Short
Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya

Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya

By:  JuwitaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Penerbangan ke-520 mendarat. Pacarku yang tak pernah sekali pun menjemputku, kini menungguku di bandara. Dia membawa setangkai mawar biru yang diterbangkan langsung, cincin berlian berkilau memikat di dalam kotak beludru. Saat dia berlutut, suara decak kaget dan tarikan napas tak percaya dari orang-orang di sekitar langsung memenuhi telingaku. Setelah sepuluh tahun bersama, ini pertama kalinya dia mengungkapkan keinginannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersamaku. Aku berusaha tampak tenang. Setelah cincin itu terpasang di jariku, suaraku terdengar agak bergetar. "Devan, kita ...." Akan tetapi, dia justru tertawa. Dia menoleh ke samping dengan alis terangkat sebelah. "Kan udah kubilang, dia pasti mau. Aku menang taruhan, mana lukisannya." Aku terpaku. Tawa jahil dan penuh ejekan meledak dari belakangku. Sekelompok pemuda dan pemudi dari keluarga konglomerat berjalan mendekat. Yang memimpin mereka tak lain adalah Farah Prameswara. Dia mantan pasangan perjodohan bisnis Devan Pratama. Dia tertawa sampai air matanya keluar. "Pantesan dia bisa betah nempel di sampingmu terus. Kalau aku punya anjing penurut kayak dia, aku juga pasti nggak tega nendang dia pergi."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Denger-denger waktu kalian ribut kali ini kamu cukup tangguh, sampai pindah dari Griya Cendana, tapi begitu Devan melambaikan tangan sedikit, kamu langsung balik?"

Sebuah kamera yang dipegang salah satu cowok konglomerat itu hampir menempel ke wajahku.

"Lihat tuh, dia kayaknya baperan, sampe nangis terharu."

"Kak Devan, kayaknya dia bakal nempel terus sama kamu, minta pertanggungjawaban nih, haha!"

Devan melirik sekilas dan semua orang langsung diam. Jarang-jarang dia mau memberikan penjelasan.

"Kakek ulang tahun ke-80, aku belum nemu hadiah yang pas."

"Farah baru aja beli lukisan Gunung Luawe dari lelang minggu lalu, kamu tahu sendiri 'kan Kakek suka banget sama yang beginian, jadi kita bikin taruhan."

"Kalau kamu mau nerima lamaranku, lukisan itu jadi milikku."

Ternyata semua itu cuma sebuah taruhan.

Ujung jariku mulai terasa mati rasa. Cincin yang agak kebesaran itu harus terus kutahan dengan jari manisku agar tidak terlepas.

Persis seperti hubungan antara aku dan Devan.

Aku melepaskan tanganku, membiarkan cincin itu jatuh ke lantai. Suara "tak" yang nyaring memecah kedamaian palsu yang selama ini dipertahankan.

"Lain kali kalau ada lukisan yang nggak mampu kamu beli, bilang aja. Uang segitu aku punya."

"Nggak perlu main-main kayak begini buat ngerjain aku."

Devan yang dari tadi asyik memainkan lukisan di tangannya akhirnya berhenti, raut wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.

Biasanya, begitu dia mengerutkan kening, aku akan langsung menahan diri, meredam emosi, dan kembali bersikap patuh.

Akan tetapi, kali ini, aku tidak mau mengalah.

Di tengah suasana yang mencekam, Farah bersuara sinis.

"Kalau nggak bisa main ya udah, jangan bikin aku kelihatan jahat. Cuma bercanda aja, kok kamu malah bikin drama."

"Devan, ayo pergi. Bukannya kita udah pesan Restoran Wenak, ayo makan."

"Ngapain kalian liatin dia? Dia kan tiap kali memang yang selalu nempel sendiri."

Pertama kali mendengar ucapan seperti itu, aku merasa sangat takut dan serba salah.

Sambil meminta maaf dengan wajah penuh lumuran krim kue, aku malah berpikir diriku sendiri yang bereaksi berlebihan dan tidak seharusnya marah.

Toh mereka semua temannya Devan, hanya bercanda di ulang tahun saja.

Bahkan sampai akhirnya, gara-gara gula yang menempel di rambut terlalu banyak, aku terpaksa memotong rambut panjangku.

