DEAR EX-ALPHA, GET ON YOUR KNEES!

DEAR EX-ALPHA, GET ON YOUR KNEES!

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-19
Oleh:  T.TamaraTamat
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
9.2
9 Peringkat. 9 Ulasan-ulasan
201Bab
35.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

I would say all I wanted was to find my mate and live a peaceful life, but I would be lying; all I wanted was to go to the palace, give up my life, and have them send me to the other side of the world. If it were up to me, I would have done that the very first day everything turned upside down, but that’s far from what Alpha Zander wanted; he wanted me to experience hell on earth; he said death was more than I deserved; accidentally killing not one but two of his mates would cost more than my life; he kept me alive as a slave, tortured, humiliated, and if possible, took my soul, so when I turned out to be his mate as well, it didn’t come as a surprise for him to reject me and bound my powers and send my wolf into a deep slumber; it was no surprise his parents chose him a chosen mate; those people adored their perfect luna, Jocelyn, my dead sister—his first mate. And just when I thought my life couldn’t get any worse, I found myself on the auction stage, men bidding for me like I was some kind of property, and next the ruthless Alpha, who, by the mention of his name, people trembled bought me, “bride, not slave,” his three words. I learned that even though he was ruthless, he was soft on me, and not only that, we had a common enemy (Alpha Zander), and he was willing to help me get my revenge. Oh, Alpha Zander, get ready to be on your knees because my mate and I are coming for you!

Lihat lebih banyak

Bab 1

001

"Setiap manusia berhak untuk mendapatkan kesempatan bertobat. Tapi tidak berhak melakukan pembalasan dendam. Hanya Allah yang bisa menghakimi hamba-Nya dengan seadil mungkin," ujar Umi Hafsah mengakhiri kajian hari ini.

Para jemaah yang terdiri dari kaum hawa itu tampak mendengarkan dengan saksama. Mereka sangat berantusias sekali mengikuti tausiyah yang dibawakan oleh Umi Hafsah. Seorang Ustadzah yang bertutur kata lemah lembut, ramah, baik dan keibuan.

"Umi, pulang naik apa?" tanya seorang wanita berkerudung.

Sambil tersenyum Umi Hafsah menjawab, "Naik ojek."

"Mau bareng sama saya Umi, kebetulan kita searah!" ajak wanita berkerudung itu lagi.

"Terima kasih, lain waktu ya, Umi sudah pesan ojek online," tolak Umi Hafsah yang tidak mau merepotkan.

Wanita itu pun berpamitan, "Baiklah, kalau begitu saya duluan ya Umi!"

Biasanya Umi Hafsah, kalau sedang memberikan tausiyah diantar sama supir. Tapi sudah beberapa minggu ini pulang kampung, jadi terpaksa berangkat dan pulang sendiri.

Tiba-tiba orderan ojek Umi Hafsah dibatalkan oleh Driver. Ia segera memesan lagi, tetapi setelah menunggu cukup lama tidak juga dapat.

"Setelah pembegalan tempo hari, jarang ojek online yang mau masuk ke kampung ini Umi. Lebih baik Umi naik angkot saja dulu. Nanti di jalan besar baru pesan ojek online!" saran seorang ibu-ibu sekitar.

"Oh begitu, terima kasih atas informasinya Bu," ucap Umi Hafsah yang segera naik angkot bersama-sama warga lainnya.

Satu persatu penumpang turun, tinggal Umi Hafsah dan dua orang wanita lagi . Tiba-tiba seorang pria menodongkan pisau ke arah penumpang.

"Berhenti Pak Sopir. Cepat serahkan dompet, handphone, dan perhiasan kalian!" seru pencopet itu dengan lantang. Sehingga membuat korban ketakutkan.

"Astagfirullah alazim, silahkan ambil tapi jangan sakiti siapa pun!" ujar Umi Hafsah sambil memberikan dompetnya.

Setelah berhasil menggasak barang-barang pribadi penumpang, pencopet itu segera turun dari angkot. Akan tetapi, baru beberapa langkah, tiba-tiba seorang penumpang wanita yang memakai masker mengejarnya. Ia langsung melayangkan tendangan, hingga pencopet itu tersungkur.

"Kalau sayang sama nyawamu, kembalikan barang-barang kami!" ancam wanita itu yang sudah siap mengambil kuda-kuda.

