LOGINPenerbangan ke-520 mendarat. Pacarku yang tak pernah sekali pun menjemputku, kini menungguku di bandara. Dia membawa setangkai mawar biru yang diterbangkan langsung, cincin berlian berkilau memikat di dalam kotak beludru. Saat dia berlutut, suara decak kaget dan tarikan napas tak percaya dari orang-orang di sekitar langsung memenuhi telingaku. Setelah sepuluh tahun bersama, ini pertama kalinya dia mengungkapkan keinginannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bersamaku. Aku berusaha tampak tenang. Setelah cincin itu terpasang di jariku, suaraku terdengar agak bergetar. "Devan, kita ...." Akan tetapi, dia justru tertawa. Dia menoleh ke samping dengan alis terangkat sebelah. "Kan udah kubilang, dia pasti mau. Aku menang taruhan, mana lukisannya." Aku terpaku. Tawa jahil dan penuh ejekan meledak dari belakangku. Sekelompok pemuda dan pemudi dari keluarga konglomerat berjalan mendekat. Yang memimpin mereka tak lain adalah Farah Prameswara. Dia mantan pasangan perjodohan bisnis Devan Pratama. Dia tertawa sampai air matanya keluar. "Pantesan dia bisa betah nempel di sampingmu terus. Kalau aku punya anjing penurut kayak dia, aku juga pasti nggak tega nendang dia pergi."
View MoreAlvin berdiri di belakangku."Kok kamu datang?" tanyaku. "Bukannya kamu bilang males hadapin acara kayak gini?""Sebenarnya males." Dia menyesap minumannya, tatapannya tertuju padaku. "Tapi, aku mikir, kamu sendirian ngadepin orang sebanyak ini, pasti capek.""Makanya kamu datang?""Iya."Aku menatapnya, lalu tiba-tiba terkekeh."Kenapa ketawa?" tanyanya."Ketawain kamu," jawabku. "Kamu ini ya, ngasih perhatian ke orang aja caranya kaku banget."Dia mengangkat sebelah alis, tidak membantah.Hening selama dua detik, tiba-tiba dia bertanya, "Tadi di balkon, kamu ngobrolin apa sama orang itu?"Aku tertegun sejenak, lalu tersadar.Dia melihatku dan Devan di balkon tadi."Kamu lihat semuanya?" tanyaku."Iya," jawabnya. "Dari ruang VIP lantai dua."Aku tidak berkata apa-apa.Angin malam berembus masuk dari jendela, menerpa anak rambut di dahinya.Dia berdiri di hadapanku, seluruh tubuhnya diselimuti cahaya hangat dari lampu ruang perjamuan, membuatnya terlihat begitu tampan hingga seolah tid
Mataku seketika merah."Foto ini … kamu temukan di mana?""Di brankas Keluarga Prameswara," jawab Devan, nadanya datar. "Dulu Doni menggeledah rumahmu dan menyita banyak barang lain. Naskah asli ayahmu, catatan eksperimen, catatan riset ibumu, semuanya ada di sana.""Aku sudah menyuruh orang merapikannya. Minggu depan akan ada yang mengantarkannya ke tempat tinggalmu di Kota Marvelle."Aku menggenggam erat foto itu, hingga buku-buku jariku memutih.Setelah sekian lama, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak menatapnya."Kenapa kamu melakukan semua ini?""Karena ini adalah peninggalan ayahmu," jawabnya. "Sudah seharusnya dikembalikan padamu.""Bukan itu yang kutanyakan," ujarku kata demi kata, seolah mewakili diriku di masa lalu."Kenapa kamu mengambil barang-barang ini dari Keluarga Prameswara? Bukannya kamu masih bekerja sama dengan mereka? Bukannya kamu ingin melindungi Farah?"Dia terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan sesuatu. Suaranya sangat lirih, saking lirihnya hingga
Saat pesawat mendarat di Kota Bandar, hari sudah menjelang malam.Di luar jendela kabin, kota yang telah kutinggalkan selama satu setengah tahun ini terselimuti warna keemasan hangat oleh cahaya senja. Gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang, lalu lintas kendaraan padat merayap, semuanya sama persis seperti saat aku pergi.Akan tetapi, aku tahu, yang berbeda adalah diriku sendiri.Rapat evaluasi proyek diadakan di Pusat Konvensi Internasional Kota Bandar. Proyek riset dan pengembangan obat ADC dari Susilo Biomedis telah lolos persetujuan uji klinis fase III untuk kawasan regional. Ini berarti kami selangkah lebih dekat menuju peluncuran obat ke pasar.Perjamuan perayaan dijadwalkan pukul tujuh malam, di ruang perjamuan lantai tiga Hotel Shangrila ….Aku mengenakan gaun panjang beludru berwarna hijau gelap, rambutku disanggul rapi, memperlihatkan tulang selangka dan sepasang anting mutiara kecil di daun telingaku.Wanita di dalam cermin dan wanita yang berlari terhuyung-huyung m
Aku menatapnya, yang dengan lancar memesan makanan dan mengobrol dengan pemilik restoran dalam bahasa asal negeri tersebut, merasa agak tercengang.Pria ini bagaikan sebuah buku. Setiap halaman yang kubuka selalu menyimpan kisah baru.Selesai makan, dia mengantarku kembali ke apartemen.Mobil berhenti di depan gedung. Dia tidak langsung mematikan mesin, melainkan mengambil sebuah amplop dari laci dasbor dan menyerahkannya padaku."Apa ini?" Aku menerimanya dan membukanya.Isinya adalah sebuah proposal proyek, riset dan pengembangan tahap awal untuk obat ADC. Pihak inisiatornya adalah Susilo Biomedis, dengan mitra dari Institut Medis Kota Bandar dan sebuah firma modal ventura di Negara Apura.Di kolom pemimpin proyek, tertera namaku.Aku mendongak menatapnya, mulutku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Untuk proyek ini, kamu yang jadi pemimpinnya," ucapnya. "Tim sudah dibentuk. Peneliti utamanya adalah murid Profesor Murdoch dan untuk studi praklinis, ada tim dari GlaxSmith yang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews