LOGINLos Angeles, California – Pukul 14.15 sore, seminggu kemudian
Udara di dalam ruang pameran sementara Aquello Residences Beverly Hills terasa sejuk dan wangi dengan aroma lilin aromaterapi bergelas lavender. Ruangan yang luas di lantai bawah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian ini dihiasi dengan beberapa miniatur rancangan apartemen, serta contoh furnitur mewah dari merek ternama seperti Fendi Casa dan Bentley Home. Cahaya lembut dari lampu-lampu gantung desain modern menerangi setiap sudut ruangan, membuat permukaan marmer dan kayu asli yang digunakan terlihat semakin mengkilap. Arrabela berdiri di depan salah satu miniatur unit penthouse, tangannya memegang buku sketsa yang penuh dengan desain perhiasan yang dia buat selama beberapa minggu terakhir. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi dalam ikatan rendah, namun beberapa helai masih terlepas dan tertiup angin dari kipas pendingin ruangan. Dia mengenakan gaun kerja kasual berwarna putih susu dengan rok yang sedikit melengkung, serta sepatu flats kulit yang sudah mulai menunjukkan bekas penggunaan. “Desainmu terlalu sederhana untuk unit sebesar itu." Suara Ares yang dingin terdengar dari belakangnya, membuat Arra sedikit terkejut. Dia berbalik dengan perlahan dan melihat sosok pria tampan itu berdiri dengan sikap tegap, mengenakan jas linen berwarna abu-abu muda yang pas di tubuhnya, disandingkan dengan celana chino putih dan sepatu kulit kasual berwarna coklat tua. Sebuah gelang tangan titanium dari Richard Mille terkilau di pergelangan tangannya – sebuah aksesori yang nilainya bisa mencapai puluhan juta dolar. “Desain ini dibuat untuk melengkapi, bukan untuk mendominasi,” jawab Arra dengan nada yang tenang namun tetap tegas. Dia mengangkat buku sketsa dan menunjukkan salah satu rancangan kalung dengan batu permata berwarna pastel. “Saya ingin perhiasan ini menjadi bagian yang harmonis dengan keseluruhan konsep ruangan, bukan menjadi sesuatu yang terlalu mencolok dan membuat ruangan terasa penuh.” Ares mendekat lebih jauh dan melihat sketsa yang ditunjukkan Arra dengan cermat. Matanya yang biasanya dingin kini sedikit mengendap, seolah-olah sedang benar-benar mempertimbangkan setiap detail dari rancangan tersebut. Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa lama, hanya mengamati bentuk batu permata yang disusun dengan hati-hati dan pola desain yang mengalir dengan lembut. “Batu apa yang kamu rencanakan untuk di gunakan?” tanya Ares akhirnya dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. “Batu morganit muda dan permata bulan dari Sri Lanka,” jawab Arra dengan mata yang mulai bersinar ketika membicarakan hal yang dia cintai. “Kombinasi kedua batu ini akan menciptakan efek kilau yang lembut namun tetap menarik, sesuai dengan tema alam yang kita usulkan untuk unit ini.” Ares mengangguk perlahan tanpa memberikan tanggapan lebih lanjut. Dia berjalan ke bagian lain ruangan, di mana sebuah layar besar menampilkan visualisasi 3D dari ruang tamu penthouse. Arra mengikuti di belakangnya dengan langkah yang pelan, rasa tidak nyaman yang sudah biasa dia rasakan setiap kali berada di dekatnya masih ada, namun tidak sekeras dulu. Setelah beberapa lama diam-diam mengamati visualisasi tersebut, Ares membuka mulut kembali. “Klien dari Singapura yang akan datang besok ingin melihat contoh desain perhiasan yang sudah jadi,” ucapnya tanpa melihat ke arah Arra. “Mereka tidak mau hanya melihat sketsa atau gambar digital – mereka ingin merasakan tekstur dan kilau batu permata secara langsung.” Arra menghela nafas dengan perlahan. Dia tahu membuat contoh desain perhiasan dalam waktu sebentar bukan hal yang mudah, terutama karena beberapa bahan yang dia butuhkan tidak tersedia secara instan. “Saya bisa mencoba menyelesaikannya dalam waktu semalam,” ucapnya dengan suara yang penuh tekad. “Tapi saya membutuhkan akses ke peralatan dan bahan yang ada di toko ayah saya, serta bantuan dari beberapa tukang ukir yang sudah bekerja dengan saya sebelumnya.” Ares akhirnya menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit ditebak. “Saya akan mengirimkan sopir dan mobil untuk menjemputmu dan membawa semua yang kamu butuhkan,” ucapnya dengan nada yang tetap datar. “Kamu bisa menggunakan ruang kerja sementara di lantai atas gedung ini – saya sudah menyediakan semua yang kamu butuhkan untuk bekerja dengan nyaman.” Tanpa menunggu jawaban Arra, Ares berjalan meninggalkan ruangan, menyisakan Arra sendirian dengan pikiran yang berlarut-larut. Dia tidak mengerti mengapa pria itu bersedia membantu, namun dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan kemampuannya sebagai desainer perhiasan. Malam itu, Arra bekerja di ruang kerja sementara yang disediakan Ares. Ruangan yang luas dan bersih dilengkapi dengan meja kerja besar dari kayu jati asli, serta semua peralatan yang mungkin dia butuhkan – mulai dari alat ukir presisi hingga mesin pemoles modern. Di sudut ruangan juga ada sebuah mini dapur dengan lemari es yang penuh dengan makanan dan minuman mewah, serta mesin pembuat kopi profesional dari Nespresso. Arra mulai bekerja dengan fokus total, tangan kecilnya yang terampil dengan cermat menangani setiap batu permata dan logam yang digunakan. Dia melupakan waktu dan lingkungan sekitarnya, hanya fokus pada satu hal – menyelesaikan desain kalung yang akan menjadi contoh bagi klien penting besok. Sekitar pukul 22:30 malam, pintu ruangan terbuka perlahan dan Ares masuk dengan membawa dua gelas minuman hangat. Dia mengenakan kaos polo putih dan celana jeans yang membuatnya terlihat lebih santai dari biasanya. Dia mendekati Arra dengan langkah yang pelan, tidak ingin mengganggu fokusnya. “Kamu harus beristirahat sebentar,” ucap Ares dengan suara yang lebih santai dari biasanya. Dia menaruh salah satu gelas di atas meja kerja, di sebelah sketsa yang sedang dikerjakan Arra. “Coklat panas dengan bubuk kayu manis – saya kira kamu membutuhkannya setelah bekerja selama berjam-jam.” Arra terkejut dan melihat ke arah Ares dengan mata yang sedikit sayu, karena kelelahan. Dia tidak pernah menyangka pria dingin itu akan memperhatikan kebutuhannya. “Terima kasih,” ucapnya dengan suara yang lemah, mengambil gelas dan menyesap sedikit isinya. Rasanya manis dan hangat, tepat untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai merasa kedinginan karena bekerja lama di ruangan yang ber-AC. Ares berdiri di belakangnya, melihat dengan cermat bagaimana tangan Arra bekerja dengan begitu terampil dan penuh cinta pada setiap detail desain. Dia melihat bagaimana mata gadis muda itu bersinar setiap kali dia menyelesaikan satu bagian kalung, dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari betapa berbakatnya Arra sebagai desainer. “Kamu benar-benar mencintai apa yang kamu lakukan, bukan?” tanya Ares dengan suara yang rendah. Arra mengangguk tanpa melihat ke belakang. “Ya,” jawabnya dengan penuh semangat. “Setiap desain yang saya buat seperti bagian dari diri saya sendiri. Saya merasa seperti sedang memberikan kehidupan pada batu permata dan logam yang dulunya hanya benda mati.” Ares terdiam selama beberapa lama, merenungkan kata-kata Arra. Dia tidak pernah berpikir bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan bisa memiliki makna yang begitu dalam – di dunia yang dia tempati, segala sesuatu biasanya dibeli dengan uang dan diukur dengan nilai pasarnya. Setelah beberapa lama, Arra menyelesaikan sebagian besar pekerjaan. Dia meletakkan kalung yang hampir jadi di atas alas kain putih lembut dan melihatnya dengan rasa bangga yang tulus. “Saya hanya perlu menyelesaikan beberapa bagian akhir dan melakukan proses pemolesan akhir besok pagi,” ucapnya kepada Ares. Ares mengangguk dan melihat ke arah jam di dinding. “Kamu bisa istirahat di salah satu kamar tamu di suite saya di atas,” ucapnya dengan nada yang tetap dingin namun tidak sekeras dulu. “Sudah terlalu larut untuk mengirimmu pulang sekarang, dan kamu membutuhkan istirahat yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaanmu besok.” Arra ingin menolak, namun rasa lelah yang luar biasa membuatnya mengangguk dengan setuju. Ares mengantarnya ke suite mewah yang terletak di lantai atas gedung, yang sudah dihiasi dengan furnitur sementara namun tetap terlihat sangat mewah. Di dalam kamar tidur, sebuah ranjang besar dengan seprai katun Italia sudah siap dengan bantal yang empuk. “Kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di sini,” ucap Ares sebelum keluar dari kamar. “Saya akan menyuruh orang untuk menyediakan makanan pagi besok pukul 06.00 – kamu akan membutuhkan energi yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaanmu.” Sebelum Arra bisa berkata apa-apa, Ares sudah keluar dan menutup pintu dengan lembut. Dia duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang sangat lelah, namun pikirannya tetap terfokus pada pria dingin yang telah membantu dia dengan cara yang tidak terduga. Keesokan paginya, Arra bangun lebih awal dari yang dijadwalkan. Dia langsung kembali ke ruang kerja dan menyelesaikan bagian akhir dari kalung dengan fokus total. Saat sinar matahari mulai menerobos jendela gedung, dia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Kalung berwarna merah muda lembut dengan kombinasi batu morganit dan permata bulan terlihat begitu indah, kilauannya menyala dengan sendirinya tanpa perlu lampu tambahan. Pukul 09.00 pagi, klien dari Singapura tiba di gedung bersama dengan Ares dan beberapa pejabat perusahaan. Mereka melihat dengan kagum pada kalung yang diletakkan di atas alas kain putih di tengah meja kerja. Salah satu klien, seorang wanita berusia pertengahan dengan wajah yang dirawat dengan baik, mengambil kalung dengan hati-hati dan mengenakannya di lehernya. “Ini luar biasa,” ucap wanita itu dengan suara penuh kagum. “Kilauannya sangat lembut namun tetap menarik perhatian – persis seperti yang kami cari untuk menghiasi ruang tamu kami. ” Ares berdiri di belakang Arra, melihat ekspresi wajah klien yang puas dengan karya gadis muda itu. Dia melihat bagaimana Arra menjelaskan setiap detail desain dengan mata yang bersinar dan suara yang penuh semangat, dan untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang hangat muncul di dalam hatinya yang biasanya dingin. Setelah pertemuan dengan klien selesai dan kesepakatan kerja sama resmi ditandatangani, Ares mendekati Arra yang sedang membersihkan peralatan kerjanya. “Kamu telah melakukan pekerjaanmu dengan baik,” ucapnya dengan suara yang tetap datar namun dengan nada hormat yang jelas terasa. Arra melihatnya dengan mata yang sedikit terkejut, kemudian tersenyum dengan lembut. “Terima kasih,” jawabnya dengan suara yang tenang. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin.”Los Angeles, California – Pukul 18.45 sore, tiga hari kemudian Sebuah surat undangan bergelang emas dengan logo Aquello Properties yang dicetak dengan huruf emas timbul terletak di atas meja kerja Arrabela di kantor Castellano Jewels. Kertas berkualitas tinggi dengan tekstur lembut terasa dingin di ujung jarinya saat dia mengambilnya dengan hati-hati. Di dalamnya tertulis undangan untuk menghadiri pesta peluncuran proyek Aquello Residences Beverly Hills, yang akan diadakan di mansion milik keluarga Aquello di kawasan Pacific Palisades. “Pesta eksklusif untuk kalangan atas kota,” gumam Arra sambil membaca kata-kata yang sopan namun penuh dengan nuansa kemewahan. Dia melihat ke arah cermin kecil di sudut ruangan, memperhatikan penampilannya yang biasa saja – rambut pirang yang tergerai, gaun kerja yang sedikit kusut, dan tangan yang masih sedikit terkena debu batu permata. “Kamu harus datang, sayang,” suara Fellicia terdengar dari belakangnya. Ibunya membawa sebuah kotak kec
Los Angeles, California – Pukul 14.15 sore, seminggu kemudian Udara di dalam ruang pameran sementara Aquello Residences Beverly Hills terasa sejuk dan wangi dengan aroma lilin aromaterapi bergelas lavender. Ruangan yang luas di lantai bawah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian ini dihiasi dengan beberapa miniatur rancangan apartemen, serta contoh furnitur mewah dari merek ternama seperti Fendi Casa dan Bentley Home. Cahaya lembut dari lampu-lampu gantung desain modern menerangi setiap sudut ruangan, membuat permukaan marmer dan kayu asli yang digunakan terlihat semakin mengkilap. Arrabela berdiri di depan salah satu miniatur unit penthouse, tangannya memegang buku sketsa yang penuh dengan desain perhiasan yang dia buat selama beberapa minggu terakhir. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi dalam ikatan rendah, namun beberapa helai masih terlepas dan tertiup angin dari kipas pendingin ruangan. Dia mengenakan gaun kerja kasual berwarna putih susu dengan rok ya
Los Angeles, California – Pukul 09.30 pagi, tiga hari setelah pertemuan di kantor Castellano Jewels Sinar matahari pagi menerobos tirai kaca besar di dalam ruang rapat mewah Aquello Properties yang berlokasi di lantai atas gedung pencakar langit di distrik Beverly Hills. Ruangan yang dihiasi dengan marmer putih dan perabotan kulit asli Italia ini penuh dengan aroma parfum mahal yang menyebar dari diffuser mewah di sudut ruangan. Arrabela duduk di sudut jauh meja rapat panjang, tangan kanannya menggenggam pena dengan erat sementara matanya mengamati layar proyektor yang menampilkan rancangan apartemen mewah Aquello Residences Beverly Hills. Di sisi lain meja, Ares Anthony Aquello duduk dengan pose tegap, jas hitam tailored dari Tom Ford yang dikenakannya terlihat sempurna di tubuh tinggi dan berototnya. Ikat pinggang Roland Iten Calibre R822 Predator yang terkilau dengan berlian dan emas merah menjadi titik fokus pada bagian bawah jasnya, sebuah simbol status yang tidak bisa dise
Los Angeles, California – Pukul 17.45 sore, seminggu kemudian Panas sore hari Los Angeles menyengat menerpa pelat kaca gedung pencakar langit Castellano Jewels yang berlokasi di distrik bisnis pusat kota. Di dalam ruang desain yang terletak di lantai dua puluh lima, Arrabela sedang menunduk di atas meja kerja yang penuh dengan peralatan ukir dan berbagai jenis batu permata berkilauan. Tangan kecilnya yang terampil sedang memegang sebuah batu safir biru muda yang besar, menyusunnya dengan hati-hati pada rancangan kalung yang tengah dia kerjakan. Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi di belakang kepala, namun beberapa helai masih terlepas dan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karena fokus. “Arra, Papa memanggil kamu ke kantornya sekarang,” suara Fellicia, ibunya yang cantik dengan gaya rambut pendek yang rapi dan mengenakan gaun desain Serena Paris terbaru, terdengar dari pintu ruangan. “Ada tamu penting yang datang dan ingin berbicara tentang kemungkinan kerj
Los Angeles, California – Pukul 11.03 malam Rolls-Royce Phantom hitam melaju dengan kecepatan stabil di atas aspal Wilshire Boulevard, menjauh dari kilauan lampu neon restoran Le Jardin Secret. Di dalam kabin yang tenang, musik klasik dari era 1970-an – “Life in the Fast Lane” milik Eagles – mengalir lembut dari sistem suara premium, namun irama yang menggairahkan itu tidak mampu menghilangkan ketegangan yang melayang di antara dua orang muda di kursi belakang. Arra duduk dengan tubuh sedikit mencondong ke sisi jendela, matanya mengamati pemandangan kota yang berlalu cepat. Cahaya dari gedung pencakar langit menerpa permukaan kaca, membuat wajahnya yang masih berkaca-kaca karena kemarahan dan ketakutan tampak seperti terkena sorotan kamera. Dia sering menyilangkan tangan di depan dada, jari-jari kecilnya menggaruk bagian sobek dari jaket kulitnya tanpa sadar. Di sebelahnya, Ares duduk dengan sikap tegak dan rileks, namun wajahnya yang tampan tetap seperti blok es yang tak ter
Los Angeles, California – Pukul 10.17 malam Lampu neon kota Los Angeles menerangi jalan raya Wilshire Boulevard dengan warna-warni yang menyilaukan, mencerminkan kilauan dari mobil-mobil mewah yang melaju dengan kecepatan terkontrol di bawahnya. Di sebuah area parkir eksklusif depan restoran berbintang lima Le Jardin Secret, sebuah mobil kembar merah Ferrari 812 Superfast berdiri gagah di antara deretan kendaraan mewah lainnya. Body mobil yang mengkilap seperti cermin terpoles tampak sempurna, hingga sepasang kaki mengenakan sepatu bot kulit hitam yang sedikit kotor menginjak aspal dengan langkah ceroboh. “Finally! Papa pasti sudah ada di dalam sana,” gumam Arrabela Valentina Castellano sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya masih erat menggenggam helm sepeda motor yang baru saja dia parkir di sudut jauh area parkir. Rambut pirangnya yang panjang sedikit berantakan karena angin malam, namun senyum manis yang khasnya tetap terpampang di wajah muda yang berusia dua puluh tah







