Chapter: 284. TAMATRumah Sakit Ibu dan Anak pusat kota, di sanalah kini Rain berada. Di atas ranjang pasien, Rain terbaring lemas. Di sampingnya, seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkannya dua jam yang lalu sedang tertidur pulas. Sedangkan di kursi samping ranjang pasien, Satria duduk menemani. Sejak tadi, pemuda yang kini berstatus sebagai papa muda itu tak ingin jauh-jauh dari istri dan putranya meskipun hanya sebentar saja. "Sayang, boleh gak baby-nya dibangunin? Aku mau denger suaranya nangis!" Rain yang terbaring itu pun menggeleng pelan. Tak mengizinkan sang suami mengganggu bayinya yang sedang terlelap. Namun, Satria yang semula minta izin dan tidak diperbolehkan oleh istrinya itu justru mencolek-colek pipi merah putranya dengan gemas. Alhasil, bayi mungil itu menangis dengan keras. "Oek, oek...." "Astaga, Satria Narendra!" kata Rain dengan suara tertahan. "Haha... akhirnya bangun juga!" Bukannya takut dimarahi, papa muda itu tertawa dengan keras. Ia sangat senang mendengar tangisa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: 283. PPPNSetelah semua kebenaran terungkap dan Tuan Seno serta antek-anteknya diamankan, kini keadaan keluarga Mandala semakin membaik.Nyonya Laras yang sebenarnya sudah sembuh sejak dibawa pulang ke kediaman Mandala beberapa bulan lalu, kini dapat beraktivitas layaknya kehidupan orang-orang normal.Wanita paruh baya itu kini tak perlu lagi menyembunyikan diri dan berpura-pura sakit jiwa seperti kemarin-kemarin.Ia bisa tertawa, bercanda, bahkan kembali menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Tuan Arya tanpa harus memikirkan berbagai ancaman yang dulu selalu membayangi.Di dalam kamarnya, Tuan Arya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh telanjang dibalut handuk singkat, menghampiri sang istri yang duduk di depan meja rias."Sayang...." panggil Tuan Arya sembari memeluk dan mencium lembut tengkuk istrinya yang terekspos.Nyonya Laras yang tengah bercermin pun langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah tingkah suaminya kali ini."Jangan lagi, Mas
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: 282. PPPNDi balik jeruji besi, di sanalah kini Tuan Seno berada. Pria paruh baya itu mengamuk minta dibebaskan, bahkan mengancam para polisi yang bertugas."Lepaskan saya, keluarkan saya dari sini!"Mendengar suara keras Tuan Seno, para tahanan lain menutup telinga mereka. Jelas, para tahanan itu terganggu dengan keributan yang diciptakan pria paruh baya itu."Hei, kalian semua tuli, ya? Cepat bebaskan saya, kalau enggak, besok saya akan menghancurkan tempat ini!" seru Tuan Seno sambil memukul-mukul jeruji besi tersebut dengan keras.Pria paruh baya itu mengamuk seperti orang yang tidak waras. Wajah dan matanya memerah, bahkan tak henti-hentinya berteriak."Goblok kalian semua! Cepat keluarkan saya!"Di saat Tuan Seno sedang mengamuk, derap langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Dan tak lama kemudian, datanglah Tuan Arya, Ares, dan Satria.Ketiganya menghampiri Tuan Seno yang mengamuk.Mendengar derap langkah kaki mendekat, Tuan Seno menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat Tuan Arya
