakan kalau Aerin sedang berada di kolam renang belakang rumah.Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada putrinya itu—sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan.“Aerin—”Danadyaksa berhenti di tepi koridor kolam renang , langkahnya terputus
Di sela-sela kesadarannya, aroma Cedarwood itu muncul lagi. Hangat. Menenangkan. Lengan besar yang mengangkatnya. Detak jantungnya cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang selalu terlihat tenang.Aerin mencengkeram jas Ronn lebih erat.‘Please, God… hentikan waktu. Biarkan aku bisa seperti ini lebih lama.’ doanya.“Dokter!” suara bass Ronn memecah udara di ruang IGD itu.Beberapa perawat menghampirinya, memindahkan tubuh Aerin di ranjang rumah sakit.“Dia tiba-tiba berkeringat, matanya tidak fokus dan pingsan…”Samar-samar Aerin mendengar suara Ronn saat menjelaskan kondisinya pada dokter yang menjaga.Dan setelah itu, gambaran lain berganti.Kini ia sudah berada di sebuah kamar, dengan dinding dan atap berwarna putih bersih. Saat tangannya sedang meraba, ia tak sengaja menyentuh sesuatu.Rambut. Ada seseorang yang sedang tertidur di bawah ranjangnya. Aerin sedikit menunduk.“R-ronn…”“Kau sudah bangun?”Ronn tiba-tiba saja mendongak. Ia segera berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk me
‘Papa akan ke London.’Suara Danadyaksa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Aerin. Ia masih duduk di tempat yang sama, punggungnya bersandar ke kursi kamar kecil itu, napasnya tenang—walau gemuruh dadanya terdengar keras.Ia mulai menggesek-gesek ujung kuku ibu jarinya dengan jari tengahnya.“Aku harus memberitahu Ronn ‘kan?” gumamnya bimbang. Aerin menatap layar ponselnya agak lama.“Tapi, bagaimana kalau itu justru menambah bebannya? Dia sudah banyak tertekan saat ini,”Tanpa sadar, kakinya melangkah bolak-balik di kamar itu. “Dia akan lebih shock jika tiba-tiba melihat Papa muncul di London,”Langkahnya terhenti. “Lagipula… aku tak tahu apakah harus berbohong pada Papa atau mengatakan segalanya,”Ia menekan satu nama. Nada sambung terdengar.Sekali. Dua kali.Tak diangkat.Aerin memutuskan mengirim pesan.[“Papa akan ke London. Kita perlu bicara.”]Aerin mengernyitkan alis. Kurang dari sepuluh detik, notifikasi muncul di layar ponselnya. Balasan datang cepat. Terlalu cepat.[“
Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah percakapan yang berpotensi menghancurkan hidup seseorang.‘Aku sudah muak dengan ruangan ini.’ rutuk Ronn dalam hati.Ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil ke ruangan Dekan Whitmore dalam seminggu. Angka yang ‘fantastis’ jika untuk keperluan umum kampus. Tapi dia sadar, dia sedang diinterogasi atas kasus foto itu.‘Apa aku perlu memberitahu Danadyaksa tentang ini?’ pikirannya tiba-tiba teringat pada Aerin. Senyuman di wajahnya, suaranya, kembali terngiang di kepalanya. ‘Tidak. Saat ini sudah sangat buruk. Aku tak ingin membuat wajahnya itu redup.’Lagi-lagi ia membayangkan wajah Aerin saat terakhir kali mereka bicara berdua di kelas. Yang membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri melihat ekspresi kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk dosennya yang jelas-jelas menyeretnya ke permasalahan ini.‘Dasar bodoh.’ Satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Pikiran itu menciptakan sebersit rasa bahagia di antara kekhawatiran yang bertum







