INICIAR SESIÓNSepulang dari pasar, Saka melihat pintu belakang mobil sudah tertutup rapat dan halaman depan kosong. Satu gorden di lantai atas bergerak sedikit, lalu diam.Sehabis isya, Ipah sudah menunggu di teras dengan kebaya biru tua yang biasa ia pakai ke arisan. Rambutnya disanggul rapi, dan tas kecilnya terjepit di ketiak.Sambil menunjuk motor butut Saka dengan dagu, Ipah berkata, "Ibu duduk di belakang. Jangan ngebut, kebaya Ibu bisa kusut. Dan ingat, soal bayaran, Ibu yang bicara.""Siap. Tapi spionnya tinggal satu, jadi kalau Ibu lihat bayangan di sebelah kiri, itu tiang listrik, bukan kuntilanak," kata Saka sambil menyalakan mesin."Cerewet! Jalan aja, jangan banyak omong." Ipah naik ke jok belakang dan memegang besi di bawah jok dengan kedua tangan.Sepanjang jalan, Ipah menjaga jarak sejengkal dari punggung Saka dan tidak berbicara sama sekali. Saka sudah mengganti kausnya yang tadi berbau sabun mobil, tetapi ia tetap tidak berani bertanya apa yang sedang dipikirkan ibu tirinya itu.R
Saka mendesis ke arah keduanya agar diam, lalu menaikkan suaranya, "Lagi ngelap dalemnya, Pak! Debunya tebel banget, ini lagi saya sedot!""Hahaha, dasar anak rajin! Tinggalin dulu mobilnya. Ayo kita ambil buku Paijo, mumpung orangnya belum sadar bukunya dicari," ujar Pak Karmin.Setelah Pak Karmin mundur dua langkah, Saka melangkahi lutut Nadia, membuka pintu kanan secukupnya, dan menyelinap keluar dengan badan merunduk. Karena tergesa, Saka tidak sempat menutup pintu itu rapat.Ketika Saka melewati teras mengikuti Pak Karmin, Ipah berdiri di ambang pintu dengan nampan teh. Ipah mengernyitkan hidung, lalu mengendus pelan.Ipah mendekat dan berbisik supaya tidak terdengar Pak Karmin. "Kamu kan cuci dari luar. Kok kausmu bau sabun mobil, Saka?""Kena cipratan, Bu."Ipah mengangguk, tetapi matanya bergeser ke pintu belakang mobil yang masih terbuka sedikit.Saka berjalan di belakang Pak Karmin menuju gerbang tanpa berani menoleh sekali pun. Mudah-mudahan Dona dan Nadia, dua makhluk astr
Dona mengambil anting itu dan memutarnya di bawah cahaya dari kaca depan. Wajahnya memucat ketika melihat bentuk anting itu, lalu ia berkata, "Ini bukan punya Ibu. Dona hafal semua perhiasan Ibu, dan nggak ada yang model begini."Nadia menatap bungkus kondom di tangannya, lalu menoleh ke Saka. "Kak, ini punya Kakak, ya? Di manga, barang begini biasanya ketinggalan tokoh utama yang nginep di mobil.""Aku cuma disuruh nyuci mobil ini, Nad. Nyetir aja nggak boleh, apalagi nginep," jawab Saka sambil menggeleng."Mobil ini cuma dipakai Bapak." Dona menggenggam anting itu erat-erat.Tidak ada yang bicara lagi. Dari luar terdengar tawa Pak Karmin, tetapi di dalam mobil, ketiganya diam.Saka teringat Ipah yang pucat melirik laci bufet tadi pagi. Saka belum tahu apakah lirikan Ipah itu ada hubungannya dengan benda-benda yang baru mereka temukan.Mata Nadia berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar. Nadia menggigit bibir itu, lalu mengusap matanya dengan punggung tangan. Dengan suara serak, ia berbis
Saka menatap pulpen merah muda yang tertahan di atas tanda tanya terakhir itu. Dengan wajah sedatar mungkin, ia menjawab, "Tanda seru buat apa, Nad? Ini bukan soal ujian. Aku tadi cuma buang sampah di belakang.""Sampah di belakang kok baunya melati, Kak?" Nadia memiringkan kepala dan mengendus lagi."Itu pengharum sampah. Merek Melati Jaya," sahut Saka tanpa berkedip.Nadia mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagunya. "Yang Nadia tahu, pengharum sampah di rumah ini wangi pandan."Saka berdeham dan mengangkat dagu, "Berarti stoknya baru ganti. Namanya juga ibu-ibu, suka ganti-ganti.""Ibu suka ganti-ganti? Ganti apa aja, Kak?" Nadia mengerjapkan mata dengan polos."Ganti merek, Nad! Merek pengharum!"Dari jendela lantai atas, kepala Dona menyembul. "Kak! Nad! Kelas kita mulai jam sepuluh, lho!"Nadia menutup bukunya, tetapi senyum manisnya tidak ikut tertutup. Sambil menyelipkan pulpen ke kuncir kudanya, ia berkata, "Tanda serunya Nadia simpan dulu ya, Kak. Nanti sore Nadia tagih penjelasann
Saka diam saja dan membiarkan omelan itu habis dengan sendirinya. Lama-lama suara Ipah melemah, kalimat terakhirnya terputus di tengah, lalu perempuan itu menunduk menatap lantai yang lembap.Dengan suara yang makin kecil, Ipah mengaku, "Utang Ibu ada di tiga tempat, Saka. Koperasi yang ditagih Bang Kohar itu, arisan Bu Retno, sama satu lagi yang Ibu malu nyebutnya. Terus Ibu pinjam sana buat bayar sini, sampai Ibu sendiri nggak tahu mana utang lama, mana utang baru.""Tiap hari Ibu ngatain kamu benalu, padahal Ibu sendiri yang hidup dari ngutang. Ibu malu, Saka," ucap Ipah dengan bibir tergigit. Air matanya jatuh ke lantai.Saka menggaruk tengkuknya dan memalingkan wajah ke arah gayung. "Nangisnya jangan di sini. Bak mandinya sempit, nanti kepleset. Aku bayar bukan buat bikin Ibu malu, cuma nggak mau rumah ini ribut sebelum Bapak pulang.""Ibu punya ide. Bu Retno, ketua arisan yang kemarin nelepon Ibu, udah setahun kena saraf kejepit. Tukang urut sama dokter nggak ada yang bikin semb
Saka bangkit dari bangku plastik. Kepalanya berdenyut, lalu sebuah ingatan terbuka. Suara laki-laki di bawah itu milik Bang Kohar, penagih koperasi keliling, dan Arsaka ingat Ipah mengunci diri di kamar tiap kali Kohar datang.Dona melipat tangan di bawah dada dan menyipitkan mata ke arah pagar. "Itu siapa, Kak? Kok manggil-manggil nama Ibu kayak orang nagih?""Orang salah alamat, Don. Kalian di atas aja, jangan turun," ucap Saka sambil melepaskan pegangan Nadia dari lengan kirinya.Nadia melongok ke arah suara dari sela tali jemuran. "Salah alamat kok tahu nama Ibu, Kak?"Karena tidak sempat menyiapkan alasan lain, Saka menjawab asal, "Namanya juga salah alamat, Nad. Tahu nama Ibu, tapi buta nomor rumah."Nadia menelengkan kepala dengan bibir mengerucut, jelas tidak puas dengan jawaban itu."Tocil, balik sini. Biarin Kakak yang urus." Dona menarik kaus adiknya menjauh dari sela tali jemuran, lalu menatap Saka dengan sebelah alis terangkat, tetapi tidak bertanya lagi.Saka menuruni ta







