LOGINDi kehidupan lalu, Rara Kinasih disiksa hingga mati di ruang bawah tanah oleh keluarganya sendiri, tepat setelah tubuhnya dihancurkan oleh sang suami di malam pengantin. Kini, dia terbangun kembali tepat di detik-detik malam terkutuk itu. Saat Mahesa Kurda, Gusti Penguasa beraliran hitam yang dijuluki Iblis, menerjangnya dengan tubuh terbakar kutukan mematikan, Rara tidak lagi menjerit atau memohon ampun. Wajahnya sedingin es. Dengan satu ayunan mematikan dari jarum peraknya, dia menumbangkan sang Iblis di atas ranjang pengantin. Di siang hari, Rara memainkan peran sebagai istri bisu yang lemah. Dia membiarkan para pelayan arogan dan selir rendahan meremehkannya. Namun di balik bayang-bayang kegelapan, dia menjelma menjadi Nyai Teratai Berdarah, tabib tingkat dewa yang mengeksekusi musuh-musuhnya tanpa ampun dan tanpa jejak. Sementara itu, Mahesa yang terkenal kejam dan tak kenal ampun mulai dibuat gila. Setiap tengah malam, ada sentuhan dingin dari seorang tabib misterius yang meredakan kutukan apinya, membuatnya kecanduan dan terobsesi. Mahesa bersumpah akan memburu tabib dewa itu untuk dijadikan miliknya seutuhnya. Dia sama sekali tidak tahu, wanita mematikan yang terus dicarinya itu... adalah istri cacat yang tengah tertidur lelap di ranjangnya sendiri. Saat penyamaran itu akhirnya terbongkar, mampukah sang Iblis mempertahankan egonya? Atau dia justru akan berlutut dan membakar seluruh dunia demi melindungi sang istri? "Siapa pun yang berani menatap istriku, akan kucabut matanya. Siapa pun yang berani melukainya, akan kubakar sekte mereka menjadi abu!" #Regresi #BalasDendam #TabibSakti #IdentitasGanda #SuamiBucin #WuxiaNusantara #FaceSlapping #RomansaDewasa
View MoreBRAAAKKK!
Pintu kayu jati berukir di kamar pengantin itu hancur berkeping-keping. Patahan kayunya terlempar ganas, menyapu tirai ranjang yang beraroma semerbak melati.
Di ambang pintu, berdirilah sesosok pria tinggi besar dengan aura membunuh yang sangat pekat. Mahesa Kurda. Sang Gusti Penguasa faksi hitam paling ditakuti se-Nusantara, pria yang malam ini resmi menjadi suaminya.
Namun, kondisi pria itu jauh dari kata waras. Wajah Mahesa memerah seperti lahar. Urat-urat di lehernya menonjol berdenyut mengerikan, dan keringat membasahi dada bidangnya yang telanjang. Pria itu terhuyung maju, lalu tiba-tiba jatuh berlutut memuntahkan segumpal darah hitam yang langsung mendidih menghanguskan karpet.
'Kutukan Geni Asura!' Rara tersentak.
Mata Mahesa yang memerah darah menatap tajam ke arah ranjang. Insting liarnya menangkap keberadaan Rara. Tanpa peringatan, tubuh besar itu melesat ke depan dengan kecepatan tak masuk akal. Mahesa menerjang, mengulurkan kedua tangannya yang membara dan mencekik leher Rara dengan brutal.
Rara terkesiap. Napasnya terputus. Panas dari telapak tangan Mahesa terasa membakar kulitnya. Namun, di detik yang mematikan itu, alih-alih panik, pikiran Rara justru menjadi luar biasa jernih.
Matanya membelalak, menatap tangan besar yang mencekiknya, lalu menatap kebaya pengantin beludru merah yang membalut tubuhnya.
'Tunggu. Kebaya? Ranjang pengantin? Rara membatin kaget. Bukankah aku sedang disiksa dan dikurung di ruang bawah tanah Padepokan Giri Wesi?'
Ingatannya berputar bak pusaran air, menyatukan kepingan kesadaran. Bau anyir darah, cambuk berduri, dan eksekusi mati... itu semua telah berlalu. Semesta baru saja merenggutnya dari neraka masa depan dan melemparkannya kembali ke masa lalu! Tepat di malam pengantinnya. Malam di mana keluarganya sendiri membuangnya sebagai tumbal untuk dinikahkan dengan Iblis yang sedang mencekiknya ini.
Di kehidupan sebelumnya, tepat di detik ini, Mahesa yang kehilangan akal akibat kutukan Geni Asura mengamuk dan menghancurkan seluruh simpul nadi di tubuh Rara. Rara yang lumpuh total kemudian dikembalikan ke keluarganya hanya untuk disekap di ruang bawah tanah seumur hidup. Di neraka itulah Rara mewarisi ilmu medis tingkat dewa dari Ki Hanggareksa, sesepuh yang ikut dipenjara bersamanya, meski tubuhnya telanjur cacat tak bisa menggunakannya.
