Home / Fantasi / Cukup, Aku Gak Tahan! / Desisan Bu Retno!

Share

Desisan Bu Retno!

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-05 22:49:31

Sepulang dari pasar, Saka melihat pintu belakang mobil sudah tertutup rapat dan halaman depan kosong. Satu gorden di lantai atas bergerak sedikit, lalu diam.

Sehabis isya, Ipah sudah menunggu di teras dengan kebaya biru tua yang biasa ia pakai ke arisan. Rambutnya disanggul rapi, dan tas kecilnya terjepit di ketiak.

Sambil menunjuk motor butut Saka dengan dagu, Ipah berkata, "Ibu duduk di belakang. Jangan ngebut, kebaya Ibu bisa kusut. Dan ingat, soal bayaran, Ibu yang bicara."

"Siap. Tapi spio
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Itu bukan perintah!

    "Ibu sama Mbak Sarah lagi tidur, lho. Kalian ikut tidur sana, biar besok nggak bangun kesiangan," kata Saka dengan wajah segalak yang ia bisa."Kamar gelap begini, yang kepikiran cuma anting itu, Kak." Dona menunduk menatap lilin, dan bahunya merosot.Nadia buru-buru menarik tangan Saka ke karpet. "Makanya main kartu aja, ya, Kak? Satu ronde doang. Yang kalah nggak boleh nyebut nama Bapak!"Saka menatap dua adik tirinya bergantian, lalu menghela napas panjang. Lagi pula, sebagai juara silat, Saka pantang mundur dari tantangan apa pun, apalagi tantangan kartu. Dona dan Nadia juga tidak tahu bahwa di pos ronda kampungnya dulu, Sakamukti hampir tidak pernah kalah main cangkulan.Setelah duduk bersila di karpet dan bersandar ke sofa, Saka mengacungkan satu jari dan berkata, "Satu ronde. Habis itu kalian tidur, titik."Dona membagikan tujuh kartu kepada masing-masing, lalu menumpuk sisanya di tengah karpet. Nadia menatap kartunya dengan mata berbinar, sedangkan Saka menyusun kartunya tanpa

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Main cangkulan!

    Saka Jr. sudah menegang di balik celana jin. Sambil menggeser pinggulnya menjauh dari tepi ranjang, Saka berbisik, "Bu, ibu saya cuma di ujung lorong. Suara Bu Retno tadi pasti kedengaran sampai sana.""Biar saja. Dia sendiri yang minta pintunya dibuka. Sayang sekali ya, ibumu sampai rela berdiri di ujung lorong." Bu Retno terkekeh pelan."Itu bukan sayang, Bu. Itu patroli," sahut Saka datar.Bu Retno tertawa sampai bahunya berguncang, lalu membalikkan badan dan menarik tangan Saka ke dadanya. Dada itu penuh dan hangat di telapak tangan Saka. "Suami saya sudah dua tahun nggak pernah masuk ke kamar saya, Mas. Malam ini dia juga pulang lewat tengah malam, seperti biasa.""Bu Retno, kesepakatan dari ibu saya cuma urut saraf. Pegang-pegang dada nggak termasuk," bisik Saka dengan tangan yang tidak berani bergerak."Kesepakatannya belum ada tanda tangan, Mas. Masih bisa saya ubah." Bu Retno menekan tangan Saka lebih erat ke dadanya.Saka menelan ludah, lalu bertanya pelan, "Bu Retno yakin?

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Desisan Bu Retno!

    Sepulang dari pasar, Saka melihat pintu belakang mobil sudah tertutup rapat dan halaman depan kosong. Satu gorden di lantai atas bergerak sedikit, lalu diam.Sehabis isya, Ipah sudah menunggu di teras dengan kebaya biru tua yang biasa ia pakai ke arisan. Rambutnya disanggul rapi, dan tas kecilnya terjepit di ketiak.Sambil menunjuk motor butut Saka dengan dagu, Ipah berkata, "Ibu duduk di belakang. Jangan ngebut, kebaya Ibu bisa kusut. Dan ingat, soal bayaran, Ibu yang bicara.""Siap. Tapi spionnya tinggal satu, jadi kalau Ibu lihat bayangan di sebelah kiri, itu tiang listrik, bukan kuntilanak," kata Saka sambil menyalakan mesin."Cerewet! Jalan aja, jangan banyak omong." Ipah naik ke jok belakang dan memegang besi di bawah jok dengan kedua tangan.Sepanjang jalan, Ipah menjaga jarak sejengkal dari punggung Saka dan tidak berbicara sama sekali. Saka sudah mengganti kausnya yang tadi berbau sabun mobil, tetapi ia tetap tidak berani bertanya apa yang sedang dipikirkan ibu tirinya itu.R

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kecipratan!

