Share

Bab 15 Jaga Jarak Tapi Dekat

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2025-10-07 15:34:35

“Astaga… netizen lebay banget. Chemistry gue sama Damian? Gue ngeri sendiri…”

Ayla duduk di sofa, HP di tangan, scrolling timeline sosial media sambil ngedumel pelan, nada suaranya setengah frustrasi, setengah geli.

Dia komentar pedas, setengah ngeledek diri sendiri, setengah meledak karena hype netizen makin gila. Tangan gemetar tiap kali scroll, jantungnya deg-degan.

Damian nongol dari dapur, nyender santai di pintu, kopi di tangan. Rambutnya masih acak, tapi aura cowok yang percaya diri itu… bikin Ayla pengen nyentuh disinfektan lebih keras lagi.

“Ngomel sendiri di rumah itu hobi baru lo, La?” nada suaranya santai, tapi mata tajamnya gak bisa bohong… lagi ngamatin tiap gerak Ayla.

Ayla nyeletuk tanpa liat, tanpa mundur. “Bukan hobi. Ini survival skill. Btw… Gue harus jaga jarak sama lo.”

“Jaga jarak? Dari gue?” Damian maju satu langkah, nyengir tipis. “Lo serius? Gue tuh paling aman di dunia ini, La. Lo aja yang paranoid.”

Ayla ngangkat botol disinfektan, semprot udara di sekelilingnya kayak ngajarin vaksin ke virus. “Paranoid tapi realistis! Lo homo sama Rafael, kan? Dan… mungkin ada penyakit menular terselubung juga! Jadi ya… gue harus jauh!”

Damian pause. Matanya mendelik, tapi senyumnya makin tipis, entah nakal, entah serius.

“Hah? Gue? Homo? Penyakit menular? Wah, La… lo ini toxic banget ngomong sama gue.”

Ayla nyengir getir, tetap semprot udara di depan Damian. “Toxic itu lo, jangan protes. Gue cuma… preventif.”

Udara di antara mereka tiba-tiba berat. Damian melangkah satu langkah mendekat, tanpa kehilangan senyum tipis itu, jaraknya tinggal beberapa senti dari Ayla.

Ayla mundur satu langkah juga, tangan gemetar tapi botol disinfektan tetap siap, refleks pertahanan otomatis. Nafasnya lebih cepat.

“Lo terlalu serius, La. Relax aja, gue cuma mau…” suara Damian rendah, lembut tapi penuh tekanan, bikin bulu kuduk Ayla meremang.

Ayla menahan napas, tangannya gemetar tapi wajah tetap dingin. “Relax? Dari lo? Gue… gue harus jaga jarak!”

Damian nggak ngalah, tatapannya tajam, fokus ke mata Ayla. “Lo pikir gue bakal nularin penyakit? Lo pikir gue… bahaya?”

Ayla diam sejenak, sadar, udara di antara mereka panas, bukan cuma karena teori virus. Jantungnya berdegup kencang.

“Gue… gue cuma pengen selamat,” gumamnya, setengah bercanda, setengah jujur, sambil ngeperas botol disinfektan.

Damian maju sedikit lagi, perlahan, hampir menutup jarak itu. “Selamat dari apa, La?” suaranya rendah, tapi… terasa intim.

Ayla menelan ludah, gemetar, matanya menatap bibirnya sebentar… lalu cepat-cepat menutup mata lagi. “D… Dari… dari… lo,” dia jawab pelan, nada hampir bergetar.

Damian senyum tipis. “Lo pikir gue cuma bercanda?”

Ayla kaku. Tangannya masih di udara, botol disinfektan di tangan… tapi refleks pertahanannya mulai goyah.

Sementara Damian berdiri dekat, aroma kopinya, wangi hoodie, dan sorot matanya… bikin seluruh otak Ayla langsung panik, tapi tubuhnya gak bisa lari.

Udara di antara mereka… panas, berat, tegang.

Dan itu… baru pemanasan.