Tapi sekarang... simpul nadinya masih utuh!
'Di kehidupan ini, aku tidak akan menjadi korban siapa pun,' Rara menatap mata buas suaminya sedingin es abadi.
Tangan kanan Rara bergerak lebih cepat dari kilat, mencabut tusuk konde perak peninggalan sang ibu dari sanggulnya. Rara memusatkan prana kehidupan Mandala Amerta ke telapak tangannya. Hawa murni yang luar biasa sejuk seketika menyelimuti konde tersebut, memendarkan cahaya biru keputihan.
Tanpa ragu sedikit pun, Rara menusukkan konde perak itu dengan presisi mematikan ke tiga simpul nadi rahasia di dada telanjang Mahesa: Simpul Sukma, Poros Nyawa, dan Cakra Jantung.
Tiga tusukan itu terjadi kurang dari satu tarikan napas!
"ARGGGHH!" Mahesa meraung tertahan.
Tubuh besarnya menegang kaku di udara. Hawa dingin ekstrem dari prana Rara menembus masuk, bertabrakan brutal dengan panas lahar di jalur darah Mahesa. Gelombang kejut dari dua energi berlawanan itu membuat tirai ranjang berkibar hebat.
Dalam sekejap, urat-urat menonjol di leher Mahesa mengempis. Warna merah lahar di kulitnya memudar. Kekuatan buas sang Penguasa lenyap tak tersisa, disegel paksa oleh tiga tusukan Rara.
Mahesa ambruk. Tubuh kekarnya jatuh menimpa Rara. Wajah pria itu terbenam di perpotongan leher istrinya, dan napas yang tadi memburu liar kini berangsur teratur. Pria yang membuat seluruh daratan ketakutan itu kini pingsan tak berdaya.
Rara tak langsung mendorongnya. Ia membiarkan tubuh berat itu menindihnya sejenak, memastikan segel nadinya benar-benar bekerja.
'Kutukan ini sudah menyatu dengan sumsum tulangnya,' analisis Rara dalam hati, otaknya bekerja layaknya tabib veteran. 'Ilmu medisku saat ini baru cukup untuk menekan apinya agar dia tidak gila malam ini, bukan menyembuhkannya total. Tapi ini sudah cukup.'
Rara mendorong tubuh Mahesa hingga pria itu terguling ke sisi ranjang. Ia bangkit, merapikan kebayanya yang kusut. Rahang Mahesa yang tegas dan alisnya yang menukik tajam masih menyisakan aura arogansi meski pria itu memejamkan mata.
"Di kehidupan lalu, kau menghancurkan tubuhku di ranjang ini," bisik Rara, nadanya sedingin es. "Di kehidupan ini, nyawamu ada di ujung jariku, Mahesa Kurda."
Besok pagi saat matahari terbit, Mahesa akan kembali menjadi Gusti Penguasa yang manipulatif, sinis, dan kejam. Pria itu pasti akan menggeledah seluruh kediaman untuk mencari tahu siapa ahli medis tingkat tinggi yang mampu meredakan kutukannya.
Rara tidak boleh ketahuan. Dia membutuhkan perlindungan nama besar Mahesa sebagai tameng untuk menghindari kejaran keluarganya yang licik, setidaknya sampai ia cukup kuat untuk menyelamatkan gurunya.
Untuk itu, dia membutuhkan identitas yang tak akan pernah dicurigai siapa pun. Identitas sebagai kelinci tak berdaya.
Rara mengangkat tangannya. Jari telunjuk dan tengahnya yang memancarkan prana biru kembali bergerak. Kali ini, ia mengarahkannya ke tenggorokannya sendiri. Tanpa keraguan, Rara menekan simpul suara di pangkal lehernya dengan kuat.
Rasa sakit menyengat menjalar di pita suaranya. Rara terbatuk pelan, menyeka darah yang merembes dari sudut bibirnya. Ia mencoba memanggil namanya sendiri, tetapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Hanya embusan napas kosong.
Segel bisu telah terpasang sempurna.
Rara mengusap lehernya, tersenyum miring penuh perhitungan.
'Kalian menganggapku tumbal cacat? Kalau begitu, aku akan menjadi tumbal paling cacat dan menyedihkan yang pernah kalian lihat,' batin Rara sinis. 'Di siang hari, kalian boleh menertawakan Rara Bisu. Namun di balik bayangan... aku akan memastikan Padepokan Giri Wesi hancur menjadi debu.'
Rara menyelipkan kembali tusuk konde peraknya ke dalam sanggul. Ia mematikan satu-satunya lilin yang menyala, lalu meringkuk memeluk lutut di sudut ranjang, sejauh mungkin dari Mahesa. Matanya yang tajam sengaja dibuat membelalak panik. Ia mempersiapkan gestur tubuh bergetar hebat untuk menyambut sang Iblis saat terbangun besok pagi.
