Beranda / Romansa / DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN / 05. Kemewahan dan Kreativitas

Share

05. Kemewahan dan Kreativitas

Penulis: Miaoutumi01
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 12:54:14

Los Angeles, California – Pukul 14.15 sore, seminggu kemudian

Udara di dalam ruang pameran sementara Aquello Residences Beverly Hills terasa sejuk dan wangi dengan aroma lilin aromaterapi bergelas lavender.

Ruangan yang luas di lantai bawah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian ini dihiasi dengan beberapa miniatur rancangan apartemen, serta contoh furnitur mewah dari merek ternama seperti Fendi Casa dan Bentley Home.

Cahaya lembut dari lampu-lampu gantung desain modern menerangi setiap sudut ruangan, membuat permukaan marmer dan kayu asli yang digunakan terlihat semakin mengkilap.

Arrabela berdiri di depan salah satu miniatur unit penthouse, tangannya memegang buku sketsa yang penuh dengan desain perhiasan yang dia buat selama beberapa minggu terakhir.

Rambut pirangnya yang panjang dikumpulkan rapi dalam ikatan rendah, namun beberapa helai masih terlepas dan tertiup angin dari kipas pendingin ruangan.

Dia mengenakan gaun kerja kasual berwarna putih susu dengan rok yang sedikit melengkung, serta sepatu flats kulit yang sudah mulai menunjukkan bekas penggunaan.

“Desainmu terlalu sederhana untuk unit sebesar itu." Suara Ares yang dingin terdengar dari belakangnya, membuat Arra sedikit terkejut.

Dia berbalik dengan perlahan dan melihat sosok pria tampan itu berdiri dengan sikap tegap, mengenakan jas linen berwarna abu-abu muda yang pas di tubuhnya, disandingkan dengan celana chino putih dan sepatu kulit kasual berwarna coklat tua.

Sebuah gelang tangan titanium dari Richard Mille terkilau di pergelangan tangannya – sebuah aksesori yang nilainya bisa mencapai puluhan juta dolar.

“Desain ini dibuat untuk melengkapi, bukan untuk mendominasi,” jawab Arra dengan nada yang tenang namun tetap tegas.

Dia mengangkat buku sketsa dan menunjukkan salah satu rancangan kalung dengan batu permata berwarna pastel.

“Saya ingin perhiasan ini menjadi bagian yang harmonis dengan keseluruhan konsep ruangan, bukan menjadi sesuatu yang terlalu mencolok dan membuat ruangan terasa penuh.”

Ares mendekat lebih jauh dan melihat sketsa yang ditunjukkan Arra dengan cermat. Matanya yang biasanya dingin kini sedikit mengendap, seolah-olah sedang benar-benar mempertimbangkan setiap detail dari rancangan tersebut.

Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa lama, hanya mengamati bentuk batu permata yang disusun dengan hati-hati dan pola desain yang mengalir dengan lembut.

“Batu apa yang kamu rencanakan untuk di gunakan?” tanya Ares akhirnya dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.

“Batu morganit muda dan permata bulan dari Sri Lanka,” jawab Arra dengan mata yang mulai bersinar ketika membicarakan hal yang dia cintai.

“Kombinasi kedua batu ini akan menciptakan efek kilau yang lembut namun tetap menarik, sesuai dengan tema alam yang kita usulkan untuk unit ini.”

Ares mengangguk perlahan tanpa memberikan tanggapan lebih lanjut. Dia berjalan ke bagian lain ruangan, di mana sebuah layar besar menampilkan visualisasi 3D dari ruang tamu penthouse.

Arra mengikuti di belakangnya dengan langkah yang pelan, rasa tidak nyaman yang sudah biasa dia rasakan setiap kali berada di dekatnya masih ada, namun tidak sekeras dulu.

Setelah beberapa lama diam-diam mengamati visualisasi tersebut, Ares membuka mulut kembali. “Klien dari Singapura yang akan datang besok ingin melihat contoh desain perhiasan yang sudah jadi,” ucapnya tanpa melihat ke arah Arra.

