LOGINSemua orang menertawakannya si lemah, si pecundang, si “Bunga Layu” di Akademi Cahaya Jiwa. Tapi mereka tidak tahu, Bara menyimpan kekuatan yang tidak bisa dilihat siapa pun. Ia bukan kultivator biasa—ia adalah Kultivator Jiwa, penganut ajaran kuno yang melatih ketenangan, bukan amarah; pikiran, bukan tenaga. Saat para jenius sibuk mengejar pil dan kekuasaan, Bara justru menelusuri rahasia jiwa dan emosi manusia. Hingga suatu hari, Master Kegelapan menyusup ke akademi, menyebarkan ketakutan dan kekacauan. Saat semua orang runtuh, hanya satu sosok yang masih berdiri tenang: Bara. Dengan senyum santai dan jiwa yang tak terguncang, ia membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukanlah menghancurkan orang lain... tetapi menaklukkan diri sendiri. “Kultivator Jiwa Modern” kisah tentang ketenangan batin yang menjadi kekuatan absolut di dunia yang kacau.
View MoreCahaya dipusat dunia berputar pelan seperti lingkaran putih yang terus berputar. Bara berdiri paling depan, tubuhnya tegak, tapi kedua tangannya terlihat gemetar. Kael mendekatinya. “Hei… jangan diam terlalu lama. Kau buat aku gugup.” Gerry mengangkat tangan. “Aku dari tadi gugup! Aarrghh… aku tidak mau mati di bab terakhir!” Liora menoleh tajam. “Gerry. Tenang.” “Aku mencoba tenang!” Gerry menekan dadanya. “Tapi tempat ini sangat menakutkan!” Risa melangkah mendekat sambil memegang bahu Bara. “Bara… apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Bara menatap kepusat cahaya itu. “Jika aku tidak masuk ke inti, dunia akan runtuh. Tapi kalau aku masuk, mungkin aku tidak kembali.” Alen menarik baju Bara dari samping. “Paman Bara… jangan pergi sendirian…” Bara tersenyum kecil. “Paman tidak pergi untuk meninggalkan kalian. Paman pergi untuk membuat kalian tetap hidup.” Kael mengerutkan kening. “Kalau kau bicara seperti itu… terdengar seperti perpisahan.” “Karena memang begitu,” j
Suasana di ruang pusat semakin kuat. Cahaya dari inti dunia memancar dengan kuat, membuat bayangan bergerak seperti hidup. Bara berdiri paling depan, wajahnya tegang namun fokus. Kael melirik ke kiri dan kanan. “Sial… tempat ini seperti menunggu kita. Aku tidak suka tempat seperti ini.” Gerry menelan saliva. “Aduh… aku juga tidak suka. Kalau ini meledak, aku pasti pingsan.” Liora berjalan mendekati Bara. “Semua aliran energi ini mengarah padamu. Jika inti ini sudah aktif penuh, kau bisa terseret kedalamnya.” Bara menatap inti yang berputar terang. “Aku tahu. Tapi kita sudah terlalu jauh untuk mundur.” Risa mendekat sambil menggenggam tangan Alen. “Bara… apa kau yakin bisa menghentikan ini? Penjaga tadi mengatakan bahwa tidak ada jalan aman.” Bara menatap Risa. “Aku tidak butuh jalan aman. Aku butuh jalan yang tepat.” Kael mendengus. “Hei… jawabanmu itu selalu membuat aku tambah cemas.” Gerry langsung merespons cepat. “Iya! Kalau ada cara yang tidak membuat aku mati,
Bara berdiri di depan gerbang raksasa itu. Permukaannya berwarna abu gelap dengan garis cahaya tipis yang bergerak pelan, seperti nadi yang menunggu keputusan terakhir. Kael mendekat sambil mengusap wajahnya. “Aduh… tempat ini membuat kepalaku sakit. Gerbangnya seperti melihat kita.” Gerry memukul dadanya pelan. “Aarrghh… aku tidak mau masuk. Tolong katakan kalau kita punya pilihan lain.” “Tidak ada,” jawab Bara singkat. “Ini satu-satunya jalan menuju pusat.” Liora memeriksa ujung gerbang. “Bara, ada tanda Nada Ketiga di bagian samping.” Ia menyentuh sedikit, lalu menarik tangannya dengan cepat. “Panas.” Risa menggendong Alen lebih erat. “Jika kita masuk, apa yang menunggu kta di dalam?” Bara menatap gerbang itu tanpa bergeser. “Penentu akhir.” Kael menggeram pendek. “Brengsek… kalau yang menunggu itu makhluk aneh seperti Penjaga tadi, aku akan mundur sedikit, bukan lari, tapi… ya mundur.” Gerry menjitak lengannya sendiri. “Tolong jangan bercanda! Aku hampir pingsan
Lorong menuju pusat dunia semakin menyempit. Dinding batu bergetar pelan, seakan menolak kehadiran mereka. Kael mengangkat tangan. “Lihat itu… lantainya bergerak lagi.” Gerry langsung mundur satu langkah. “Aduh… jangan bergerak dulu. Kalau lantainya runtuh, aku ikut jatuh.” Liora menunduk, memperhatikan permukaan lantai yang bergeser perlahan seperti lempengan. “Ini bukan runtuhan. Ini sedang menyusun ulang jalurnya.” Kael mendesis. “Bagus sekali. Dunia ini punya kesadaran sekarang.” Bara berjalan paling depan. “Gerbang pusat ada di ujung koridor ini. Kita harus lanjut.” Risa memegang lengan Bara. “Tunggu. Saya dengar suara langkah dari kanan.” Kael menoleh cepat. “Apa lagi yang muncul kali ini?” Alen memegang tangan ibunya erat. “Ibu… aku dengar ada memanggil aku lagi.” Gerry langsung mengangkat kedua tangan. “Tidak! Jangan ikuti suara itu! Itu pasti jebakan! Pasti!” Liora menghunus belatinya. “Siap apa pun yang keluar.” Bara memejamkan mata sebentar, lalu men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.