INICIAR SESIÓNSaka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.
Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan. Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja. Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!" Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah. Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya. Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, seketika dia berucap dengan tatapan tajam. "Dua ratus ribu per rumah setiap bulan, kalian tilep dari catatan kas yang seharusnya masuk ke meja Pak RT Karmin! Kalian pikir, buku pembukuan manipulasi yang kamu sembunyikan selama tiga tahun ini tidak ada yang tahu?" Wajah Paijo seketika berubah pucat pasi menyerupai warna kapur dinding saat menyadari, bahwa rahasia yang selama ini menjadi sumber penghasilan gelapnya berada di bawah telapak tangan pemuda ini. Saka menekan sendi pergelangan itu setengah sentimeter lebih dalam. "Bagaimana kalau siang ini rekaman selisih kas itu kubawa ke rapat warga sekalian kuantar ke kantor polisi?" Tubuh Paijo gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan kepanikan luar biasa. "Ja-jangan, Mas! Tolong jangan lapor ke Pak RT... ampuni saya, Mas Saka! Saya kapok!" Saka menyentakkan tangan lawan ke depan dengan dorongan terukur. Tubuh gempal Paijo terhuyung mencium rumput sebelum akhirnya pria itu terburu-buru merangkak bangun seraya memegangi lengan kanannya yang terkulai lemas. Saka berdiri tegak melipat kedua tangannya di dada, menatap kedua perusuh itu dengan dingin. "Bawa badanmu keluar dari pekarangan ini. Kalau kakimu berani menginjak jalanan depan rumah ini lagi saat Bapak belum pulang, bukan cuma tanganmu yang kupatahkan, tapi seluruh sisa hidupmu bakal kuhabiskan di balik jeruji besi!" Paijo tidak menoleh lagi; ia menarik kasar kerah jaket anak buahnya seraya terpincang-pincang. "Cabut! Cepat cabut dari sini!" Ipah masih berdiri terpaku di dekat pot bunga dengan rahang bawah turun ke bawah, memandangi sosok Saka dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak percaya. Di dalam lubuk hatinya, anak angkat yang selama ini selalu ia pandang remeh sebagai benalu rumah tangga baru saja berdiri melindungi harga dirinya dari hinaan preman jalanan tanpa meminta imbalan apa pun. "Kamu... dari mana kamu bisa belajar jurus silat seperti itu, Saka? Kenapa orang sebesar Paijo bisa tunduk dan ketakutan begitu sama kamu?" Saka menolehkan pandangannya ke arah sang ibu tiri dengan ekspresi yang sepenuhnya datar dan tenang. "Tidak penting, asal Paijo tidak kembali lagi ke sini!" Ipah menelan ludahnya seraya mengangguk pelan, kehilangan seluruh kata-kata ketus yang biasa ia gunakan untuk membentak pemuda itu. Sarah melangkah mendekati Saka dengan langkah yang sangat pelan, memandangi pergelangan tangan sang adik angkat. "Tangan kamu tidak ada yang cedera kan, Saka? Terima kasih banyak udah mau nolongin aku." Saka menatap mata jernih Sarah selama dua detik, lalu mengangguk singkat. "Aku baik-baik aja, Mbak, justru Mbak yang harus khawatir, apalagi ini udah jam 8, bentar lagi Mbak kerja." Sarah tersipu dengan Saka, lalu bergegas membereskan selang dan segera bersiap ganti baju "Iya... aku berangkat dulu. Jaga rumah baik-baik, ya…" Sementara itu, Ipah menghela napas panjang seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang. "Ibu mau masuk dulu ke dalam membuat teh hangat, kepala Ibu pusing sekali gara-gara orang tadi." Langkah kaki Ipah menghilang di balik pintu ruang tamu, meninggalkan pekarangan rumah dalam kesunyian. Dona dan Nadia langsung menerjang keluar dari pekarangan samping seraya berteriak histeris kegirangan. "Gila, keren banget! Sumpah, Kak Saka hebat banget tadi!" Dona menubrukkan tubuhnya ke sisi kiri Saka tanpa mempedulikan pakaian tidurnya yang masih