مشاركة

06. Pesta Mewah

مؤلف: Miaoutumi01
last update آخر تحديث: 2026-01-22 17:23:58

Los Angeles, California – Pukul 18.45 sore, tiga hari kemudian

Sebuah surat undangan bergelang emas dengan logo Aquello Properties yang dicetak dengan huruf emas timbul terletak di atas meja kerja Arrabela di kantor Castellano Jewels.

Kertas berkualitas tinggi dengan tekstur lembut terasa dingin di ujung jarinya saat dia mengambilnya dengan hati-hati. Di dalamnya tertulis undangan untuk menghadiri pesta peluncuran proyek Aquello Residences Beverly Hills, yang akan diadakan di mansion milik keluarga Aquello di kawasan Pacific Palisades.

“Pesta eksklusif untuk kalangan atas kota,” gumam Arra sambil membaca kata-kata yang sopan namun penuh dengan nuansa kemewahan.

Dia melihat ke arah cermin kecil di sudut ruangan, memperhatikan penampilannya yang biasa saja – rambut pirang yang tergerai, gaun kerja yang sedikit kusut, dan tangan yang masih sedikit terkena debu batu permata.

“Kamu harus datang, sayang,” suara Fellicia terdengar dari belakangnya. Ibunya membawa sebuah kotak kecil yang terlihat mahal.

“Mama sudah menyediakan gaun untukmu – desain khusus dari Serena Paris. Papa berpikir ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk mempererat hubungan dengan keluarga Aquello.”

Arra menghela nafas dengan perlahan. Dia tahu tidak bisa menolak keinginan orang tuanya, terutama setelah kerja sama antara kedua perusahaan baru saja berhasil disepakati.

“Baiklah, Mama,” jawabnya dengan nada pasrah. “Aku akan datang.”

Saat malam menjelang, sebuah mobil limusin putih mengantar Arra ke mansion Aquello yang terletak di atas bukit dengan pemandangan lautan Pasifik yang memukau.

Pagar besi tinggi yang mengelilingi tanah seluas beberapa hektar sudah terbuka lebar, dan jalan masuk yang ditanami dengan bunga mawar merah dan putih mengarah ke bangunan bergaya Mediterania yang megah.

Lampu-lampu hias yang terpasang di pepohonan menerangi jalan dengan cahaya lembut, menciptakan suasana yang romantis namun tetap elegan.

Di dalam halaman mansion, mobil-mobil mewah dari berbagai merek terkenal seperti Rolls-Royce, Bentley, dan Ferrari terparkir rapi.

Musik jazz instrumental yang lembut mengalir dari speaker tersembunyi, sementara pramusaji berpakaian seragam putih dan emas menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan gelas champagne.

Arra masuk ke dalam mansion dengan hati-hati, gaun malam berwarna biru muda yang dikenakannya melayang lembut setiap kali dia berjalan.

Gaun dengan renda renda halus di bagian lengan dan renda yang jatuh ke tanah itu membuatnya terlihat seperti seorang putri, namun dia masih merasa tidak nyaman di tengah keramaian orang-orang berpakaian mewah yang bercakap-cakap dengan bahasa bisnis dan gaya hidup kelas atas.

Dia pergi ke sudut ruangan yang lebih tenang, mengambil segelas jus buah karena dia tidak suka minuman beralkohol.

Dari kejauhan, dia melihat Ares sedang berdiri bersama sekelompok teman bisnisnya, mengenakan jas hitam dengan dasi yang membuat tampilannya cukup mencolok.

Wajahnya tetap dingin seperti biasa, namun tatapannya tajam dan penuh perhatian saat mendengarkan pembicaraan teman-temannya.

“Saya mendengar kamu adalah orang yang membuat kalung untuk klien Singapura,” suara seorang wanita muda dengan rambut pirang panjang yang mengenakan gaun merah anggur mendekatinya.

Dia adalah Sophia, salah satu teman masa kecil Ares yang juga berasal dari keluarga konglomerat.

“Aku tidak menyangka keluarga Castellano punya putri yang bisa membuat sesuatu yang begitu indah. Yang saya dengar kamu hanya dikenal sebagai gadis nakal yang suka membuat masalah.”

Arra merasa wajahnya sedikit memerah karena kata-kata yang cukup menyindir itu. Sebelum dia bisa membantah, suara Ares terdengar dari arah belakang mereka.

“Kamu salah informasi, Sophia,” ucap Ares dengan nada yang dingin dan sedikit menyindir.

“Desainnya bukan hanya ‘begitu indah’ – itu adalah karya yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang harmoni antara bentuk dan fungsi. Lebih baik daripada beberapa desain yang hanya cantik namun tidak memiliki makna apapun.”

Sophia terkejut dan tidak menyangka Ares akan menghampiri mereka bahkan ikut mendengar perkataannya barusan, Sophia mengangguk dengan tidak senang sebelum pergi meninggalkan mereka sendirian.

Ares tetap berdiri di dekat Arra tanpa berkata apa-apa, matanya melihat ke arah keramaian di tengah ruangan.

“Kamu seharusnya tidak perlu membela ku seperti tadi,” ucap Arra dengan suara yang lemah.

Ares menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tetap dingin. “Saya tidak membela kamu,” jawabnya dengan nada yang sedikit pedas.

“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Karya kamu pantas mendapatkan apresiasi yang layak, meskipun kamu sendiri kadang tidak tahu bagaimana bersikap sesuai dengan tempat dan waktu.”

Arra merasa darahnya sedikit mendidih karena kata-kata itu, namun dia juga merasakan sedikit rasa terima kasih karena pria itu tidak membiarkan orang lain merendahkan karyanya.

“Terima kasih… meskipun kamu harus menyebutnya dengan cara yang begitu menyebalkan,” jawabnya dengan nada yang sedikit menyindir.

Ares hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Dia menawarkan tangannya padanya. “Ayahku ingin bertemu denganmu – dia ingin memberi ucapan terima kasih atas kontribusimu dalam kesuksesan kerja sama ini.”

Arra mengangguk dan meraih tangannya dengan hati-hati. Tangan Ares yang besar dan kuat terasa hangat di tangannya yang kecil dan lembut.

Saat mereka berjalan bersama menuju area taman belakang, Arra merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Di taman belakang yang dihiasi dengan kolam renang yang besar dan taman bunga yang indah, William Anthony Aquello sedang berdiri bersama Juan dan Fellicia.

Dia menyambut Arra dengan senyum ramah dan tangan yang kuat saat berjabat tangan.

“Kamu adalah orang yang memiliki bakat yang luar biasa, Arrabela,” ucap William dengan suara yang hangat.

“Karya yang kamu buat telah memberikan nilai tambah yang besar bagi proyek kami. Saya berharap kita bisa bekerja sama lebih erat di masa depan.”

“Terima kasih banyak, Mr. William,” jawab Arra dengan sopan. “Saya hanya melakukan yang terbaik untuk perusahaan keluarga saya.”

Setelah beberapa saat berbincang dengan orang tua mereka, Ares mengajak Arra berjalan ke tepi pagar yang menghadap lautan.

Angin malam yang sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa aroma garam dan bunga dari taman.

“Pemandangan yang indah, bukan?” tanya Ares dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.

Arra mengangguk sambil melihat ke arah lautan yang hitam dengan sedikit kilau dari bulan purnama yang mulai muncul di atas ufuk. “Ya,” jawabnya dengan lembut. “Sangat tenang dan damai di sini.”

Ares terdiam selama beberapa lama sebelum akhirnya membuka mulut kembali.

“Kamu tahu tidak, gadis kecil yang sering membuat kekacauan?” ucapnya dengan nada yang tetap pedas namun ada nuansa lain yang sulit ditebak.

“Saat kamu bekerja pada desain kalung itu, kamu terlihat seperti seseorang yang benar-benar menemukan tempatnya di dunia. Itu sangat berbeda dari cara kamu bersikap saat pertama kali kita bertemu – seperti anak kecil yang tidak tahu apa yang dia lakukan.”

Arra melihatnya dengan mata yang sedikit membelalak. Dia tidak pernah menyangka Ares akan mengatakan hal seperti itu.

“Aku memang tidak tahu apa yang aku lakukan saat itu,” jawabnya dengan jujur.

“Aku selalu suka melakukan hal-hal yang membuat orang tuaku kesal, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa aku bisa berdiri sendiri.”

Ares mengangguk perlahan. “Saya mengerti perasaan itu,” ucapnya dengan suara yang lebih lembut.

“Saya juga sering merasa seperti itu – selalu harus memenuhi ekspektasi orang tua dan menunjukkan bahwa saya layak menjadi pewaris perusahaan keluarga. Kadang-kadang saya merasa seperti kehilangan diri sendiri di tengah semua itu.”

Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Ares kepada Arra tentang diri sendiri, dan itu membuat Arra melihatnya dengan mata yang berbeda.

Di balik wajah dingin dan mulut pedasnya, ada seorang pria yang juga merasa tertekan oleh beban tanggung jawab dan ekspektasi orang lain.

“Kamu tidak sendirian,” ucap Arra dengan suara yang penuh perhatian.

“Kadang-kadang kita hanya perlu seseorang yang bisa melihat sisi lain dari diri kita – yang tidak hanya melihat kekayaan atau nama keluarga kita.”

Ares melihatnya dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya. Dia ingin berkata sesuatu, namun kata-kata sepertinya terjebak di tenggorokannya.

Sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, musik di dalam mansion berubah menjadi lagu lambat, dan salah satu pramusaji datang menghampiri mereka.

“Maaf, Mr. Ares, Ms. Arrabela,” ucap pramugari dengan sopan. “Mr. William ingin mengundang kalian untuk menari sebagai pembuka tarian malam ini – sebuah tradisi untuk merayakan kesuksesan proyek baru.”

Arra merasa wajahnya memerah karena kegembiraan dan rasa takut yang bercampur.

Dia melihat ke arah Ares, yang sudah mengulurkan tangannya padanya dengan sikap yang tetap tenang.

“Tidak ada pilihan lain,” ucap Ares dengan nada yang sedikit pedas namun tidak menyakitkan. “Kita tidak bisa membuat orang tua kita kecewa.”

Arra mengambil tangannya dan mereka berjalan ke lantai tarian yang telah disiapkan di tengah ruangan utama. Saat mereka berdiri di tengah keramaian, semua mata tertuju pada mereka.

Musik yang lembut mulai mengalir, dan Ares memulai gerakan tarian dengan tangan yang mengangkat pinggang Arra dengan lembut namun tetap aman.

Selama mereka menari, Arra merasa seperti berada di dalam mimpi.

Tangan Ares yang kuat dan aman membuatnya merasa terlindungi, sementara langkahnya yang anggun dan terkontrol membuatnya merasa nyaman.

Meskipun Ares tetap tidak banyak bicara dan kadang masih mengeluarkan kata-kata yang sedikit pedas, seperti “Jangan terlalu kaku – tarian seharusnya mengalir seperti air,” atau “Kamu harus melihat ke mata pasanganmu, bukan ke lantai,” Arra merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah di antara mereka.

Setelah tarian selesai dan tepuk tangan meriah terdengar dari para tamu, Ares mengantar Arra kembali ke tempat duduknya.

Dia mengambil segelas jus buah dan memberikannya padanya dengan cara yang tidak terlalu mencolok.

“Kamu tidak terlalu buruk dalam menari,” ucap Ares dengan nada yang tetap dingin namun ada sentuhan pujian di dalamnya.

“Meskipun kamu masih perlu belajar untuk lebih percaya diri saat berada di depan banyak orang.”

Arra tersenyum dengan lembut. “Terima kasih,” jawabnya. “Kamu juga tidak terlalu buruk sebagai pasangan menari – meskipun kamu terlalu sering mengkritik.”

Ares tersenyum tipis untuk kedua kalinya malam itu. “Kritik adalah cara terbaik untuk membuat seseorang menjadi lebih baik,” ucapnya dengan nada yang masih sedikit pedas namun tidak lagi menyakitkan. “Saya hanya ingin kamu mencapai potensi sebenarnya yang ada di dalam dirimu.”

Saat malam semakin larut dan pesta mulai mereda, Arra merasa bahwa hubungan antara dia dan Ares telah bergerak maju dengan cara yang halus dan tidak terlihat berlebihan.

Meskipun Ares tetap menjaga jarak dan terkadang masih mengeluarkan kata-kata pedas, ada rasa penghargaan dan pemahaman baru yang tumbuh di antara mereka – sebuah fondasi yang kuat untuk sesuatu yang lebih dalam di masa depan.

Ketika mobil limusin mengantarnya pulang, Arra melihat ke arah mansion Aquello yang semakin jauh di baliknya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya antara dia dan Ares, namun dia merasa bahwa sesuatu yang indah sedang mulai tumbuh di antara mereka – sesuatu yang tumbuh dengan lambat dan halus seperti tanaman yang perlahan merangkak ke arah sinar matahari.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   06. Pesta Mewah

    Los Angeles, California – Pukul 18.45 sore, tiga hari kemudian Sebuah surat undangan bergelang emas dengan logo Aquello Properties yang dicetak dengan huruf emas timbul terletak di atas meja kerja Arrabela di kantor Castellano Jewels. Kertas berkualitas tinggi dengan tekstur lembut terasa dingin di ujung jarinya saat dia mengambilnya dengan hati-hati. Di dalamnya tertulis undangan untuk menghadiri pesta peluncuran proyek Aquello Residences Beverly Hills, yang akan diadakan di mansion milik keluarga Aquello di kawasan Pacific Palisades. “Pesta eksklusif untuk kalangan atas kota,” gumam Arra sambil membaca kata-kata yang sopan namun penuh dengan nuansa kemewahan. Dia melihat ke arah cermin kecil di sudut ruangan, memperhatikan penampilannya yang biasa saja – rambut pirang yang tergerai, gaun kerja yang sedikit kusut, dan tangan yang masih sedikit terkena debu batu permata. “Kamu harus datang, sayang,” suara Fellicia terdengar dari belakangnya. Ibunya membawa sebuah kotak kec

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   05. Kemewahan dan Kreativitas

    Los Angeles, California – Pukul 14.15 sore, seminggu kemudian Udara di dalam ruang pameran sementara Aquello Residences Beverly Hills terasa sejuk dan wangi dengan aroma lilin aromaterapi bergelas lavender. Ruangan yang luas di lantai bawah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian ini dihiasi dengan beberapa miniatur rancangan apartemen, serta contoh furnitur mewah dari merek ternama seperti Fendi Casa dan Bentley Home. Cahaya lembut dari lampu-lampu gantung desain modern menerangi setiap sudut ruangan, membuat permukaan marmer dan kayu asli yang digunakan terlihat semakin mengkilap. Arrabela berdiri di depan salah satu miniatur unit penthouse, tangannya memegang buku sketsa yang penuh dengan desain perhiasan yang dia buat selama beberapa minggu terakhir. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi dalam ikatan rendah, namun beberapa helai masih terlepas dan tertiup angin dari kipas pendingin ruangan. Dia mengenakan gaun kerja kasual berwarna putih susu dengan rok ya

