Home / Fantasi / Cukup, Aku Gak Tahan! / Pingin Diangetin

Share

Pingin Diangetin

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-09-17 14:04:21

Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.

Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.

Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.

Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"

Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.

Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.

Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, seketika dia berucap dengan tatapan tajam. "Dua ratus ribu per rumah setiap bulan, kalian tilep dari catatan kas yang seharusnya masuk ke meja Pak RT Karmin! Kalian pikir, buku pembukuan manipulasi yang kamu sembunyikan selama tiga tahun ini tidak ada yang tahu?"

Wajah Paijo seketika berubah pucat pasi menyerupai warna kapur dinding saat menyadari, bahwa rahasia yang selama ini menjadi sumber penghasilan gelapnya berada di bawah telapak tangan pemuda ini.

Saka menekan sendi pergelangan itu setengah sentimeter lebih dalam. "Bagaimana kalau siang ini rekaman selisih kas itu kubawa ke rapat warga sekalian kuantar ke kantor polisi?"

Tubuh Paijo gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan kepanikan luar biasa. "Ja-jangan, Mas! Tolong jangan lapor ke Pak RT... ampuni saya, Mas Saka! Saya kapok!"

Saka menyentakkan tangan lawan ke depan dengan dorongan terukur.

Tubuh gempal Paijo terhuyung mencium rumput sebelum akhirnya pria itu terburu-buru merangkak bangun seraya memegangi lengan kanannya yang terkulai lemas.

Saka berdiri tegak melipat kedua tangannya di dada, menatap kedua perusuh itu dengan dingin. "Bawa badanmu keluar dari pekarangan ini. Kalau kakimu berani menginjak jalanan depan rumah ini lagi saat Bapak belum pulang, bukan cuma tanganmu yang kupatahkan, tapi seluruh sisa hidupmu bakal kuhabiskan di balik jeruji besi!"

Paijo tidak menoleh lagi; ia menarik kasar kerah jaket anak buahnya seraya terpincang-pincang. "Cabut! Cepat cabut dari sini!"

Ipah masih berdiri terpaku di dekat pot bunga dengan rahang bawah turun ke bawah, memandangi sosok Saka dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak percaya.

Di dalam lubuk hatinya, anak angkat yang selama ini selalu ia pandang remeh sebagai benalu rumah tangga baru saja berdiri melindungi harga dirinya dari hinaan preman jalanan tanpa meminta imbalan apa pun. "Kamu... dari mana kamu bisa belajar jurus silat seperti itu, Saka? Kenapa orang sebesar Paijo bisa tunduk dan ketakutan begitu sama kamu?"

Saka menolehkan pandangannya ke arah sang ibu tiri dengan ekspresi yang sepenuhnya datar dan tenang. "Tidak penting, asal Paijo tidak kembali lagi ke sini!"

Ipah menelan ludahnya seraya mengangguk pelan, kehilangan seluruh kata-kata ketus yang biasa ia gunakan untuk membentak pemuda itu.

Sarah melangkah mendekati Saka dengan langkah yang sangat pelan, memandangi pergelangan tangan sang adik angkat. "Tangan kamu tidak ada yang cedera kan, Saka? Terima kasih banyak udah mau nolongin aku."

Saka menatap mata jernih Sarah selama dua detik, lalu mengangguk singkat. "Aku baik-baik aja, Mbak, justru Mbak yang harus khawatir, apalagi ini udah jam 8, bentar lagi Mbak kerja."

Sarah tersipu dengan Saka, lalu bergegas membereskan selang dan segera bersiap ganti baju "Iya... aku berangkat dulu. Jaga rumah baik-baik, ya…"

Sementara itu, Ipah menghela napas panjang seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang. "Ibu mau masuk dulu ke dalam membuat teh hangat, kepala Ibu pusing sekali gara-gara orang tadi."

Langkah kaki Ipah menghilang di balik pintu ruang tamu, meninggalkan pekarangan rumah dalam kesunyian.

Dona dan Nadia langsung menerjang keluar dari pekarangan samping seraya berteriak histeris kegirangan. "Gila, keren banget! Sumpah, Kak Saka hebat banget tadi!"

Dona menubrukkan tubuhnya ke sisi kiri Saka tanpa mempedulikan pakaian tidurnya yang masih basah kuyup.

Tekanan kenyal dari sepasang buah melon ranum 36C miliknya menempel rapat pada otot bisep Saka, menghantarkan rasa hangat yang membakar kulit di balik kain basah. "Tanganku sampai lemas ngeliat Kak Saka gitu, loh! Serius, Kak Saka ganteng banget waktu garang tadi!"

Nadia melompat ke sisi kanan seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Saka dengan tawa bangga yang meluap-luap. "Tuh kan, aku bilang juga apa! Preman sombong itu langsung ditekuk kayak kerupuk basah sama jagoan akyuuu!"

Saka menghela napas seraya menarik langkahnya mundur untuk menjaga jarak dari himpitan tubuh basah kedua adik tirinya.

Maka, sebelum kelewat batas, Saka akhirnya menahan diri untuk tidak merespon mereka dan mengingatkan bahwa ini sudah siang dan mereka harus segera bersiap berangakt kuliah.

Namun, Nadia menyipitkan matanya seraya tersenyum nakal menatap bibir Saka.

"Enak aja, nyuruh bubar begitu! Tadi kan, Kak Saka sudah cape-cape jadi pahlawan buat Mbak Sarah, sekarang giliran kita berdua yang kasih hadiah spesial buat Saka!"

Jemari lentik Nadia menyentak ujung kaus Saka ke arah belakang, menyeret tubuh tegap pemuda itu memasuki lorong sempit di samping dapur.

Dona bergerak cepat menutup jalan mundur, mendorong pinggul Saka dari arah belakang dengan tekanan buah dadanya yang montok. "Ayo masuk ke dalam sini, Kak... badan kita berdua kedinginan banget, butuh diangetin sama jagoan keluarga kita."

Dorongan kuat kedua gadis itu memaksa tubuh Saka melangkah melewati ambang pintu kamar mandi belakang yang remang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Pingin Diangetin

    Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, se

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Keberanian Saka

    Brak! Brak! Brak!“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumb

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Main Air sama Nadia - Dona

    “Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras.“Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah.Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya.“Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?”Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya.“Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal.Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!”Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal.“Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram.Benar saja!Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Dua Jin Dasim

    "Siapa ini?"Tubuh Saka langsung menegang. Sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang, membuat selang air yang sedang dipegangnya hampir terlepas.Kepalanya tertunduk. Dilihatnya sepasang tangan mulus berkulit putih sedang memeluk perutnya. Jemari lentiknya bahkan bermain berputar-putar di area pusarnya, membuat Saka sedikit merasa geli.Ia hendak meraih sepasang tangan itu dan ingin dihempaskannya dengan kasar. Namun, ekor matanya menangkap sosok wanita yang ternyata bukan Dona ataupun Nadia.“Dia?” Seketika matanya membulat, karena wanita yang memeluknya ternyata adalah Sarah.Berbeda dengan beberapa saat lalu yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, kini Sarah sudah mengenakan kaus kebesaran yang longgar hingga menutupi tubuhnya. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.Tanpa mengatakan apa-apa, Sarah menyandarkan kepalanya di punggung Saka. Tubuhnya menempel lekat, hingga Saka bisa merasakan dua bukit kenyal gadis itu tertekan di p

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Si Cantik, Masa Lalunya

    “Dia … kenapa bisa ada di sini?”Saka masih berdiri mematung di tempat. Matanya terus mengikuti wanita yang berjalan perlahan ke arahnya.Semakin dekat, semakin jelas sosok wanita itu terlihat. Rambut panjang yang terurai sampai punggung, kulit putih bersih, leher jenjang, serta bentuk tubuhnya yang begitu sempurna membuat Saka seperti sedang melihat seseorang dari masa lalunya.“Tidak! Ini pasti cuma halusinasi. Tidak mungkin kalau dia adalah Sari,” gumamnya, menggeleng tak percaya.Sari, seorang wanita yang dulu sangat dia kagumi dulu. Bukan hanya cantik, tetapi kecantikannya seperti berada di tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh para lelaki biasa.Banyak pria yang pernah mencoba mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil meluluhkan hati Sari. Saka sendiri pun hanya mampu mengaguminya dari jauh. Sebab wanita secantik Sari tentu tak akan mau menerima cinta dari pria macam opet seperti dirinya.Dan sekarang, setelah mati lalu transmigrasi, wanita yang mirip dengan Sari

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Sedotan seperti di Manga

    “Ah! Kak Saka!" Tangan halus Nadia terus masuk ke dalam celana Saka dan meremas-remas tombak yang sudah mulai menegang.Darah Saka berdesir hebat. Miliknya terasa berdenyut dan basah, meskipun Nadia hanya meremasnya dari luar celana dalam.Dengan cepat, Saka melepaskan tangan Nadia dari miliknya. "Gadis gila! Apa yang kamu lakukan?” Ia menjauh dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Wajahnya tampak merah padam. Tombak pusakanya masih berdiri tegak akibat diremas-remas oleh Nadia. Sedangkan bibirnya juga masih basah gara-gara modus Dona memberikannya nafas buatan.“Kalian berdua jangan sentuh tubuhku lagi!” sentaknya kasar.“Loh, Kak Saka kenapa sih? Biasanya Kakak nggak pernah keberatan. Malah Kakak suka kalau dimanjakan sama kami," suara Nadia dibuat mendayu-dayu.Saka terdiam mendengar itu. Entah kenapa, seperti ada ingatan ke masa lalu. Ia seolah merasa jika selama ini memang selalu dimanjakan oleh kedua gadis cantik itu.“Aneh,” batinnya.Barusan dia sama sekali tidak menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status