LOGINSementara itu, Sarah menatap cipratan air bercampur tanah basah yang mengotori bagian bawah rok span kerjanya. Mengingat situasi rumah yang baru saja kacau, ia memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa menit demi menertibkan keadaan. Tangannya bergerak memutar keran hingga aliran air berhenti, lalu menggulung selang yang tergeletak di atas rerumputan.
Sebagai anak tertua, Sarah segera mengambil kendali situasi seraya menatap kedua adik tirinya dengan nada tegas. “Dona, Nadia, kalian berdua masuk sekarang! Cepat ganti baju basah itu sebelum masuk angin!” “Iya, Mbak Sarah…” Dona komen dengan nada kecewa. Nadia yang berdiri di sebelahnya ikut mencebikkan bibir. Kaus basahnya menempel transparan, mempertegas gundukan buah apel 34B miliknya saat ia merapatkan kedua tangan di depan dada. “Padahal kan masih mau lihat Kak Saka beraksi…” Sarah berkacak pinggang seraya mendelik ke arah kedua adiknya. “Nggak ada alasan lagi, kalian berdua harus siap-siap ke kampus sekarang. Ayo masuk!” Dona dan Nadia akhirnya melangkah gontai menuju ruang tengah. Langkah kaki keduanya sangat lambat, sesekali menoleh ke belakang untuk mencuri pandang ke arah dada bidang Saka dengan tatapan mata penuh damba. Setelah memastikan kedua adiknya berada di dalam rumah, Sarah membalikkan badan menghadap Saka. “Makasih banyak ya, Saka. Kalau nggak ada kamu, entah apa yang bakal terjadi sama Ibu dan anak-anak tadi.” Saka menyunggingkan senyum tipis seraya mengibaskan sisa tetesan air di ujung jemarinya. “Santai aja, Mbak. Selama ada aku di sini, nggak bakal ada yang berani macam-macam.” Sarah memberikan satu anggukan hormat yang mantap, lalu melangkah masuk ke ruang tamu dan menutup pintu depan. Sementara itu, Saka kembali ke pekarangan, mengecek apakah semuanya sudah rapi atau belum. Suasana pekarangan mendadak hening, hanya menyisakan Saka dan Ipah yang berdiri berjarak dua langkah di dekat pot bunga. Ipah sendiri yang tadi masuk, entah kenapa sudah berada di sana. Saka berpikir, mungkin Ipah juga mau mengecek apakah tidak ada barangnya yang ketinggalan di sana. Saka memutar tumitnya, bersiap melangkah kembali ke halaman samping untuk menuntaskan cucian mobil keluarga yang sempat tertunda. Namun baru satu langkah kakinya terayun, sebuah tangan tiba-tiba menyambar dan menahan pergelangan lengannya. Saka menoleh dan mendapati Ipah sedang mencengkeram lengannya erat-erat. Wajah wanita paruh baya yang biasanya selalu judes dan galak itu kini tampak merah padam, dengan dada yang masih naik turun tidak teratur. Ipah menoleh ke arah pintu ruang tamu untuk memastikan ketiga putrinya sudah benar-benar berada di dalam rumah. Saat yakin situasi aman, suaranya keluar dengan nada yang bergetar pelan dan tidak segalak biasanya. “Saka… kamu belajar berkelahi seganas tadi dari mana?” Pertanyaan itu meluncur dari bibir Ipah dengan pandangan yang tampak begitu rapuh. Absennya sang suami yang sedang dinas ke luar kota selama seminggu penuh sempat membuatnya putus asa, membayangkan bagaimana nasib harga dirinya dan anak-anak perempuannya jika Paijo sampai nekat merangsek masuk ke dalam rumah. Saka menatap balik manik mata ibu tirinya dengan ketenangan mental seorang mantan jawara silat. Tanpa bersikap sombong atau besar kepala, ia perlahan-lahan melepaskan cengkeraman tangan Ipah dari lengannya. “Nggak ada yang aneh, Bu. Kebetulan aja aku tahu titik lemahnya si Paijo, jadi gampang bikin dia kapok.” Tentu, itu adalah alasan Saka untuk membuktikan bahwa dia memang Arsaka, agar Ipah tidak semakin curiga. Di bawah sorot mata anak angkat yang selama ini selalu ia perlakukan layaknya orang buangan, Ipah mendadak merasa sangat kecil dan salah tingkah. Rasa malu yang menyengat seketika menyerang harga diri wanita paruh baya itu. Gengsinya yang setinggi langit menolak keras untuk terlihat tunduk di hadapan anak tirinya sendiri. Ipah buru-buru memalingkan wajah, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu kembali memasang tampang galak andalannya. “Cuma preman receh begitu saja jangan bikin kamu jadi besar kepala! Cepat selesaikan cucian mobil itu, terus mandi dan cari kerjaan beneran biar kamu nggak terus-terusan jadi benalu di rumah ini!” Saka hanya menatap ibu tirinya tanpa sedikit pun rasa tersinggung di raut wajahnya. Ipah mencibirkan bibir seraya melangkah cepat menaiki anak tangga teras. “Kamu pikir mengusir satu preman jalanan bisa dipakai buat bayar tagihan listrik bulan depan?” Saka menarik ujung bibirnya membentuk senyuman tipis melihat tingkah ibu tirinya yang berusaha keras menutupi rasa canggung dengan omelan basa-basi. “Iya, Bu, mobilnya sebentar lagi beres.” Tanpa banyak membuang kata lagi, Saka berjalan menuju pekarangan belakang. Tangannya bergerak cekatan mengelap sisa busa sabun pada kap dan kaca mobil hingga permukaan bodi kendaraan itu mengilap bersih. 15 menit berlalu. Keringat yang mengucur di leher serta rasa lengket akibat percikan air membuat Saka berniat membersihkan diri. Pemuda itu melangkah menuju kamar mandi belakang yang terletak di lorong sempit dekat kamar paviliunnya. Di dalam ruangan berlantai semen itu, Saka menanggalkan kaus dan celana panjangnya yang basah, menyisakan sehelai celana bokser hitam yang membungkus pinggang serta pahanya yang kekar. Otot-otot dadanya yang bidang dan perutnya yang bergaris tegas tampak mengilap terkena tetesan sisa air. Saka meraih gayung plastik dan bersiap membasuh tubuhnya di depan bak air. Namun sebelum jemarinya sempat memutar gerendel pintu kayu yang renggang itu, derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari lorong dapur. Brak! Pintu kamar mandi mendadak didorong terbuka lebar dari luar. Nadia menerobos masuk ke dalam ruangan sempit itu dengan napas terengah-engah seraya mengangkat sebotol sabun cair yang isinya tinggal seperempat. “Kak Saka! Sabun di kamar mandi atas habis, aku mau ambil sabun cair yang di sini!” Belum sempat Saka melontarkan teguran, Dona ikut merangsek masuk dari balik punggung adiknya seraya menenteng selembar handuk kecil. “Handuk mukaku juga ketinggalan di belakang pintu, Kak! Aku mau ambil sekarang buat siap-siap ke kampus!” Saka berdiri terpaku di depan bak mandi tanpa pakaian atas, menatap kedua adik tirinya yang kini berdiri rapat di ambang pintu. “Kalian berdua sengaja cari-cari alasan, kan?” Nadia memutar anak kunci gerendel besi di belakang tubuhnya dengan seringai nakal yang merekah di bibir. “Kalau sengaja, memangnya kenapa? Kak Saka mau marah kalau kita mau mandi bareng Kak Saka?”Sepulang dari pasar, Saka melihat pintu belakang mobil sudah tertutup rapat dan halaman depan kosong. Satu gorden di lantai atas bergerak sedikit, lalu diam.Sehabis isya, Ipah sudah menunggu di teras dengan kebaya biru tua yang biasa ia pakai ke arisan. Rambutnya disanggul rapi, dan tas kecilnya terjepit di ketiak.Sambil menunjuk motor butut Saka dengan dagu, Ipah berkata, "Ibu duduk di belakang. Jangan ngebut, kebaya Ibu bisa kusut. Dan ingat, soal bayaran, Ibu yang bicara.""Siap. Tapi spionnya tinggal satu, jadi kalau Ibu lihat bayangan di sebelah kiri, itu tiang listrik, bukan kuntilanak," kata Saka sambil menyalakan mesin."Cerewet! Jalan aja, jangan banyak omong." Ipah naik ke jok belakang dan memegang besi di bawah jok dengan kedua tangan.Sepanjang jalan, Ipah menjaga jarak sejengkal dari punggung Saka dan tidak berbicara sama sekali. Saka sudah mengganti kausnya yang tadi berbau sabun mobil, tetapi ia tetap tidak berani bertanya apa yang sedang dipikirkan ibu tirinya itu.R
Saka mendesis ke arah keduanya agar diam, lalu menaikkan suaranya, "Lagi ngelap dalemnya, Pak! Debunya tebel banget, ini lagi saya sedot!""Hahaha, dasar anak rajin! Tinggalin dulu mobilnya. Ayo kita ambil buku Paijo, mumpung orangnya belum sadar bukunya dicari," ujar Pak Karmin.Setelah Pak Karmin mundur dua langkah, Saka melangkahi lutut Nadia, membuka pintu kanan secukupnya, dan menyelinap keluar dengan badan merunduk. Karena tergesa, Saka tidak sempat menutup pintu itu rapat.Ketika Saka melewati teras mengikuti Pak Karmin, Ipah berdiri di ambang pintu dengan nampan teh. Ipah mengernyitkan hidung, lalu mengendus pelan.Ipah mendekat dan berbisik supaya tidak terdengar Pak Karmin. "Kamu kan cuci dari luar. Kok kausmu bau sabun mobil, Saka?""Kena cipratan, Bu."Ipah mengangguk, tetapi matanya bergeser ke pintu belakang mobil yang masih terbuka sedikit.Saka berjalan di belakang Pak Karmin menuju gerbang tanpa berani menoleh sekali pun. Mudah-mudahan Dona dan Nadia, dua makhluk astr