Aroma gaharu kualitas tertinggi menyusup pelan ke dalam indra penciuman Rara. Rasa empuk dari kasur berlapis sutra emas di bawah punggungnya terasa asing, sangat kontras dengan dipan kayu lapuk berbau apek di Keputren Ujung Utara.Kelopak mata Rara terbuka perlahan. Cahaya keemasan dari belasan lilin menerangi peraduan mewah di Ndalem Candra Dimuka. Lengan kirinya yang sengaja ia sayat kini telah dibalut perban putih bersih, berbau ramuan penutup luka racikan Ki Sindu.'Sangkar emas sang Iblis,' batin Rara datar, memindai sekeliling tanpa menggerakkan kepalanya.Namun, fokusnya seketika tersita oleh sosok raksasa yang duduk membatu tepat di sisi ranjang. Mahesa Kurda belum mengganti jubah hitamnya yang ternoda darah. Mata merah sang Gusti Penguasa menatap lurus ke wajah Rara, menelanjangi setiap tarikan napas gadis itu dengan intensitas yang sanggup meremukkan nyali ksatria terkuat.Begitu menyadari Rara telah siuman, Mahesa mencondongkan tubuhnya ke depan. Hawa panas dari sisa Ge
Angin puyuh hitam berpusar ganas di tengah halaman Keputren Ujung Utara, menyapu debu dan sisa ilalang kering ke udara.Mahesa Kurda dan Panglima Bayanaka mendarat dengan hempasan tenaga dalam yang membuat tanah retak. Bau anyir darah segar langsung menyergap penciuman mereka, tebal dan memuakkan.Mata elang Mahesa menyapu pekarangan yang temaram. Lima mayat berpakaian serba hitam bergelimpangan di atas rumput layaknya boneka rusak. Namun, pandangan sang Gusti Penguasa tidak tertuju pada para penyusup itu. Matanya terkunci mutlak pada satu sosok ringkih berbaju merah yang tergeletak tak berdaya di tengah genangan darah.Jantung Mahesa, yang selama belasan tahun membeku layaknya batu karang, mendadak berhenti berdetak selama satu tarikan napas penuh."Rara..." desis Mahesa. Suara baritonnya yang biasa menggelegar kini terdengar serak dan tertahan.Bayanaka yang lebih dulu melangkah maju untuk memeriksa keadaan, terkesiap melihat pemandangan ganjil di hadapannya. "Gusti Penguasa! M
Lima mata pedang berkilat membelah udara, mengurung Rara dari segala penjuru. Formasi jaring maut itu dirancang untuk mencabik target tanpa menyisakan ruang menghindar sedikit pun. Namun, bagi sepasang mata kelam sang Teratai Berdarah, manuver mematikan para algojo elite itu tak lebih dari kepakan sayap lalat tanah. 'Kalian terlalu lamban,' batin Rara sinis.Rara tak mundur selangkah pun. Dengan kelenturan melampaui batas nalar, tubuhnya meliuk ke belakang hingga nyaris sejajar dengan tanah. Kelima bilah beracun itu hanya menebas udara kosong, berjarak sejengkal di atas wajahnya. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya melecutkan selendang sutra merah. Hawa murni Mandala Amerta mengalir deras, mengubah kain tipis itu menjadi sekeras baja wulung namun tetap sefleksibel air sungai. Sraat!Ujung selendang melilit pergelangan kaki algojo pertama di sisi kanannya. Rara menyentak kain itu dengan putaran tenaga dalam. KRAK!Tubuh gempal algojo itu terpelanting ke udara kehilangan
Malam makin larut, menelan Ndalem Candra Dimuka dalam pelukan pekat. Di area Keputren Ujung Utara yang paling terisolasi, semilir kemarau berembus, menggoyang ilalang setinggi dada di balik pagar kayu lapuk. Suasana begitu senyap, nyaris menyerupai pekuburan mati.Namun, kesunyian itu hanyalah kelambu tipis yang menutupi rahang maut. Lima algojo elite menyusup menembus padang ilalang. Mereka merayap dengan formasi tapal kuda, mengepung keputren layaknya kawanan ajag (serigala hutan) yang tengah memburu mangsa. Ilmu Meringankan Tubuh yang mereka kuasai membuat tapak kaki tak menjejak bumi, napasnya tersamar utuh oleh gemerisik daun kering.Di dalam bilik, racikan serbuk penidur ringan Rara meleset dari perhitungan. Obat itu tak sanggup membungkam insting purba manusia saat dihadapkan pada maut. Hawa membunuh yang teramat pekat dan dingin merembes lewat celah papan jati reyot, menindih rongga dada bak bongkahan es raksasa.Nyi Surti dan Nyi Darmi tersentak bangun dengan napas memburu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews