LOGINHendra dan juga Hani yang akhir-akhir ini kerap berpergian di gunung, mereka berdua pun menjadi bahan omongan oleh ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung Bu Ani di pagi hari.
Hendra dan juga Hani yang sudah sampai di area pegunungan, mereka berdua langsung menbagi tugas. "Han gini aja, kamu cari tumbuhan yang bisa dimakan, biar aku yang nyari hewan disini". "Melihat kondisi hutan saat ini, emang ada hewan, paling juga semut yang ada, kemarin itu kak Hendra cuma lagi beruntung aja dapat kelinci"m "Hahahaha kita lihat aja nanti, udah ya kita berpencar, tapi jangan jauh-jauh, kalau kamu melihat binatang buas ataupun melihat binatang lainnya, bilang aja langsung sama aku". "Iya kak, yaudah aku cari tumbuhan dulu ya". "Ehh tunggu duluu". "Ada apa kak". "Pakai sarung tangan ini dulu" Hendra pun hampir kelupaan dengan sarung tangan yang ia beli dari toko sistem kemarin. "Lho kak Hendra dapat sarung tangan seperti ini dari mana". "Adalahh, udah pakai aja, biar tangan mu juga lebih aman, kalau nanti kamu salah ambil, tumbuhan berduri gitu". Mendengar hal tersebut, Hani pun langsung memakai sarung tangan pemberian kakak nya, dan Hendra, ia pun memastikan bahwa sarung tangan tersebut telah di pakai, ia pun langsung berburu hewan yang ada di sekitar. "Dengan mata X-ray ini, sangat membantu dalam berburu" dimana Hendra pun dapat melihat pergerakan hewan di sekian nya dengan jarak 1 km, bahkan pergerakan semut di dalam tanah pun Hendra juga dapat melihat nya. Dan dikarenakan hewan-hewan di sekitar Hendra masih sangat lah kecil, termasuk burung yang berterbangan ataupun menghinggap di ranting pohon masih sangat kecil, lantas Hendra pun membiarkan nya agar tumbuh lebih besar, dan Hendra langsung melanjutkan perjalanan nya untuk mencari hewan yang bisa dimakan. "Hahh aku gak salah lihatt, kenapa bisa ada ayam disini, apakah ini yang dinamakan ayam hutan, sepertinya sih iya, lihat bulunya yang sangat cantik berbeda dengan ayam di yang dirawat, mana besar banget lagi" mendapati hal tersebut, Hendra pun langsung mendidik, lalu melepaskan anak panahnya "Slasahhatt" dimana anak panah itu pun melesat dengan sangat cepat ke arah ayam hutan yang sedang mencari makan . "Headshoottt". "Wihh lagi-lagi tepat sasaran" Hendra pun langsung berlari untuk mengambil ayam hutan itu. *DING*. "Selamat tuan, berhasil mendapatkan 20 poin". "Wahh banyak juga poin yang didapatkan". *DING*. "Selamat tuan, mendapatkan 10 poin". "Selamat tuan, mendapatkan 10 poin". "Hahh apa ini, kenapa bisa tiba-tiba terdengar notifikasi seperti ini, padahal aku tidak mendapatkan apa-apa selain ayam ini, oohhhhh apakah mungkin karena hani telah mendapatkan beberapa tumbuhan jadi langsung menjadi poin, wahh baguslah kalau gitu". "Sistem berapa poin yang aku miliki saat ini". *DING*. "Sisa poin tuan saat ini 61". "Dengan 61 poin yang aku miliki saat ini, apa yang bisa aku tukarkan" pikir Hendra, dan Hendra pun langsung menggeser-nggeser layar yang ada di depannya untuk mencari barang yang bagus di toko sistem". "Fisikk? apa inii" ketika Hendra sedang asik menggeser layar, matanya pun tertuju dengan tulisan fisik, lantas karena penasaran Hendra pun langsung memencet tulisan tersebut. *DING*. "Fisik merupakan kondisi tubuh tuan yang dapat ditingkatkan dengan menukarkan poin, diantaranya terdapat kekuatan, kecepatan, stamina, kelincahan, dan juga kecerdasan, dengan tuan meningkatkan semua itu hingga level maksimal yaitu level 10, maka dapat dipastikan tidak ada yang bisa mengalahkan tuan" dimana di depan Hendra terdapat sebuah layar yang menampilkan postur tubuh manusia yang dapat ditingkatkan. "Wahh keren dong kalau gitu, hmm... tapi ini untuk meningkatkan semua ini hanya perlu 10 poin, wahh murah sekali, sistem tukarkan 10 poin dengan kekuatan, siapa tau kalau kekuatan ku bertambah maka akan mempengaruhi daya ledak senjata panah ini". *DING*. "Selamat tuan, kekuatan tuan telah naik ke level 2" dan seketika itu juga, Hendra merasa tubuhnya jauh lebih kuat dari pada sebelumnya. "Gilaaa hanya naik satu level saja aku merasa sudah bisa angkat beban 100 kg, apalagi kalau level maksimal hahahaha". "Kalau gitu tingkatkan level lagi aja ahh, 10 poin aja kok". "Apaaaaa" dimana ketika Hendra yang ingin meningkatkan level kekuatan nya, ia pun terkejut dari poin yang semula hanya 10 poin, namun kini berubah menjadi 30 poin. *DING*. "Semakin tinggi level tuan, maka untuk meningkatkan nya harus memerlukan banyak poin". "Oalahhh pantesan kok berubah menjadi 30 poin, kalau gitu tukar yang lain dulu aja, lumayan 30 poin". "Kakk Hendraaa tolong kakaa, haaaaaa" ketika Hendra sedang memikirkan ingin meningkatkan yang lain, tiba-tiba ia pun mendengar suara jeritan adik nya yang meminta tolong, mendapati hal tersebut, lantas Hendra pun langsung berlari ke sumber suara. "Hahhh babi hutann, hann tiarappp". "Apaaa tiarapp?" Hani yang sedang panik, ia pun bingung harus bagaimana. "Ayoo tiarap, berbaring di tanah" mendengar hal tersebut hani pun langsung melakukan apa yang disuruh oleh kakak nya. Dimana Hendra pun berkonsentrasi penuh untuk memanah babi tersebut, dengan semua kekuatan yang ia miliki saat ini, Hendra pun melepaskan anak panah nya. "Wuusshhhh" anak panah itu pun melesat sangat cepat, bagaikan kilatan petir yang dapat dilihat hanya sekilas. "Uugg, uugg, uugg" dan panah yang dilesatkan oleh Hendra dapat menghabisi babi hutan itu. "Han kamu gakpapa" ucap Hendra sambil membantu adiknya untuk berdiri. "Gakpapa kak". "Baguslah kalau gitu" setelah itu Hendra pun mengambil babi hutan yang saat ini terkapar di tanah. "Ini..... inii kak Hendra yang menghabisi babi hutan ini" ucap hani yang masih tidak percaya. "Iya lah siapa lagi, disinii aja cuma ada aku dan kamu" sahut Hendra. "Wahh hebat, kak Hendra hebatt, orang lain aja sangat takut dengan babi hutan, tapi kak Hendra dapat menghabisi nya". *DING*. "Selamat tuan, tuan telah mendapatkan 35 poin". "Uhuk-uhukkk" mendapati hal tersebut Hendra pun sangat terkejut lantaran mendapatkan poin yang sangat banyak. "Kak Hendra gakpapa kak". "Ahh tidak, aku tidak apa-apa, cuma aku sendiri saja masih tidak menyangka kalau aku sehebat ini, bahkan anak panah yang tadi aku lepaskan saja tidak tau sampai kemana setelah menembus babi ini". "Halahh kalau itu kan masih bisa buat lagi". "Hahaha iya-iya, yaudah lanjut berburu lagi, selagi masih pagi". "Iya kak" dan mereka berdua pun melanjutkan perburuan nya, dimana Hendra dan hani kembali berpencar. *DING*. "Selamat tuan, mendapatkan 12 poin". "Selamat tuan, mendapatkan 12 poin". Waktu pun terus berlalu, dimana matahari saat ini tepat di atas kepala, sehingga Hendra pun merasa kepanasan dan memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. "Hah hah hah, gilaa, semakin kesini semakin panas aja cuacanya kalau cuaca seperti ini terus berlanjut, yang ada hewan dan tumbuhan disini akan habis, ahh udah lah akhiri dulu disini lumayan dapat tambahan dua kelinci gemuk" *DING*. "Selamat tuan, tuan mendapatkan 25 poin". "Selamat tuan, tuan mendapatkan 25 poin". Mendengar suara tersebut, sambil istirahat Hendra pun melihat-lihat barang yang ada di toko sistem, Hendra pun tertuju dengan botol air minum. "Sistem tukarkan poin dengan dua botol air minum". *DING*. "Penukaran selesai". Dan seketika itu juga terdapat dua botol air minum di hadapan Hendra. "Wahh dingin lagii, cocok banget dengan suasana seperti ini" lantas Hendra pun langsung membuka sebotol air minum tersebut. "Wahhhh seger sekaliiii, baiklah kalau gitu mari pulang, perburuan hari ini sampai disini dulu" lantas Hendra pun langsung mencari adiknya untuk mengajak nya pulang. "Hannn, udah yok udah panas banget, mari pulang". "Iya kakk, hari ini sangat-sangat panas". "Yaudah ini minum dulu" ucap Hendra sambil melemparkan satu botol air minum yang tadi ia beli dari sistem kepada hani. "Lhoo kak Hendra dapat air minum dari mana?, emangnya disini terdapat warung kak?". "Hustt ngaco kamu ini, yakali disini ada warung, semisal ada juga kita membeli nya gimana, uang aja gak punya". "Eh iyaa benar juga, lah terus kak Hendra dapat dari mana". "Ini tadi aku menemukan dua botol air minum di jalan, sepertinya punya orang jatuh, terus aku lihat ternyata masih tertutup rapat, dan sudah aku minum satu botol, ini masih sisa setengah, tenang aja aman" ucap Hendra yang berusaha mencari alasan, karena tidak mungkin dirinya mengatakan kalau hal tersebut berasal dari sistem. Penasaran dengan hal tersebut, hani pun meminum botol minuman yang diberikan kakak nya. "Ehh iyaa kakk, seger banget, dingin lagi". "Ya mungkin karena disini semalaman, jadi dingin, kan disini kalau malam dinginnya gilaaa, sedangkan kalau siang panas nya juga gilaaa". "Iya juga sih". "Yaudah yok pulang". Mereka berdua pun langsung turun dari gunung, namun ditengah perjalanan pulang ke rumah, Hendra dan juga Hani dihadang oleh beberapa orang. "Ehhh.... siapa inii, bukankah ini kamu dra hahahaha sudah sangat lama aku tidak melihat mu, tambah kurus aja kamu dra". "Wihh kelinci, enak ini kalau dimakan, Sep coba lihat dia bawa kelinci". "Hendra, aku sarankan kamu serahin dua kelinci itu kepada kami, dengan begitu kami akan mempersilahkan mu untuk pergi sini". "Kalian berdua ambil kelinci itu" ucap Asep, ia yang bersama dengan dua temannya yaitu Haikal dan yono, mereka berdua pun menghadang Hendra di tengah jalan. "Enakk aja mau ambil ini, sana cari sendiri". "Eh ndra sadar diri dikit ngapa, tubuh mu itu udah kecil, percuma kamu ngelawan kami, hahahaha". "Kakk lebih baik kita serahin saja dua kelinci ini kepada mereka bertiga" Hani yang takut akan keributan, ia pun menyarankan kakak nya untuk menyerahkan kelinci tersebut. Selain itu Hani juga takut apabila kejadian dulu terulang kembali, dimana Hani melihat di depannya sendiri kakak nya dihajar habis-habisan oleh mereka bertiga. "Hahaha adik mu aja tau mana yang harus dilakukan, cepat serahkan kelinci itu kepada kami" ucap Asep. "Ehh enak aja, kita yang susah-susah cari di hutan, ini mau dikasihkan kepada mereka bertiga begitu aja". "Udah Han kamu disini aja, tenang aja percaya sama kakak mu ini" ucap Hendra sambil memukul dadanya sendiri. "Tapi kak.......". "Ehh Asep, Yono, Haikal, bagaimana kalau aku tidak ingin menyerahkan kelinci ini kepada kalian". "Hahahaha apaa? kamu tidak ingin memberikan dua kelinci itu, apakah kamu sudah lupa dengan kejadian dulu yang kami bertiga hajar kamu habis-habisan". "Sepertinya dia sudah lupa sep, lebih baik kita ingatkan dia lagi tentang kejadian itu". "Hahahah kalau gitu kalian berdua, cepat hajar dia, ingatkan dia dengan kejadian dulu". "Okee siapp" lantas Haikal dan juga yono, mereka berdua mendekati Hendra, sambil mengepalkan kedua tangan mereka. "Buuggggg" kelamaan, kalau mau berantem langsung saja, jangan kebanyakan gaya" ucap Hendra yang langsung melayangkan pukulannya ke arah Yono. Yono yang menerima pukulan tersebut di wajah nya, hanya dalam satu kali pukulan membuat Yono langsung terkapar dan tidak sadarkan diri. "Heii Yonoo, kenapa kamu tidur disini, ayo bangun kita hajar dia" ucap Haikal sambil menendang-nendang yono yang terkapar di tanah. Namun ketika tidak ada respon dari yono, Haikal pun langsung memeriksa nya. "Yono sudah pingsan Sep". "Apaaa, dia pingsan hanya dalam satu pukulan". "Inii.... bagaimana mungkin, bocah itu sekuat ini, perasaan kemarin dia masih bocah ingusan, yang ketiup angin aja udah terbang, lahh inii hanya dalam satu pukulan bisa membuat Yono tidak sadarkan diri". "Haikal, cepat hajar dia, jangan main-main dengan nya" asep yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, ia pun menyuruh Haikal untuk menghajar Hendra. "Okee siap sep tenang aja, aku tidak selamah Yono". "Mampus kauu sialannnn" teriak Haikal yang melayangkan pukulannya ke arah Hendra. "Kakk awassss" teriak Hani. "Wusshhhh" namun pukulan yang dikeluarkan oleh Haikal dengan mengerahkan semua tenaga nya, dapat dengan mudah ditangkap oleh Hendra . "Bannggggg" dan tanpa pikir panjang, Hendra langsung memberikan perlawanan, ia pun memukul kepala Haikal. Sama seperti Yono, Haikal pun dibuat tidak sadarkan diri setelah menerima pukulan dari Hendra. Mendapati hal tersebut, Hendra dengan langkah kaki perlahan demi perlahan, ia mendekat ke arah Asep. "Apa yang ingin kamu lakukan, jangan macam-macam kepada ku, atau aku bilangin hal ini kepada ayah ku, dengan begitu kamu tidak akan bisa hidup tenang di desa ini". Mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, langkah kaki pendek pun langsung terhenti. Asep yang melihat Hendra tidak lagi mendekat ke arah nya, ia pun merasa bahwa hendra takut dengan ancaman yang diberikan olehnya. "Hahahaha kenapa diam seperti itu, ayok kesini kalau berani, kenapa takutt? hahahaha". "Baiklah aku akan memaafkan apa yang telah kamu lakukan kepada teman-teman ku, dengan syarat kamu memberikan dua kelinci itu kepada ku, lalu bersujud di hadapan ku, hmm dilihat-lihat adik mu cantik juga, bagaimana kalau aku main dengan adik mu satu malam hahahaha". "Bagaimana tawaran yang bagus bukan, cepat lakukan apa yang aku suruh tadi" asep dengan penuh kesombongan, ia pun menunggu Hendra bersujud di hadapan nya. "Iya betul tawaran bagus, kalau begitu ambil sendiri kelinci ini" ucap Hendra sambil menyodorkan dua kelinci di hadapan Asep. "Kakkkk...". "Udah tenang aja kamu Han". Asep yang melihat dua kelinci di tangan Hendra, ia pun langsung ingin merebut kedua kelinci tersebut. "Bagggg". "Baagggg". "Boommmm" namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Hani tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat. Dimana ketika Asep mendekat untuk mengambil dua kelinci itu, Hendra pun langsung memberikan serangan bertubi-tubi ke wajah Asep. Meskipun begitu, Asep yang menerima pukulan demi pukulan dari Hendra, ia pun hanya terbaring lemas, tapi masih sadarkan diri. "Kalau kamu hanya menginginkan dua kelinci ini, mungkin aku bisa memikirkan nya, namun berani-berani nya kamu ingin menyentuh adik ku" ucap Hendra yang langsung mendekat ke arah asep yang terbaring lemas di tanah. "Uhukkk, Hendra kalau ini mau, maka jangan harap setelah ini kamu bisa hidup tenang di desa ini hahahahaha" dengan dar*h yang keluar dari mulut nya, Asep pum tertawa sangat keras. "Kebanyakan bac*tt". "Booommmmm" Hendra pun langsung mengakhiri nya". "Hann ayok kita pulang". "Iya kakk" sahut Hani, dimana Hani yang tidak pernah melihat kakak nya marah, namun setelah ia melihat nya, hani pun merasa takut dengan kakak nya sendiri. Lantas mereka berdua pun langsung kembali ke rumah, sesampainya di rumah, Hendra dan juga Hani langsung beristirahat. "Kaakk, bagaimana kalau mereka bertiga itu datang kesini untuk membalaskan dendam". "Udahh kamu tenang aja, kalau mereka ingin datang kesini hanya untuk membalaskan dendam, maka aku akan menemani permainan mereka". Mendengar hal tersebut, Hani pun tidak lagi melanjutkan pembahasan mengenai kejadian tadi. "Ehh iya kak, dengan daging sebanyak ini apakah kita berdua dapat menghabiskan nya, sepertinya sangat susah kak, kalau nanti ada daging yang busuk gimana?, kan sangat disayangkan". "Iya juga, dengan hanya kita berdua di rumah ini, tidak mungkin kalau kita dapat menghabiskan daging sebanyak ini" lantas Hendra pun memikirkan cara mengenai daging-daging tersebut. "Ahhhaaaa aku ada ide, babi hutan ini aku jual aja ke pasar, pasti akan dapat banyak uang". "Oh iyaa benar kakk, dengan begitu kita dapat membayar hutang kemarin dengan bu Ani". Setelah mereka berdua berdiskusi mengenai babi hutan yang akan dijual di pasar, lantas Hendra pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke pasar.Hendra yang mendapatkan informasi dari sistem, kalau terdapat beberapa cara untuk memulihkan tenaga dalamnya ataupun menambah tenaga dalamnya, diantara cara yang disampaikan oleh sistem yaitu dengan cara menyerang energi pada batu giok. Mendapati hal itu, Hendra pun langsung saja pergi ke kota, dan ke pasar tempat sebelumnya Hendra membeli batu giok, namun sampai disana Hendra pun tidak melihat adanya penjual batu disana. Bingung harus pergi kemana, Hendra pun teringat dengan adanya kakek-kakek yang memberikan nya kartu nama. "Ahh untung saja kartu nama ini masih ada, kalau begitu langsung saja pergi kesana, siapa tau disana ada beberapa hal yang bermanfaat" lantas Hendra pun lantas mengikuti alamat yang ada pada kartu nama itu. selang beberapa menit Hendra yang terus mencari alamat itu, dengan bantuan oleh orang-orang disekitarnya, sehingga Hendra pun telah sampai di tempat yang dituju. "Astaga besar sekali rumah ini, ini serius aku tidak salah tempat" pikir Hendra, dan ia
Hendra yang melihat sudah tidak ada waktu lagi, ia pun langsung memeriksa kondisi kakek Bejo, dan Hendra pun sangat dibuat terkejut setelah ia memeriksa nya. Dimana Hendra mendapati bahwa tubuh kakek Bejo sudah sangat hancur, meskipun dari luar terlihat biasa saja. "Hmm sepertinya aku harus menggunakan 7 jarum surgawi, meskipun 7 jarum surgawi tidak bisa secara langsung menyembuhkan kakek, akan tetapi 7 jarum itu dapat memulihkan kondisi kakek 70%, dan nanti bisa dilanjutkan akupuntur lagi" gumam Hendra, dimana Hendra pun menggunakan tenaga dalam yang ia miliki, untuk menggerakkan setiap jarum yang ada. "Kemampuan ini, apakah ini yang dinamakan menggerakkan jarum dengan energi, busettt masih bocah sudah bisa menggunakan kekuatan seperti ini" ucap dokter Rey, yang merupakan dokter yang mengawasi Hendra, dan dokter yang bertaruh dengan Hendra sebelumnya. "Wuuussshhhh" sekali hentakan, 7 jarum itu pun langsung menancap ke tubuh kakek Bejo dengan sendirinya Hendra pun terus mengguna