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: 281. PPPN"Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: 280. PPPN"Oh... ternyata kayak gini kelakuan kalian kalau gak ada aku di rumah! Dasar binatang, gak punya otak!"Brak!Bantingan keras pintu yang diiringi suara teriakan Diana membuat Tuan Seno dan Nabila terkesiap. Keduanya sama-sama membeku selama beberapa detik, seolah baru saja tersadar dari apa yang telah mereka lakukan.Panik, Tuan Seno mencabut batangan tegangnya yang bersemayam di dalam lubang apem Nabila, lalu bergerak turun dari atas ranjang.Pria paruh baya itu meraih celananya dan memakainya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena ketakutan melihat Diana yang kini berdiri di ambang pintu.Begitu pula dengan Nabila yang panik setengah mati. Dengan tubuh telanjangnya, gadis binal itu meraih hotpants-nya yang berada di ujung kasur."Binatang kalian berdua, anjing!" maki Diana dengan suara melengking keras.Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tatapannya berpindah dari Tuan Seno pada Nabila yang terlihat panik dan ketakutan.Melihat kemarahan istrinya, Tuan Seno y
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: 279. PPPNSiang itu, Tuan Seno yang berada di perusahaan kembali ke rumah dalam keadaan yang kacau.Wajahnya kusut. Ia pusing memikirkan Togar yang diringkus oleh polisi. Takut anak buahnya itu buka mulut.Tiba di rumah, keadaan begitu sepi. Hanya ada Nabila yang sedang tiduran santai di sofa sambil bermain ponsel."Om, udah pulang?" kata Nabila, menyapa Tuan Seno yang baru saja pulang dari kantor."Hmm... Diana mana?" tanya Tuan Seno sembari mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.Ditanya, Nabila yang memakai crop top dan hotpants itu beringsut, lalu duduk dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa."Mama Diana pergi belanja sama teman-temannya. Katanya tadi sore baru pulang," kata Nabila, menjawab pertanyaan Tuan Seno dengan mata menatap wajah kusutnya. "Om kenapa? Kok kayaknya pusing banget?" tanyanya kemudian.Tuan Seno menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila dan memeluk pinggang ramping gadis itu."Capek, pusing mikirin kerjaan di kantor," jawab Tuan Seno.Cup
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Kepleset sabunSaka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka
Terakhir Diperbarui: 2026-11-03
Chapter: Ibu sudah tahu?Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,
Terakhir Diperbarui: 2026-11-03
Chapter: Kartu AS Pak HartonoPak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti
Terakhir Diperbarui: 2026-11-02
Chapter: Diusir"Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s
Terakhir Diperbarui: 2026-11-02
Chapter: Duo bocilNadia mulai bergerak. Gerakan pertamanya kaku dan pendek, naik sedikit lalu turun lagi dengan hati-hati, sementara kedua tangannya bertumpu di dada Saka. Ibu jari Saka kembali memutar klitorisnya, dan gerakan pinggul Nadia lama-lama mengikuti irama ibu jari itu.Jepitannya rapat banget. Kalau aku ini pendekar yang lagi diuji, ujiannya bukan nahan pukulan, tapi nahan diri biar nggak bubar duluan."Kak… Kak, ini… aaah… beda sama tadi pagi… ini dari dalem…" Napas Nadia makin cepat, dan gerakannya makin berantakan.Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba. Kedua tangannya mencakar dada Saka, kepalanya terdongak, dan jeritan panjangnya pecah memenuhi kamar. Dinding vaginanya berdenyut kuat di sekeliling penis Saka, berulang-ulang, sampai Saka harus menggertakkan gigi dan menghitung dalam hati.Si bungsu ambruk ke dada Saka dengan dada naik turun. Rambut panjangnya menutupi wajah mereka berdua, dan keringatnya menempel di kulit kakaknya. "Kakak… belum, ya?""Belum, Cil. Kakak masih utang sama buk
