分享

Bab 4

作者: Prazas
Satu kata "memohon" benar-benar menghancurkan harga diri Alena hingga tak tersisa.

Pupil mata Larsen bergetar.

Selama bertahun-tahun ini, tidak peduli bagaimana dia membalas dendam kepada Alena, wanita itu tidak pernah menyerah dan memohon kepadanya sekali pun.

Saat menjalani tahun terakhir SMA yang bagaikan neraka, ketika lengannya tidak sengaja diinjak oleh anak-anak lelaki itu hingga patah, Alena tidak menangis sedikit pun.

Ketika nilai ujian masuk perguruan tingginya berhasil masuk 50 besar nasional, surat penerimaan universitas yang diterimanya dengan penuh kegembiraan justru dirobek oleh Larsen. Saat itu pun, Alena tidak menangis.

Ketika Larsen menghancurkan setiap kesempatan kerja yang layak dan memaksanya mengemis serta mengamen, Alena juga tidak pernah menyerah.

Bahkan ketika Larsen menjebloskannya ke penjara, dia hanya mengatakan satu kalimat. "Jangan ganggu adikku. Aku akan menebus kesalahanku."

Namun sekarang, Alena malah berlutut di kaki Larsen. Jemarinya yang kurus mencengkeram ujung celana pria itu dengan sikap memohon. Sikapnya bukan hanya merendah, tetapi juga ... begitu hina.

Seharusnya Larsen merasa sangat puas. Namun entah mengapa, malah muncul amarah yang tidak diketahui asalnya. Dia menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya memaksakan senyum dingin yang sama sekali tidak tulus.

"Alena, bukan begini caranya meminta sesuatu."

Dia mengangkat dagu wanita itu. "Puaskan aku. Aku ingin melihat, orang sepertimu sebenarnya masih punya batas atau nggak."

Larsen yakin Alena hanya berpura-pura. Pasti karena Alena tahu bahwa dulu Larsen paling tidak tahan melihatnya menderita. Karena itulah, sekarang wanita itu sengaja memasang wajah menyedihkan demi mendapatkan rasa kasihannya.

Namun, wanita yang berlutut di lantai itu tiba-tiba melepaskan pakaiannya, lalu duduk di pangkuan Larsen. Ketika sebuah kecupan ringan mendarat di bibirnya, barulah Larsen menyadari apa yang sedang dilakukan Alena.

Alena sama sekali tidak berpengalaman dalam hal seperti ini. Gerakannya canggung, tetapi justru membuat hati terasa sakit melihatnya.

Larsen hampir tidak mampu menolak dan ingin membalasnya, tetapi kebencian membuat kesadarannya kembali.

Detik berikutnya, jemari pria itu mencengkeram dagu Alena dengan kasar hingga terasa sakit.

Tatapan Alena tampak mati rasa saat bertanya, "Pak Larsen, apa yang kulakukan masih kurang baik?"

Kurang baik. Sangat tidak baik!

Larsen mencibir. "Aku baru tahu, selain berhati busuk, ternyata kamu juga serendah ini!"

"Waktu kamu mendorong ibuku dari tangga, kamu tahu nggak apa yang sedang kulakukan? Aku sedang terbaring di meja operasi untuk mengobati tenggorokanku yang rusak karena menghirup asap saat menyelamatkanmu!"

"Kamu tahu seberapa sakit tenggorokanku waktu itu? Sakitnya sampai ketika berhadapan denganmu, aku bahkan nggak mampu mengucapkan satu kalimat pun untuk menanyaimu!"

"Alena, memangnya apa yang kurang dari perlakuanku kepadamu? Sampai kamu begitu membenciku dan ingin mencelakai ibuku hingga mati?"

Saat itu, bahkan sebelum didorong masuk ke ruang operasi, Larsen masih sempat mengatakan kepada Alena agar tidak mengkhawatirkannya.

