Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa

Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa

last updateLast Updated : 2026-06-19
By:  Donat MblondoUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
38Chapters
394views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

​Di kehidupan lalu, Rara Kinasih disiksa hingga mati di ruang bawah tanah oleh keluarganya sendiri, tepat setelah tubuhnya dihancurkan oleh sang suami di malam pengantin. ​Kini, dia terbangun kembali tepat di detik-detik malam terkutuk itu. ​Saat Mahesa Kurda, Gusti Penguasa beraliran hitam yang dijuluki Iblis, menerjangnya dengan tubuh terbakar kutukan mematikan, Rara tidak lagi menjerit atau memohon ampun. Wajahnya sedingin es. Dengan satu ayunan mematikan dari jarum peraknya, dia menumbangkan sang Iblis di atas ranjang pengantin. ​Di siang hari, Rara memainkan peran sebagai istri bisu yang lemah. Dia membiarkan para pelayan arogan dan selir rendahan meremehkannya. Namun di balik bayang-bayang kegelapan, dia menjelma menjadi Nyai Teratai Berdarah, tabib tingkat dewa yang mengeksekusi musuh-musuhnya tanpa ampun dan tanpa jejak. ​Sementara itu, Mahesa yang terkenal kejam dan tak kenal ampun mulai dibuat gila. Setiap tengah malam, ada sentuhan dingin dari seorang tabib misterius yang meredakan kutukan apinya, membuatnya kecanduan dan terobsesi. ​Mahesa bersumpah akan memburu tabib dewa itu untuk dijadikan miliknya seutuhnya. Dia sama sekali tidak tahu, wanita mematikan yang terus dicarinya itu... adalah istri cacat yang tengah tertidur lelap di ranjangnya sendiri. ​Saat penyamaran itu akhirnya terbongkar, mampukah sang Iblis mempertahankan egonya? Atau dia justru akan berlutut dan membakar seluruh dunia demi melindungi sang istri? ​"Siapa pun yang berani menatap istriku, akan kucabut matanya. Siapa pun yang berani melukainya, akan kubakar sekte mereka menjadi abu!" ​#Regresi #BalasDendam #TabibSakti #IdentitasGanda #SuamiBucin #WuxiaNusantara #FaceSlapping #RomansaDewasa

View More

Chapter 1

1. Ranjang Pengantin

​BRAAAKKK!

​Pintu kayu jati berukir di kamar pengantin itu hancur berkeping-keping. Patahan kayunya terlempar ganas, menyapu tirai ranjang yang beraroma semerbak melati.

​Di ambang pintu, berdirilah sesosok pria tinggi besar dengan aura membunuh yang sangat pekat. Mahesa Kurda. Sang Gusti Penguasa faksi hitam paling ditakuti se-Nusantara, pria yang malam ini resmi menjadi suaminya.

​Namun, kondisi pria itu jauh dari kata waras. Wajah Mahesa memerah seperti lahar. Urat-urat di lehernya menonjol berdenyut mengerikan, dan keringat membasahi dada bidangnya yang telanjang. Pria itu terhuyung maju, lalu tiba-tiba jatuh berlutut memuntahkan segumpal darah hitam yang langsung mendidih menghanguskan karpet.

'​Kutukan Geni Asura!' Rara tersentak.

​Mata Mahesa yang memerah darah menatap tajam ke arah ranjang. Insting liarnya menangkap keberadaan Rara. Tanpa peringatan, tubuh besar itu melesat ke depan dengan kecepatan tak masuk akal. Mahesa menerjang, mengulurkan kedua tangannya yang membara dan mencekik leher Rara dengan brutal.

​Rara terkesiap. Napasnya terputus. Panas dari telapak tangan Mahesa terasa membakar kulitnya. Namun, di detik yang mematikan itu, alih-alih panik, pikiran Rara justru menjadi luar biasa jernih.

​Matanya membelalak, menatap tangan besar yang mencekiknya, lalu menatap kebaya pengantin beludru merah yang membalut tubuhnya.

​'Tunggu. Kebaya? Ranjang pengantin? Rara membatin kaget. Bukankah aku sedang disiksa dan dikurung di ruang bawah tanah Padepokan Giri Wesi?'

​Ingatannya berputar bak pusaran air, menyatukan kepingan kesadaran. Bau anyir darah, cambuk berduri, dan eksekusi mati... itu semua telah berlalu. Semesta baru saja merenggutnya dari neraka masa depan dan melemparkannya kembali ke masa lalu! Tepat di malam pengantinnya. Malam di mana keluarganya sendiri membuangnya sebagai tumbal untuk dinikahkan dengan Iblis yang sedang mencekiknya ini.

​Di kehidupan sebelumnya, tepat di detik ini, Mahesa yang kehilangan akal akibat kutukan Geni Asura mengamuk dan menghancurkan seluruh simpul nadi di tubuh Rara. Rara yang lumpuh total kemudian dikembalikan ke keluarganya hanya untuk disekap di ruang bawah tanah seumur hidup. Di neraka itulah Rara mewarisi ilmu medis tingkat dewa dari Ki Hanggareksa, sesepuh yang ikut dipenjara bersamanya, meski tubuhnya telanjur cacat tak bisa menggunakannya.