Terakhir Diperbarui: 2026-11-01
Chapter: Kelincinya lucukSaka menatap alas kelinci itu, lalu menatap wajah adiknya. Kain putih bergambar puluhan kelinci kecil itu dipilih, dicuci, dan disetrika sendiri oleh gadis yang tadi pagi masih menulis naskah anime dua halaman.Anak ini nyiapin pertama kalinya kayak nyiapin pengantin. Kalau aku asal grusa-grusu, aku lebih brengsek daripada Paijo."Darahnya nanti nggak banyak, Nad. Kalau sakit, Kakak berhenti, dan alasnya bisa nunggu besok-besok," kata Saka sambil mengusap rambut di pelipis Nadia.Gadis itu bangkit duduk dan mendorong dada Saka sampai kakaknya rebah telentang. "Nggak mau besok-besok. Hari ini Senin, dan di buku Liga udah ditulis SENIN NADIA LUNAS. Terus Nadia mau di atas kayak di anime, biar Nadia yang ngatur cepet lambatnya.""Di atas itu jurus tingkat lanjut, Cil. Kamu baru lulus pemanasan.""Justru itu! Kalau di atas, Nadia yang pegang kendali, jadi sakitnya Nadia yang ngatur." Gadis itu sudah melepas kancing kemeja Saka satu per satu dengan jari yang kini tidak dingin lagi.Logikan
Terakhir Diperbarui: 2026-11-01
Chapter: Bab 72Menjelang magrib, Diandra pamit. Dimas diminta Laras membukakan pintu mobil tamunya di garasi, karena sopir Diandra sedang ke musala di ujung kompleks. Diandra berjalan pelan, mencium pipi Laras di pintu samping, lalu menghampiri Dimas yang berdiri di samping sedan hitam itu.Diandra berhenti tepat di depannya, cukup dekat sampai parfumnya tercium. Tangannya terulur ke dada Dimas, dan dalam satu gerakan cepat, sebuah kartu nama masuk ke saku kemejanya."Makasih, ya, Dimas. Kalau kamu mau ngobrol soal klinik di Kuningan, telepon aku. Cuma kita berdua."Muka Dimas langsung pucat. Klinik di Kuningan. Klinik yang namanya tercetak di amplop di laci kamar belakang, dan klinik tempat Tasya praktik tiap Rabu.Diandra masuk ke mobil sambil tersenyum manis, lalu menurunkan kaca jendela sedikit. "Salam buat Kezia, ya! Bilang ke dia, Mama nggak marah, Mama cuma kangen laporannya."Sedan hitam itu keluar gerbang. Dimas masih berdiri di tempat yang sama, telapak tangannya menekan saku kemeja tempat
Terakhir Diperbarui: 2026-11-03
Chapter: Bab 71Begitu pintu samping menutup dan bunyi motor menjauh, Kezia jatuh terduduk di lantai sambil menutup mulut. Bahunya berguncang menahan tawa, sedangkan Dimas masih berdiri kaku dengan tali celana yang belum terurai."Pelatih fisik, Kez?! Saya bahkan nggak bisa smes!""Lo bisa kok, Bang, tadi gue lihat sendiri, hihi." Kezia tertawa sampai air matanya keluar, lalu melempar handuk bekas ke muka Dimas.***Rabu sore, Dimas sedang menyiram pot-pot anggrek di halaman samping ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan pagar. Seorang perempuan turun memakai blazer krem dan kacamata hitam yang dia naikkan ke kepala. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Kezia versi yang lebih tua dan lebih tenang.Laras keluar dari pintu depan dengan langkah yang sedikit tergesa, karena tamunya datang tanpa kabar. Namun, senyumnya sudah terpasang sebelum dia sampai di teras."Kak Diandra, kok nggak bilang mau mampir? Ya ampun, aku belum siapin apa-apa, Kak!"Diandra memeluk Laras dengan ramah, lalu menep
Terakhir Diperbarui: 2026-11-03
