LOGIN"Teori tanpa praktik itu lumpuh. Praktik tanpa teori itu buta. Kita? Kita adalah bencana yang sempurna." Bagi Riana, jatuh cinta lagi adalah hal mustahil. Apalagi pada Galih—bocah ingusan penghuni kamar 101 yang lebih sering menatap layar laptop daripada menatap mata wanita. Riana hanya berniat menggodanya, sedikit bersenang-senang untuk melupakan vonis "wanita gagal" yang ditempelkan masyarakat padanya. Tapi Galih punya kejutan. Di balik sikap canggung dan kacamata kudetnya, tersimpan jiwa tua yang mengerti cara memuliakan wanita lebih baik daripada pria dewasa manapun. Galih tidak menawarkan janji manis; ia menawarkan "praktik" yang membuat lutut Riana lemas dan hatinya kembali hidup. Namun, dunia tidak ramah pada kisah cinta Ibu Kos dan Anak Kos. Stigma sosial, gunjingan tetangga, dan intervensi keluarga siap merobek ikatan rapuh mereka. Saat Riana didesak untuk melepaskan Galih demi "kebaikan bersama", ia dihadapkan pada dilema terbesar: kembali pada logika dewasa yang aman namun menyiksa, atau mempertaruhkan segalanya demi pria muda yang menjadikannya ratu di atas ranjang butut kamar kos. Kadang, pahlawanmu tidak datang menunggang kuda putih. Kadang, dia hanya memakai kaos oblong, membawa flashdisk, dan siap melawan dunia untukmu.
View MoreAroma tanah basah menguap ke udara, bercampur dengan wangi musk mahal yang menyengat dari leher jenjang Riana.
Pukul lima sore. Matahari Jakarta sedang merangkak turun dengan malas, menyisakan bias oranye yang memantul di dinding kaca "Kos Executive Riana". Di halaman depan yang luasnya bisa menampung lima mobil, Riana berdiri memegang selang air.
Ia tidak sedang menyiram tanaman. Ia sedang memamerkan diri.
Wanita tiga puluh tahun itu mengenakan dress rumahan berbahan satin merah marun. Tipis. Jatuh di tubuhnya seperti aliran air, mencetak lekuk pinggul dan bukit dadanya setiap kali angin sore berhembus. Rambut hitamnya digelung asal-asalan, menyisakan anak rambut yang menempel di tengkuknya yang berkeringat.
Dua orang bapak-bapak yang sedang lari sore di depan pagar melambatkan langkah. Mata mereka melebar, leher mereka memutar otomatis seperti engsel pintu yang baru diminyaki.
Riana melihat reaksi itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum bahagia, melainkan seringai kepuasan yang kosong.
Lihat semau kalian. Cuma itu yang bisa kalian dapatkan.
Ia memutar kran air, memutus aliran dari selang. Validasi murahan itu sudah cukup untuk hari ini. Setidaknya, tatapan lapar mereka membuktikan satu hal: Riana Wijaya belum "kedaluwarsa". Meskipun surat cerai di laci meja riasnya mengatakan sebaliknya—bahwa ia adalah wanita mandul yang membosankan di ranjang—fakta di lapangan menunjukkan ia masih punya daya tarik.
Ponsel di saku daster bergetar. Riana merogohnya. Layar menyala menampilkan nama "Mas Yudha - Kontraktor".
“Ri, nanti malam dinner yuk? Aku jemput pakai Alphard.”
Jempol Riana melayang di atas layar. Ia mendengus, lalu menekan tombol hapus. Ia tidak butuh pria kaya yang perutnya membuncit dan obrolannya hanya seputar proyek tol atau istri muda. Ia butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang... murni.
Suara pagar besi digeser memecah lamunannya.
Sesosok laki-laki masuk dengan langkah terseret. Tas ransel hitam yang terlihat berat menggantung di satu bahu, membuat postur tubuhnya sedikit miring. Kemeja flanel kotak-kotak yang warnanya sudah memudar membungkus tubuh kurusnya, dipadu dengan celana jins yang bagian bawahnya terinjak tumit sepatu.
Galih Prasetyo. Penghuni kamar 101.
Riana menegakkan punggung, postur tubuhnya berubah otomatis dari santai menjadi pose.
"Eh, Anak Ganteng baru pulang?" sapa Riana. Suaranya ia buat sedikit serak, satu oktaf lebih rendah dari biasanya.
Langkah Galih terhenti. Cowok itu mendongak, lalu dengan cepat menunduk lagi saat matanya tak sengaja menabrak belahan dada Riana yang terekspos. Tangannya bergerak canggung membetulkan letak kacamata bingkai kotaknya yang melorot karena keringat.
"Iya, Mbak Riana," jawab Galih pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara motor yang lewat. Ia tidak berhenti, terus berjalan menuju koridor lantai satu dengan kepala tertunduk, seolah lantai keramik itu jauh lebih menarik daripada wanita seksi di depannya.
"Bururu-buru banget sih? Nggak mau nemenin Tante ngopi dulu di teras? Ada pisang goreng lho." Riana sengaja menekan kata 'Tante'. Itu adalah lelucon favoritnya; menyebut dirinya tua untuk memancing penyangkalan.