“Mereka tidak mau hanya melihat sketsa atau gambar digital – mereka ingin merasakan tekstur dan kilau batu permata secara langsung.”

Arra menghela nafas dengan perlahan. Dia tahu membuat contoh desain perhiasan dalam waktu sebentar bukan hal yang mudah, terutama karena beberapa bahan yang dia butuhkan tidak tersedia secara instan.

“Saya bisa mencoba menyelesaikannya dalam waktu semalam,” ucapnya dengan suara yang penuh tekad.

“Tapi saya membutuhkan akses ke peralatan dan bahan yang ada di toko ayah saya, serta bantuan dari beberapa tukang ukir yang sudah bekerja dengan saya sebelumnya.”

Ares akhirnya menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit ditebak. “Saya akan mengirimkan sopir dan mobil untuk menjemputmu dan membawa semua yang kamu butuhkan,” ucapnya dengan nada yang tetap datar.

“Kamu bisa menggunakan ruang kerja sementara di lantai atas gedung ini – saya sudah menyediakan semua yang kamu butuhkan untuk bekerja dengan nyaman.”

Tanpa menunggu jawaban Arra, Ares berjalan meninggalkan ruangan, menyisakan Arra sendirian dengan pikiran yang berlarut-larut. Dia tidak mengerti mengapa pria itu bersedia membantu, namun dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan kemampuannya sebagai desainer perhiasan.

Malam itu, Arra bekerja di ruang kerja sementara yang disediakan Ares. Ruangan yang luas dan bersih dilengkapi dengan meja kerja besar dari kayu jati asli, serta semua peralatan yang mungkin dia butuhkan – mulai dari alat ukir presisi hingga mesin pemoles modern.

Di sudut ruangan juga ada sebuah mini dapur dengan lemari es yang penuh dengan makanan dan minuman mewah, serta mesin pembuat kopi profesional dari Nespresso.

Arra mulai bekerja dengan fokus total, tangan kecilnya yang terampil dengan cermat menangani setiap batu permata dan logam yang digunakan. Dia melupakan waktu dan lingkungan sekitarnya, hanya fokus pada satu hal – menyelesaikan desain kalung yang akan menjadi contoh bagi klien penting besok.

Sekitar pukul 22:30 malam, pintu ruangan terbuka perlahan dan Ares masuk dengan membawa dua gelas minuman hangat. Dia mengenakan kaos polo putih dan celana jeans yang membuatnya terlihat lebih santai dari biasanya. Dia mendekati Arra dengan langkah yang pelan, tidak ingin mengganggu fokusnya.

“Kamu harus beristirahat sebentar,” ucap Ares dengan suara yang lebih santai dari biasanya. Dia menaruh salah satu gelas di atas meja kerja, di sebelah sketsa yang sedang dikerjakan Arra.

“Coklat panas dengan bubuk kayu manis – saya kira kamu membutuhkannya setelah bekerja selama berjam-jam.”

Arra terkejut dan melihat ke arah Ares dengan mata yang sedikit sayu, karena kelelahan. Dia tidak pernah menyangka pria dingin itu akan memperhatikan kebutuhannya. “Terima kasih,” ucapnya dengan suara yang lemah, mengambil gelas dan menyesap sedikit isinya. Rasanya manis dan hangat, tepat untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai merasa kedinginan karena bekerja lama di ruangan yang ber-AC.

Ares berdiri di belakangnya, melihat dengan cermat bagaimana tangan Arra bekerja dengan begitu terampil dan penuh cinta pada setiap detail desain. Dia melihat bagaimana mata gadis muda itu bersinar setiap kali dia menyelesaikan satu bagian kalung, dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari betapa berbakatnya Arra sebagai desainer.

“Kamu benar-benar mencintai apa yang kamu lakukan, bukan?” tanya Ares dengan suara yang rendah.

Arra mengangguk tanpa melihat ke belakang. “Ya,” jawabnya dengan penuh semangat. “Setiap desain yang saya buat seperti bagian dari diri saya sendiri. Saya merasa seperti sedang memberikan kehidupan pada batu permata dan logam yang dulunya hanya benda mati.”