Chapter: Bab 70Kezia menepuk paha Dimas dengan telapak tangannya. "Gantian, Bang. Lo berdiri, sekarang giliran gue. Jangan nolak, gue udah janji ke diri gue sendiri."Dimas berdiri di depan bangku dengan canggung. Kezia menarik celana training Dimas sekaligus dengan celana dalamnya sampai ke lutut, lalu diam lama sekali, menatap milik Dimas yang berdiri tegak tepat di depan wajahnya. "Bang... ini segede ini dari dulu? Tante kuat?"Dimas tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tertutup lagi, lalu terbuka lagi tanpa suara.Pelan dan canggung, Kezia menggenggam pangkal milik Dimas dengan dua tangan. Dia menjilat ujungnya sekali dengan ujung lidah, mengernyit karena rasanya asin, lalu mencoba memasukkan kepala milik Dimas ke mulutnya. Giginya sempat menyenggol, dan Dimas mendesis."Pelan, Kez, giginya ditutup pakai bibir dulu. Iya, gitu, napas lewat hidung aja, jangan buru-buru."Kezia mengangguk dengan mulut penuh. Dia belajar cepat, kepalanya mulai maju mundur dengan ritme yang lebih teratur, sementara
Terakhir Diperbarui: 2026-11-02
Chapter: Bab 69"Shhh, lan-lanjut, tapi pelan, Bang, jangan diketawain."Dimas mengisap lagi, sementara ibu jarinya memilin pentil yang satunya. Kezia menggigit punggung tangannya sendiri, dan pahanya yang berdiri di antara lutut Dimas mulai gemetar. Sesekali desahnya lolos juga dari sela jari, lebih tinggi dan lebih kecil dari suaranya waktu meneriaki tim.Tak lama, Kezia mundur dan berjalan ke lingkaran tengah lapangan, lalu rebahan di situ. Lantai kayu itu dingin, sehingga dia sempat mendesis waktu punggung telanjangnya menempel. Setelah itu, Kezia menarik celana pendek hitamnya sendiri sampai ke paha, dan celana dalam katun abu-abunya terlihat. "Sini, Bang. Jilat dari luar dulu, ya. Gue belum berani langsung."Dimas berlutut di antara kaki Kezia, tetapi dia berhenti dulu sebelum menunduk. "Boleh, Kez? Kalau geli banget, kamu tepuk kepala saya aja."Kezia mengangkat peluit di dadanya dengan muka serius. "Boleh. Dan satu lagi, Bang, tiap gue crot, gue tiup ini, biar gue sendiri tahu. Jangan protes!
Terakhir Diperbarui: 2026-11-02
Chapter: Bab 68el dari laci dan menempelkannya di kolom Kamis. "Oh, gitu, pantes Ibu yang nulis sendiri. Kalau gitu, Kamis buat jadwal Bibi belanja sayur, ya, Mas, biar Mas Dimas ingat nganterin Bibi ke pasar."Dimas cuma bisa mengangguk dengan mata yang masih merah karena bawang. Kezia membalik badan menahan tawa, dan bahunya berguncang sampai dia harus berpegangan ke meja makan.***Sore itu, Dimas menyiram taman belakang lebih lama dari biasanya. Dari jendela lantai dua, Laras sempat melambaikan tangan, lalu menutup tirai. Selang di tangannya masih menyala waktu ponsel di saku celananya bergetar.Pesan dari Kezia.[Bang, Selasa malam jam 9 di GOR. Penjaganya pulang jam 8. Bawa handuk dua, sama jangan telat, soalnya gue udah mikirin ini dari tadi.]Selasa malam, Dimas pamit ke Bi Inah dengan alasan mengambil data di lab kampus, padahal lab itu sudah dia kunci sejak sore. Ojek online menurunkannya di depan GOR voli kampus Kezia jam sembilan kurang lima, dengan ransel berisi dua handuk yang Laras se
Terakhir Diperbarui: 2026-11-01
Chapter: Bab 67"Ini Tante ambil dari hotel yang sama, Kez. Selasa malam, Om sewa kamar persis di sebelah kamar Tante, katanya buat mastiin semuanya jalan. Ternyata kamar itu kosong sampai jam dua, soalnya Om ada di kamar 1512, sama sekretarisnya."Kezia membaca kertas itu lama, lama sekali. Bibirnya bergerak tanpa suara di kata Bella, dan pelan-pelan wajahnya memucat sampai bibirnya ikut putih. Setelah itu, matanya basah, dan setetes air mata jatuh ke ujung kertas notes itu.Tanpa mengangkat kepala, Kezia bicara dengan suara yang pecah di tengah. "Mama nyuruh aku tinggal di sini, Tante. Katanya buat nyari kesalahan Tante, biar Om Reza kelihatan jelek di depan Kakek. Aku pikir yang jahat itu Tante, makanya aku foto-foto terus. Ternyata yang jahat Om Reza sendiri, kan?"Laras bangkit dari kursinya, memutari meja, lalu memeluk kepala Kezia dari samping. "Ya ampun, Kez... kamu nggak salah, Sayang. Kamu cuma disuruh, sama kayak Tante."Pecahlah tangis Kezia di bahu Tantenya. Bahunya berguncang keras, dan
