MasukBegitu pintu tertutup dan suara langkah Rafael menjauh, suasana rumah langsung berubah.
Sunyi. Tapi bukan sunyi yang tenang.
Sunyi yang... kayak waktu lo sadar lo sendirian di lift sama orang yang baru lo maki dua menit lalu.
Ayla berdiri di tengah ruang tamu, masih megang botol semprot disinfektan kayak pistol mainan. Damian duduk santai di sofa, kaki disilangkan, wajahnya tenang tapi matanya kayak predator lagi ngamatin mangsa.
“Udah puas nyemprot-nyemprot orang?” Damian nyeletuk. “Disinfektannya habis belum?”
Ayla mendengus keras. “Gue serius, Damian. Gue beneran parno kalau lo…”
“Kalau gue punya penyakit?” Damian motong cepat, nadanya datar tapi nyengirannya sinis.
“Tenang, gue nggak nularin apa-apa kok. Paling cuma bikin orang deg-degan dikit.”Ayla langsung manyun. “Bodo amat. Gue cuma... berjaga-jaga.”
Dia nyemprot lagi, kali ini ke arah meja makan, padahal udah kinclong. “Lo nggak tau kan, virus bisa nempel di permukaan logam sampai tiga hari!”
Damian miringkan kepala, tatapannya nakal. “Hmm... berarti kalau gue nempel di lo tiga detik aja, bisa nempel selamanya dong?”
Ayla langsung freeze. “APA-APAAN SIH?! Jangan ngomong jorok, bego!”
Mukanya merah, tapi lebih ke panik. Tangannya otomatis semprot ke arah Damian.
“WOY!” Damian mundur, ngibrit dikit sambil ketawa. “Astaga, lo pikir gue setan apa sampe harus diusir pake disinfektan?!”
“Setan narsis, iya!” Ayla balas cepat. “Gue nggak mau kena aura toxic lo!”
Damian malah makin ngakak, nyengir lebar kayak nemu mainan baru.
“Tau nggak, La, tiap kali lo ngomel, gue tuh makin pengen…”
“BERHENTI ngomong!” Ayla teriak duluan sambil ngacungin botol disinfektan. “Satu kalimat lagi, gue siram satu galon sekalian!”
Damian diem sebentar. Tatapan mereka bertabrakan… dia tajam, Ayla defensif.
Udara di antara mereka mendadak berubah: setengah lucu, setengah panas.Sampai akhirnya Damian buka suara pelan, nada serius tapi entah kenapa malah bikin bulu kuduk Ayla merinding.
“Besok siap-siap ya.”
Ayla nyipit. “Siap-siap apaan lagi?”
Damian berdiri, jalan pelan ke arah tangga. “Minggu kedua syuting. Produser mau konten lebih ‘mesra’. Jadi ya...”
Dia berhenti di anak tangga pertama, nengok sambil nyengir miring. “Latihan acting dulu aja dari sekarang. Kan katanya biar real chemistry.”
Ayla langsung kaku, hampir ngejatuhin botolnya. “Lo... lo becanda kan?”
Damian cuma ngelirik sekilas, senyum licik. “Tidur nyenyak, La. Besok kita mulai minggu paling gila.”
Begitu Damian naik, Ayla cuma bisa bengong di tempat.
Otaknya langsung chaos.
“Mesra? Real chemistry? Aduh, kalau dia beneran sakit gimana? Kalau gue ketularan gimana? Kalau... gue yang jatuh duluan, gimana?!”
Dia tutup wajah pake masker, duduk di lantai, nyengir getir sendiri.
“Ya Tuhan... baru seminggu, udah mau mati karena stres, bukan karena virus.”
Pagi-pagi rumah udah rame kayak pasar dadakan.
Crew reality show dateng lengkap: kamera, lighting, sound, dan wajah-wajah yang keliatan terlalu semangat buat ngrekam drama hidup orang lain.
Ayla keluar kamar dengan hoodie gede, rambut diikat asal, dan masker masih nempel di muka.
Sementara Damian… udah siap duluan. Outfit casual tapi cakep parah… kaos putih, celana jeans, dan senyum yang kayak sengaja diciptakan Tuhan buat ngeganggu iman orang sabar.
“Woy, partner syuting,” sapa Damian santai. “Udah siap akting manis sama gue?”
Ayla mendelik. “Siap akting aja, bukan siap manis.”
