Share

Sarah panik

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-30 19:45:41

Lengan kiri Saka dibalut sarung kotak-kotak milik Pak Darto ketika ia membuka pintu samping rumah pukul dua lewat. Ia berharap seisi rumah masih tidur, tetapi lampu ruang tengah menyala dan empat perempuan sudah berdiri di sana.

Bunyi kentongan tadi rupanya sampai ke kamar-kamar di lantai atas.

Sarah memegang kotak P3K putih, Dona membawa baskom berisi air hangat, Nadia memeluk handuk dengan dua tangan, dan Ipah berdiri paling depan dengan daster batik dan rambut yang belum disanggul.

"Ya Allah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kepleset sabun

    Saka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Ibu sudah tahu?

    Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kartu AS Pak Hartono

    Pak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Diusir

    "Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Duo bocil

    Nadia mulai bergerak. Gerakan pertamanya kaku dan pendek, naik sedikit lalu turun lagi dengan hati-hati, sementara kedua tangannya bertumpu di dada Saka. Ibu jari Saka kembali memutar klitorisnya, dan gerakan pinggul Nadia lama-lama mengikuti irama ibu jari itu.Jepitannya rapat banget. Kalau aku ini pendekar yang lagi diuji, ujiannya bukan nahan pukulan, tapi nahan diri biar nggak bubar duluan."Kak… Kak, ini… aaah… beda sama tadi pagi… ini dari dalem…" Napas Nadia makin cepat, dan gerakannya makin berantakan.Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba. Kedua tangannya mencakar dada Saka, kepalanya terdongak, dan jeritan panjangnya pecah memenuhi kamar. Dinding vaginanya berdenyut kuat di sekeliling penis Saka, berulang-ulang, sampai Saka harus menggertakkan gigi dan menghitung dalam hati.Si bungsu ambruk ke dada Saka dengan dada naik turun. Rambut panjangnya menutupi wajah mereka berdua, dan keringatnya menempel di kulit kakaknya. "Kakak… belum, ya?""Belum, Cil. Kakak masih utang sama buk

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kelincinya lucuk

    Saka menatap alas kelinci itu, lalu menatap wajah adiknya. Kain putih bergambar puluhan kelinci kecil itu dipilih, dicuci, dan disetrika sendiri oleh gadis yang tadi pagi masih menulis naskah anime dua halaman.Anak ini nyiapin pertama kalinya kayak nyiapin pengantin. Kalau aku asal grusa-grusu, aku lebih brengsek daripada Paijo."Darahnya nanti nggak banyak, Nad. Kalau sakit, Kakak berhenti, dan alasnya bisa nunggu besok-besok," kata Saka sambil mengusap rambut di pelipis Nadia.Gadis itu bangkit duduk dan mendorong dada Saka sampai kakaknya rebah telentang. "Nggak mau besok-besok. Hari ini Senin, dan di buku Liga udah ditulis SENIN NADIA LUNAS. Terus Nadia mau di atas kayak di anime, biar Nadia yang ngatur cepet lambatnya.""Di atas itu jurus tingkat lanjut, Cil. Kamu baru lulus pemanasan.""Justru itu! Kalau di atas, Nadia yang pegang kendali, jadi sakitnya Nadia yang ngatur." Gadis itu sudah melepas kancing kemeja Saka satu per satu dengan jari yang kini tidak dingin lagi.Logikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status