​Tapi sekarang... simpul nadinya masih utuh!

​'Di kehidupan ini, aku tidak akan menjadi korban siapa pun,' Rara menatap mata buas suaminya sedingin es abadi.

​Tangan kanan Rara bergerak lebih cepat dari kilat, mencabut tusuk konde perak peninggalan sang ibu dari sanggulnya. Rara memusatkan prana kehidupan Mandala Amerta ke telapak tangannya. Hawa murni yang luar biasa sejuk seketika menyelimuti konde tersebut, memendarkan cahaya biru keputihan.

​Tanpa ragu sedikit pun, Rara menusukkan konde perak itu dengan presisi mematikan ke tiga simpul nadi rahasia di dada telanjang Mahesa: Simpul Sukma, Poros Nyawa, dan Cakra Jantung.

​Tiga tusukan itu terjadi kurang dari satu tarikan napas!

​"ARGGGHH!" Mahesa meraung tertahan.

​Tubuh besarnya menegang kaku di udara. Hawa dingin ekstrem dari prana Rara menembus masuk, bertabrakan brutal dengan panas lahar di jalur darah Mahesa. Gelombang kejut dari dua energi berlawanan itu membuat tirai ranjang berkibar hebat.

​Dalam sekejap, urat-urat menonjol di leher Mahesa mengempis. Warna merah lahar di kulitnya memudar. Kekuatan buas sang Penguasa lenyap tak tersisa, disegel paksa oleh tiga tusukan Rara.

​Mahesa ambruk. Tubuh kekarnya jatuh menimpa Rara. Wajah pria itu terbenam di perpotongan leher istrinya, dan napas yang tadi memburu liar kini berangsur teratur. Pria yang membuat seluruh daratan ketakutan itu kini pingsan tak berdaya.

​Rara tak langsung mendorongnya. Ia membiarkan tubuh berat itu menindihnya sejenak, memastikan segel nadinya benar-benar bekerja.

'​Kutukan ini sudah menyatu dengan sumsum tulangnya,' analisis Rara dalam hati, otaknya bekerja layaknya tabib veteran. 'Ilmu medisku saat ini baru cukup untuk menekan apinya agar dia tidak gila malam ini, bukan menyembuhkannya total. Tapi ini sudah cukup.'

​Rara mendorong tubuh Mahesa hingga pria itu terguling ke sisi ranjang. Ia bangkit, merapikan kebayanya yang kusut. Rahang Mahesa yang tegas dan alisnya yang menukik tajam masih menyisakan aura arogansi meski pria itu memejamkan mata.

​"Di kehidupan lalu, kau menghancurkan tubuhku di ranjang ini," bisik Rara, nadanya sedingin es. "Di kehidupan ini, nyawamu ada di ujung jariku, Mahesa Kurda."

​Besok pagi saat matahari terbit, Mahesa akan kembali menjadi Gusti Penguasa yang manipulatif, sinis, dan kejam. Pria itu pasti akan menggeledah seluruh kediaman untuk mencari tahu siapa ahli medis tingkat tinggi yang mampu meredakan kutukannya.

​Rara tidak boleh ketahuan. Dia membutuhkan perlindungan nama besar Mahesa sebagai tameng untuk menghindari kejaran keluarganya yang licik, setidaknya sampai ia cukup kuat untuk menyelamatkan gurunya.

​Untuk itu, dia membutuhkan identitas yang tak akan pernah dicurigai siapa pun. Identitas sebagai kelinci tak berdaya.

​Rara mengangkat tangannya. Jari telunjuk dan tengahnya yang memancarkan prana biru kembali bergerak. Kali ini, ia mengarahkannya ke tenggorokannya sendiri. Tanpa keraguan, Rara menekan simpul suara di pangkal lehernya dengan kuat.

​Rasa sakit menyengat menjalar di pita suaranya. Rara terbatuk pelan, menyeka darah yang merembes dari sudut bibirnya. Ia mencoba memanggil namanya sendiri, tetapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Hanya embusan napas kosong.

​Segel bisu telah terpasang sempurna.

​Rara mengusap lehernya, tersenyum miring penuh perhitungan.

'​Kalian menganggapku tumbal cacat? Kalau begitu, aku akan menjadi tumbal paling cacat dan menyedihkan yang pernah kalian lihat,' batin Rara sinis. 'Di siang hari, kalian boleh menertawakan Rara Bisu. Namun di balik bayangan... aku akan memastikan Padepokan Giri Wesi hancur menjadi debu.'

​Rara menyelipkan kembali tusuk konde peraknya ke dalam sanggul. Ia mematikan satu-satunya lilin yang menyala, lalu meringkuk memeluk lutut di sudut ranjang, sejauh mungkin dari Mahesa. Matanya yang tajam sengaja dibuat membelalak panik. Ia mempersiapkan gestur tubuh bergetar hebat untuk menyambut sang Iblis saat terbangun besok pagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Poppy Miranda
Poppy Miranda
baca sinopsisnya seperti nya akan menarik, mudah-mudahan ga akan banyak bab ya hehe semangat kak
2026-06-13 09:13:04
1
1
horman gom
horman gom
mulai penasaran dengan isi nya. ......
2026-06-11 16:11:59
1
1
38 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status