Damian ngakak, “Bedanya tipis banget, La.”
Sutradara tepuk tangan sekali. “Oke, minggu kedua ini temanya ‘Living Together Challenge’. Kalian harus ngelakuin kegiatan berdua sepanjang hari. Mulai dari masak bareng, sarapan, sampai…”
“Tidur bareng?” Damian nyeletuk.
Semua kru langsung ngakak, Ayla refleks teriak, “ENGGAK!”
Suaranya sampai bikin mic clipping.
Sutradara cuma senyum sinis. “Santai, cuma masak dulu. Tapi ingat, harus natural chemistry. Jangan kaku.”
Ayla menarik napas panjang. “Natural, katanya… ya Tuhan bantu hamba-Mu ini.”
***
Kamera nyala.
Ayla berdiri di dapur dengan ekspresi “tolong, gue mau resign dari hidup”, motong bawang dengan gaya super hati-hati. Di sebelahnya, Damian berdiri terlalu dekat buat ukuran aman… dan terlalu ganteng buat kesehatan mental.
“Eh, hati-hati pisaunya,” Damian nyeletuk, nada suaranya kayak guru TK tapi ngeselin.
Ayla nyeletuk tanpa noleh, “Gue tau. Gue punya mata.”
“Iya, tapi fokus lo minus,” balas Damian enteng.
Ayla noleh pelan, senyum manis tapi nadanya serem, “Lo pengen gue buktiin tajemnya pisau ini ke tangan lo, Dam?”
Damian ngakak kecil, tapi sengaja merendahkan suara biar kamera nangkep.
“Santai, chef. Gue cuma khawatir tangan secantik itu luka. Nanti netizen protes gue nggak jagain kamu.”
Ayla mendengus, “Netizen aja yang jagain. Lo jagain lidah lo aja biar nggak kepotong bawang.”
Beberapa detik berlalu damai… sampai…
PLUK!
Ayla kepleset kena minyak goreng di lantai.
Refleks, dia mau nangkep meja tapi malah narik lengan Damian.
Dua-duanya jatuh ke lantai… Damian telentang, Ayla di atasnya, posisi nyerempet dosa tapi disaksikan sepuluh kamera dan dua puluh kru yang udah heboh.
“A-Aduh! Gue nggak sengaja!”
Ayla panik, tapi karena sadar kamera masih muter, dia buru-buru pasang senyum awkward.
Damian sendiri malah diem… senyum dikit, napasnya berat, tapi matanya nyala kayak lagi ngerencanain dosa estetika.
“Kalau tiap scene kayak gini, gue rela syuting tiap hari,” bisiknya kecil tapi cukup buat mic nangkep.
Ayla langsung panik tapi nahan ekspresi.
“Dam, tolong diem deh, ini masih rolling…” suaranya lirih tapi tegang.
Dia berusaha bangkit, tapi Damian nggak langsung lepasin tangannya.
Kru di belakang udah pada cekikikan.
Sutradara teriak, “WOY, BAGUS! REAL BANGET! LANJUT! LANJUT!”
Ayla senyum palsu setengah mati, tapi dari mata kelihatan jelas. ‘Tuhan, kenapa jatuhnya di dada cowok ini bukan di kasur kamar gue sendiri?!’
Begitu kamera akhirnya “CUT!”, Ayla langsung bangun kayak roket NASA.
“CUT!! CUT!! GUE NGGAK SENGAJA!!”
Damian masih rebahan, ngakak sambil napas berat.
“Gue juga nggak sengaja, tapi boleh diulang nggak?”
“DASAR PLAYBOY BERKERUDUNG!” Ayla refleks mau dorong dia, tapi nahan… karena sutradara lagi liatin.
Akhirnya dia cuma nyengir kaku, tangannya gemetar nahan malu. “Sutradara, plis ganti adegan sebelum gue resign.”
Sutradara malah ketawa. “La, ini bagus banget! Chemistry-nya natural! Lo dua kayak pasangan serasi!”
Ayla negesin senyum palsu lagi, tapi matanya udah penuh ancaman pembunuhan. “Chemistry? Yang bener aja. Ini trauma fisik.”
Damian akhirnya berdiri, rapiin bajunya pelan, lalu nyengir ke Ayla.
“Lain kali hati-hati ya, La.”
Ayla nyeletuk kaku, “Kenapa? Takut gue jatuh lagi?”