Tapi Galih bukan pria pada umumnya.
"Masih ada kerjaan remote, Mbak. Permisi." Tanpa menoleh lagi, Galih mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju kamarnya di pojok koridor. Pintu kamar 101 terbuka, lalu tertutup dengan bunyi klik yang tegas.
Riana mendengus geli.
"Dasar kelinci," gumamnya pelan, menggelengkan kepala.
Galih adalah antitesis dari semua pria yang Riana kenal. Pendiam, kaku, dan terlihat tidak punya nyali. Di mata Riana, Galih adalah zona aman. Menggoda Galih itu seperti menggelitik anak kucing; tidak ada risiko digigit. Paling-paling cowok itu hanya akan merona merah sampai ke telinga, lalu gagap. Lucu.
Langit berubah gelap sepenuhnya. Riana masuk ke dalam rumah induknya yang mewah namun terasa terlalu besar untuk satu orang. Ia mengunci pintu ganda dari kayu jati itu, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Hening.
Inilah bagian yang paling ia benci. Saat pertunjukan selesai, saat penonton pulang, dan ia kembali menjadi Ratu di istana hantu. Ia berjalan melewati ruang tamu yang dihiasi lukisan abstrak mahal, menuju kamarnya di lantai dua.
Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.
Riana mencoba menyibukkan diri. Ia luluran. Ia menonton dua episode drama Korea. Ia membuka aplikasi belanja online dan membeli tas yang tidak ia butuhkan. Namun, jarum jam seolah mengejeknya, bergerak lambat menuju tengah malam.
Pukul 02.15 dini hari.
Mata Riana masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang dilukis motif awan. Insomnia sialan ini lagi. Tubuhnya lelah, tapi otaknya berisik. Rasa sepi itu bukan lagi sebuah emosi, melainkan sensasi fisik—seperti ada lubang menganga di ulu hatinya yang ditiup angin dingin.
Ia butuh air dingin. Kerongkongannya terasa kering kerontang.
Riana turun ke dapur di lantai satu dengan langkah telanjang kaki agar tidak menimbulkan suara. Daster satinnya bergesekan lembut dengan kulit pahanya. Ia mengambil botol air dari kulkas, meneguknya langsung dari botol seperti preman. Air dingin itu membasuh tenggorokannya, tapi tidak memadamkan panas aneh yang menjalar di tubuhnya.
Saat hendak kembali ke tangga, matanya menangkap sesuatu.
Dari ujung koridor yang gelap, ada seberkas cahaya tipis yang lolos dari celah bawah pintu kamar 101.
Kamar Galih.
Anak itu belum tidur? batin Riana. Biasanya anak-anak kos lain sudah bermimpi indah jam segini. Apakah dia sakit? Atau lembur kerjaannya yang aneh itu?
Rasa penasaran menggelitik Riana. Bukan, bukan sekadar penasaran. Ada dorongan iseng yang muncul. Mungkin ia bisa mengetuk pintu, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu melihat wajah bantal si perjaka kacamata itu.
Riana melangkah pelan mendekati kamar 101. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, memberikan adrenalin kecil yang menyenangkan di tengah malam yang mati ini.
Tiga langkah lagi dari pintu.
Dua langkah.
Riana mengangkat tangan, bersiap mengetuk. Namun, tangannya berhenti di udara.
Telinganya menangkap suara.
Bukan suara ketikan keyboard. Bukan suara orang mengobrol di telepon.
Itu suara napas. Berat. Teratur. Disusul suara desahan wanita yang tertahan, lirih namun jelas, seolah berasal dari speaker kualitas tinggi yang bass-nya diredam.
“Ahhh... yes... deeper...”
Suara itu datang dari dalam kamar Galih.
Alis Riana terangkat. Oalah, ternyata si Kelinci lagi nonton 'film biologi', pikirnya geli. Ia hampir tertawa. Wajar, pikirnya. Namanya juga laki-laki muda, bujangan, sendirian.
Riana berniat berbalik, membiarkan anak itu dengan privasinya. Namun, suara berikutnya membuat kakinya terpaku di lantai.
Brak.
Suara benda jatuh. Seperti buku tebal atau laptop yang digeser kasar. Lalu terdengar suara Galih. Bukan suara canggung yang biasa ia dengar. Suara ini... berbeda. Rendah. Serak. Menggeram dalam bahasa Inggris yang fasih dan penuh tekanan, seolah ia sedang mendiktekan sesuatu.
"Look at the angle. Thirty degrees. Locking the wrist. Effective control."
Riana menahan napas. Itu bukan suara orang yang sedang menikmati tontonan pasif. Nada bicaranya analitis, dingin, namun diakhiri dengan geraman frustrasi yang membuat bulu kuduk Riana meremang.
“Teorinya sampah. Praktiknya harus lebih kasar.”
Suara Galih terdengar lagi, kali ini dalam bahasa Indonesia, disusul bunyi gedebuk tumpul—seperti tinju yang menghantam bantal atau kasur dengan kekuatan penuh.