***

Ayla narik napas panjang, botol disinfektan masih di tangan, tapi mulai ngegel. Matanya ngerem sebisa mungkin biar ekspresinya tetap tenang.

“Lo tau gak, Damian… Gue gak mau ketularan, paham?!” suaranya tegas tapi nada panik sedikit terpendam.

Damian nyender santai di meja, satu tangan pegang mug kopi, satu tangan di saku celana. Senyum tipisnya… bikin darah Ayla serasa mendidih. “Ketularan apa, La? Gue? Aduh… lo terlalu dramatis tau gak?”

Ayla mendelik. “Dramatis? Gue realistis, Dam. Lo homo sama Rafael, lo punya penyakit menular yang gak gue tau… jadi ya, gue wajib jaga jarak. Itu logika paling sehat di dunia!”

Damian tertawa pelan, tapi nadanya rendah, hampir berbisik. “Homo sama Rafael? Penyakit menular? Wah… La, lo ini… bener-bener kreatif bikin skenario sendiri.”

Ayla ngacungin botol disinfektan, napasnya berat. “Lo tau maksud gue! Jangan pura-pura gak ngerti!”

Damian melangkah pelan, satu langkah, jaraknya tinggal sebentar dari Ayla. Mata mereka bertabrakan… panas, nakal, tapi juga ada tensi yang bikin dada Ayla sesak.

“Lo tau gak, La…,” suaranya rendah, “setiap kali lo bilang begitu, gue pengen buktiin sebaliknya. Biar lo tau, gue… sehat. Dan lo gak perlu takut.”

Ayla tersentak, jantungnya hampir copot. “Sehat atau gak… gue gak akan gampang percaya sama lo!”

Damian nyengir tipis, pelan-pelan, tapi dengan gerakan yang halus dan menekan. Tanpa peringatan, tangannya nyenggol lembut pipi Ayla… bukan kasar, tapi cukup bikin tubuhnya kaku.

Ayla reflex narik mundur, tapi Damian lebih cepat, menahan pergelangan tangannya. “Dam…!” napasnya tercekat.

Dan… dalam sekejap yang terasa seribu detik, Damian mendekatkan wajahnya ke Ayla.

Bibir mereka nyaris bersentuhan.

“Lo… jangan gerak,” bisik Damian, nadanya dalam dan penuh intensitas.

Ayla menahan napas, tubuhnya freeze, tangan gemetar. Semua logika hilang. Yang tersisa cuma… sensasi panas, jantung berdentum, dan bibir Damian yang perlahan… menempel di bibirnya.

Bukan sekadar ciuman biasa. Damian melumat bibir Ayla dengan lembut tapi penuh tekanan, seolah ingin menandai, menuntut, tapi juga… menyelimuti. Bibirnya bergerak mengikuti Ayla, dominan tapi… penuh rasa penasaran.

Ayla… freeze. Tubuhnya kaku, tangan menggenggam botol disinfektan tapi gak tahu harus diapakan. Otaknya mati, hanya ada rasa panik, deg-degan, dan… sesuatu yang membuatnya gak bisa mundur.

Ciuman itu… singkat tapi meninggalkan jejak panas di seluruh tubuh Ayla.

Damian mundur sedikit, napasnya berat, tapi senyum nakalnya tetap menempel. “Lagi-lagi lo terlalu defensif, La… tapi gue suka itu.”

Ayla menatapnya dengan mata melebar, napas terengah, tangan masih di udara. “G… GILA LO, DAMIAN!!!”

Aira Jiva

Terimakasih sudah membaca, kritik, saran, dan dukungan sangat bermanfaat bagi penulis. saranghae..

