Share

70 - Pulang ke Rumah

Author: Paus
last update Last Updated: 2026-01-05 18:49:23

Ivy langsung mengangkat kepalanya. Menatap Damian tidak percaya. “Apa maksudnya? Buat apa Bapak menginap di sini?”

“Kamu bilang kamu tidak bisa pulang bersama saya ke apartemen, jadi tidak ada pilihan selain saya yang menginap di sini. Kamu masih sakit dan saya tidak bisa meninggalkan kamu.”

“Demamnya sudah turun, dan saya sudah lebih baik.”

“Itu keputusan saya.” Damian menjawabnya mutlak.

Lalu tatapan Ivy berlari ke seluruh ruangan di rumahnya. Tempat itu sempit. Pasti sangat amat berantakan di mata Damian. Pria itu tidak cocok tinggal di sana.

Damian adalah anak konglomerat yang biasa hidup rapi, mungkin biasa dimanjakan oleh orang tuanya sejak kecil. Apartemen Damian juga tidak bisa dibilang sederhana.

Sedangkan berbanding terbalik dengan definisi itu, rumah Ivy adalah tempat yang kumuh, kecil, semua hal bercampur di dalamnya. Mulai dari kamar mandi, dapur, bahkan kamar tidur. Hanya ada sekat kecil yang membuatnya terpisah.

Karena sudah lama tidak ditinggali, tempat itu terasa apek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   85 - ATM Berjalan

    Tubuh Ivy membeku mendengar bisikan tersebut dari Damian. Bagaimana embusan pria itu terasa mengenai bagian telinga dan lehernya membuat bulu kuduknya berdiri.“Jadi anggap saja ini bayaran untuk tanda yang belum kamu dapatkan itu,” sambung Damian menjauhkan diri.Ivy hanya bisa berdeham dan menggeser posisinya agak jauh dari Damian. Agar bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi sangat kuat.Damian mengeluarkan kartu untuk membayar semua rangkaian skin care dan make up Ivy. Seperti baru mengeluarkan uang puluhan ribu saja, dia menerima struk pembayaran beserta kartunya kembali dengan wajah sangat tenang.Mereka keluar dari area toko setelah itu. Tapi seolah belum cukup membuat Ivy nyaris gila karena dimanjakan seperti itu, Damian malah berbelok di sebuah toko sepatu tak lama setelah itu.“Pak!” Ivy protes. Kali ini tidak bisa menerimanya. “Kita datang ke sini karena mau beli sepatu untuk bapak, 'kan?”“Bukan. Untukmu.” Lagi-lagi Damian menjawabnya santai dan memasuki

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   84 - Bukan Tanda Terakhir

    Ivy ingin tahu, kira-kira membutuhkan waktu berapa lama untuk membuat tanda-tanda semacam ‘itu’ menghilang? Selama ini dirinya tidak pernah berhubungan dengan pria manapun apalagi sampai memiliki kekasih, jadi Ivy tidak tahu apakah tanda bekas ciuman seperti itu akan bertahan lama atau tidak.Warnanya sudah agak memudar, tapi masih tetap terlihat. Bahkan sudah ditutupi rambut saja Clara masih bisa melihatnya. Kalau membutuhkan waktu sampai berhari-hari, itu akan membuatnya kesulitan ke depannya.Ia harus menemukan cara. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ivy saat memperhatikan tanda di lehernya karena ulah Damian.Cermin kecil yang dipegangnya itu memantulkan warna kemerahan di dekat tulang selangka. Ivy tidak tahu sudah memperhatikannya berapa lama, baru ketika pintu apartemen terbuka dari luar, buru-buru dirinya menurunkan cermin.Ivy memasang senyumnya saat Damian masuk ke apartemen. Ia menurunkan rambut untuk menutupi bagian leher.Tapi Damian melihatnya. Cermin kecil di tangan Iv

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   82 - Maaf Untuk Semalam

    Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   81 - Pelampiasan Panas (21+)

    Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   80 - Ancaman Ayah Damian

    Hari sudah malam saat Damian akhirnya tiba di rumah orang tuanya. Gerbang besar itu langsung terbuka hanya dengan satu klakson kecil darinya.Damian langsung menjalankan mobilnya dan memarkirkannya di halaman utama. Tubuhnya disandarkan pada jok mobil. Malas sekaligus enggan untuk memasuki rumah itu. Terlalu muak, terlalu lelah.Tapi tidak ada pilihan. Ditekannya rasa muak dan lelah itu sampai Damian memilih turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.Saat akhirnya mendorong pintu itu terbuka, bukan pulang berisi tenang yang ditemukan oleh Damian, seperti anak-anak sudah berkelana jauh dan akhirnya kembali ke rumah. Tidak ada perasaan seperti itu.Yang ada hanya asing dan dingin yang menusuk. Setelah sekian lama memutuskan meninggalkan rumah tersebut, rumah megah nan besar itu rasanya tidak bisa dijadikan tempat pulang.Seorang wanita berlari bersemangat dari ruang utama. Ibu Damian. Maria. Senyumnya sangat hangat. Seperti seorang ibu yang begitu merindukan putranya.“Astaga, ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status