Jantung Riana berhenti berdetak sesaat. Imajinasi liarnya bekerja cepat. Apa yang sedang dilakukan anak pendiam itu di dalam sana?
Riana sadar ia harus pergi, tapi tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia justru mencondongkan tubuh, menempelkan telinganya ke daun pintu kayu itu, mencoba mendengar lebih jelas.
Tiba-tiba, cahaya lampu di celah bawah pintu mati. Gelap total.
Lalu, gagang pintu di depan wajah Riana bergerak turun perlahan.
Klik.
Pintu itu tidak dikunci. Dan seseorang di dalam sana baru saja memutarnya.
Ada jenis keheningan yang menenangkan, seperti suasana pagi di pegunungan. Lalu ada jenis keheningan yang menyiksa, seperti saat ini.Dua hari.Sudah empat puluh delapan jam sejak insiden di parkiran Pasar Modern. Sejak saat itu, Galih Prasetyo berubah menjadi hantu.Dia ada di kos. Riana tahu itu. Ia melihat lampu kamar 101 menyala di malam hari. Ia mendengar suara air keran kamar mandi dinyalakan di pagi buta. Ia bahkan mencium aroma sabun sea salt yang tertinggal samar di koridor.Tapi Galih tidak terlihat.Dia berangkat kuliah atau kerja sangat pagi, sebelum Riana bangun. Dia pulang sangat larut, saat Riana sudah menyerah menunggu di sofa ruang tamu. Pesan WhatsApp Riana? Hanya centang dua biru. Dibaca, tapi tidak dibalas. Telepon? Rejected.Riana merasa seperti orang gila.Ia duduk di meja makan rumah induknya yang megah, menatap piring di depannya.Di atas piring porselen itu tergeletak Wagyu Steak A
Pasar Modern di kawasan elit itu ramai oleh hiruk-pikuk akhir pekan. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan dinginnya udara AC sentral.Riana mendorong troli belanja yang sudah separuh penuh, sementara Galih berjalan di sampingnya.Pemandangan ini menipu.Bagi orang asing yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Riana mengenakan jumpsuit denim kasual yang memeluk tubuh, rambutnya diikat cepol asal-asalan namun stylish. Galih mengenakan kaos polo hitam yang pas badan dan celana chino, memperlihatkan lengan berototnya yang terbentuk sempurna.Tidak ada kacamata tebal hari ini. Galih memakai lensa kontak—atas paksaan Riana sebelum berangkat tadi."Ambilin beras yang 10 kilo dong, Ganteng," Riana menunjuk rak bagian bawah.Galih tidak membantah. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung beras itu seolah seringan bantal, lalu meletakkannya ke dalam troli dengan bunyi buk yang m
Koridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.Angin malam yang berhembus dari ventilasi lorong menyapu pahanya, mengingatkan Riana bahwa ia sedang menuruti perintah gila Galih: Jangan pakai celana dalam.Rasanya memalukan, tapi juga memabukkan. Ia merasa telanjang meski berpakaian lengkap. Ia merasa menjadi milik seseorang.Riana berhenti di depan pintu 101. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.Pintu terbuka sebelum tinjunya menyentuh kayu.Galih berdiri di sana.Ia mengenakan kemeja hitam yang sama dengan tadi sore, tapi kali ini kancing
Siang itu matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin melelehkan aspal jalanan. Namun, panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat Bu Darmi untuk melakukan patroli rutinnya.Bu Darmi berdiri di depan pagar kos Riana, berpura-pura sedang memilih sayuran di gerobak Mang Ujang, tukang sayur keliling yang mangkal. Matanya yang tajam seperti radar menyapu halaman kos."Mbak Yuni!" panggil Bu Darmi nyaring saat melihat asisten rumah tangga Riana sedang menyapu halaman. "Itu si Ibu Kos tumben nggak kelihatan? Biasanya jam segini udah mejeng nyiram kembang."Mbak Yuni menyeka keringat di dahinya. "Ibu lagi istirahat di dalem, Bu. Pusing katanya.""Pusing atau 'pusing'?" Bu Darmi terkekeh penuh arti, menyenggol lengan ibu-ibu lain yang belanja. "Denger-denger kemarin malem ada suara ribut-ribut di gudang. Jangan-jangan ada tikus... berkaki dua."Mbak Yuni cemberut, tidak suka majikannya digunjingkan. "Tikus beneran kok, Bu. Kemarin Pak Galih bantu ng
Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cah
Langit Jakarta sudah gelap sempurna. Pukul delapan malam.Riana tidak kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir di area belakang rumah induk, tepat di lorong sempit yang menghubungkan dapur kotor dengan gudang penyimpanan logistik kos.Ia sedang marah. Marah pada Vina si mahasiswa kencu
Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas
Sabtu sore di "Kos Executive Riana" biasanya tenang.Riana baru saja selesai membuat cheesecake stroberi. Bukan beli, tapi buat sendiri. Sejak kejadian malam itu—insiden "Mode Stealth" yang nyaris membuat jantungnya copot—Riana merasa perlu melakukan sesuatu yang domes












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.