"Perempuan kurang ajar, rasakan ini. Hiaat ....!" sahut pencopet itu yang segera menyerang sambil menyabetkan belati.

Akan tetapi, dengan dua kali gerakan saja. Pencopet itu berhasil dikalahkan dengan mudah. Bahkan dibuat tidak sadarkan diri di tempat.

Wanita yang memakai masker itu segera mengambil barang-barang yang dirampas pencopet tadi dan mengembalikan kepada pemiliknya.

"Terima kasih, siapa namamu Nak?" ucap Umi Hafsah dengan wajah yang tegang.

"Yura, Bu," jawab gadis itu sambil menyalami tangan Umi.

Pencopet itu dibawa ke kantor polisi oleh supir angkot dan Umi Hafsah diantar pulang oleh gadis yang menolongnya.

"Ayo silahkan masuk, jangan sungkan dan anggap rumah sendiri ya. Ibu mau bikin minum dulu!" ujar Umi Hafsah yang ingin menjamu tamunya.

Gadis bernama Yura menelisik depan rumah itu dengan saksama. Tempat tinggal yang sederhana, tapi memiliki teras yang cukup luas. Di pekarangan tumbuh subur pohon mangga, rambutan dan beberapa jenis bunga yang rindang. Sehingga membuat susana jadi sejuk dan asri. Ia merasakan rumah ini begitu tenangan dari tempat-tempat yang pernah disinggahi.

Tidak lama kemudian Umi Hafsah sudah kembali lagi. Sambil membawa dua gelas es teh manis dan stoples cemilan.

"Silahkan dicicipi!" ujar Umi Hafsah sambil duduk di samping gadis itu. "Oh ya, kamu dari dan mau ke mana?" tanyanya ingin tahu.

"Saya dari kampung Bu dan sedang mencari pekerjaan di Jakarta," jawab Yura yang membawa sebuah tas ransel, entah apa isinya.

Umi Hafsah kembali bertanya, "Punya saudara atau teman di sini?"

"Nggak ada, saya merantau sendirian, tapi belum dapat pekerjaan," jawab Yura kembali.

Umi Hafsah tampak mengangguk kecil, setelah sejenak berpikir kembali melanjutkan pembicaraan.

"Bagaimana untuk sementara waktu kamu bermalam di rumah ini, Umi tinggal sendirian?" Umi Hafsah menawarkan.

"Ibu tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" tanya Yura tidak percaya.

Umi Hafsah tampak mengangguk dan menjelaskan, "Sebenarnya Umi punya tiga orang anak, laki-laki semua. Dua orang sudah menikah dan masing-masing sudah punya rumah sendiri, sedangkan yang paling sulung masih single dan jarang pulang. Makanya Umi memberikan tausiyah agar tidak jenuh di rumah. Ya Itung-itung cari bekal, kalau suatu saat dipanggil sama Allah."

"Kenapa Ibu tidak ditemani asisten, nanti kalau ada orang jahat kayak tadi lagi bagaimana?" tanya Yura dengan heran.

"Umi bingung mau melakukan apa kalau ada asisten, waktu jadi terasa lama. Soal orang jahat Umi yakin Allah pasti memberikan perlindungan untuk hamba-Nya. Seperti hari ini, pertolongan-Nya datang melalui kamu," jawab Umi Hafsah yang membuat Yura tampak tertegun mendengarnya.

Kata-kata Umi Hafsah telah membuat rasa bangga sebagai penyelamat di hati Yura seketika hancur. Seolah menamparnya kalau tidak ada kekuatan yang lebih hebat dari kekuasan-Nya.

"Bagaimana kamu mau nggak tinggal di rumah ini sama Umi?" tanya Umi Hafsah kembali.

"Terima kasih banyak, saya mau Bu," jawab Yura menerima tawaran itu.

"Alhamdulillah, maaf, apakah Umi boleh lihat wajah Yura?" sahut Umi Hafsah yang ingin mengenal gadis berpenampilan tomboi itu lebih jauh lagi.

Yura merasa tidak enak dan segera membuka masker yang dipakainya. Ia kemudian tersenyum sambil menatap Umi Hafsah.

"Masya Allah," ucap Umi Hafsah yang terpukau.

***

Hari demi hari berlalu Yura semakin betah tinggal di rumah Umi Hafsah. Ia belajar banyak dari wanita paruh baya itu. Mulai dari membantu melakukan pekerjaan rumah tangga sampai ilmu agama. Sifat keibuan Umi Hafsah membuat Yura nyaman, seolah mendapatkan kasih sayang seorang dari ibu kandung.

Sementara itu Umi Hafsah semakin menyayangi Yura. Apalagi setelah mendengar cerita kalau gadis itu yatim piatu dari kecil dan harus merantau ke Jakarta karena panti asuhannya kena gusur. Sehingga membuat keduanya semakin dekat. Seperti ibu dan anak kandung saja karena ke mana-mana selalu berdua. Bahkan gadis itu dibuatkan kartu tanda penduduk yang beralamatkan rumah Umi Hafsah.

"Umi, saya baru jadi mualaf. Tolong ajari saya agama islam lebih banyak lagi!" pinta Yura dengan penuh harap.

"Alhamdulillah, dengan senang hati Umi akan ajari kamu. Nanti habis salat magrib kita belajar ngaji ya!" sahut Umi Hafsah yang membuat Yura tersenyum senang.

Dengan sabar dan telaten, Umi Hafsah mengajarkan dasar-dasar agama islam, ilmu fiqih, tauhid dan cara membaca huruf-huruf hijayah. Yura juga sering dinasehati arti kesabaran, keikhlasan dan terutama dalam hal berbagi kepada sesama. Seperti hari ini ia sedang belajar mengaji dengan baik dan benar.

"Masya Allah, kamu pintar sekali Yura," puji Umi Hafsah yang semakin kagum dengan daya ingat gadis itu. Cuma sekali dijelaskan langsung cepat tanggap.

"Assalamualaikum," ucap seseorang dari luar rumah.

"Waalaikumsalam," sahut Umi Hafsah yang sudah hafal dengan suara itu. "Kita sambung besok lagi ya Yura!" ujarnya kemudian. Ia segera membukakan pintu dan tersenyum melihat seorang pria berusia tiga puluh lima tahun.

Pria itu segera menyalami Umi Hafsah dan mendaratkan di dahinya. Ia kemudian melihat Yura yang sudah memakai masker dengan heran.

"Bodyguard Umi," bisik Umi Hafsah sambil tersenyum.

Sambil mengernyitkan dahinya pria itu menegaskan, "Tiba-tiba perasaan aku kok nggak enak ya Umi."

Umi Hafsah tampak terkekeh dan memanggil, "Yura, sini!"

Yura langsung menghampiri sambil menyahuti, "Saya Umi."

"Kenalkan ini putra sulung Umi, namanya Abidzar," ujar Umi Hafsah mengenalkan anak lelakinya.

"Yura," jawab gadis itu sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

Abidzar tampak tersenyum sehingga membuat pria dengan tubuh kekar dan tinggi 175 cm itu terlihat manis. Apalagi dengan brewok tipis membuatnya terlihat gagah.

"Yura kamu siapkan makan malam ya!" seru Umi Hafsah yang langsung dikerjakan oleh Yura.

"Serius, dia bodyguard Umi atau asisten baru?" tanya Abidzar menegaskan.

"Yura sudah yatim piatu dari kecil dan besar panti asuhan. Dia .... " Umi Hafsah menceritakan latar belakang Yura yang sangat memprihatinkan.

Setelah mendengar cerita ibunya, Abidzar bertanya, "Terus Umi mau mengangkatnya jadi anak?"

"Iya, tapi dengan menjadikannya menantu," jawab Umi Hafsah membuat Abidzar yang baru masuk ke rumah langsung terkejut.

BERSAMBUNG

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasanLebih banyak

Stephanie
Stephanie
Great book
2025-02-13 05:36:03
2
1
Annie
Annie
Great read!
2025-01-11 08:08:47
5
1
Erika Simontov
Erika Simontov
Love this book so far.
2024-11-08 10:40:12
10
1
Florence Lf
Florence Lf
Great read so far, keeps your attention.
2024-11-01 22:04:07
9
1
Christine Owings
Christine Owings
30 chapters 9/26/24
2024-09-27 03:51:41
11
0
201 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status