Ares terdiam selama beberapa lama, merenungkan kata-kata Arra. Dia tidak pernah berpikir bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan bisa memiliki makna yang begitu dalam – di dunia yang dia tempati, segala sesuatu biasanya dibeli dengan uang dan diukur dengan nilai pasarnya.

Setelah beberapa lama, Arra menyelesaikan sebagian besar pekerjaan. Dia meletakkan kalung yang hampir jadi di atas alas kain putih lembut dan melihatnya dengan rasa bangga yang tulus.

“Saya hanya perlu menyelesaikan beberapa bagian akhir dan melakukan proses pemolesan akhir besok pagi,” ucapnya kepada Ares.

Ares mengangguk dan melihat ke arah jam di dinding. “Kamu bisa istirahat di salah satu kamar tamu di suite saya di atas,” ucapnya dengan nada yang tetap dingin namun tidak sekeras dulu.

“Sudah terlalu larut untuk mengirimmu pulang sekarang, dan kamu membutuhkan istirahat yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaanmu besok.”

Arra ingin menolak, namun rasa lelah yang luar biasa membuatnya mengangguk dengan setuju. Ares mengantarnya ke suite mewah yang terletak di lantai atas gedung, yang sudah dihiasi dengan furnitur sementara namun tetap terlihat sangat mewah.

Di dalam kamar tidur, sebuah ranjang besar dengan seprai katun Italia sudah siap dengan bantal yang empuk.

“Kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di sini,” ucap Ares sebelum keluar dari kamar.

“Saya akan menyuruh orang untuk menyediakan makanan pagi besok pukul 06.00 – kamu akan membutuhkan energi yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaanmu.”

Sebelum Arra bisa berkata apa-apa, Ares sudah keluar dan menutup pintu dengan lembut. Dia duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang sangat lelah, namun pikirannya tetap terfokus pada pria dingin yang telah membantu dia dengan cara yang tidak terduga.

Keesokan paginya, Arra bangun lebih awal dari yang dijadwalkan. Dia langsung kembali ke ruang kerja dan menyelesaikan bagian akhir dari kalung dengan fokus total.

Saat sinar matahari mulai menerobos jendela gedung, dia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Kalung berwarna merah muda lembut dengan kombinasi batu morganit dan permata bulan terlihat begitu indah, kilauannya menyala dengan sendirinya tanpa perlu lampu tambahan.

Pukul 09.00 pagi, klien dari Singapura tiba di gedung bersama dengan Ares dan beberapa pejabat perusahaan. Mereka melihat dengan kagum pada kalung yang diletakkan di atas alas kain putih di tengah meja kerja.

Salah satu klien, seorang wanita berusia pertengahan dengan wajah yang dirawat dengan baik, mengambil kalung dengan hati-hati dan mengenakannya di lehernya.

“Ini luar biasa,” ucap wanita itu dengan suara penuh kagum. “Kilauannya sangat lembut namun tetap menarik perhatian – persis seperti yang kami cari untuk menghiasi ruang tamu kami. ”

Ares berdiri di belakang Arra, melihat ekspresi wajah klien yang puas dengan karya gadis muda itu. Dia melihat bagaimana Arra menjelaskan setiap detail desain dengan mata yang bersinar dan suara yang penuh semangat, dan untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang hangat muncul di dalam hatinya yang biasanya dingin.

Setelah pertemuan dengan klien selesai dan kesepakatan kerja sama resmi ditandatangani, Ares mendekati Arra yang sedang membersihkan peralatan kerjanya. “Kamu telah melakukan pekerjaanmu dengan baik,” ucapnya dengan suara yang tetap datar namun dengan nada hormat yang jelas terasa.

