Beranda / Romansa / Cintai Aku, Pak Dosen! / Ch 103 : Malam Awal Ancaman

Share

Ch 103 : Malam Awal Ancaman

Penulis: Ivy Morfeus
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 23:29:29
Pintu toilet tertutup dengan bunyi pelan.

Aerin masih berdiri di sana, punggungnya menempel pada daun pintu yang dingin. Tangannya gemetar.

“Apa yang kulakukan? Merengek padanya untuk tetap tinggal?” Aerin tertawa kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “Dia bahkan belum selesai bercerai. Apa yang kau harapkan?”

Aerin mengusap wajahnya kasar. Sekali ia memukul pelan dadanya, berusaha menyamarkan rasa nyeri yang muncul. Tapi sama sekali tak mempengaruhi.

“Fokus, Aerin,” Ia menarik napas panjang, menepuk lembut kedua pipinya. “Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tak boleh goyah.”

Beruntungnya, tak ada air mata. Tidak ada isak. Hanya rasa kosong yang berat dan dingin, seperti rongga yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Yang kini ia bertekad untuk mengisinya dengan fokus pada hidupnya.

Suara getaran ponselnya menambah kesadarannya. Aerin mengeluarkannya dari dalam tas. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

Ia membukanya. Sebuah foto muncul di layar.

Sosok Ronn—di lorong depan toilet ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 105 : Malam Mengerikan

    “Bagaimana kondisi di luar?”“Media menunggu di luar gerbang. Keamanan sudah dikerahkan untuk berjaga.”“Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin.”“Apa dia seseorang yang penting? Ada yang terus menyebut nama Aerin Arsyl.”Aerin berdiri di lorong rumah sakit, bersandar pada dinding putih yang terasa terlalu dingin. Percakapan para petugas berlalu begitu saja, seperti angin. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang bergetar ringan.“Tarik napas,” kata Evander pelan. “Lihat aku.”“Aku baik-baik saja,” jawab Aerin, suaranya datar. “Hanya… kepalaku bising.”“Dokter bilang itu reaksi normal.”“Normal,” ulang Aerin lirih. “kata yang menarik.”Aerin mentertawakan diri sendiri. Rasanya kesialan selalu datang menghampirinya, bahkan puluhan ribu kilometer jauhnya ia bersembunyi. Kata ‘normal’ saat ini terdengar sangat bertentangan dengan kondisinya.Tak lama, langkah sepatu terdengar mendekat. Aerin tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.“Aerin,” suara Ronn terdengar rendah. “Bagaimana kea

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 104 : Ancaman Nyata

    “Hadirin yang kami hormati, para dosen, alumni, serta mahasiswa Harrowgate University—malam ini adalah perayaan sejarah, dedikasi, dan masa depan.”Di atas panggung, MC memberi jeda sejenak. Sorot lampu menyapu penonton. Dari kejauhan tampak Clara bersama kedua temannya baru saja masuk ke barisan kursi penonton.“Namun, izinkan kami mengakui sesuatu yang istimewa.” lanjut MC. “Kadang, di tengah ruang akademik yang sunyi dan penuh disiplin, tumbuh sebuah talenta yang melampaui batas ruang kelas.”Beberapa tamu mulai berbisik. Kamera menangkap barisan penonton yang memegang ponsel.“Dan malam ini, Harrowgate dengan bangga mempersembahkan—bukan hanya seorang mahasiswi yang berprestasi, tetapi seorang seniman dengan ribuan penggemar yang datang dari berbagai penjuru kota.”Tepuk tangan mulai terdengar, perlahan membesar. Sebuah nama terdengar samar diteriakkan. Tapi Clara tak cukup pasti menangkap siapa itu.“Ia adalah penerima beasiswa Sterling. Seorang performer yang telah berdiri di be

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 103 : Malam Awal Ancaman

    Pintu toilet tertutup dengan bunyi pelan. Aerin masih berdiri di sana, punggungnya menempel pada daun pintu yang dingin. Tangannya gemetar. “Apa yang kulakukan? Merengek padanya untuk tetap tinggal?” Aerin tertawa kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “Dia bahkan belum selesai bercerai. Apa yang kau harapkan?” Aerin mengusap wajahnya kasar. Sekali ia memukul pelan dadanya, berusaha menyamarkan rasa nyeri yang muncul. Tapi sama sekali tak mempengaruhi. “Fokus, Aerin,” Ia menarik napas panjang, menepuk lembut kedua pipinya. “Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tak boleh goyah.” Beruntungnya, tak ada air mata. Tidak ada isak. Hanya rasa kosong yang berat dan dingin, seperti rongga yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Yang kini ia bertekad untuk mengisinya dengan fokus pada hidupnya. Suara getaran ponselnya menambah kesadarannya. Aerin mengeluarkannya dari dalam tas. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Ia membukanya. Sebuah foto muncul di layar. Sosok Ronn—di lorong depan toilet ya

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 102 : Di Balik Pintu yang Terkunci

    “Jawab aku.”Suara Ronn rendah, tertahan, bukan marah—lebih seperti seseorang yang sedang menahan terlalu banyak hal sekaligus.Aerin menelan ludah. Punggungnya masih menempel di pintu toilet. Napasnya belum sepenuhnya stabil.“Kau menghilang, lalu tiba-tiba menarikku ke sini,” katanya pelan. “Kau mau aku menjawab apa?”Ronn tak langsung membalas. Kedua tangannya masih bertumpu di pintu, satu di kiri, satu di kanan kepala Aerin—namun tubuhnya tidak sepenuhnya menghimpit. Ada jarak kecil yang disengaja.“Kau mengganti nomor,” katanya akhirnya. “Aku mencoba menghubungimu.”“Aku pikir kau tak akan mencariku,” potong Aerin cepat, sekilas melontarkan kekecewaannya tapi kemudian menahan diri. “Aku harus melakukannya—”“Kau menghindariku.”Nada itu membuat Aerin mendongak. Kata-kata Ronn membuat sudut hati terdalamnya berdenyut nyeri.‘Kau yang melakukannya!’ Ingin sekali Aerin meneriakkan itu di depan wajahnya. Tapi ia memalingkan tatapannya, seolah ingin membungkam kata yang hampir keluar

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 101 : Ia Tak Pernah Pergi

    “Aaaaak—!”Teriakan itu memecah keheningan apartemen.Reza yang baru saja membuka pintu langsung berbalik. Evander, yang berdiri tepat di belakangnya dengan koper kecil di tangan, ikut tersentak.“Aerin!” Reza berlari.Aerin sudah terduduk di lantai ruang TV, punggungnya menempel ke sisi sofa. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Ponselnya tergeletak tak jauh dari tangannya—layarnya masih menyala, tampak layar panggilan yang telah terputus.Evander menjatuhkan koper. “Apa yang terjadi?”Reza berlutut, mengambil ponsel itu. “Panggilan masuk… nomor tidak dikenal.” Ia menatap Aerin. “Siapa?”Aerin membuka mulut—lalu menutupnya lagi. Tatapannya jatuh ke lantai. Tangannya mencengkeram ujung lengan bajunya sendiri.“Dia…” suaranya patah. “Dia tahu nomorku.”Reza berdiri dalam satu gerakan cepat. “Evander, tolong.”Tanpa perlu penjelasan, Evander mengangguk. Ia mendekat, membungkuk di depan Aerin. “Aerin. Lihat aku. Tarik napas.”Aerin mencoba. Gagal. Dadanya terasa sesa

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 100 : Suara Dari Mimpi Buruk

    Beberapa hari telah berlalu. Di bandara, Danadyaksa menyiapkan koper terakhirnya. Aerin berdiri di samping Reza, menatap ayahnya yang bersiap untuk lepas landas.“Kau yakin akan baik-baik saja di sini, Aerin?” tanya Danadyaksa, suaranya berat tapi hangat.“Aku bisa, Pa,” jawab Aerin singkat.Danadyaksa menghela napas panjang. “Sayang, kau memang sangat beruntung. Teman-temanmu yang baik itu—Liz dan Tristan mau berkerjasama dengan agensi untuk membersihkan namamu. Tolong sampaikan salamku untuk mereka.”Aerin mengangguk. Pikirannya kembali ke hari sebelumnya. Evander, managernya di Indonesia meneleponnya.‘Aerin, dengar.’ Evander tak berbasa-basi, ‘Agensi ingin segera memberikan klarifikasi sebelum skandal itu menyebar,’“Maksudnya?” tanya Aerin tak mengerti.‘Kau akan muncul ke publik, Aerin. Di London. Kau harus menunjukkan bahwa kau sedang menempuh pendidikan dan mendapat beasiswa bergengsi.’Dan setelahnya Evander menjelaskan panjang lebar tentang rencana agensi untuknya—soal kerja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status