Damian miringin kepala, senyumnya tipis tapi suaranya rendah, setengah main-main setengah bikin jantung salah detak.
“Takut kalau lo jatuh lagi… gue beneran lupa kalau ini cuma akting.”
Ayla langsung kaku, senyum awkward di depan kamera… sementara dalam hati udah jerit,
‘GUE MAU MANDI AIR SUJUD SEKARANG!’
Dan kru di belakang?
Udah pada bisik-bisik, “Ini tuh jatuh cinta, bukan jatuh minyak.”
Satu tahun berlalu sejak Damian Lee berlutut di panggung Grand Finale. Hari ini, udara musim gugur terasa sejuk, dan Ayla Morgan, yang kini sudah menjadi Nyonya Ayla Lee, terbangun bukan oleh alarm studio atau dering telepon darurat, melainkan oleh aroma kopi dan roti panggang dari lantai bawah.Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian. Mereka tinggal di rumah yang mereka bangun bersama: sebuah duplex modern yang dinamai "T.S." (Terusan Senja). Rumah ini terletak di lingkungan perbukitan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk media, dengan banyak jendela kaca yang menyambut matahari pagi.Ayla ters
Beberapa bulan telah berlalu sejak Grand Finale Couple 90 Days. Sekarang, udara Jakarta sudah selesai musim kemarau, membawa harapan dan aroma bunga yang segar. Ayla dan Damian tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian yang dikepung media. Berkat bonus kemenangan dan reward mereka, mereka sedang dalam proses membangun rumah impian Ayla di pinggiran kota yang lebih tenang.Ayla, yang kini resmi bertitel CEO perusahaan event organizer kecil bernama 'The TS Events' (singkatan dari Terusan Senja), berdiri di lahan kosong tempat calon rumah mereka. Ia mengenakan helm
Alarm di apartemen Damian berbunyi, bukan dari jam weker, melainkan dari dering telepon Ayla yang tak henti-henti. Matahari Minggu pagi sudah terbit, tetapi di luar jendela apartemen penthouse itu, suasana terasa seperti pusat gempa.Ayla menggeliat, merasakan lengan Damian yang melingkar erat di pinggangnya. Mereka terbangun sebagai pasangan tunangan yang nyata untuk pertama kalinya. Tadi malam, setelah gemuruh studio mereda, mereka kembali ke apartemen ini, bukan lagi sebagai partner kasus, melainkan sebagai sepasang kekasih yang baru bertunangan, bebas dari kontrak, dan kaya raya."Pagi, tunanganku," bisik Damian, mencium rambut Ayla. Suaranya terdengar serak dan sangat lega.
Di ruang tunggu yang dingin, di balik panggung Grand Finale, udara terasa tipis karena ketegangan. Ayla dan Damian, yang kini bukan lagi aktor, merasakan beban emosi yang nyata. Mereka sama-sama mengenakan mic yang merekam setiap bisikan mereka."Gue nggak tahu kenapa Bu Lena harus bikin ini se-dramatis ini," bisik Ayla, memutar cincin keychain T.S. di jarinya."Karena kita yang paling dramatis, La," balas Damian, merapikan gaun emerald green Ayla. "Kita adalah plot twist
Minggu ke-12, minggu terakhir Couple 90 Days, terasa seperti berada di dalam pressure cooker. Safe house yang awalnya tempat sembunyi, kini terasa seperti sangkar berlapis kamera. Hanya tersisa dua pasangan: Ayla Morgan dan Damian Lee versus Leo dan Maya.Host Risa membuka sesi Minggu ke-12 dengan senyum bengis."Selamat datang di Minggu Grand Finale! Kalian berdua adalah yang terkuat, yang tersisa setelah drama fake dating dan konspi
Studio Couple 90 Days terasa segar sekaligus tegang. Papan nama baru sudah terpasang, mencerminkan reality show yang kini diposisikan sebagai "Cinta Setelah Konspirasi." Host baru yang energik, Risa, membuka siaran langsung Minggu ke-11 dengan senyum yang dipaksakan."Selamat siang, pemirsa! Minggu ini terasa berbeda! Setelah plot twist yang menggemparkan, kita memasuki babak baru: Minggu Keterbukaan dan Komitmen! Di sofa tersisa dua pasangan: Leo dan Maya, yang dikenal sweet dan