basah kuyup. Tekanan kenyal dari sepasang buah melon ranum 36C miliknya menempel rapat pada otot bisep Saka, menghantarkan rasa hangat yang membakar kulit di balik kain basah. "Tanganku sampai lemas ngeliat Kak Saka gitu, loh! Serius, Kak Saka ganteng banget waktu garang tadi!" Nadia melompat ke sisi kanan seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Saka dengan tawa bangga yang meluap-luap. "Tuh kan, aku bilang juga apa! Preman sombong itu langsung ditekuk kayak kerupuk basah sama jagoan akyuuu!" Saka menghela napas seraya menarik langkahnya mundur untuk menjaga jarak dari himpitan tubuh basah kedua adik tirinya. Maka, sebelum kelewat batas, Saka akhirnya menahan diri untuk tidak merespon mereka dan mengingatkan bahwa ini sudah siang dan mereka harus segera bersiap berangakt kuliah. Namun, Nadia menyipitkan matanya seraya tersenyum nakal menatap bibir Saka. "Enak aja, nyuruh bubar begitu! Tadi kan, Kak Saka sudah cape-cape jadi pahlawan buat Mbak Sarah, sekarang giliran kita berdua yang kasih hadiah spesial buat Saka!" Jemari lentik Nadia menyentak ujung kaus Saka ke arah belakang, menyeret tubuh tegap pemuda itu memasuki lorong sempit di samping dapur. Dona bergerak cepat menutup jalan mundur, mendorong pinggul Saka dari arah belakang dengan tekanan buah dadanya yang montok. "Ayo masuk ke dalam sini, Kak... badan kita berdua kedinginan banget, butuh diangetin sama jagoan keluarga kita." Dorongan kuat kedua gadis itu memaksa tubuh Saka melangkah melewati ambang pintu kamar mandi belakang yang remang.Saka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka
Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,
Pak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti
"Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s
Nadia mulai bergerak. Gerakan pertamanya kaku dan pendek, naik sedikit lalu turun lagi dengan hati-hati, sementara kedua tangannya bertumpu di dada Saka. Ibu jari Saka kembali memutar klitorisnya, dan gerakan pinggul Nadia lama-lama mengikuti irama ibu jari itu.Jepitannya rapat banget. Kalau aku ini pendekar yang lagi diuji, ujiannya bukan nahan pukulan, tapi nahan diri biar nggak bubar duluan."Kak… Kak, ini… aaah… beda sama tadi pagi… ini dari dalem…" Napas Nadia makin cepat, dan gerakannya makin berantakan.Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba. Kedua tangannya mencakar dada Saka, kepalanya terdongak, dan jeritan panjangnya pecah memenuhi kamar. Dinding vaginanya berdenyut kuat di sekeliling penis Saka, berulang-ulang, sampai Saka harus menggertakkan gigi dan menghitung dalam hati.Si bungsu ambruk ke dada Saka dengan dada naik turun. Rambut panjangnya menutupi wajah mereka berdua, dan keringatnya menempel di kulit kakaknya. "Kakak… belum, ya?""Belum, Cil. Kakak masih utang sama buk
Saka menatap alas kelinci itu, lalu menatap wajah adiknya. Kain putih bergambar puluhan kelinci kecil itu dipilih, dicuci, dan disetrika sendiri oleh gadis yang tadi pagi masih menulis naskah anime dua halaman.Anak ini nyiapin pertama kalinya kayak nyiapin pengantin. Kalau aku asal grusa-grusu, aku lebih brengsek daripada Paijo."Darahnya nanti nggak banyak, Nad. Kalau sakit, Kakak berhenti, dan alasnya bisa nunggu besok-besok," kata Saka sambil mengusap rambut di pelipis Nadia.Gadis itu bangkit duduk dan mendorong dada Saka sampai kakaknya rebah telentang. "Nggak mau besok-besok. Hari ini Senin, dan di buku Liga udah ditulis SENIN NADIA LUNAS. Terus Nadia mau di atas kayak di anime, biar Nadia yang ngatur cepet lambatnya.""Di atas itu jurus tingkat lanjut, Cil. Kamu baru lulus pemanasan.""Justru itu! Kalau di atas, Nadia yang pegang kendali, jadi sakitnya Nadia yang ngatur." Gadis itu sudah melepas kancing kemeja Saka satu per satu dengan jari yang kini tidak dingin lagi.Logikan