    Saka mendesis ke arah keduanya agar diam, lalu menaikkan suaranya, "Lagi ngelap dalemnya, Pak! Debunya tebel banget, ini lagi saya sedot!""Hahaha, dasar anak rajin! Tinggalin dulu mobilnya. Ayo kita ambil buku Paijo, mumpung orangnya belum sadar bukunya dicari," ujar Pak Karmin.Setelah Pak Karmin mundur dua langkah, Saka melangkahi lutut Nadia, membuka pintu kanan secukupnya, dan menyelinap keluar dengan badan merunduk. Karena tergesa, Saka tidak sempat menutup pintu itu rapat.Ketika Saka melewati teras mengikuti Pak Karmin, Ipah berdiri di ambang pintu dengan nampan teh. Ipah mengernyitkan hidung, lalu mengendus pelan.Ipah mendekat dan berbisik supaya tidak terdengar Pak Karmin. "Kamu kan cuci dari luar. Kok kausmu bau sabun mobil, Saka?""Kena cipratan, Bu."Ipah mengangguk, tetapi matanya bergeser ke pintu belakang mobil yang masih terbuka sedikit.Saka berjalan di belakang Pak Karmin menuju gerbang tanpa berani menoleh sekali pun. Mudah-mudahan Dona dan Nadia, dua makhluk astr

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kak, jatahku mana?

    Dona mengambil anting itu dan memutarnya di bawah cahaya dari kaca depan. Wajahnya memucat ketika melihat bentuk anting itu, lalu ia berkata, "Ini bukan punya Ibu. Dona hafal semua perhiasan Ibu, dan nggak ada yang model begini."Nadia menatap bungkus kondom di tangannya, lalu menoleh ke Saka. "Kak, ini punya Kakak, ya? Di manga, barang begini biasanya ketinggalan tokoh utama yang nginep di mobil.""Aku cuma disuruh nyuci mobil ini, Nad. Nyetir aja nggak boleh, apalagi nginep," jawab Saka sambil menggeleng."Mobil ini cuma dipakai Bapak." Dona menggenggam anting itu erat-erat.Tidak ada yang bicara lagi. Dari luar terdengar tawa Pak Karmin, tetapi di dalam mobil, ketiganya diam.Saka teringat Ipah yang pucat melirik laci bufet tadi pagi. Saka belum tahu apakah lirikan Ipah itu ada hubungannya dengan benda-benda yang baru mereka temukan.Mata Nadia berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar. Nadia menggigit bibir itu, lalu mengusap matanya dengan punggung tangan. Dengan suara serak, ia berbis

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kondom siapa itu?

    Saka menatap pulpen merah muda yang tertahan di atas tanda tanya terakhir itu. Dengan wajah sedatar mungkin, ia menjawab, "Tanda seru buat apa, Nad? Ini bukan soal ujian. Aku tadi cuma buang sampah di belakang.""Sampah di belakang kok baunya melati, Kak?" Nadia memiringkan kepala dan mengendus lagi."Itu pengharum sampah. Merek Melati Jaya," sahut Saka tanpa berkedip.Nadia mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagunya. "Yang Nadia tahu, pengharum sampah di rumah ini wangi pandan."Saka berdeham dan mengangkat dagu, "Berarti stoknya baru ganti. Namanya juga ibu-ibu, suka ganti-ganti.""Ibu suka ganti-ganti? Ganti apa aja, Kak?" Nadia mengerjapkan mata dengan polos."Ganti merek, Nad! Merek pengharum!"Dari jendela lantai atas, kepala Dona menyembul. "Kak! Nad! Kelas kita mulai jam sepuluh, lho!"Nadia menutup bukunya, tetapi senyum manisnya tidak ikut tertutup. Sambil menyelipkan pulpen ke kuncir kudanya, ia berkata, "Tanda serunya Nadia simpan dulu ya, Kak. Nanti sore Nadia tagih penjelasann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status