เข้าสู่ระบบSebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa
Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa
Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak
Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di
Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.
Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m