Rombongan itu lewat di sampingku. Aku membungkuk mengambil koper, lalu berjalan ke arah berlawanan.

Aku kembali ke Griya Cendana, mengemas barang-barang yang belum sempat kubawa terakhir kali, meminta kepala pelayan untuk bantu memaketkannya, lalu mengirimkan pesan putus kepada Devan.

Saat mendongak, kulihat ekspresi sang kepala pelayan terlihat ragu-ragu.

"Nona Salma, Anda ... nggak akan kembali lagi?"

"Saya bisa lihat kok, Tuan Muda memperlakukan Anda berbeda dari yang lain."

"Hubungan dia dan Nona Farah itu cuma sebatas teman masa kecil."

Kepala pelayan ini tidak tahu kejadian di bandara hari ini. Dia hanya berpikir aku masih kesal, seperti saat pindah rumah dulu.

Padahal, aku sudah lama tidak marah.

Selama sepuluh tahun bersama Devan, pemicu pertengkaran kami hampir selalu karena Farah.

Saat pertengkaran memuncak, dia akan meninggalkan kalimat, "Terserah kamu mau mikir apa," lalu menghilang begitu saja.

Tidak membalas pesan, tidak mengangkat telepon.

Satu-satunya cara aku tahu kabarnya adalah dari media sosial Farah.

Setiap kali kami perang dingin, selalu aku yang akhirnya menyerah lebih dulu dan meminta damai.

Kejadian di bandara hari ini adalah pertama kalinya dia mencariku lebih dulu setelah bertengkar. Makanya, walaupun hati ini sudah kebal, tetap saja goyah.

Akan tetapi, ternyata ....

Aku menghindar dari topik itu dan hanya berkata, "Pak, tolong bantu urus barang-barang ini, ya."

Saat melangkah keluar dari Griya Cendana, pandanganku tertuju pada sebuah ayunan di bawah koridor. Papan kayunya terpasang miring dan tak beraturan, menampakkan sebuah kecanggungan yang membuat orang merasa tak berdaya.

Akan tetapi, dalam sekejap, air mataku justru menetes begitu saja.

Itu adalah ayunan yang dia buat untukku di tahun ketiga kami bersama.

Devan bukanlah tipe yang mudah mengungkapkan perasaan. Dia tak pernah mau berkata suka secara langsung, sehingga semua usaha mengejar dan menyatakan cinta selalu aku yang melakukannya.

Lama-kelamaan, hati ini pun diliputi rasa kecewa.

Kebetulan pada masa itu, dia selalu sibuk dengan urusan yang tak jelas sepanjang hari dan sulit sekali ditemui.

Aku memendam semuanya cukup lama, hingga pada suatu malam, emosiku akhirnya jebol. Dia yang selama ini selalu bersikap tenang, kali itu justru tampak panik.

Pada akhirnya, dia membawaku ke Griya Cendana dan memperlihatkan ayunan yang dia buat dengan tangannya sendiri.

Hal itu dilakukannya karena aku punya kebiasaan menunggunya pulang di depan pintu, sering kali berjongkok sampai kakiku mati rasa. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, aku sempat terjatuh karena berdiri terlalu mendadak.

Waktu itu, dia bahkan tidak memberikan sepatah kata pun untuk menghiburku, hanya berkata dengan raut wajah dingin bahwa aku tidak perlu menunggunya lagi.

Akan tetapi, luka di tangannya akibat mengerjakan kayu itu membuatku untuk pertama kalinya melihat ketulusan yang jarang dia tunjukkan.

Aku mengangkat tangan dan menyentuh simpul tali di sebelah kanan.

Waktu itu aku menertawakannya, mengatakan bahwa tali sebelah kiri dan sebelah kanan tidak sama, sehingga akan jatuh jika duduk di atasnya. Entah kapan, dia diam-diam mengikat satu simpul lagi.

Sejak saat itu, ayunan tersebut menjadi sangat kokoh dan tidak lagi goyah.

Kepala pelayan itu tidak salah. Devan di awal hubungannya denganku, memang memperlakukanku berbeda dari yang lain.

Akan tetapi, itu semua terjadi sebelum Farah kembali ke tanah air.

Ponselku bergetar. Devan akhirnya membalas pesan putusku: [Terserah.]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
sama2 move on dg tegas
2026-07-04 17:51:10
0
0
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status