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Aira Jiva
kira kira apa yg akan terjadi setelah ciuman ... pertama mereka ya? lanjut baca yuk..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 80 Papan Nama Nyata 

    Satu tahun berlalu sejak Damian Lee berlutut di panggung Grand Finale. Hari ini, udara musim gugur terasa sejuk, dan Ayla Morgan, yang kini sudah menjadi Nyonya Ayla Lee, terbangun bukan oleh alarm studio atau dering telepon darurat, melainkan oleh aroma kopi dan roti panggang dari lantai bawah.Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian. Mereka tinggal di rumah yang mereka bangun bersama: sebuah duplex modern yang dinamai "T.S." (Terusan Senja). Rumah ini terletak di lingkungan perbukitan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk media, dengan banyak jendela kaca yang menyambut matahari pagi.Ayla ters

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 79 Babak Baru dan Closure

    Beberapa bulan telah berlalu sejak Grand Finale Couple 90 Days. Sekarang, udara Jakarta sudah selesai musim kemarau, membawa harapan dan aroma bunga yang segar. Ayla dan Damian tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian yang dikepung media. Berkat bonus kemenangan dan reward mereka, mereka sedang dalam proses membangun rumah impian Ayla di pinggiran kota yang lebih tenang.Ayla, yang kini resmi bertitel CEO perusahaan event organizer kecil bernama 'The TS Events' (singkatan dari Terusan Senja), berdiri di lahan kosong tempat calon rumah mereka. Ia mengenakan helm

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 78 Gema Kemenangan dan Realitas Baru

    Alarm di apartemen Damian berbunyi, bukan dari jam weker, melainkan dari dering telepon Ayla yang tak henti-henti. Matahari Minggu pagi sudah terbit, tetapi di luar jendela apartemen penthouse itu, suasana terasa seperti pusat gempa.Ayla menggeliat, merasakan lengan Damian yang melingkar erat di pinggangnya. Mereka terbangun sebagai pasangan tunangan yang nyata untuk pertama kalinya. Tadi malam, setelah gemuruh studio mereda, mereka kembali ke apartemen ini, bukan lagi sebagai partner kasus, melainkan sebagai sepasang kekasih yang baru bertunangan, bebas dari kontrak, dan kaya raya."Pagi, tunanganku," bisik Damian, mencium rambut Ayla. Suaranya terdengar serak dan sangat lega.

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 77 The Grand Finale

    Di ruang tunggu yang dingin, di balik panggung Grand Finale, udara terasa tipis karena ketegangan. Ayla dan Damian, yang kini bukan lagi aktor, merasakan beban emosi yang nyata. Mereka sama-sama mengenakan mic yang merekam setiap bisikan mereka."Gue nggak tahu kenapa Bu Lena harus bikin ini se-dramatis ini," bisik Ayla, memutar cincin keychain T.S. di jarinya."Karena kita yang paling dramatis, La," balas Damian, merapikan gaun emerald green Ayla. "Kita adalah plot twist

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 76 Ujian Final dan Keraguan

    Minggu ke-12, minggu terakhir Couple 90 Days, terasa seperti berada di dalam pressure cooker. Safe house yang awalnya tempat sembunyi, kini terasa seperti sangkar berlapis kamera. Hanya tersisa dua pasangan: Ayla Morgan dan Damian Lee versus Leo dan Maya.Host Risa membuka sesi Minggu ke-12 dengan senyum bengis."Selamat datang di Minggu Grand Finale! Kalian berdua adalah yang terkuat, yang tersisa setelah drama fake dating dan konspi

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 75 Cinta Sejati di Bawah Lampu Sorot 

    Studio Couple 90 Days terasa segar sekaligus tegang. Papan nama baru sudah terpasang, mencerminkan reality show yang kini diposisikan sebagai "Cinta Setelah Konspirasi." Host baru yang energik, Risa, membuka siaran langsung Minggu ke-11 dengan senyum yang dipaksakan."Selamat siang, pemirsa! Minggu ini terasa berbeda! Setelah plot twist yang menggemparkan, kita memasuki babak baru: Minggu Keterbukaan dan Komitmen! Di sofa tersisa dua pasangan: Leo dan Maya, yang dikenal sweet dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status