Setelah mendengar dokter mengatakan operasinya berhasil, hal pertama yang terlintas di benak Larsen bukanlah bahwa tenggorokannya sudah pulih, melainkan bahwa rasa bersalah Alena terhadapnya akhirnya bisa berkurang.

Namun setelah sadar dari pengaruh anestesi, dia malah menerima kabar buruk ....

Ibunya terluka parah dan orang yang dicintainya telah mengkhianatinya.

Semua itu bagaikan petir di siang bolong!

Larsen mati-matian tidak mau percaya. Namun, rekaman CCTV menjadi bukti yang tak terbantahkan sehingga dia terpaksa memercayainya.

....

Alena menundukkan mata, diam-diam menahan sakit lambungnya.

Setelah Larsen selesai bicara, dia kembali mengecup bibir pria itu dengan hati-hati. "Pak Larsen, kalau kali ini aku berhasil membuatmu puas, jangan lupa berikan surat keterangan kerja kepadaku."

Larsen, bukan hanya kamu yang menderita.

Kali ini, Larsen membalikkan tubuh Alena dan menindihnya di atas sofa. Ciuman yang sarat hukuman menghujani wajah Alena dengan ganas. Napas Alena seketika menjadi kacau. Tangannya tanpa daya mencengkeram punggung pria itu.

Saat dia merasa hampir kehabisan napas, Larsen akhirnya memberinya kesempatan untuk bernapas sejenak.

"Kenapa? Bukannya tadi kamu genit sekali? Kalau mau surat keterangan kerja, tunjukkan kemampuanmu!"

Setelah berkata demikian, dia kembali merenggut napas Alena.

Wajah Alena memerah. Dia merasa dirinya tadi pasti sudah gila sampai berani melakukan hal seperti itu kepada Larsen!

"Jangan bergerak!" bentak Larsen pelan.

Alena meronta dengan keras hingga tanpa sengaja merobek kemeja Larsen.

Namun ketika ujung jarinya menyentuh bekas luka tidak rata di punggung pria itu, seluruh tubuh Alena seketika kehilangan tenaga.

Bekas luka sebesar telapak tangan itu didapat Larsen ketika menyelamatkannya dari ruang penyimpanan peralatan yang terbakar. Saat itu, Larsen menggunakan tubuhnya sendiri untuk menahan hantaman mematikan demi melindunginya.

Alena berhenti meronta. Hatinya terasa perih dan pahit.

'Larsen, kamu memperlakukanku sekejam ini, tetapi aku bahkan nggak berhak membencimu.'

Menyadari air mata Alena, Larsen menghentikan tindakannya. Dia terdiam sambil menatap wanita di bawahnya yang meringkuk dan menangis tanpa suara.

Entah dorongan dari mana, dia mengulurkan tangan, hendak menghapus tetesan air mata yang terasa begitu mengganggu itu. Namun, pintu tiba-tiba didorong terbuka.

Vero berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak. "Kamu ... kalian ...."

Setelah berkata demikian, dia berbalik dan berlari pergi sambil menangis.

"Vero!"

Larsen langsung bangkit untuk mengejarnya, tetapi Alena buru-buru menarik ujung bajunya. "Pak Larsen, surat keterangan kerjaku!"

Larsen menoleh. Di balik bulu matanya yang panjang, terpancar kebencian yang begitu jelas. "Kamu pikir kamu lebih penting daripada pacarku?"

Dia menghempaskan tangan Alena dengan kasar, lalu meninggalkan satu kalimat yang menghantam dada Alena dengan keras. "Tetap di sini. Pacarku akan membutuhkanmu untuk melampiaskan kemarahannya."

Alena tersenyum getir sambil mengeluarkan dua butir obat pereda nyeri murah. Dia menelan kembali rasa anyir yang mulai memenuhi mulutnya.

Melampiaskan kemarahan?

Baiklah.

Setelah minum obat, seharusnya dia masih bisa bertahan, 'kan?

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status