Short
99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk

99 Kali Operasiku Ditunda, Kini Aku Mengamuk

에:  Sanfa참여
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10챕터
19조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Aku mengidap glioma otak, hidupku sudah berada di ujung tanduk. Namun untungnya, suamiku, Rey Sagara, adalah seorang dokter spesialis bedah saraf yang jenius. Di seluruh negeri, hanya dia satu-satunya dokter yang berani mengambil tindakan untuk operasi ini. Sialnya, pria itu justru tega menunda operasiku hingga 99 kali. Setiap kali prosesnya akan dimulai, semuanya harus terhenti hanya karena Adira Kamandaka mengeluh sakit kepala. Kecepatan pertumbuhan tumor di kepalaku ini jauh di luar perkiraan. Pada penundaan yang ke-99 kalinya, rasa sakit akibat penyakit ini begitu menusuk hingga ke tulang. Aku sampai berlutut di hadapan pria itu sambil memohon, “Rey, jangan ditunda lagi, aku benar-benar nggak sanggup lagi...” Namun, Rey bahkan tidak melirikku sama sekali. Dia berbalik dan langsung melangkah pergi. “Jaga sikapmu, Lana. Aku ini dokter, aku harus bertanggung jawab pada setiap pasien.” Rasa sakit itu seketika menenggelamkanku. Aku memeluk kepalaku yang rasanya seperti mau pecah sambil menangis histeris. Sementara itu, perawat yang memegang laporan pemeriksaanku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas berat. “Ini nggak bisa ditunda lagi. Kalau minggu ini belum juga dilakukan tindakan operasi, pasien hanya tinggal menunggu ajal.”

더 보기

1화

Bab 1

Aku mengidap glioma otak. Hidupku sudah berada di ujung tanduk.

Namun untungnya, suamiku sendiri, Rey, adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius. Di seluruh negeri, hanya dia satu-satunya dokter yang berani mengambil tindakan untuk operasi ini.

Sayangnya, pria itu justru tega menunda operasiku sebanyak sembilan puluh sembilan kali.

Setiap kali prosesnya akan dimulai, semuanya harus terhenti hanya karena Adira mengeluh sakit kepala.

Kecepatan pertumbuhan tumor di kepalaku jauh di luar perkiraan. Pada penundaan yang ke-99, rasa sakit yang kurasakan begitu menusuk hingga ke tulang.

Aku berlutut di hadapannya, memohon dengan suara gemetar.

“Rey… jangan ditunda lagi. Aku benar-benar nggak sanggup lagi...”

Namun Rey bahkan tak melirikku.

Dia berbalik dan melangkah pergi.

“Jaga sikapmu, Lana. Aku dokter. Aku harus bertanggung jawab pada setiap pasien.”

Rasa sakit seketika menelanku. Aku memeluk kepala yang terasa seperti akan pecah sambil menangis histeris.

Sementara itu, seorang perawat yang memegang hasil pemeriksaanku hanya bisa menggeleng pelan sambil menghela napas berat.

“Ini sudah nggak bisa ditunda lagi. Kalau minggu ini belum juga dilakukan operasi, pasien hanya tinggal menunggu ajal.”

Tangisku mendadak tercekat di tenggorokan.

Aku terkulai lemas di atas lantai yang dingin.

Namun tanpa sadar, sudut bibirku justru terangkat membentuk senyum getir yang menyedihkan.

Bagaimana bisa aku sebodoh ini?

Aku tahu di mata Rey hanya ada Adira.

Aku tahu hidup dan matiku sama sekali tak berarti baginya.

Namun, aku masih saja menggenggam harapan semu yang menyedihkan itu. Bahkan rela mempertaruhkan nyawaku sendiri demi memercayainya.

Kali ini, aku benar-benar tak bisa menunggu lagi.

Dengan tangan yang gemetar, aku menghubungi seseorang.

Sambil terisak, aku berkata, “Aku setuju bergabung dengan tim eksperimen itu. Tiga hari lagi, kirim orang untuk menjemputku.”

Setelah sambungan telepon terputus, aku menahan rasa sakit dan merangkak naik ke ranjang pasien dengan tubuh gontai.

Apa aku harus menunggu lagi?

Sama seperti sembilan puluh delapan kali sebelumnya?

Menunggu sampai Rey selesai menenangkan Adira.

Menunggu sampai dia datang dengan santai, membawa aroma parfum asing yang menyengat di tubuhnya. Lalu berkata dengan nada meremehkan, “Lagi-lagi kamu merajuk, Lana.”

Seolah dari awal sampai akhir, akulah satu-satunya orang yang membuat masalah tanpa alasan.

Aku menatap tajam langit-langit kamar.

Teringat akan ekspresi wajah Rey yang selalu dingin dan acuh setiap kali menunda operasiku.

Padahal dulu, dia tak seperti ini.

Saat pertama kali mengetahui aku mengidap glioma, Rey memelukku dan menangis semalaman.

“Lana… apa pun taruhannya, aku pasti akan menyembuhkanmu.”