Arra melihatnya dengan mata yang sedikit terkejut, kemudian tersenyum dengan lembut. “Terima kasih,” jawabnya dengan suara yang tenang. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   49. Pie Cinta

    Los Angeles, California – Pukul 09.30 pagi, dua minggu setelah kunjungan Rio Sinar matahari pagi yang cerah menerobos melalui jendela dapur mansion yang luas, menerangi setiap sudut ruangan dengan cahaya yang terang dan hangat. Arra sedang duduk di meja makan kecil di sudut dapur, mengenakan baju tidur yang nyaman dengan perutnya yang kini semakin membuncit – kehamilannya telah memasuki trimester kedua akhir dan tubuhnya semakin menunjukkan tanda-tanda kehadiran anak mereka yang akan lahir dalam beberapa bulan lagi. Dia sedang melihat sekeliling dapur dengan ekspresi yang penuh pikiran, kemudian tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan wajah yang penuh kegembiraan ketika melihat Ares yang baru saja masuk ke dalam dapur sambil membawa koran pagi. “Sayang!” panggil Arra dengan suara penuh semangat, mendekat dan menyandarkan wajahnya pada dada suaminya. “Aku tiba-tiba ingin sekali makan kue pie lagi. Kali ini aku ingin yang dengan tambahan buah pir dan sedikit kayu manis ya. Tapi teta

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   48. Hormon

    Los Angeles, California – Pukul 19.00 malam, tiga bulan setelah pembuatan kue pie pertama Sinar matahari sore yang hangat menerobos melalui dinding kaca besar kamar tidur utama, menerangi setiap sudut ruangan dengan warna jingga yang lembut. Di dalam kamar, Arra sedang duduk di tepi tempat tidur yang besar, mengenakan kaos tidur panjang berwarna putih yang sudah mulai sedikit ketat di bagian perutnya yang kini jelas membuncit – tanda bahwa kehamilannya telah memasuki trimester kedua yang stabil. Dia menyentuh perutnya dengan lembut, merasakan gerakan anak mereka yang kini semakin sering dan jelas terasa. Tiba-tiba dia merasakan adanya keinginan yang kuat yang muncul dari dalam dirinya – keinginan untuk berada lebih dekat dengan Ares, untuk merasakan hangatnya tubuh suaminya yang selalu membuatnya merasa tenang dan dicintai. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan dan Ares masuk dengan membawa cangkir teh herbal hangat yang biasa diminum Arra setiap malam. Dia men

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   47. Pie Khas Ares

    Los Angeles, California – Pukul 10.00 pagi, satu bulan setelah pindah ke mansion baru Sinar matahari pagi yang cerah menerobos melalui jendela ruang kerja Arra, menerangi meja yang penuh dengan buku desain dan sketsa program pelatihan seniman muda. Arra sedang duduk di kursinya yang nyaman, tangan kanannya secara tidak sengaja menyentuh perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit. Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang penuh kegembiraan, kemudian berdiri perlahan dan pergi mencari Ares yang sedang berada di ruang keluarga sambil membaca laporan perusahaan. “Sayang,” panggil Arra dengan suara lembut namun penuh semangat, mendekat dan duduk di pangkuan suaminya. “Aku tiba-tiba ingin sekali makan kue pie. Yang dibuat sendiri di rumah ini ya, bukan yang dibeli di toko.” Ares menutup laporannya dan melihat ke arah istri nya dengan senyum hangat. “Kue pie? Baiklah sayang,” jawabnya dengan penuh kesediaan. “Aku akan meminta juru masak kita, Mrs. Marta, untuk membua

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   46. Kediaman Baru

    Los Angeles, California – Pukul 09.00 pagi, dua minggu setelah pernikahan Ares dan Arra Mobil mewah Ares melaju dengan tenang di jalan raya yang luas, menghadap ke arah daerah pinggiran kota yang lebih tenang dan asri. Di dalam mobil, Arra sedang duduk di kursi depan dengan tubuh yang sedikit menyandar, wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan akibat kehamilan yang baru memasuki trimester pertama. Ares sering melihat ke arah istri nya dengan tatapan penuh perhatian sambil tetap fokus pada jalan. “Kamu merasa baik-baik saja kan, sayang?” tanya Ares dengan suara lembut, menggenggam tangan Arra yang terletak di atas kursi dengan lembut. “Kalau kamu merasa capek, kita bisa berhenti sebentar di kafe untuk minum teh hangat ya.” Arra tersenyum lembut dan menggeleng perlahan. “Aku baik saja, sayang,” jawabnya dengan suara yang sedikit lemah. “Cuma merasa sedikit lemas saja, dan memang masih kurang nafsu makan seperti biasanya. Tapi aku sudah tidak sabar untuk melihat rumah baru kita.”

