แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Prazas
Di ruang privat Surgaloka.

Alena terkulai di tengah panggung. Botol-botol minuman keras berserakan di sekelilingnya.

Pakainya yang semula bersih kini basah kuyup oleh noda minuman keras. Kemeja yang sudah memudar itu melekat pada tubuhnya, memperlihatkan betapa kurus dan ringkih tubuh wanita itu. Dia sudah dipaksa menghabiskan tidak kurang dari sepuluh botol minuman keras.

"Minum! Kenapa berhenti? Memangnya kamu merasa diperlakukan nggak adil?"

"Dasar wanita licik dan berhati kejam! Tujuh tahun lalu kamu mencelakai Tante Miriam, sekarang tujuh tahun kemudian kamu malah nggak tahu malu menawarkan diri menjadi selingkuhan Larsen."

"Kamu sengaja mau menggoda Larsen supaya dia berselingkuh, 'kan? Kenapa kamu bisa seenggak tahu malu ini?"

Baru saja, Larsen memanggil teman-teman lama mereka dan menyuruh Alena berdiri di atas panggung untuk mengakui di depan semua orang bahwa dia telah menggoda Larsen, lalu membungkuk sembilan puluh sembilan kali kepada Vero untuk meminta maaf.

Namun, Vero masih belum puas. Dia meminta Alena menghabiskan sembilan puluh sembilan botol minuman keras sebelum bersedia melampiaskan amarahnya.

Alena berlutut di lantai dan berkali-kali membenturkan dahinya ke lantai dengan putus asa.

"Nona Vero, aku memang sudah keterlaluan. Aku memang tidak tahu malu. Aku wanita jalang, aku pelacur, semuanya salahku. Aku mohon, balas dendamlah kepadaku dengan cara lain. Aku tidak boleh minum alkohol. Aku benar-benar tidak boleh minum alkohol."

Dia menderita kanker lambung. Dia sama sekali tidak boleh menyentuh alkohol.

Meskipun hidupnya sudah tidak lama lagi, dia belum bertemu adiknya. Dia juga belum menyerahkan uang yang berhasil dikumpulkannya selama bertahun-tahun kepada Arina. Dia tidak boleh mati di sini malam ini.

Vero menendangnya dengan jijik.

Sementara itu, Larsen berpura-pura menghentikan tindakan Vero sambil diam-diam memberi isyarat kepada teman-teman lama mereka yang sedang menonton.

Setelah itu, Alena diseret ke atas panggung.

....

Minuman keras membakar tenggorokan dan lambung Alena seperti pisau yang mengiris organ dalamnya. Dia minum sambil muntah. Seluruh tubuhnya terbaring mengenaskan di genangan minuman keras sambil terus kejang.

Melihat kondisinya mulai tidak beres, orang-orang itu tidak berani memaksanya minum lagi. Mereka mulai mengamati ekspresi Larsen. Larsen menatap Alena yang sekujur tubuhnya memerah. Detak jantungnya seolah terhenti sesaat.

Sejak kapan dia menjadi sekurus ini?

Alis Larsen berkerut nyaris tak terlihat. Namun ketika menoleh kepada Vero, wajahnya kembali menunjukkan kelembutan. "Sayang, sudah nggak marah lagi?"

"Huh!"

Vero menyilangkan tangan di dada dan memalingkan wajah. "Kamu kasihan sama dia?"

Larsen mengerutkan kening. Sedikit rasa iba yang tadi sempat muncul terhadap Alena langsung lenyap tanpa jejak. "Mana mungkin?"

Mengasihani musuhnya sendiri?

Sorot jahat melintas di mata Vero.

"Aku nggak percaya. Kecuali ... kamu merobek sendiri foto yang dia kalungkan di lehernya!"

Mendengar itu, Alena yang semula sudah setengah mabuk seketika tersadar. Dia langsung mencengkeram erat foto yang tergantung di depan dadanya. Tatapannya dipenuhi ketakutan.

"Larsen, jangan lakukan itu. Aku mohon, jangan lakukan itu ...."

Saat mendengar permintaan Vero, Larsen sebenarnya sempat ragu.

Namun, begitu teringat ibunya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit, keraguan itu langsung tertutup oleh kebencian. Dia bangkit dan perlahan mendekati Alena.

Alena mundur hingga terpojok ke dinding dan tidak punya jalan untuk menghindar. Rasa sakit dari lambungnya sudah menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya kehilangan tenaga untuk melawan. Dia hanya bisa menyaksikan Larsen membuka satu per satu jemarinya yang merah dan bengkak, lalu merebut foto itu dengan paksa.

"Larsen, kamu sudah membakar semua foto orang tuaku dan menghancurkan semua jejak keberadaan mereka. Sekarang bahkan satu-satunya kenangan yang tersisa untukku juga mau kamu hancurkan?!" Alena berusaha meraih foto itu sambil berteriak nyaris histeris.

Setelah kejadian itu, Larsen pernah menerobos masuk ke rumah keluarga Alena dan membakar satu per satu seluruh foto serta barang peninggalan kedua orang tuanya.

Saat itu, Arina baru berusia enam tahun. Dia bersembunyi dalam pelukan Alena sambil menangis keras. Namun, tidak peduli sekeras apa pun Alena memohon dan bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah, hati Larsen tetap tidak melunak.

"Larsen, kenapa kamu bisa sekejam ini?"

Amarah tiba-tiba membuncah dalam hati Larsen. Di depan mata Alena, dia merobek foto itu hingga berkeping-keping, lalu menaburkan sobekannya ke atas kepala wanita itu. Setelah itu, tangannya mencengkeram leher Alena.

"Aku kejam? Memangnya apa yang kamu lakukan kepada ibuku nggak kejam? Yang kuhancurkan hanya benda mati, sedangkan yang kamu celakai adalah manusia hidup!"

Foto itu dirobek begitu tiba-tiba hingga Alena benar-benar menyerah untuk melawan. Bagaimanapun kerasnya dia melawan, Larsen tidak akan pernah berbelas kasihan kepadanya.

Dia sudah menyakiti hati Vero, wanita yang paling dicintai Larsen. Kalau Larsen tidak menghancurkan sesuatu yang paling dia hargai, bagaimana mungkin pria itu bisa melampiaskan kemarahannya?

Tatapan Alena menjadi hampa.

Saat Larsen dan yang lainnya hendak pergi, tiba-tiba dia berkata, "Larsen, aku membencimu."

Larsen yang sudah sampai di pintu kembali menghampirinya. Dia mencengkeram rambut Alena, lalu berkata di dekat telinga kanannya, "Kebetulan sekali, aku juga membencimu."

Melihat telinga kanan wanita itu memerah karena sensitif, Larsen berpindah ke telinga kiri Alena. "Tapi aku lebih menyedihkan. Aku bahkan masih mencintaimu!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, tatapan Larsen menjadi rumit. Cinta dan kebencian bercampur menjadi satu.

Alena menatap ekspresinya dengan kebingungan. Kemudian, Larsen pergi. Dia tidak tahu bahwa telinga kiri Alena sudah tuli. Alena sama sekali tidak mendengar kalimat terakhirnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status