Hendra yang telah berhasil mendapatkan satu set jarum akupuntur, setelah ia menukarkan nya dengan poin yang ia miliki, selanjutnya Hendra pun kembali ke rumah sakit lestari. Sesampainya di rumah sakit, Hendra yang mendapati bahwa kakek Bejo saat ini masih di rawat oleh dokter, dan Hendra yang melirik ke arah nenek nya yang saat ini terlihat sangat lemas, hal itu membuat Hendra ingin menyembuhkan nenek nya. "Nek apakah nenek merasa capek dan pusing". "Hahh kenapa kamu bisa tau ndra" dengan suara yang lemas, nenek Romlah pun penasaran bagaimana Hendra dapat mengetahui nya. "Ahhh gausah dipikirkan bagaimana aku bisa tau, yang pasti aku akan mencoba untuk menyembuhkan nenek". "Kakkk udah lah kakk, nenek sedang mau istirahat, jadi jangan diajak bercanda seperti itu" sahut Hani yang menganggap apa yang keluar dari mulut kakak nya itu merupakan candaan. "Siapa juga yang bercanda, udahh kamu diam aja kalau kamu gak percaya". "Nekk, mungkin akan ada sensasi terkejut setelah aku m
Ketika nenek Romlah dan Andika sedang menunggu kakek Bejo di luar ruangan, mereka berdua pun dikejutkan dengan dokter dan beberapa perawat lainnya yang datang. "Ada apa dok, kenapa kalian semua datang kesini, apakah ada sesuatu dengan suami ku" Ucap nenek Romlah. Setelah mengetahui bahwa dokter tersebut mendapatkan laporan bahwa pasien sedang dalam keadaan kritis, hal itu membuat nenek Romlah sangat terkejut, dan dokter itu pun langsung masuk kedalam ruangan. Tak lama setelah itu, datanglah Hendra dan juga Hani "Ndra apakah kamu yang bilang kepada dokter kalau kakek mu sedang dalam keadaan kritis". "Iya nek". "Kakk, kenapa kak Hendra bisa tau kalau kakek saat ini sedang kritis" Ucap Andika. "Hmm susah menjelaskan nya, kita lihat aja nanti". Tak lama setelah itu dokter yang merawat kakek bejo itu pun keluar dari ruangan, dimana dokter itu terlihat sangat panik setelah keluar dari ruangan. "Dok, bagaimana dengan kondisi suami ku dok". "Kondisi pasien saat ini sangat be
Hendra yang sudah menjual hasil buruannya kepada bos Cahyo, dan juga Hendra yang mendapatkan uang lebih, lantas mereka berdua pun langsung segera menuju ke rumah sakit lestari untuk melunasi biaya operasi kakek Bejo. Akan tetapi ketika Hendra bersama Reno baru saja berjalan beberapa langkah, Reno pun mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya, lantas Reno pun mengangkat panggilan telepon tersebut, dimana setelah Reno melakukan panggilan telepon, ia mendapati bahwa kakek nya sedang di rawat di rumah sakit madika. Dikarenakan perbedaan rumah sakit, lantas Hendra dan Reno pun berpisah, mereka berdua pun menuju ke rumah sakit masing-masing. Hendra yang sudah sampai di rumah sakit lestari, ia pun langsung menemui Hani dan yang lainnya. "Nenek, bagaimana dengan kondisi kakek nek, apakah kakek Bejo baik-baik saja". "Ah Hendra, akhirnya kamu datang juga, tadi kata dokter yang melakukan operasi kepada kakek Bejo, dia mengatakan bahwa kondisi kakek Bejo saat ini sudah baik-baik saja, akan
Setelah Hendra dan Reno turun dari gunung, mereka berdua pun langsung membawa hasil tangkapan mereka yaitu ada babi dan kelinci ke kota untuk dijual. Dimana Hendra tanpa pikir panjang langsung menuju ke toko restauran milik bos Cahyo yang berada di pusat kota. Sesampainya Hendra di restoran bos Cahyo, satpam yang bertugas menjaga keamanan itu pun langsung mengenali nya, dan mereka langsung membawa Hendra di ruangan bos Cahyo. "Ehhh Hendra, ada apa lagi ndra, mau jual hasil tangkapan, wahhh gilaaa juga kamu, setiap hari menjual hasil tangkapan, padahal aku denger dari orang-orang saat ini sangat susah untuk berburu, melihat cuaca yang sangat panas dan musim kemarau". "Hmm iya betul sih bos, untuk saat ini emang susah berburu, namun aku sendiri pun tidak tau keberuntungan apa yang berpihak kepada ku, sehingga aku bisa mendapatkan hasil tangkapan seperti ini". "Sepertinya keberuntungan mu tidak hanya berburu ndra, kemarin aja kamu bisa mendapatkan uang dari beli batu". "Hahahaha na