Setelah itu, dia menjual perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah, tanpa ragu beralih mempelajari ilmu kedokteran.

Untuk meneliti dan mengembangkan obat khusus itu, dia bahkan hampir menghabiskan seluruh asetnya.

Lalu bagaimana mungkin…

Rey yang dulu rela bangkrut demi menyelamatkanku kini berubah menjadi pria seperti sekarang?

Hanya karena satu kalimat dari Adira, dia tega membiarkanku tersiksa perlahan hingga mati.

Kenangan masa lalu dan kenyataan saat ini saling berbenturan liar dalam benakku.

Rey yang memelukku sambil menangis tersedu.

Atau Rey yang mencampakkanku di ruang operasi?

Sebenarnya…

Yang mana dirimu sesungguhnya?

Tiba-tiba rasa sakit di kepalaku kembali memuncak.

Rasanya seperti jutaan semut sedang melubangi dan menggerogoti tengkorakku.

Tubuhku langsung kejang-kejang.

“Suster!”

“Suster!”

“Obat Pereda nyeri! Cepat kasih aku obat pereda nyeri!”

Aku berteriak sekuat tenaga hingga suaraku nyaris serak.

Keringat dingin bercampur air mata mengalir tanpa henti, sementara pandanganku perlahan menggelap.

Perawat yang mendengar teriakanku segera berlari masuk.

Namun tatapannya tampak menghindar, tak berani menatapku. Ucapannya pun terbata-bata.

“Nona Lana… stok obat pereda nyeri… sudah nggak cukup lagi.”

“Nggak cukup?”

Aku langsung menopang tubuhku dan berdiri.

Dalam penglihatan yang masih kabur, aku menatapnya tajam.

Perawat itu hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh rasa bersalah.

Detik berikutnya, amarahku yang meluap membuat tubuhku gemetar hebat.

Bahkan obat pereda nyeri pun harus dihemat?

Rupanya, Rey memang ingin melihatku mati kesakitan!

Dalam keputusasaan, aku membenturkan kepalaku ke sudut dinding sekuat tenaga.

Brak!

Suara benturan keras bergema di ruangan, meredam jeritan histeris perawat.

“Rey! Kalau kamu punya nyali, biarkan aku mati di depanmu!”

Perawat itu langsung panik. Dia buru-buru maju mendekap pinggangku erat-erat.

“Nona Lana! Jangan begini!”

“Aku akan cari obatnya sekarang juga! Aku pasti menemukannya!”

Bahkan apotek rumah sakit saja sudah kehabisan.

Memangnya dia bisa mencarinya ke mana?

Aku kembali meronta, berusaha membenturkan diri sekali lagi.

Namun tiba-tiba…

Brak!

Pintu bangsal didobrak dengan keras.

Rey muncul dari balik pintu.

Melihat pemandangan di depannya, pupil matanya langsung menyusut tajam.

Dia bergegas menghampiriku dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Lana! Hentikan!”

Aroma parfum yang tak kukenal menusuk hidungku.

Aku terus meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.

“Lepasin aku!”

“Kamu mau lihat aku mati, ‘kan? Jadi buat apa sekarang pura-pura peduli?”

Semua kebencian yang selama ini kupendam akhirnya meledak keluar.

Rasanya aku ingin merobek topeng munafik di wajahnya.

Rey menarikku ke dalam pelukannya.

Tubuhnya gemetar saat bibirnya berulang kali mengecup air mata di wajahku.

“Lana, jangan lakuin hal bodoh!”

“Mana mungkin aku tega melihatmu mati, hah!”

Sorot matanya dipenuhi kelembutan.

Seluruh wajahnya memancarkan kecemasan yang mendalam.

Sayangnya, tumor ini sudah menekan saraf retinaku, membuatku berada di ambang kebutaan.

Sudah lama memang aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kalau terlalu banyak pakai obat pereda nyeri, tubuhmu bisa kesulitan menghadapi operasi.”

“Aku sudah menyuruh asistenku mengurus obat impor secepat mungkin. Obatnya akan sampai malam ini.”

Melihatku mulai sedikit tenang, Rey menempelkan dagunya di atas kepalaku.

Nada suaranya rendah dan serak.

Terdengar begitu lembut.

“Tenang, jangan sakiti diri sendiri lagi.”

“Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku gimana?”

“Tahan sebentar lagi, ya. Setelah obat impornya sampai, sakitnya pasti hilang.”

“Dengerin aku, ya?”

Hembusan napas hangatnya menyapu telingaku.

Aku menggunakan sisa pendengaranku yang ada untuk mencerna kata-katanya.

Setiap kali.

Selalu seperti ini.

Setelah melukaiku begitu dalam, dia akan kembali berpura-pura peduli.

Melihatku perlahan berhenti meronta, Rey akhirnya membuka mulut.

Nada suaranya tampak hati-hati.

“Adira mendadak sakit kepala lagi.”

“Kamu masih punya satu dosis obat pereda nyeri cadangan, ‘kan?”

“Kasih dia dulu untuk keadaan darurat… boleh?”

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
10 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status