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   45. Pernikahan Kilat

    Dalam waktu seminggu berikutnya, semua orang bekerja sama dengan sangat giat untuk merencanakan pernikahan Ares dan Arra. Mereka memutuskan untuk menggelar pernikahan di taman bunga yang indah di pinggiran kota Los Angeles – sebuah tempat yang penuh dengan bunga-bunga warna-warni dan memiliki pemandangan indah pegunungan di kejauhan. Arra memilih gaun pengantin putih dengan renda halus dan renda panjang yang sangat cantik, dengan detail perhiasan kecil di bagian dada dan pinggang. Ares akan mengenakan jas hitam berkualitas tinggi dengan dasi berwarna biru muda yang sesuai dengan warna batu permata di cincin kawin Arra. Aaron membuat desain undangan pernikahan yang sangat menarik – dengan tema bunga dan warna-warna lembut yang memberikan kesan romantis dan elegan. Dia juga merencanakan dekorasi taman yang akan dihiasi dengan banyak bunga mawar merah muda, putih, dan kuning, serta lilin-lilin yang akan

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   44. Positif

    Los Angeles, California – Pukul 07.00 pagi, tiga bulan setelah keberangkatan Serena dan William ke Paris Sinar matahari pagi yang hangat menerobos melalui tirai kaca kamar tidur di rumah mewah yang ditempati oleh Ares dan Arra. Arra sedang terbaring nyenyak di atas tempat tidur yang besar dan nyaman, sementara Ares sudah bangun dan sedang memasak sarapan di dapur yang luas dan modern. Bukan karena tidak ada pembantu namun karena Ares ingin menunjukan perhatiannya kepada Arra. Dia sedang membuat telur dadar yang lembut, roti panggang dengan selai stroberi segar, dan jus buah campuran yang segar – semua favorit Arra. Setelah menyelesaikan sarapan, Ares membawa nampan besar berisi hidangan ke kamar tidur. Dia dengan hati-hati meletakkan nampan di atas meja sisi tempat tidur dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur, melihat wajah Arra yang masih tertidur dengan damai. Dia menyentuh pipi Arra dengan lembut dan mem

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   36. Cinta yang Semakin Dalam

    Los Angeles, California – Pukul 15.30 sore, dua minggu setelah Ares bekerja di kantor barunya. Sinar matahari sore yang hangat menerobos melalui jendela besar di kantor Ares, memberikan sentuhan cahaya emas pada setiap sudut ruangan yang luas dan mewah itu. Arra

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   32. Rencana Pernikahan

    Ares sedikit merasa malu dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Merasa sindiran Arra tepat mengenai jantungnya, harus Ares akui sikapnya saat mereka pertama kali berjumpa memang cukup menyebalkan. "Maaf kalau dulu kata-kataku pernah menyakitkan hatimu, Arra,” ucapnya dengan su

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   27. Lift

    Los Angeles, California – Pukul 14.30 sore, seminggu setelah kabar kedatangan Nordiska Jewels Lobi utama gedung Aquello Properties kini dipenuhi dengan suasana yang hangat dan ramai. Di sudut kanan lobi, sebuah area tamu dengan sofa kulit cokelat dan meja kayu besar menjadi tempat berkumpulnya be

  • DEKAPAN POSESIF PRIA DINGIN   26. Nordiska Jewels

    William berdiri dan mendekat ke arah keduanya, kali ini ekspresinya menjadi lebih serius. Membuat dua anak muda di hadapannya merasa sedikit tegang, terutama Arra. “Saya ke sini karena ingin menyempaikan berita yang tidak terlalu menyenangkan untuk kalian berdua,” lanjutnya. “Sebuah perusaha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status