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   04. KEHIDUPAN MEWAH DAN JARAK YANG BELUM TERATASI

    Los Angeles, California – Pukul 09.30 pagi, tiga hari setelah pertemuan di kantor Castellano Jewels Sinar matahari pagi menerobos tirai kaca besar di dalam ruang rapat mewah Aquello Properties yang berlokasi di lantai atas gedung pencakar langit di distrik Beverly Hills. Ruangan yang dihiasi dengan marmer putih dan perabotan kulit asli Italia ini penuh dengan aroma parfum mahal yang menyebar dari diffuser mewah di sudut ruangan. Arrabela duduk di sudut jauh meja rapat panjang, tangan kanannya menggenggam pena dengan erat sementara matanya mengamati layar proyektor yang menampilkan rancangan apartemen mewah Aquello Residences Beverly Hills. Di sisi lain meja, Ares Anthony Aquello duduk dengan pose tegap, jas hitam tailored dari Tom Ford yang dikenakannya terlihat sempurna di tubuh tinggi dan berototnya. Ikat pinggang Roland Iten Calibre R822 Predator yang terkilau dengan berlian dan emas merah menjadi titik fokus pada bagian bawah jasnya, sebuah simbol status yang tidak bisa dise

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   03. Logam dan Berlian

    Los Angeles, California – Pukul 17.45 sore, seminggu kemudian Panas sore hari Los Angeles menyengat menerpa pelat kaca gedung pencakar langit Castellano Jewels yang berlokasi di distrik bisnis pusat kota. Di dalam ruang desain yang terletak di lantai dua puluh lima, Arrabela sedang menunduk di atas meja kerja yang penuh dengan peralatan ukir dan berbagai jenis batu permata berkilauan. Tangan kecilnya yang terampil sedang memegang sebuah batu safir biru muda yang besar, menyusunnya dengan hati-hati pada rancangan kalung yang tengah dia kerjakan. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi di belakang kepala, namun beberapa helai masih terlepas dan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karena fokus. “Arra, Papa memanggil kamu ke kantornya sekarang,” suara Fellicia, ibunya yang cantik dengan gaya rambut pendek yang rapi dan mengenakan gaun desain Serena Paris terbaru, terdengar dari pintu ruangan. “Ada tamu penting yang datang dan ingin berbicara tentang kemungkinan kerj

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   02. Bengkel Eksklusif

    Los Angeles, California – Pukul 11.03 malam Rolls-Royce Phantom hitam melaju dengan kecepatan stabil di atas aspal Wilshire Boulevard, menjauh dari kilauan lampu neon restoran Le Jardin Secret. Di dalam kabin yang tenang, musik klasik dari era 1970-an – “Life in the Fast Lane” milik Eagles – mengalir lembut dari sistem suara premium, namun irama yang menggairahkan itu tidak mampu menghilangkan ketegangan yang melayang di antara dua orang muda di kursi belakang. Arra duduk dengan tubuh sedikit mencondong ke sisi jendela, matanya mengamati pemandangan kota yang berlalu cepat. Cahaya dari gedung pencakar langit menerpa permukaan kaca, membuat wajahnya yang masih berkaca-kaca karena kemarahan dan ketakutan tampak seperti terkena sorotan kamera. Dia sering menyilangkan tangan di depan dada, jari-jari kecilnya menggaruk bagian sobek dari jaket kulitnya tanpa sadar. Di sebelahnya, Ares duduk dengan sikap tegak dan rileks, namun wajahnya yang tampan tetap seperti blok es yang tak ter

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   01. Goresan

    Los Angeles, California – Pukul 10.17 malam Lampu neon kota Los Angeles menerangi jalan raya Wilshire Boulevard dengan warna-warni yang menyilaukan, mencerminkan kilauan dari mobil-mobil mewah yang melaju dengan kecepatan terkontrol di bawahnya. Di sebuah area parkir eksklusif depan restoran berbintang lima Le Jardin Secret, sebuah mobil kembar merah Ferrari 812 Superfast berdiri gagah di antara deretan kendaraan mewah lainnya. Body mobil yang mengkilap seperti cermin terpoles tampak sempurna, hingga sepasang kaki mengenakan sepatu bot kulit hitam yang sedikit kotor menginjak aspal dengan langkah ceroboh. “Finally! Papa pasti sudah ada di dalam sana,” gumam Arrabela Valentina Castellano sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya masih erat menggenggam helm sepeda motor yang baru saja dia parkir di sudut jauh area parkir. Rambut pirangnya yang panjang sedikit berantakan karena angin malam, namun senyum manis yang khasnya tetap terpampang di wajah muda yang berusia dua puluh tah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status