Terakhir Diperbarui: 2026-11-01
Chapter: 124. Penghujung Cerita.Keadaan rumah tahanan menjadi kacau. Ryuga yang nyaris sekarat pasca menegak racun mematikan, dibawa oleh petugas kepolisian menuju klinik terdekat. Keadaan pria itu saat ini benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya membiru, wajahnya belepotan darah, serta kedua tangannya meremas erat perutnya sendiri. Saking eratnya remasan pria itu, urat-uratnya sampai menonjol dan terlihat dengan jelas. "Cepat, cepat bawa ke ruangan IGD!" Begitu turun dari mobil, tubuh Ryuga segera diangkat dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu, perawat yang menyambutnya langsung mendorong brankar tersebut menuju ruangan IGD. Di atas brankar yang melaju dengan cepat, Ryuga yang masih sadar tetapi sudah tidak dapat melakukan apapun, tampak menitikkan air mata. Tatapan matanya begitu redup, menunjukkan jika saat ia benar-benar berada di ambang kematian. "Di kehidupan selanjutnya, aku gak mau lahir dan berada di tengah-tengah keluarga Prasetya lagi. Aku mau hadir dan besar di dalam keluarga utuh yang hangat dan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: 123. Maafkan Papa!"Kai, awas!" Srek! Jleb! Sepasang mata Tuan Reynald mendelik lebar, kedua tangannya terkepal erat kala punggungnya dihujam oleh senjata tajam yang ada di tangan Ryuga. Melihat Tuan Reynald menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Kaisar, Ryuga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... mati kamu, tua bangka sialan!" Pria itu mencabut belati yang menancap di punggung Tuan Reynald, lalu kembali menusuknya sebanyak beberapa kali. Melihat keadaan semakin kacau, petugas kepolisian yang kecolongan segera bertindak. Mereka meringkus dan melumpuhkan Ryuga yang menggila tidak terkendali. Liona dan Bu Elyana spontan memekik dengan keras, syok melihat tindakan Ryuga yang amat kejam dan mengerikan. "Argh... Ryuga, kamu gila!" jerit Liona sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Pa, bawa Liona pergi dari sini sekarang. Jangan biarin dia lihat semuanya!" kata Kaisar, meminta Pak Baskoro membawa Liona pergi dari tempat tersebut. Pak Baskoro mengangguk, lalu seger
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: 122. Ryuga, Jangan!"Hahaha... kalian semua harus mati, kalian harus mati! Aku bakal ngirim kalian ke neraka satu persatu, termasuk kamu, laki-laki brengsek yang udah membuat hidup ibuku menderita!" Ryuga tertawa dengan keras, sedangkan tangannya bergerak, mendorong kasar tubuh Tuan Reynald. Saking kerasnya membuat tubuh pria separuh baya itu membentur tembok. Melihat sikap kasar Ryuga secara langsung, semakin syok dan kaget Tuan Reynald dibuatnya. Benarkah putranya yang pendiam, terlihat lemah dan penurut selama ini ternyata begitu kejam? "Ryuga, kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Tuan Reynald dengan wajah memerah dan sepasang mata berair. Ryuga yang tertawa-tawa seperti orang gila, menatap tajam Tuan Reynald yang bertanya padanya. Pria itu menghentikan gelak tawanya, lalu mendekati Tuan Reynald dan mencengkeram erat bagian depan kemeja yang dipakainya. "Kenapa? Kamu tanya kenapa?" tanya Ryuga dengan suara tertahan. "Setelah kamu buat ibuku menderita dan mati dalam kesedihan, kamu masih berani