Dona mengambil anting itu dan memutarnya di bawah cahaya dari kaca depan. Wajahnya memucat ketika melihat bentuk anting itu, lalu ia berkata, "Ini bukan punya Ibu. Dona hafal semua perhiasan Ibu, dan nggak ada yang model begini."Nadia menatap bungkus kondom di tangannya, lalu menoleh ke Saka. "Kak, ini punya Kakak, ya? Di manga, barang begini biasanya ketinggalan tokoh utama yang nginep di mobil.""Aku cuma disuruh nyuci mobil ini, Nad. Nyetir aja nggak boleh, apalagi nginep," jawab Saka sambil menggeleng."Mobil ini cuma dipakai Bapak." Dona menggenggam anting itu erat-erat.Tidak ada yang bicara lagi. Dari luar terdengar tawa Pak Karmin, tetapi di dalam mobil, ketiganya diam.Saka teringat Ipah yang pucat melirik laci bufet tadi pagi. Saka belum tahu apakah lirikan Ipah itu ada hubungannya dengan benda-benda yang baru mereka temukan.Mata Nadia berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar. Nadia menggigit bibir itu, lalu mengusap matanya dengan punggung tangan. Dengan suara serak, ia berbis
Saka menatap pulpen merah muda yang tertahan di atas tanda tanya terakhir itu. Dengan wajah sedatar mungkin, ia menjawab, "Tanda seru buat apa, Nad? Ini bukan soal ujian. Aku tadi cuma buang sampah di belakang.""Sampah di belakang kok baunya melati, Kak?" Nadia memiringkan kepala dan mengendus lagi."Itu pengharum sampah. Merek Melati Jaya," sahut Saka tanpa berkedip.Nadia mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagunya. "Yang Nadia tahu, pengharum sampah di rumah ini wangi pandan."Saka berdeham dan mengangkat dagu, "Berarti stoknya baru ganti. Namanya juga ibu-ibu, suka ganti-ganti.""Ibu suka ganti-ganti? Ganti apa aja, Kak?" Nadia mengerjapkan mata dengan polos."Ganti merek, Nad! Merek pengharum!"Dari jendela lantai atas, kepala Dona menyembul. "Kak! Nad! Kelas kita mulai jam sepuluh, lho!"Nadia menutup bukunya, tetapi senyum manisnya tidak ikut tertutup. Sambil menyelipkan pulpen ke kuncir kudanya, ia berkata, "Tanda serunya Nadia simpan dulu ya, Kak. Nanti sore Nadia tagih penjelasann
Saka diam saja dan membiarkan omelan itu habis dengan sendirinya. Lama-lama suara Ipah melemah, kalimat terakhirnya terputus di tengah, lalu perempuan itu menunduk menatap lantai yang lembap.Dengan suara yang makin kecil, Ipah mengaku, "Utang Ibu ada di tiga tempat, Saka. Koperasi yang ditagih Bang Kohar itu, arisan Bu Retno, sama satu lagi yang Ibu malu nyebutnya. Terus Ibu pinjam sana buat bayar sini, sampai Ibu sendiri nggak tahu mana utang lama, mana utang baru.""Tiap hari Ibu ngatain kamu benalu, padahal Ibu sendiri yang hidup dari ngutang. Ibu malu, Saka," ucap Ipah dengan bibir tergigit. Air matanya jatuh ke lantai.Saka menggaruk tengkuknya dan memalingkan wajah ke arah gayung. "Nangisnya jangan di sini. Bak mandinya sempit, nanti kepleset. Aku bayar bukan buat bikin Ibu malu, cuma nggak mau rumah ini ribut sebelum Bapak pulang.""Ibu punya ide. Bu Retno, ketua arisan yang kemarin nelepon Ibu, udah setahun kena saraf kejepit. Tukang urut sama dokter nggak ada yang bikin semb
Saka bangkit dari bangku plastik. Kepalanya berdenyut, lalu sebuah ingatan terbuka. Suara laki-laki di bawah itu milik Bang Kohar, penagih koperasi keliling, dan Arsaka ingat Ipah mengunci diri di kamar tiap kali Kohar datang.Dona melipat tangan di bawah dada dan menyipitkan mata ke arah pagar. "Itu siapa, Kak? Kok manggil-manggil nama Ibu kayak orang nagih?""Orang salah alamat, Don. Kalian di atas aja, jangan turun," ucap Saka sambil melepaskan pegangan Nadia dari lengan kirinya.Nadia melongok ke arah suara dari sela tali jemuran. "Salah alamat kok tahu nama Ibu, Kak?"Karena tidak sempat menyiapkan alasan lain, Saka menjawab asal, "Namanya juga salah alamat, Nad. Tahu nama Ibu, tapi buta nomor rumah."Nadia menelengkan kepala dengan bibir mengerucut, jelas tidak puas dengan jawaban itu."Tocil, balik sini. Biarin Kakak yang urus." Dona menarik kaus adiknya menjauh dari sela tali jemuran, lalu menatap Saka dengan sebelah alis terangkat, tetapi tidak bertanya lagi.Saka menuruni ta