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: 121. Terungkap"Kamu benar! Setelah ini kamu memang harus keluar dari kediaman Prasetya, dan aku akan pastikan selamanya kamu akan mendekam di balik jeruji besi!" Suara datar dan dingin milik Kaisar yang terdengar lantang, spontan membuat sepasang mata Tuan Reynald melotot lebar. Begitu pula dengan Ryuga sendiri. "Kai, apa maksudnya semua ini?" kata Tuan Reynald. Bertanya pada Kaisar yang menatap tajam Ryuga. Kaisar tak menjawab pertanyaan Tuan Reynald. Ia justru memberikan perintah pada petugas kepolisian untuk segera meringkus Ryuga sebelum kembali membuat ulah. Petugas kepolisian melangkah maju, lalu menunjukkan surat penangkapan pada Ryuga. "Pak Ryuga, Anda resmi kami tahan atas kasus pembunuhan berencana terhadap Tuan Jayden!" Suara tegas milik petugas kepolisian, membuat sepasang mata Ryuga semakin melotot lebar. Saking lebarnya seperti mau melompat dari tempatnya berada. "Apa-apaan ini? Saya gak bersalah, gak gak ngerti maksud kalian!" kata Ryuga. Menolak saat hendak diringkus dan di
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: 120. Hasil Autopsi!"Jangan pukul lagi, Kai. Aku bener-bener minta maaf...." "Kaisar, apalagi yang mau kamu lakukan?!" Suara keras dan lantang milik Tuan Reynald yang berasal dari ujung lorong rumah sakit itu, membuat Kaisar seketika memejamkan matanya seraya menghela napas kasar. Wajah pria itu semakin memerah. Jelas jika ia sangat kesal saat ini, Ryuga benar-benar membuatnya muak. Sedangkan Ryuga sendiri, menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Kaisar terlihat semakin buruk di hadapan ayahnya. "Hegh, jangan pikir bisa ngalahin aku, Kai. Aku bakalan ngerebut apapun yang kamu miliki, termasuk Liona dan bayinya," kata Ryuga dengan suaranya yang pelan dan terdengar lembut. Mulut pria munafik itu benar-benar beracun. Pintar sekali berakting dan berbohong di hadapan banyak orang, bahkan sangat cocok diberi julukan raja acting dan juga mendapatkan penghargaan piala oscar. Tak suka nama Liona dan calon anaknya disebut, Kaisar yang semakin tersulut emosi itu pun mengangka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-01
Chapter: 119. Jebakan Ryuga!"Segera lakukan autopsi, Dokter. Siapapun yang berani menghalangi, akan menjadi musuhku!"Mendengar perkataan Kaisar, Dokter menganggukkan kepalanya. Seperti yang diperintahkan, pemakaman Tuan Jayden akan ditunda dan akan segera dilakukan autopsi menyeluruh pada jasadnya.Tuan Reynald menghela napas panjang. Pusing menghadapi sifat Kaisar yang begitu keras kepala dan selalu bersikap semaunya sendiri. Sedangkan Ryuga, diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh. Kepalanya tertunduk, bersikap seolah ia sangat sedih dan terpukul atas kepergian sang kakek."Sial, lagi-lagi dia mengacaukan semuanya. Kayaknya aku harus mempercepat rencana." Kaisar yang berdiri di samping istri dan mertuanya, diam-diam mengamati gelagat Ryuga. Bahkan perhatiannya tak lepas dari anak selingkuhan ayahnya itu. "Kaisar harus mati, aku bakal menyingkirkan dia secepatnya supaya gak ada lagi orang yang bisa menghalangi tujuanku," gumam Ryuga. Di saat dokter dan tim sibuk mengurus jenazah Tua
Terakhir Diperbarui: 2026-06-01